Al-Quran

Hubungan Sebab Akibat dalam Al-Qur’an

Membentuk Akhlak Mulia dengan Memikirkan Akibat Buruk Akhlak Tercela
Usaha harus tetap kita lakukan untuk mendapatkan hasil. Tapi sebab dan usaha itu tidak bisa memberikan apa-apa tanpa kekuasaan dan kehendak Allah SWT.

mukjizat.co – Kenapa membahas hubungan sebab akibat? Bukankah iman kepada Allah SWT di antaranya bermakna kita membenarkan, mengakui dan meyakini bahwa hanya Allah SWT yang menciptakan, memiliki, dan mengatur alam semesta?

Benar, tapi ternyata terdapat hubungan sebab akibat dalam Al-Qur’an terkait fenomena yang terjadi pada alam semesta. Kita beriman bahwa Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala sesuatu adalah ciptaan Allah SWT.

Jadi, ketika Al-Quran menyebutkan bahwa ada hukum sebab-akibat yang mengatur alam semesta, berarti itu termasuk sunnatullah yang Allah SWT jadikan dan perintahkan seluruh alam semesta tunduk kepadanya. Kita akan membahas beberapa contoh bagaimana alam semesta dijalankan dan ditundukkan dengan sunnatullah yang di antaranya adalah hukum sebab akibat.

Allah SWT Turunkan Hujan Melalui Proses

Proses turunnya hujan adalah contoh yang sangat penting dalam membuktikan adanya hubungan sebab akibat. Apalagi banyak sekali disebutkan dalam Al-Qur’an, dan fenomenanya sangat dekat dengan kita sehari-hari.

Allah SWT berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” [Al-A’raf: 57].

Proses Adanya Tumbuhan

Proses tumbuhan juga tak kalah penting. Karena terkait dengan proses Allah SWT memberikan kita rezeki berupa makanan. Pemberi rezeki kita adalah Allah SWT. Tapi ternyata datangnya rezeki melalui proses, sehingga manusia pun hendaknya berusaha dan bekerja untuk mendapatkan rezekinya. Ada hubungan antara usaha dan hasil; usaha yang kita manusia dan hasil yang dia dapatkan.

Allah SWT berfirman:

وَتَرَى الأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” [Al-Haj: 5].

Imam Ar-Razi mengatakan, “Allah SWT Maha Kuasa untuk menciptakan buah-buahan secara langsung tanpa ada proses dan perantara. Tapi kekuasaan itu tidak menghalangi-Nya untuk menciptakan melalui hubungan sebab-akibat antara beberapa hal. Ini adalah sebuah pendidikan agar kita berproses dalam melakukan sesuatu.”

Hubungan sebab akibat dan proses terjadinya sesuatu adalah sunnatullah hendaknya kita pelajari. Sunnatullah ini terkandung dalam berbagai disiplin ilmu seperti fisika, biologi, geologi dan lain sebagainya. Sehingga secara tidak langsung Al-Qur’an memerintahkan kita untuk mempelajari berbagai ilmu tersebut untuk mengetahui sunnatullah, dan bisa mendapatkan hasil yang kita inginkan.

Benarkah Usaha Manusia Tidak Berpengaruh?

Memang ada ayat-ayat yang menyebutkan bahwa kekuasaan atas segala sesuatu berada di tangan Allah SWT sepenuhnya, dan tidak ada peran manusia. Walaupun manusia sudah melakukan usaha, mewujudkan semua proses yang sesuai dengan sunnatullah di alam semesta, bisa saja tidak mendapatkan hasil yang dia inginkan jika Allah SWT berkehendak lain.

Saat itu keinginan dan rencana manusia bertentangan dengan takdir Allah SWT. Allah SWT berfirman:

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ. ءَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ. لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ. إِنَّا لَمُغْرَمُونَ. بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ. أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ. ءَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ. لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلا تَشْكُرُونَ

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur; maka jadilah kamu heran tercengang. (Sambil berkata): “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.”

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” [Al-Waqi’ah: 63-70].

Ayat-ayat tadi menafikan sebab-sebab atau usaha-usaha yang manusia lakukan sesuai dengan proses menghasilkan sesuatu. Manusia sudah melakukan semua yang dia ketahui, ternyata Allah SWT berkehendak lain, sehingga dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.

Tapi para ulama tidak membiarkan kesalahpahaman yang bisa berbahaya ini. Mereka menjelaskan bahwa sebab yang dinafikan dalam ayat-ayat di atas adalah sebab zatiyah. Ayat-ayat Al-Qur’an itu menegaskan bahwa faktor dan sebab itu tidak berdiri sendiri dalam memberikan pengaruh, tapi ada unsur kehendak Allah SWT yang bekerja menjadikannya berpengaruh.

Hujan bisa membawa rezeki, tapi bisa juga menghancurkan apa yang manusia usahakan. Demikian juga sungai, angin, dan sebagainya. Bahkan makanan yang manusia konsumsi dengan niatan untuk mengenyangkan, menguatkan, menumbuhkan, ternyata bisa mematikan.

Kehendak Allah SWT lah yang membiarkan alam semesta ini berjalan sesuai hukum alam. “Dialah yang meniupkan angin” “Kami halau ke suatu daerah yang tandus” “Kami turunkan hujan” “Kami keluarkan dengan sebab hujan itu”.

Jadi sebab tetap ada sebelum terwujudnya akibat. Usaha harus tetap kita lakukan untuk mendapatkan hasil. Tapi sebab dan usaha itu tidak bisa memberikan apa-apa tanpa kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Kita tidak boleh mengandalkan usaha, tapi harus hanya mengandalkan Allah SWT. Karena sebuah usaha dan sebuah faktor tidak memiliki kehendak dan kuasa sama sekali. Seperti itulah konsep tawakal dalam Islam.

Semua Hal Berproses, Bahkan Sihir Sekali Pun

Kejadian yang luar biasa, tidak terlihat dengan kasat mata hubungan sebab akibatnya, ternyata tetap berproses atau tetap memiliki hubungan antara sebab dan akibatnya. Sihir dalam Al-Qur’an dijelaskan dengan cukup gamblang. Apalagi jika menyertakan sejarah kemunculannya yang disebutkan dalam berbagai riwayat.

Allah SWT berfirman:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.” [Al-Baqarah: 102].

Tentang bahaya sihir yang bisa mengancam keselamatan kita, Imam Al-Alusi mengatakan, “Ada bahaya yang terkandung di dalam sihir. Allah Maha Berkehendak menghalangi terjadinya hasil dari hubungan sebab-akibatnya, Allah Maha juga Maha Berkehendak membiarkan hubungan itu terjadi dan terjadilah bahaya itu. Inilah mazhab ulama salaf.”

Jadi kita harus meyakini bahwa sihir itu mengandung bahaya. Tapi bahaya itu akan mengenai kita jika Allah SWT menghendakinya. Ibarat sebuah alat elektronik, baru akan aktif jika ada kabel yang mengubungkannya dengan arus listrik. Walaupun sama-sama masih bekerja, tapi jika keduanya tidak saling terhubung maka tidak akan terjadi keaktifan alat elektronik itu. Allah SWT lah yang memutus-sambungkan antara sebab dan akibat dalam kejadian sihir.

Saking Nyatanya, Hubungan Sebab Akibat Menjadi Dalil

Matahari terbit dari timur dan terbenam di barat adalah sunnatullah dan hukum alam yang akan terus berlaku. Matahari menjalani proses itu sejak jutaan tahun yang lalu. Allah SWT Yang Kuasa membuat hukam alan ini, dan Allah SWT pula Yang Kuasa mengubahnya.

Sehingga ketika Namruz mengaku sebagai tuhan, Nabi Ibrahim AS memintanya untuk mengubah hukum alam itu sebagai bukti ketuhanannya. Allah SWT berfirman:

قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al-Baqarah: 258].

Karena bukan tuhan, maka Namruz pun tidak kuasa membuat hukum alam dan hubungan sebab-akibat. Dia tidak kuasa juga mengubah dan mengganti hukum alam yang sudah berlaku dan berlangsung. Dia terdiam dan tidak bisa membalas hujjah Nabi Ibrahim AS itu.

Lalu dalam rentang sejarah yang lain, terbukti Allah SWT pernah mengubah hukum alam itu dengan hukum alam yang lain. Dalam sebuah peperangan antara bangsa Bani Israil dengan penguasa Palestina, Yusya’ bin Nun yang memimpin Bani Israil meminta matahari berhenti bergerak sehingga tidak segera terbenam.

Silakan Anda baca juga:

Saat itu pasukan Bani Israil hampir meraih kemenangan. Namun waktu sudah sangat sore. Di zalam dulu, perang hanya dilakukan di siang hari, dan tidak ada perang di malam hari. Jika matahari terbenam sedangkan pasukan musuh belum benar-benar kalah, maka kekuatan mereka akan kembali pulih dan kuat di pagi hari berikutnya.

Oleh karena itu Yusya’ bin Nun berkata kepada matahari:

أنت مأمورة وأنا مأمور، اللهم احبسها علي شيئاً، فحُبِست عليه حتى فتح الله عليه

“Wahai matahari, engkau tunduk kepada perintah, aku pun demikian. Ya Allah tahanlah gerak matahari barang sebentar saja. Maka matahari pun tertahan hingga Allah SWT memberikan kemenangan kepada Yusya’ bin Nun.” [Muslim].

Demikianlah, semua hal berada di Tangan Allah SWT. Hidup, mati, rezeki, sehat, sakit, sukses, gagal, dan lainnya terjadi atas kehendak Allah SWT. Tapi Allah SWT memberikan semua itu melalui proses dan usaha yang manusia ketahui. Kita tidak boleh mengandalkan proses dan usaha, tapi harus mengandalkan Allah SWT. Bergantung, berserah diri, dan tawakal hanya kepada Allah SWT. Demikianlah bagaimana hubungan sebab akibat dalam Al-Qur’an. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah I Al-An’am

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda