KEJIWAAN

Cara Terbaik Berinteraksi dengan Al-Qur’an di Bulan Ramadan

Cara Terbaik Berinteraksi dengan Al-Qur'an di Bulan Ramadan
Ramadan adalah bulan Al-Qur’an maka amalan dan ibadah Ramadan bertujuan untuk memuliakan Al-Qur’an.

Mukjizat.co – Ibadah puasa Ramadan yang ada di Surat Al-Baqarah 183 dan amalan lain seperti membaca Al-Qur’an dan memahami artinya memiliki keutamaan besar. Banyak dalil hadits yang menyebutkan manfaat perintah ini.

Ramadan adalah bulan berkah

Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan bernilai pahala yang sangat besar karena Ramadan adalah bulan berkah. Hadits tentang Ramadan adalah bulan berkah adalah:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan berkah. Allah mewajibkan berpuasa di dalamnya. Pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, orang yang tidak mendapatkan kebaikannya benar-benar tidak mendapatkan hal yang besar.” [An-Nasa’i].

Amalan dan ibadah Ramadan untuk memuliakan Al-Qur’an

Karena Ramadan adalah bulan Al-Qur’an maka amalan dan ibadah Ramadan untuk memuliakan Al-Qur’an. Ayat yang mengatakan bahwa Ramadan adalah bulan Al-Qur’an adalah firman Allah SWT:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” [Al-Baqarah: 185]

Puasa siang hari untuk siap membaca Al-Qur’an di malam hari

Manfaat puasa bulan Ramadan adalah untuk menyiapkan diri kita bisa membaca dan mendengarkan Al-Qur’an di malam hari.

Hikmah ibadah puasa akan menjauhkan diri kita dari maksiat sehingga hati lebih kondusif untuk menerima hidayah Al-Quran. Ayat tentang berpuasa agar khusyuk membaca Al-Qur’an adalah firman Allah SWT:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat.” [Al-Baqarah: 45].

Sebaiknya Anda baca juga:

Shalat Tarawih adalah ibadah mendengar tilawah Al-Qur’an

Apa hubungan antara keutamaan shalat tarawih dan Al-Qur’an? Di dalam shalat Tarawih kita mendengar bacaan Al-Qur’an. Bukan sekadar mendengarnya, karena di luar shalat kita juga bisa mendengarnya.

Keutamaan mendengarkan bacaan Al-Quran dalam keadaan shalat (termasuk shalat Tarawih) adalah bahwa hal itu akan menjadi siaran hidayah yang langsung masuk hati kita. Ayat Al-Qur’an tentang hidayah yang Allah SWT turunkan kepada orang yang sedang shalat adalah firman Allah SWT:

 ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” [Al-Baqarah: 2]

Al-Qur’an akan menjadi hidayah untuk orang-orang yang bertakwa, orang yang sangat merindukan surga dan takut kepada neraka, orang yang melaksanakan perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan Allah SWT.

Sangat tepat membayangkan orang yang bertakwa adalah orang yang sedang melaksanakan shalat. Jadi mendapatkan hidayah dari Al-Qur’an yang paling memungkinkan adalah ketika membaca dan mendengarkannya saat sedang melaksanakan shalat.

Banyak beristighfar di malam hari adalah kesiapan untuk mengamalkan Al-Qur’an

Beristighfar adalah memohon ampunan Allah SWT atas dosa dan kesalahan kita. Keutamaan banyak beristighfar adalah bahwa kita mengakui banyaknya kesalahan yang ada pada diri kita.

Pengakuan ini adalah syarat utama mengamalkan nasihat dan tuntunan Al-Qur’an. Hanya orang yang mau mengakui kesalah yang mau menerima nasihat dan koreksi. Jadi beristighfar di malam hari adalah pernyataan kita siap untuk memperbaiki diri dengan Al-Qur’an

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ. وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Az-Zariyat: 17-18].

Menghidupkan malam dengan banyak beribadah

Malam hari bulan Ramadan adalah waktu yang sangat utama. Bahkan ada ulama yang mengatakan bahwa malam hari bulan Ramadan lebih utama daripada siang harinya.

Oleh karena itu menghidupkan malam-malam bulan Ramadan harus benar-benar kita usahakan. Ini juga untuk memuliakan Al-Qur’an karena turunnya Al-Qur’an adalah di waktu malam.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami turunkan Al-Qur’an pada Malam Al-Qadar.” [Al-Qadar: 1]

I’tikaf adalah menyendiri bersama Al-Qur’an

Dengan ibadah i’tikaf, kita menghabiskan waktu kita di dalam masjid. Sempurnya adalah selama 10 hari 10 malam di akhir bulan Ramadan. Namun kita juga boleh melaksanakannya sesuai dengan kemampuan dan keluangan waktu kita.

Selama berada di dalam masjid, kita melaksanakan ibadah-ibadah seperti shalat, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Ibadah yang paling banyak dilakukan adalah tilawah Al-Qur’an. Kebersamaan yang lama dan sangat dekat akan lebih membuka kesempatan kita mendapatkan pelajaran-pelajaran bernilai dari Al-Qur’an.

Dengan ibadah-ibadah tersebut yang kita jadikan berporos kepada Al-Qur’an semoga kita termasuk Ashabul Qur’an yang akan mendapatkan syafaat sehingga semakin ringan beban akhirat kita. Hadits yang menyebutkan syafaat untuk Ashabul Qur’an adalah:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an karena Al-Qur’an akan datang memberi syafaat kepada orang-orang yang terus membersamainya.” [Muslim]

Al-Qur’an adalah kitab berkah

Al-Qur’an adalah kitab yang penuh berkah. Inilah yang harus kita kejar dan capai di bulan Ramadan. Mendapatkan keberkahan Al-Qur’an, mendapatkan keberkahan Ramadan. Dali ayat Al-Qur’an kitab penuh berkah adalah:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” [Shad: 29].

Keberkahan adalah hadirnya kebaikan Allah SWT dalam segala sesuatu yang diinginkan-Nya. Sedangkan kata “mubarak” adalah sesuatu yang mengandung kebaikan Allah SWT itu. Al-Quran disebut sebagai “Kitab Mubarak” berarti mengandung banyak sekali kebaikan dari Allah SWT.

Karena tidak disebutkan keberkahan dalam hal apa, maka keberkahan itu akan diberikan kepada bentuk apa saja yang “bersentuhan” dengan Al-Qur’an.

Baca juga:

Keberkahan terbesar Al-Qur’an

Keberkahan yang sangat besar di antaranya adalah Al-Quran bisa melahirkan versi baru diri kita (the new version of me) di bulan Ramadhan. Kita mengubah diri kita dengan Al-Qur’an, atau istilah dalam bahasa Arabnya “nataghayyaru bil Qur’an.” Kita setelah bulan Ramadan berbeda dengan kita sebelum bulan Ramadan.

Perubahan internal sangat kita butuhkan untuk mewujudkan perubahan keadaan hidup kita dan hidup orang-orang di sekitar kita. Ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang perubahan internal menuju lebih baik adalah firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’du: 11].

Kehidupan kita tidak akan bisa kita ubah kalau kita tidak bisa mengubah internal kita. Lalu ada jaminan dari Allah SWT, bahwa kalau kita mengubah diri kita dengan Al-Qur’an pasti keadaan kita akan lebih baik. Bukan asal berubah. Dalil Al-Qur’an tentang perubahan menuju lebih baik dengan Al-Qur’an adalah:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” [Al-Isra’: 9].

Bagaimana kita berubah dengan Al-Qur’an?

Agar kita bisa berubah setelah berinteraksi dengan Al-Qur’an, ada beberapa hal yang harus kita lakukan. Intinya adalah memperbaiki kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Bukan sekadar membacanya saja.

Terus menambah pemahaman terhadap Al-Qur’an

Pemahaman kita terhadap Al-Qur’an harus terus bertambah. Karena Al-Qur’an adalah petunjuk. Sebuah petunjuk tidak akan bisa menunjukkan kita kalau tidak kita pahami. Karena petunjuk adalah memahamkan.

Pengetahuan kita tentang tafsir Al-Qur’an harus selalu bertambah. Bukan harus seperti apa, atau seperti pengetahuan siapa, tapi harus adalah pertambahan, ada usaha terus-menerus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pemahaman kita dengan tafsir Al-Qur’an.

Selain itu, kita juga hendaknya terus menambah wawasan bahasa Al-Qur’an. Bahasa Arab. Karena hidayah dari Allah SWT akan banyak tercurahkan saat kita membaca dan mendengarkan Al-Qur’an ketika shalat. Sedangkan yang dibaca dalam shalat bukanlah terjemah Al-Qur’an maupun tafsir Al-Qur’an. Yang kita dengar hanyalah bacaan Al-Qur’an yang berbahasa Arab.

Dari sinilah pentingnya kita terus menambah pengetahuan bahasa Arab kita. Bukan harus sampai bisa bercakap-cakap dengan bahasa Arab, tapi mengenal makna-makna yang terkandung dalam lafazh-lafazh bahasa Al-Qur’an. Kita bisa memahaminya dan langsung bisa merasakannya.

Turut dalam halaqah Al-Qur’an

Halaqah Al-Qur’an adalah membaca dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dalam lingkaran atau perkumpulan orang banyak. Ikut dalam halaqah Al-Qur’an, atau majelis Al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat penting untuk kita. Karena itulah Rasulullah SAW sangat menganjurkannya.

Buktinya Rasulullah SAW menyebutkan banyak sekali pahala yang kita dapatkan kalau kita ikut dalam halaqah Al-Qur’an. Duduk melingkar bersama banyak orang, dan membaca Al-Qur’an secara bergantian.

Dalil hadits tentang pentingnya duduk dalam halaqah Al-Qur’an adalah:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، ويتَدَارسُونَه بيْنَهُم، إِلاَّ نَزَلتْ علَيهم السَّكِينَة، وغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَة، وَحَفَّتْهُم الملائِكَةُ، وذَكَرهُمْ اللَّه فيِمنْ عِنده

“Setiap kali orang-orang berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya di antara mereka, maka pasti sakinah akan turun kepada mereka, rahmat akan melingkupi mereka, malaikat akan mengitari mereka, Allah SWT akan menyebutkan mereka.” [Abu Daud].

Menghadirkan hati dan pikiran saat membaca Al-Qur’an

Karena maksud dari tilawah kita adalah untuk mendapatkan hidayah sehingga kita berubah menjadi lebih baik, maka harus ada kehadiran hati dan pikiran kita saat membaca Al-Qur’an. Dalil ayat Al-Qur’an tentang membaca Al-Qur’an dengan hati dan pikiran kita adalah:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” [Qaaf: 37].

Merenungi dan memikirkan masalah yang sedang dibicarakan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab untuk manusia. Sehingga masalah dan tema yang dibicarakan adalah masalah dan tema kehidupan manusia.

Agar bisa berubah dengan Al-Qur’an, maka setiap masalah dan tema yang sedang Al-Qur’an bicarakan hendaknya kita carikan kesamaan dan kenyataannya dalam diri kita sendiri atau orang-orang di sekitar kita. Sehingga Al-Qur’an yang sedang kita baca benar-benar hidup, nyata, dan bisa kita lihat sehari-hari.

Dengan demikian, Al-Qur’an sangat terasa sebagai kitab kehidupan. Nyata dan bisa kita lihat. Seakan-akan Al-Qur’an sedang berbicara tentang seluk-beluk diri kita, dan seluk kehidupan umum yang kita lihat.

Melaksanakan qiyamullail

Qiyamullail adalah ibadah yang sangat penting agar dalam interaksi kita dengan Al-Qur’an di bulan Ramadan. Terutama jika kita benar-benar menginginkan berubah dengan Al-Qur’an. Karena semakin khusus hubungan kita dengan Al-Qur’an, maka semakin banyak manfaat yang bisa kita dapatkan.

Dalil ayat Al-Qur’an tentang pentingnya qiyamullail dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ. قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا. نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا. أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا. إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” [Al-Muzzammil: 1-5].

Membaca Al-Qur’an di malam hari sangat berbeda dengan membacanya di siang hari. Apalagi jika membacanya sembari melaksanakan shalat tahajud. Karena itulah kenapa Al-Qur’an diturunkan di malam hari.

Membaca dengan tartil dan mendengarkan tilawah orang lain

Keutamaan membaca Al-Qur’an dengan sebenarnya adalah akan memberikan hikmah dan manfaat yang jauh lebih banyak daripada kita membaca Al-Qur’an dengan asal-asalan.

Karena membaca Al-Qur’an dengan baik akan sama atau mendekati bacaan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dalil ayat tentang membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar adalah:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya.” [Al-Baqarah: 121].

Amalan lain yang akan memberikan hikmah dan manfaat yang besar saat berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari lisan orang lain. Dalil hadits tentang keutamaan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain, terutama di bulan Ramadan, adalah:

Ibnu Mas’ud RA mengatakan, “Rasulullah SAW berkata kepadaku, ‘Bacakanlah Al-Qur’an untukku.’ Maka aku menjawab, ‘Bagaimana aku membacakan Al-Qur’an untukmu, padahal kepadamu Al-Qur’an diturunkan.’ Beliau mengatakan, ‘Aku ingin dan senang mendengarkannya dari orang lain.’

Maka aku bacakan surat An-Nisa’. Hingga saat sampai kepada ayat (فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا) [An-Nisa’: 41], beliau berkata, ‘Cukup.’ Ternyata kedua mata beliau sudah bercucuran air mata.”

Bukti bahwa mendengarkan bacaan Al-Qur’an orang lain sangat bermanfaat adalah bahwa gunung yang mendengarkan Al-Qur’an sangat terpengaruh. Dalil ayat tentang gunung yang terpengaruh Al-Qur’an adalah:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” [Al-Hasyr: 21]

Tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an

Tadabbur adalah hasil yang pasti kita dapatkan jika melaksanakan langkah-langkah di atas. Dalam membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan, kita pun akhirnya bisa tadabbur Al-Qur’an artinya kita akan mendapatkan dan merasakan ma’ani Al-Qur’an, berupa pelajaran, nilai, prinsip, pedoman, petunjuk, rambu, dan sebagainya untuk kehidupan kita.

Silakan baca juga:

Menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi kehidupan

Ini adalah praktik yang sangat penting dalam amalan membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan. Menjadikan Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk dalam hidup kita. Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan bukan hanya sebagai amalan, tapi membaca Al-Qur’an untuk mencari petunjuk dan solusi bagi masalah yang sedang kita hadapi.

Dalil bahwa Al-Qur’an harus menjadi referensi adalah:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya).” [An-Nisa’: 59].

Kita lakukan hal itu dalam semua urusan. Karena kita sudah menyatakan diri sebagai hamba Allah SWT yang akan taat dalam semua urusan. Dalil Al-Qur’an bahwa seluruh bidang kehidupan kita berdasarkan Al-Qur’an:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [Al-An’am: 162].

Membandingkan keadaan yang kontradiktif berdasarkan Al-Quran

Hidup adalah pilihan. Kita bebas memilih apa saja asalkan siap dengan konsekuensi masing-masing pilihan. Seringkali kita memilih pilihan yang salah, karena karena tergoda dengan kenikmatan yang semu.

Pilihan yang ditunjukkan Allah SWT adalah pilihan yang terbaik. Al-Qur’an menunjukkan perbedaan yang sangat kontras antara dua pilihan yang bisa kita ambil. Agar bisa mengambil pilihan yang benar, hendaknya kita sering membandingkan keadaan yang kontradiktif berdasarkan pilihan Al-Qur’an.

Dalil tentang berbagai pilihan yang kontradiktif adalah:

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَلَا الْمُسِيءُ قَلِيلًا مَا تَتَذَكَّرُونَ

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” [Ghafir: 58].

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ. وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ. وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ. وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” [Fathir: 19-22].

أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ

“Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama.” [As-Sajdah: 18].

Napak tilas peristiwa sejarah dan kejadian alam

Benar-benar merasakan peristiwa yang Al-Qur’an kisahkan akan sangat membantu kita dalam mengubah diri kita dengan Al-Qur’an. Karena keagungan Allah SWT yang mengabarkan hal itu dan menghendaki peristiwa itu terjadi akan bisa kita rasakan.

Ayat-ayat tentang kehancuran umat-umat terdahulu, kesombongan kaum-kaum yang menentang para nabi, akibat yang mereka rasakan di akhir kisah kehidupan mereka, akan sangat terasa kalau kia mengunjungi tempat dan situs peninggalan mereka.

وَسَكَنْتُمْ فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ

“dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan?” [Ibrahim: 45].

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” [Al-An’am: 11]

Jika memang sulit untuk mendatangi tempat-tempat tersebut, alam di sekitar kita adalah wujud nyata kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Proses kejadiannya pun banyak diterangkan dalam Al-Qur’an. Seperti proses terjadinya hujan, proses pembentukan dan perkembangan janin, dan sebagainya.

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka?  Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan.” [Ar-Rum: 9].

Silakan baca juga:

Doa al-intifa’ bil Qur’an

Agar kita bisa membaca Al-Qur’an dengan mendapatkan banyak sekali manfaat dan hikmah, maka Rasulullah SAW mengajari kita doa-doanya. Di antara doa tilawah Al-Qur’an yang terbaik agar kita mendapatkan manfaat dan keutamaan yang banyak adalah:

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِا بالقُرْءَانِ وَاجْعَلهُ لنا إِمَاماً وَنُوراً وَهُدًى وَرَحْمَةً

“Ya Allah, sayangilah kami dengan Al-Quran, jadikanlah Al-Quran pembimbing kami, cahaya, hidayah, dan rahmat bagi kami.”

اللَّهُمَّ ذَكِّرْنا مِنْهُ مَا نَسِينا وَعَلِّمْنا مِنْهُ مَاجَهِلْنا وَارْزُقْنا تِلاَوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لنا حُجَّةً يَارَبَّ العَالَمِينَ

“Ya Allah, ingatkan kami hafalan yang terlupa, ajari kami pelajaran yang belum kami ketahui, karuniakan kepada kami bisa membacanya sepanjang hari, dan jadikanlah Al-Quran bukti yang meringankan kami pada Hari Akhirat nanti.”

اللهٌمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا وَهُمُوْمِنَا

“Ya Allah, jadikanlah Al-Quran kesejukan bagi hati kami, cahaya yang menerangi dada kami, dan hilangnya kesedihan kami.”

اللهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ حُجَّةً لَنَا وَلَا تَجْعَلْهُ حُجَّةً عَلَيْنَا

“Ya Allah, jadikanlah Al-Quran pembela yang akan meringankan kami, bukan penuntut yang akan memberatkan kami.”

اللهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقْرَؤُهُ فَيَرْقَى وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقْرَؤُهُ فَيَشْقَى

“Ya Allah, jadikanlah kami orang yang membaca Al-Quran lalu meningkat derajatnya. Jangan jadikan kami orang yang membacanya lalu menderita.”

اللهُمَّ ارْزُقْنَا بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَلَاوَةً وَبِكُلِّ كَلِمَةٍ كَرَامَةً وَبِكُلِّ آيَةٍ سَعَادَةً وَبِكُلِّ سُوْرَةٍ سَلَامَةً وَبِكُلِّ جُزْءٍ جَزَاءاً

“Ya Allah, karuniakan kepada kami setiap hurufnya kelezatan, setiap katanya karamah, setiap ayatnya kebahagiaan, setiap suratnya keselamatan, dan setiap juznya balasan yang sempurna.”

اللهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ ضِيَاءَ حَيَاتِنَا وَآخِرَتِنَا

“Ya Allah, jadikanlah Al-Quran cahaya hidup kami di dunia dan akhirat.”

اللهُمَّ وَفِّقْنَا لِحِفْظِهِ وَحُسْنِ تِلَاوَتِهِ وَدِقَّةِ أَحْكَامِهِ وَهِمَّةِ تَعَلُّمِهِ وَحُبِّ تَعْلِيْمِهِ

“Ya Allah, bimbinglah kami untuk bisa kuat dalam menghafalnya, baik dalam tilawahnya, teliti dalam hukum-hukumnya, semangat dalam mempelajarinya, dan kecintaan dalam mengajarkannya.”

اللهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ شَفِيْعًا لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Allah, jadikanlah Al-Quran pemberi syafaat kami pada Hari Kiamat.”

Dengan demikian, ibadah puasa Ramadan yang ada di Surat Al-Baqarah 183 dan amalan lain seperti membaca Al-Qur’an dan memahami artinya akan memberikan keutamaan besar bagi kita. Kita tidak hanya mengetahui dalil ayat dan hadits tentang manfaat perintah ini, tapi benar-benar mendapatkannya. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah I Al-An’am I Al-A’raf I Al-Anfal I At-Taubah

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda