AKHLAK

Hadits-Hadits Tentang Akhlak dalam Islam

Hadits-Hadits Tentang Akhlak dalam Islam
Kedudukan akhlak sangat tinggi dalam Islam. Kenapa banyak yang tidak memedulikannya?

mukjizat.co – Mengetahui hadits-hadits tentang akhlak dalam Islam akan membuat kita paham bahwa kedudukan akhlakul karimah dalam Islam bukan hal yang bisa ditawar. Akhlak adalah berbeda dengan moral dan budi pekerti. Proses pembentukannya harus melalui akidah dan ibadah.

Mungkin masih banyak orang mengira bahwa mempunyai akhlak yang baik adalah hal yang bersifat tambahan dan pilihan. Bahwa yang terpenting adalah mempunyai akidah yang lurus, dan ibadah yang benar. Setelah itu, bila memiliki akhlak mulia adalah hal yang perlu disyukuri. Jika tidak, ya tidak mengapa.

Misi dakwah Rasulullah SAW.

Hadits tentang akhlak innama buistu ini menjadi kuncinya. Rasulullah SAW bersabda:

إنما بُعِثتُ لأتمم مكارم الأخلاق

“Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.” [Baihaqi].

Kenapa akhlak, bukankah Rasulullah SAW juga mengajarkan akidah, ibadah, dan muamalah? Pertanyaan inilah yang akan membawa kita kepada mengetahui betapa pentingnya akhlak dalam Islam, dan bahwa cara mendapatkannya bukanlah seperti belajar etika. Akhlak dalam Islam ternyata adalah hasil dari akidah dan ibadah yang benar.

Ibadah bukan sekadar ritual

Ibadah dalam Islam bukan sekadar ritual dengan alam ghaib tanpa tujuan. Dalam agama lain, ibadah biasanya akan berupa ritual-ritual yang kita tidak bisa memahaminya.

Ritua-ritual itu akan terasa aneh dan ganjil karena memang merupakan kreasi manusia untuk menghubungkan diri mereka dengan yang gaib. Padahal manusia tidak mengetahui alam gaib dengan utuh.

Shalat dalam Islam di antaranya adalah sarana latihan untuk terjauhkan dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Perbuatan keji dan munkar tentulah merupakan akhlak mazmumah (akhlak yang tercela.

Allah SWT berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” [Al-Ankabut: 45].

Rasulullah SAW bersabda:

إنما أتقبل الصلاة ممن تواضع لعظمتى ولم يتكبر على خلقى وقطع نهاره بذكرى ولم يبت مصرا على خطيئتى

“Yang Aku terima adalah shalatnya orang yang merendahkan hatinya kepada keagungan-Ku, tidak bersikap sombong kepada makhluk-Ku, siang harinya dia banyak mengingat-Ku, dan malam harinya tidak tenggelam dalam berbuat kesalahan kepada-Ku.” [As-Suyuthi]

Demikian juga zakat yang merupakan sarana untuk membersihan dan mensucikan jiwa kita. Allah SWT berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” [At-Taubah: 103].

Faidah zakat adalah akan mensucikan jiwa muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) dari penyakit bakhil, dan penyakit tidak bersyukur. Juga akan mensucikan mustahiq (orang yang menerima zakat) dari penyakit iri kepada orang lain.

Dengan hilangnya penyakit-penyakit itu maka hubungan sosial kemasyarakatan akan menjadi harmonis. Oleh karena itu, Rasulullah SAW pun memperluas cakupan zakat ini. Karena ada banyak hal yang juga bisa mempererat hubungan sesama Muslim. Hadits yang memperluas cakupan zakat ini adalah:

تبسمك فى وجه أخيك صدقة

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” [Ibnu Hibban].

Dalam ibadah puasa, jelas sekali Rasulullah SAW menjelaskan faidah yang sangat terkait dengan pembentukan akhlakul karimah. Beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Orang yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan perbuatannya, maka Allah SWT tidak menerima amalannya berupa meninggalkan makanan dan minumannya.” [Bukhari].

Iman yang kuat harus melahirkan akhlak mulia

Iman seharusnya melahirkan akhlak yang mulia. Karena itulah Rasulullah SAW menyebutkan beberapa akhlak yang menjadi pasangan keimanan. Hadits tentang akhlak yang seperti ini adalah:

الحياء والإيمان قرناء جميعا فإذا رفع أحدهما رفع الآخر

“Rasa malu dan keimanan adalah berpasangan. Jika salah satu hilang, maka hilang yang lainnya.” [Hakim dan Thabrani].

Sehingga jika ada seorang Mukmin mempunyai akhlak yang buruk, maka hal itu menunjukkan adanya masalah dalam keimanannya. Rasulullah SAW bersabda:

واالله لا يؤمن، واالله لا يؤمن، واالله لا يؤمن. قيل: من يا رسول االله؟ قال: الذى لا يأمن جاره بوائقه

“Demi Allah dia tidak beriman. Demi Allah dia tidak beriman. Demi Allah dia tidak beriman. Siapa? Orang yang tetangganya takut dengan keburukannya.” [Bukhari].

Banyak beribadah tapi tanpa dasar keimanan yang kuat, juga tidak akan menghasilkan akhlak yang baik. Maka ibadah pun tidak bisa menyelamatkan dari dosa-dosa akhlak yang buruk. Rasulullah SAW bersabda:

أن رجلا قال له: يا رسول االله، إن فلانة تذكر من كثرة صلاتها وصيامها وصدقتها، غير أنها تؤذى جيرانها بلسانها. فقال: هى فى النار. ثم قال: يا رسول االله فلانة تذكر من قلة صلاتها وصيامها، وأنها تتصدق بالأثوار من الأقط ـ بالقطع من العجين ـ ولا تؤذى جيرانها. قال: هى فى الجنة

“Ada orang yang berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Ya Rasulullah, ada seorang wanita yang banyak melaksanakan shalat sunnah, puasa sunnah, dan sedekah sunnah. Tapi dia menyakiti tetangga dengan lisannya.’ Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Dia di neraka.’ Lalu orang itu kembali berkata, ‘Ya Rasulullah, ada seorang wanita yang shalat dan puasa sunnahnya sedikit, tapi dia bersedekah makanan apapun, seadanya, dan tidak menyakiti tetangganya.’ Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Dia di surga.’” [Ahmad].

Terkait dengan iman kepada Hari Akhir, masalah akhlak juga sangat berpengaruh. Akhlak yang baik bisa menambah timbangan pahala yang sangat berat, sedangkan akhlak yang buruk bisa banyak sekali mengurangi timbangan pahala tersebut. Hadits yang terkait dengan pengaruh akhlak di akhirat nanti di antaranya:

أتدرون من المفلس؟ قالوا: المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع. فقال: المفلس من أمتى من يأتى يوم القيامة بصلاة وزكاة وصيام، ويأتى وقد شتم هذا، وقذف هذا، وأكل مال هذا، وسفك دم هذا، وضرب هذا، فيُعطى هذا من حسناته، وهذا من حسناته، فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه، أخذ من خطاياهم فطرحت عليه، ثم طرح فى النار

“Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, ‘Menurut kami, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta lainnya.’ Maka Rasulullah SAW meluruskan, ‘Umatku yang bangkrut adalah orang yang pada Hari Kiamat nanti merasa membawa pahala shalat, zakat, dan puasa, tapi di dunia dia mencela orang lain, menyebarkan tuduhan keburukan orang lain, memakan harta orang lain, mencelakakan orang lain, dan memukul orang lain. Maka masing-masing mereka mengambil pahala-pahala orang itu. Hingga ketika habis seluruh pahalanya, dia harus menanggung dosa orang-orang itu, dan harus masuk neraka.’” [Muslim].

Bahkan, lebih dari itu ada hadits Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kehilangan akhlak mulia bisa berakibat kehilangan iman.

ثلاث من كن فيه فهو منافق، وإن صام وصلى وحج واعتمر، وقال إنى مسلم: إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا أؤتمن خان

“Ada tiga hal yang jika semuanya menjadi akhlak seseorang maka dipastikan dia adalah orang munafik. Walaupun dia masih shalat, puasa, haji, umrah, dan mengaku seorang seorang Muslim. Akhlak itu adalah berbohong ketika berbicara, mengingkari jika berjanji, dan berkhianat ketika diberi amanah.” [Muslim].

Motivasi untuk memiliki akhlak mulia

Tidak tanggung-tanggung, Rasulullah SAW memotivasi umat Islam agar memiliki akhlak mulia. Di antaranya dengan motivasi mendapatkan cinta Allah SWT .

من أحب عباد االله إلى االله تعالى؟ قال: أحسنكم خلقا

“Siapa orang yang paling dicintai Allah? Orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” [Thabrani].

Akhlak yang baik juga menjadi barometer baiknya keislaman kita. Hadits Rasulullah SAW:

إن الفحش والتفحش ليسا من الإسلام فى شىء، وإن أحسن الناس إسلاما، أحسنهم خلقا

“Sesungguhnya berkata buruk dan memburuk-burukkan perkataan bukanlah termasuk akhlak dalam Islam. Sesungguhnya orang yang paling baik keislamananya adalah yang paling baik akhlaknya.” [Tirmizi].

Silakan baca juga:

Ada agama menjanjikan penghapusan dosa sebesar apapun hanya dengan meyakini atau mengamalkan sesuatu. Agama Islam tidaklah seperti itu. Kalau memang iya, pastilah keyakinan dan amalan itu menjadi poros bagi perbuatan-perbuatan baik lainnya. Hadits Rasulullah SAW:

إن المسلم المسدد ليدرك درجة الصوام القوام بآيات االله٬ بحسن خلقه وكريم طبيعته

“Seseungguhnya seorang Muslim yang beribadah sesuatu standar saja akan bisa mencapai derajat orang ahli puasa dan ahli qiyamullail, dengan akhlak mulianya dan perangai baiknya.” [Ahmad].

Bagaimana Rasulullah SAW menanamkan akhlak mulia

Dalam menanamkan akhlak kepada para sahabat, Rasulullah SAW bukan hanya memerintahkan tapi selalu mencontohkan. Hal itu terlihat dalam testimoni orang yang sehari-hari bersama Rasulullah SAW, yaitu Anas bin Malik RA yang menjadi pembantu beliau.

أنس قال: خدمت النبى – صلى االله عليه وسلم – عشر سنين، واالله ما قال لى: أف قط، ولا قال لشيء: لمَ فعلت كذا؟ وهلا فعلت كذا

Anas bin Malik RA berkata, “Aku menjadi pembantu Rasulullah SAW selama sepuluh tahun, dan selama itu demi Allah beliau tidak berkata ‘uff’ dan tidak bertanya, ‘Kenapa kau lakukan ini?’ ‘Kenapa tidak kau lakukan itu?’” [Muslim].

Bukan hanya kepada orang dewasa beliau akrab dengan akhlak mulia. Kepada siapa pun Rasulullah SAW memperlihatkan akhlak mulianya. Masih perkataan Anas bin Malik.

عن أنس: إن كانت الأمَةُ لتأخذ بيد رسول االله – صلى االله عليه وسلم – فتنطلق به حيث شاءت، وكان إذا استقبله الرجل فصافحه، لا ينزع يده من يده؛ حتى يكون الرجل ينزع يده٬ ولا يصرف وجهه عن وجهه؛ حتى يكون الرجل هو الذى يصرفه٬ ولم يُرَ مُقدِّمًا ركبتيه بين يدى جليس له – يعنى أنه يحتفظ مع جلسائه فلا يتكبر

Anas mengatakan, “Bisa saja seorang perempuan hamba sahaya mengambil tangan Rasulullah SAW dan mengajaknya kemanapun dia mau. Jika bertemu dengan orang lain dan bersalaman, Rasulullah SAW tidak melepas tangannya sampai orang itu yang melepas tangannya sendiri. Rasulullah SAW tidak mengalihkan pandangannya sampai orang itu sendiri yang mengalihkan pandangannya. Tidak pernah terlihat Rasulullah SAW menjulurkan kakinya saat duduk bersama orang lain.” [Tirmizi].

Demikianlah, dengan engetahui hadits-hadits tentang akhlak dalam Islam kita paham betul bahwa kedudukan akhlakul karimah sangat tinggi, bahwa akhlak adalah berbeda dengan moral dan budi pekerti sehingga proses pembentukannya harus melalui akidah dan ibadah. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah I Al-An’am I Al-A’raf I Al-Anfal

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda