IBADAH

Hukum Membuka Rumah Makan Saat Puasa

membuka rumah makan saat puasa
Puasa di bulan Ramadan harus menjadi syiar, bukanya hanya di masjid-masjid tapi di seluruh tempat.

mukjizat.co – Beberapa waktu lalu ramai tentang hukum membuka rumah makan saat puasa Ramadan. Apa sebenarnya hukumnya? Apakah dosanya besar seperti dosa orang yang tidak berpuasa?

Puasa Sudah Allah Mudahkan

Puasa di bulan Ramadan adalah salah satu rukun Islam. Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang telah memberikan keringanan sehingga menggugurkan kewajiban berpuasa untuk orang-orang yang mempunyai halangan.

Orang itu boleh tidak berpuasa dengan keharusan untuk menggantinya dengan sejumlah hari yang sama di luar bulan Ramadan. Allah SWT berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185].

Untuk menetapkan dan menekankan perintah yang ada dalam ayat ini, Rasulullah SAW memberikan sebuah peringatan dan ancaman bagi orang yang meninggalkan kewajiban ini:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ

“Orang yang tidak berpuasa satu hari di bulan Ramadan tanpa ada halangan dan sakit maka hal itu tidak bisa diganti walaupun dengan berpuasa satu tahun, walaupun orang benar-benar berpuasa satu tahun.” [Bukhari]

Tidak Berbuat Tapi Turut Menanggung Dosa

Meninggalkan puasa tanpa halangan adalah haram. Orang yang membantu orang lain dalam melakukan perbuatan haram akan turut menanggung dosanya. Karena jalan menuju yang haram adalah haram juga.

Menyajikan makanan atau minuman kepada orang yang bermaksiat meninggalkan kewajiban berpuasa, jika dia melakukan hal itu dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan, adalah sebuah bentuk keridhaan terhadap perbuatan maksiat. Orang yang ridha kepada kemaksiatan adalah juga pelaku kemaksiatan, seperti para ulama tetapkan dalam kaidah.

Contohnya adalah bahwa Allah SWT tidak hanya melaknat orang yang meminum khamar, tapi juga orang yang menyajikannya, menjualnya, membelikannya, memerasnya, meminta orang lain untuk memerasnya, membawanya, dan sebagainya.

Oleh karena itu, apa hukum membuka rumah makan saat puasa Ramadan? Orang yang memiliki rumah makan, ada banyak kemungkinan bagaimana pembeli akan memakan makanannya.

Bisa jadi orang membeli makanan di rumah makan itu sebagai persiapan berbuka puasa setelah terbenam matahari. Maka dalam kasus seperti ini, tidak ada larangan membuka rumah makan saat puasa Ramadan, selagi dia tidak mengetahui bahwa makanan yang dia jual akan digunakan untuk bermaksiat kepada Allah SWT.

Karena memang menjual makanan adalah hal memudahkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan makan mereka. Sebagai penjual maka pekerjaannya adalah menyiapkan makanan dan menjualnya kepada para pembeli.

Jika memang orang yang membeli makanan itu ternyata meninggalkan kewajiban berpuasa, dan memakan makanan itu di tempat lain yang tidak penjual ketahui, maka dosanya hanya ditanggung oleh pembeli yang meninggalkan kewajiban puasa itu.

Tapi ada juga penjual yang membuka rumah makan saat puasa Ramadan, lalu mempersilahkan para pembeli untuk makan dan minum di tempat. Jika penjual mengetahui bahwa mereka bukan orang yang dibolehkan tidak berpuasa, maka penjual akan turut menanggung dosa meninggalkan kewajiban berpuasa itu. Karena dia telah membantu orang lain dalam bermaksiat kepada Allah SWT.

Ketakwaan Menjadi Penentu

Membedakan antara para pembeli yang boleh tidak berpuasa dan pembeli yang wajib berpuasa adalah hal yang sulit bagi penjual. Apalagi jika rumah makan itu berada di tempat yang ramai, sehingga penjual tidak mengenal masing-masing pembelinya. Dalam kasus seperti itu, maka lebih baik tidak membuka rumah makan saat puasa Ramadan. Karena Allah SWT masih memberikan kesempatan yang luas untuk berjualan di malam hari.

Selain sebab itu, membuka rumah makan saat puasa Ramadan juga akan menjadi godaan orang-orang untuk membatalkan puasa mereka. Adalah hal yang sangat buruk jika di sebuah negeri Muslim masih banyak orang yang makan dan minum di siang hari Ramadan dengan bebasnya. Tidak kita lihat adanya syiar bulan suci.

Kami sarankan Anda membaca artikel-artikel berikut juga:

Jika pemilik rumah makan itu adalah orang yang bertakwa maka dia akan mempersiapkan diri sebelum bulan Ramadan, sehingga ketika bulan Ramadan tiba tidak terpaksa harus berjualan demi menyambung hidup. Siang hari bisa dia gunakan untuk beribadah atau untuk melakukan pekerjaan lain yang bisa mendatangkan rezeki dari Allah SWT.

Hal semacam ini sangat tergantung kepada keimanan dan ketakwaan masing-masing kita. Baik penjual maupun pembeli. Pemerintah juga mempunyai kewenangan untuk mengatur sehingga masyarakat bisa melaksanakan ibadah dengan tenang. Hukum membuka rumah makan saat puasa Ramadan bisa dimasukkan ke dalam peraturan daerah, misalnya, atau yang lainnya. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah

Anda bisa kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda