PERISTIWA

Kisah Tentang Ikhlas, Uniknya Para Ulama yang Takut Popularitas

Kisah Tentang Ikhlas
Kisah ulama terkenal sangat takut popularitas bisa membahayakan keikhlasan dalam beramal dan mengajarkan ilmu-ilmunya.

mukjizat.co – Ikhlas dalam agama Islam adalah hal penting. Seorang Muslim pun harus mengetahui arti dan makna ikhlas. Ada juga cerita pendek dan kisah tentang ikhlas para sahabat dan ulama yang bisa membantu kita bagaimana bisa ikhlas dalam beramal dan beribadah.

Ribet mencari tukang roti

Kisah ikhlas yang pertama menceritakan tentang Muhammad bin Yusuf Al-Asfahani. Beliau adalah seorang ulama terkenal dalam ilmu dan kesalihannya. Karena semua amalannya adalah ikhlas untuk Allah SWT, beliau tidak mau pahala amal ibadahnya berkurang disebabkan sesuatu yang bertentangan dengan keikhlasan.

Karena itulah, Muhammad bin Yusuf Al-Asfahani ingin mendapatkan perlakuan seperti orang lain, dan tidak mau diistimewakan khawatir jika perlakuan istimewa akan mengurangi keikhlasannya dalam beramal dan beribadah.

Cerita tentang ikhlas Muhammad bin Yusuf Al-Asfahani dapat memberi kita pelajaran keikhlasan yang sangat berharga. Misalnya, beliau selalu membeli roti ke beberapa tukang roti. Bukan ke satu tukang roti saja.

Dia berkata, “Aku khawatir tukang roti mengenalku. Maka aku mencari tukang roti yang tidak mengenalku. Karena kalau mengenalku sebagai salah seorang gurunya, lalu dia memperlakukanku berbeda dari pembeli lainnya, maka aku sudah termasuk orang yang hidup dari agamanya.” Subhanallah, betapa hati-hatinya Muhammad bin Yusuf Al-Asfahani dalam menjaga amal ibadahnya dari penyakit yang membahayakan keikhlasan.

Hal yang sama dilakukan oleh Imam Abdullah bin Muhairiz. Beliau tidak mau mendapatkan perlakuan istimewa dalam interaksi jual beli dengan orang lain hanya karena dirinya adalah seorang ulama dan ahli ilmu.

Suatu hari, Imam Abdullah bin Muhairiz masuk ke dalam toko untuk membeli pakaian. Ada pengunjung lain mengetahui bahwa dia adalah Abdullah bin Muhairiz, lalu memberitahu pemiliki toko, sehingga memberikan harga terbaiknya. Abdullah marah dan meninggalkan pakaian itu, berliau berkata, “Aku membeli pakaian dengan uang kami, bukan dengan keshalihan (agama) ku.”

Capek terkenal

Berusaha menjaga keikhlasan adalah hal yang harus dilakukan. Di antara kisah ulama dalam menjaga keikhlasan adalah menjaga hati dari pujian-pujian yang berdatangan kepada mereka. Pujian terus berdatangan karena mereka adalah para ulama yang terkenal.

Seorang ulama terkenal bernama Imam Sufyan Ats-tsauri lebih senang tinggal di tempat yang orang-orang di sana tidak mengenalnya. Ketika tidak dikenal, maka beliau tidak akan mendapatkan banyak pujian yang mengharuskannya terus menjaga hati.

Imam Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Hatiku cocok berada di Mekah dan Madinah bersama orang-orang asing yang tidak mengenalku. Aku hidup bersama orang-orang yang membawa kantung-kantung kasar. Mereka tidak mengenalku. Aku hidup di tengah-tengah mereka layaknya seorang miskin di khalayak umat Islam.”

Subhanallah, beliau adalah ulama fikih yang sangat terkenal, ternyata sangat takut dengan popularitasnya. Beliau menganggap popularitas bisa membahayakan keikhlasannya dalam beramal dan mengajarkan ilmu-ilmunya.

Ulama besar tak dikenal

Masalah yang paling banyak para ulama besar hadapi adalah masalah popularitas. Kisah keikhlasan para ulama dalam hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita dalam mengamalkan makna ikhlas. Berikut cerita keikhlasan Muhammad bin Yusuf Al-Asfahani.

Abdullah bin Mubarak berkunjung ke kota Mashishah. Beliau mencari rumah Muhammad bin Yusuf Al-Asfahani, tapi tidak ada orang yang mengetahuinya. Setelah akhirnya bertemu, Abdullah mengatakan, “Hai Muhammad yang tidak dikenal.” Beliau meyakininya sebagai sebuah keutamaan, seorang ulama besar tapi tidak dikenal oleh penduduk kotanya sendiri. Muhammad bin Yusuf Al-Asfahani melakukan hal itu demi menjaga keikhlasannya.

Ingin mati karena terkenal

Cerita perjuangan para ulama dalam memelihara keikhlasan amal perbuatannya memang sungguh luar biasa. Mereka sangat takut popularitas yang mereka memiliki bisa merusak keikhlasan dan menggugurkan pahala mereka. Bahkan di antara mereka bahkan lebih memilih mati. Karena dengan mati amanlah semua amal ibadah mereka.

Kisah Imam Ahmad bin Hanbal bisa menjadi contoh ikhlas dalam beramal dan beribadah. Beliau mengatakan, “Aku sangat ingin hidup di salah satu perumahan di celah gunung Mekah hingga tidak dikenal orang. Sungguh aku telah sangat diuji ketenaran hingga aku setiap hari aku ingin segera mati.”

Subhanallah, betapa mereka telah mengetahui hakikat dan arti ikhlas dalam agama, sehingga betul-betul memperjuangkannya sedemikian rupa.

Ketenaran menguras pahala

Bahaya tidak ikhlas dalam beramal adalah sangat besar. Para ulama meyakini bahwa penyakit riya’ dan motivasi ingin dipuji misalnya bisa menggugurkan pahala mereka sehingga tidak menyisakan sedikitpun pahala yang telah mereka usahakan. Kisah ikhlas Imam Ayub As-Sakhitani misalnya.

Contoh ikhlas bisa kita dapatkan dari Imam Ayub As-Sakhitani yang mengatakan, “Aku khawatir ketenaran tidak menyisakan satu pun pahalaku di Sisi Allah SWT. Kadang aku mendatangi sebuah majelis ilmu. Aku mengucapkan salam karena aku melihat tidak ada di antara mereka yang mengenalku.

Ternyata mereka menjawab salamku dengan semangat. Kemudian mereka menanyakan permasalahan-permasalahan yang hanya ditanyakan oleh orang yang telah benar-benar mengenalku. Apakah ada kebaikan dalam hal seperti ini?”

Ya Allah, Imam Ayub As-Sakhitani merasa saat dirinya terkenal dengan ulama ahli ilmu adalah sebuah keburukan. Demikian hebat Imam Ayub As-Sakhitani dalam berjuang memelihara keikhlasannya.

Ada lagi kebiasaan Imam Ayub As-Sakhitani yang diceritakan oleh Hammad bin Zaid. Beliau mengatakan, “Kalau kami berjalan bersama Ayub As-Sakhitani melewati orang-orang yang sedang berkumpul, mereka pasti akan menjawab salam beliau dengan semangat. Sedangkan Ayub sendiri menganggapnya sebagai musibah yang membuatnya lama bersedih.”

Semoga Allah SWT merahmati beliau yang telah bersungguh-sungguh menginginkan pahala akhirat sehingga sama sekali tidak mendapatkan pujian dan tempat di hati sesama manusia.

Namun Imam Ayub As-Sakhitani kadang pasrah dengan ketenaran dan popularitasnya. Di waktu yang sama terus memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT. Karena kadang popularitas sangat sulit beliau hindari.

Suatu kali Ayub As-Sakhitani bepergian, dan banyak sekali orang yang ikut bersamanya. Beliau mengatakan, “Seandainya aku tidak yakin bahwa Allah SWT mengetahui bahwa hatiku sangat tidak menyukai hal ini, tentu aku akan takut disiksa Allah SWT.”

Silakan baca juga:

Ulama senang terdorong jatuh

Demi menjaga keikhlasan dari digerogoti penyakit riya’ dan popularitas, banyak ulama rela diperlakukan seperti orang kebiasaan, bahkan mungkin juga mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan. Hal ini seperti dialami oleh Imam Abdullah bin Mubarak.

Kisah ikhlas Imam Abdullah bin Mubarak bisa menjadi pelajaran ikhlas bagi kita. Beliau mengatakan, “Aku dengan bersama Imam Abdullah bin Mubarak. Kami mendatangi tempat minum yang sedang ramai dikerumuni banyak orang.

Ketika sedang minum, beliau terdorong orang-orang karena mereka tidak mengenal beliau. Setelah selesai minum, beliau mengatakan, “Inilah hidup yang kuinginkan. Kita tidak dikenal sehingga tidak perlu dihormati.”

Mending setan daripada pencitraan

Kisah ikhlas ini sungguh menakjubkan. Demi amal ibadahnya ikhlas dan murni hanya untuk Allah SWT, seorang ulama sangat berusaha menghindari tanpil tidak ada adanya.

Imam Ali bin Mukar Al-Basri mengatakan, “Lebih baik aku berpapasan dengan setan daripada bertemu dengan seseorang lalu aku memperbaiki sikapku. Maka dengan itu nilaiku telah jatuh di Sisi Allah SWT.”

Mungkin sebagian orang ingin dipuji karena akhlak baiknya. Tapi kalau akhlak tersebut hanyalah sebuah pencitraan dan bukan sifat asli seseorang, maka hal itu hanya akan membuat citra buruk di Mata Allah SWT. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah I Al-An’am

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda