TEMUAN

Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan

Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan
Rasulullah SAW. sangat berbahagia ketika ada orang yang membuktikan kesesuaian antara wahyu dengan testimoni ahli di bidangnya.

mukjizat.co – Tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan modern telah menjadi tema polemik di kalangan ulama Ulumul Qur’an. Karena adanya hubungan yang sangat erat antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, kemukjizatan ilmiah dalam Al-Qur’an, maka para ulama mengusulkan metode tafsir yang baru ini.

Awalnya muncul kemukjizatan ilmiah

Istilah kemukjizatan ilmiah dalam Al-Qur’an menjadi awal polemik boleh-tidaknya tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan.

Kemukjizatan ilmiah adalah penemuan ilmiah modern yang sudah tetap, yang menguatkan hal-hal yang disebutkan oleh Al-Quran, disertai bukti kuat menurut para pakarnya.

Tujuan studi kemukjizatan ilmiah adalah untuk membuktikan kebenaran Rasulullah saw. baik dalam Al-Qur’an maupun hadits, mengungkap rahasia-rahasianya, dan membantu memahami hikmah dalam ajaran Rasulullah SAW.

Syarat-syarat kemukjizatan ilmiah

Tidak serta-merta adanya penemuan ilmu pengetahuan langsung dikaitkan dengan sebuah ayat dalam Al-Qur’an. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi hingga akhirnya hal itu menunjukkan adanya hubungan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan.

Beberapa syarat misalnya harus terpenuh dalam penemuan yang digunakan untuk studi kemukjizatan ilmiah. Di antaranya:

  • Penemuan ilmiah yang sudah tetap.
  • Dikuatkan bukti yang pasti.
  • Dikonfirmasi para pakar.
  • Bukan merupakan hipotesa.

Ada juga syarat-syarat untuk ayat-ayat yang dikaji secara ilmua untuk kemudian dibuktikan kebenarannya dengan penemuan ilmiah itu. Di antaranya:

  • Dipahami dengan metode pemahaman syariah yang benar.
  • Sesuai kaidah bahasa Arab.
  • Sesuai dengan maqashid syariah.
  • Sesuai dengan kadiah tafsir.

Hal yang sama juga berlaku untuk orang yang meneliti kemukjizatan ilmiah itu. Pakar atau ilmuwan yang melakukannya hendaknya memenuhi beberapa syarat berikut ini:

  • Pakar yang diakui kredibilitas keilmuannnya minimal dalam bidang yang dibahasnya.
  • Mampu memahami teks Al-Quran dan hadits langsung dari sumbernya.
  • Mempu mengambil kesimpulan dari teks tersebut sesuai dengan kaidah bahasa dan kaidah tafsir.
  • Berkonsultasi kepada pakar syariah dalam hal yang tidak diketahuinya.
  • Sebaiknya peneliti adalah sebuah tim pakar yang berasal dari berbagai disiplin keilmuan terkait.

Tafsir Al-Quran dengan penemuan ilmu pengetahuan

Karena para ulama dan ilmuwan terbukti banyak menemukan dan membuktikan adanya hubungan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, maka muncullah ide bahwa ayat-ayat Al-Qur’an harus dikaji secara ilmiah untuk mendapatkan makna yang lebih dalam dan relevan dengan perkembangan zaman dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun masih terjadi polemik antara kelompok ulama yang membolehkan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan dan ulama yang tidak membolehkannya.

Ulama yang membolehkan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan

Ulama yang membolehkan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan tidak serta-merta melepaskan penafsiran dari kaidah-kaidah tafsir yang sudah berlaku selama ini. Mereka ada ulama yang berusaha menjaga relevansi antara ayat Al-Qur’an dengan ilmu modern.

Tokoh-tokohnya yang membolehkan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan di antaranya: Syaikh Muhammad Abduh, Syaikh Rasyid Ridha, Syaikh Abdul Hamid bin Badis, Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Ahmad bin Shidiq Al-Ghimari, Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi. Mereka adalah tokoh-tokoh ulama besar dunia yang tidak diragukan lagi kompetensinya dalam keilmuan Islam.

Namun demikian, mereka tetap menerapkan beberapa aturan agar tafsir Al-Qur’an tetap terjaga orisinalitas keilmuan Islamnya, sehingga tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan memang hanya menambah dan bukan mengubah ilmu yang sudah ada.

  • Sesuai kaidah bahasa. Misalnya tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan harus tetap menggunakan makna kata yang dipahami saat turunnya Al-Quran, tidak boleh terlepas dari  kaidah gramatikal dan maknanya, dan tetap menggunakan kaidah kaidah balaghah dan maknanya.
  • Menghindari sikap takwil. Menakwilkan makna lafaz dalam ayat hanya untuk sesuai dengan penemuan ilmu pengetahuan modern.
  • Dan yang tidak kalah pentingnya dilarang menjadikan Al-Quran sebagai objek kajian sehingga akhirnya diambil kesimpulan apakah Al-Qur’an relevan dengan ilmu pengetahuan atau tidak. Yang menjadi objek kajian adalah penemuan ilmiahnya, apakah ilmu pengetahuan sesuai dengan Al-Qur’an atau tidak.
  • Lalu hal yang harus dipastikan adalah bahwa Al-Quran hanya bisa ditafsiri dengan penemuan yang sudah tetap.

Ulama yang tidak membolehkan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan

Ketika menolak ide penafsiran Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan bukan berarti mereka adalah orang-orang yang menolak perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka ada ulama yang berusaha memelihara keorisinalan penafsiran dengan kaidah-kaidah yang berlaku selama ini.

Tokoh-tokoh ulama yang tidak membolehkan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan antara lain Syaikh Mahmud Syaltut, Al-Ustaz Sayid Qutub, Syaikh Muhammad Husain Az-Zahabi.

Mereka memiliki beberapa alasan untuk menolak metode tafsir ini. Di antaranya:

  • Al-Quran adalah kitab hidayah, dan bukan kitab ilmu pengetahuan. Sehingga Al-Qur’an tidak berfungsi untuk menerangkan ilmu pengetahuan.
  • Jika tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan dibolehkan, maka hal itu bisa mengakibatkan berubah-ubahnya tafsir Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
  • Selain itu juga membuat ahli tafsir harus sering mentakwilkan makna lafaz-lafaz dalam Al-Quran agar sesuai dengan penemuan ilmu pengetahuan.
  • Isyarat kuat bahwa Al-Quran bukan kitab ilmu pengetahuan terdapat dalam ayat(يَسْئَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ) “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” [Al-Baqarah: 189]. Bahwa ketika ada pertanyaan tentang sisi ilmiah, Al-Qur’an memberikan jawaban yang mengarahkan kepada sisi iman dan amal.

Sebenarnya alasan-alasan yang ulama kemukakan itu tidak lagi menjadi sebuah kekhawatiran jika para ulama benar-benar menerapkan kaidah-kaidah dalam penafsiran ilmiah. Misalnya:

  • Al-Quran tetap kitab hidayah, tapi mengandung isyarat-isyarat ilmiah. Membahasnya bahkan bisa menjadi jalan hidayah manusia modern.
  • Hasil hipotesa memang tidak bisa dijadikan alat tafsir.
  • Tidak diperbolehkan mentakwil tanpa alasan yang jelas, dan memang tidak bisa dipahami dengan makna awal.

Kebahagiaan Rasulullah SAW dengan penemuan yang menguatkan ajarannya

Rasulullah SAW. sangat berbahagia ketika ada orang yang membuktikan kesesuaian antara wahyu yang disampaikannya dengan pengakuan dan testimoni para ahli di bidangnya.

Rasulullah SAW sangat senang dengan sahabat Tamim Ad-Dari yang masuk Islam. Beliau bercerita telah bertemu di sebuah pulau dengan orang yang memiliki sifat-sifat seperti Rasulullah SAW sebutkan sebagai sifat Dajjal. Sifat itu sesuai dengan yang diwahyukan kepada Rasulullah saw.

Silakan baca juga:

Beliau juga pernah sangat bergembira dengan perkataan seorang ahli nasab yang mengatakan adanya kesesuaian hubungan nasab antara Usamah bin Zaid dan Zaid bin Harisah, sesuai yang selama ini diyakini Rasulullah SAW. Padahal sebelumnya ada orang yang sempat meragukan hubungan nasab tersebut.

Demikianlah, polemik tentang metode tafsir Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan modern di kalangan ulama Ulumul Qur’an. Adanya hubungan yang sangat erat antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, kemukjizatan ilmiah dalam Al-Qur’an, sangat menguatkan bolehnya metode tafsir yang baru ini. (sof1/mukjizat.co).

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah I Al-An’am I Al-A’raf I Al-Anfal

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda