HOW TO

Membentuk Akhlak dengan Cara Latihan

Membentuk Akhlak dengan Cara Latihan
Pada awalnya, orang dermawan dan bakhil sama saja. Tapi dengan latihan dia berhasil mengalahkan sisi buruk jiwanya.

mukjizat.co – Pembentukan akhlak mulia mempunyai banyak faktor dan cara. Dengan cara latihan terus-menerus, misalnya. Seperti kita lihat dalam contoh hidup Rasulullah SAW. Beliau mengajarkan cara membentuk akhlak generasi umat Islam pertama, yaitu para sahabat sehingga menjadi umat terbaik.

Melatih nafsu

Latihan yang kita maksud adalah latihan untuk memaksa nafsu melakukan hal yang tidak dia sukai, sehingga nantinya akan bisa membiasakannya dan menjadi prilaku tertentu.

Kebiasaan yang terus kita ulang-ulang akan menjadi hal yang kita senangi. Pada perkembangannya, hal yang kita senangi itu akan menjadi seperti seperti akhlak bawaan (fitrah), sehingga akhirnya benar-benar menjadikan akhlak.

Jiwa manusia mempunya potensi untuk menyerap banyak akhlak utama. Karena itulah ada pendidikan akhlak yang berusaha mengenalkan dan menanamkan akhlak-akhlak tertentu pada diri kita.

Sudah sangat sering kita dengarkan ungkapan:

العلم بالتعلم

“Memperoleh ilmu adalah dengan mempelajarinya.”

Proses latihan

Menjadikan sebuah kebaikan sebagai akhlak kita memerlukan latihan yang kita lakukan dengan sedikit memaksa. Seperti latihan dalam olahraga, kalau tidak ada unsur paksaan, menahan yang berat, memaksa hal yang sulit, maka sebuah cabang olahraga tidak bisa kita kuasai.

Islam sudah mengajarkan sebuah jenis kebaikan, kemudian menyerahkan kepada kita apakah mau mempelajarinya atau tidak. Rasulullah SAW menjelaskannya dalam hadits tentang latihan akhlak:

ما يكن عندي من خير فلن أدخره عنكم، ومن يستعفف يعفَّه الله، ومن يستغن يغنه الله، ومن يتصبر يصبره الله، وما أعطي أحد عطاء خيرًا وأوسع من الصبر

“Semua kebaikan yang kumiliki tidak pernah kusembunyikan dari kalian. Orang yang berusaha untuk suci maka Allah Taala akan membuatnya suci. Orang berusaha merasa cukup maka Allah Taala akan menjadikannya cukup. Seseorang tidak mendapat pemberian yang lebih luas daripada kesabaran.” [Muslim]

Melatih jiwa menjadi dermawan

Bahkan Rasulullah SAW menjelaskan tentang perbedaan antara orang yang mau belajar dan latihan, dan orang yang tidak mau belajar dan latihan. Misalnya terdapat dalam hadits tentang latihan menjadi orang yang dermawan ini.

مَثَلُ الْبَخِيلِ وَالْمُنْفِقِ كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا جُبَّتَانِ مِنْ حَدِيدٍ مِنْ لَدُنْ ثُدِيِّهِمَا إِلَى تَرَاقِيهِمَا فَأَمَّا الْمُنْفِقُ فَلَا يُنْفِقُ مِنْهَا إِلَّا اتَّسَعَتْ حَلَقَةٌ مَكَانَهَا فَهُوَ يُوَسِّعُهَا عَلَيْهِ وَأَمَّا الْبَخِيلُ فَإِنَّهَا لَا تَزْدَادُ عَلَيْهِ إِلَّا اسْتِحْكَامًا

“Permisalan seorang bakhil dengan orang yang suka berinfaq adalah seperti dua orang laki-laki yang mengenakan baju besi yang membungkus tulang dadanya. Adapun orang yang suka berinfaq, tidaklah ia berinfaq kecuali baju besi itu seakan membesar dan memberikan kelonggaran baginya, sedangkan bagi orang yang bakhil baju besi tersebut tidak bertambah besar dan memberi kelonggaran, tapi bertambah kuat mencengkram.” [Ahmad]

Pada awalnya, orang dermawan dan bakhil sama saja. Tapi dengan latihan berinfak, baju besinya membesar hingga menutupi tubuhnya. Dia telah berhasil mengalahkan sisi buruk jiwanya sehingga menjadi pribadi yang dermawan.

Sebaiknya Anda membaca juga:

Sedangkan orang bakhil dan tidak pernah mau latihan memaksa diri untuk mudah memberi, baju besinya mengecil. Ini adalah sebuah perumpamaan bahwa sifat bakhil akan menjadi akhlak yang kuat menancap pada dirinya.

Kalau kita perhatikan, di awal latihan, semua akhlak baik tentu akan terasa sangat berat. Apalagi jika hal tersebut bukan sifat asli dirinya. Tapi dengan terus berlatih, hal itu bisa berubah menjadi kebiasaan yang permanen.

Demikianlah, pembentukan akhlak mulia mempunyai banyak faktor dan cara. Latihan terus-menerus, salah satunya. Seperti kita lihat dalam contoh hidup Rasulullah SAW. Beliau mengajarkan cara membentuk akhlak generasi umat Islam pertama, yaitu para sahabat sehingga menjadi umat terbaik. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah I Al-An’am I Al-A’raf I Al-Anfal

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda