TEMUAN

Akal dalam Islam

Akal dalam Islam
Islam adalah agama yang moderat, memberikan dan menjaga akal fungsi dan kedudukan yang sesuai.

mukjizat.co – Islam  menjaga fungsi dan kedudukan akal manusia. Setiap manusia diberi akal dan pikiran di antaranya untuk memikirkan dalil dan bukti tentang kebenaran agama ini.

Misi Islam adalah untuk membebaskan akal, mengajak untuk memikirkan alam semesta, meninggikan derajat ilmu dan ulama, dan menerima apapun yang baik dan bermanfaat.

Dalam Islam, hikmah adalah sesuatu yang hilang dari seorang Mukmin, maka di mana pun mendapatkannya dialah yang paling berhak untuk mengambilnya.

Akal adalah dasar keimanan

Dasar keimanan dalam Islam adalah pemikiran yang benar dalam membuktikan benarnya ajaran Allah SWT dan salahnya ajaran-ajaran kesyirikan.

Menguatkan keimanan juga kita dapatkan melalui penelitian yang mendalam. Agama Islam seperti ilmu pengetahuan, ajaran-ajarannya didasarkan kepada bukti dan dalil yang kuat.

Islam tidak memerangi akal, justru menjadikan akan sebagai alat yang akan mengantarkan kepada kebenaran. Allah SWT berfirman:

كَذَلِكَ يُحْيِ اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” [Al-Baqarah: 73]

Perhatian Islam kepada akal manusia

Perhatian Islam kepada akal manusia sangatlah besar. Islam memberikan wilayah yang luas kepada akal, sehingga sehingga potensi akal manusia terpelihara dari tersia-siakan fungsi dan kedudukannya karena menggeluti masalah-masalah yang bukan merupakan wilayahnya.

Islam selalu mengajak kita untuk menggunakan akal dalam berbagai sisi kehidupan sehingga bisa mengetahui kebenaran secara mendalam dan menyeluruh. Harus digunakan metode berfikir yang benar untuk mengantarkan kepada hasil yang bisa dipertanggungjawabkan.

Hal ini sama dengan ilmu pengetahuan, yang harus berdasarkan bukti dan bukan sekadar sangkaan. Allah SWT berfirman:

أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” [An-Naml: 64]

Dua sikap yang salah terhadap akal manusia

Saat Islam datang, ada dua sikap yang salah terhadap akal manusia. Pertama, adanya sikap membelenggu akal dengan berbagai macam taklid dan khurafat. Allah SWT berfirman:

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” [Az-Zukhruf: 23]

Kedua, sikap yang membebaskan akal tanpa batas, bahkan di wilayah yang bukan wilayahnya, sehingga berakibat kepada kesesatan. Rasulullah SAW bersabda:

تفكروا في آلاء الله، ولا تفكروا في الله

“Bertafakurlah terhadap nikmat-nikmat Allah, dan jangan bertafakur terhadap Zat Allah.” [Thabrani].

Sebaiknya Anda membaca juga:

Dengan demikian, Islam adalah agama yang moderat, memberikan dan menjaga akal fungsi dan kedudukan yang sesuai. Dalam Islam, manusia diberi akal pikiran untuk menggunakannya dengan benar. Seperti mencari dalil terkait keimannya, dan juga untuk memakmurkan bumi. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah I Al-An’am I Al-A’raf I Al-Anfal

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda