IBADAH

Mengukur Takwa Kita Saat Berpuasa

mengukur takwa kita saat berpuasa
Takwa bisa diukur dari melihat tanda-tandanya.

mukjizat.co – Tujuan berpuasa adalah agar bertakwa kepada Allah SWT. Maka kita harus mengukur takwa kita saat berpuasa untuk memastikan telah mendapatkan buah puasa kita.

Allah swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [Al-Baqarah: 183].

Dalam ayat di atas, Allah SWT menyebutkan tujuan berpuasa, adalah “kamu bertakwa.” Karena menjadi sebuah tujuan, maka bisa dijadikan standar keberhasilan puasa.

Kenapa Harus Mengukur Takwa

Dalam ayat di atas, redaksinya bukan “agar menjadi muttaqin” “agar menjadi seorang yang bertakwa”. Kalau redaksinya demikian, maka takwa adalah sebuah predikat, yang kita tidak tahu apakah kita termasuk orang yang bertakwa atau tidak.

Sedangkan jika redaksinya adalah “agar kamu bertakwa”, maka takwa menjadi sebuah sikap yang bisa kita rasakan ada atau tidaknya dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita pun bisa mengukurnya.

Kalau sudah bertakwa berarti sudah berhasil dalam berpuasa. Kalau belum bertakwa berarti belum berhasil dalam berpuasa.

Setiap buka puasa, selesai shalat tarawih, usai qiyamullail, setelah tilawah, hendaknya kita bertanya kepada diri kita, “Apakah aku sudah bertakwa?” Mengukur takwa kita saat berpuasa.

Kalau setiap hari jawabannya adalah “tidak” berarti di akhir bulan pun kesimpulannya adalah “belum berhasil dalam bertakwa”.

Kalau belum berhasil bertakwa di bulan Ramadhan sekarang ini:

Apakah kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan mendatang? Apakah kita akan bisa bertakwa di bulan-bulan selain Ramadhan? Yang kondisinya:

  • Kita sedang tidak banyak beribadah
  • Kalau kita paksakan ibadah, tidak banyak orang yang menemani kita ibadah.
  • Banyak sekali godaan setan, dunia, dan hawa nafsu.

Benar Sudah Bertakwa?

Takwa adalah menjadikan sesuatu sebagai pelindung. Bertakwa kepada Allah SWT berarti menjadikan sesuatu sebagai pelindung dari siksa Allah SWT. Orang yang bertakwa merasa takut, karena setiap orang yang mencari perlindungan adalah orang yang merasa takut. Oleh karena itu, di antara tanda-tanda yang bisa gunakan untuk mengukur takwa kita saat berpuasa.

Banyak Beribadah dengan Motivasi Melindungi Diri dari Siksa Neraka

Mengukur takwa kita saat berpuasa dengan mengevaluasi ibadah-ibadah kita. Bukan hanya banyak, ibadah yang dilakukannya pun ibadah yang berkualitas. Karena kalau tidak berkualitas, tidak bisa dijadikan pelindung.

Berusaha Menjadikan Segala Sesuatu Sebagai Pelindung dari Siksa Neraka

Rasulullah saw. bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Lindungilah dirimu dari siksa neraka, walaupun hanya dengan sebiji kurma.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Banyak sekali kebaikan yang bisa dilakukan, kalau sebiji kurma saja bisa melindungi dari siksa neraka. Semua itu dimanfaatkan oleh orang yang bertakwa. Mengukur takwa kita saat berpuasa dengan seberapa kita kreatif dalam melaksanakan bermacam-macam kebaikan.

Berusaha Sempurna dalam Melaksanakan Kewajiban

Karena semua hal bisa menjadi penyebab masuk neraka. Bahkan harta, anak, dan istri kita pun bisa menjadi penyebab kita masuk neraka.

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” [Al-Anfal: 28].

Harta, anak, dan isteri yang sangat kita sayangi, dan mereka juga menyayangi kita, bisa menjadi penyebab masuk neraka. Hal itu kalau tidak kita bina dengan baik sesuai yang diperintahkan Allah SWT. Mengukur takwa kita saat berpuasa melalui sikap kita kepada keluarga kita, misalnya.

Lebih Berhati-hati dalam Memakai Membelanjakan Hartanya

Setiap rupiah dari harta kita akan ditanyakan; dari mana didapat, dan dalam hal apa dibelanjakan. Semakin banyak harta, akan semakin lama Allah SWT menginterogasinya. Di sinilah keutamaan orang miskin, karena cepat Allah SWT menanyainya.

Rasulullah saw. bersabda:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا يَا عَائِشَةُ لَا تَرُدِّي الْمِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai seorang miskin, matikanlah aku sebagai seorang miskin, dan bangkitkanlah aku bersama golongan orang miskin pada hari kiamat.” Ibunda Aisyah ra. bertanya, “Kenapa, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Orang-orang miskin itu masuk surga 40 tahun sebelum orang kaya. Maka, jangan engkau tolak permintaan mereka, walaupun engkau hanya memberi sebiji kurma. Cintailah mereka, akrabilah mereka, karena Allah SWT akan mendekatkanmu pada hari kiamat.” [HR. Tirmidzi].

Hadits ini bukan sedang mengajak menjadi miskin, tapi mengajak kita zuhud di dunia dan tidak dikuasai cinta harta. Karena tentunya orang kaya yang menginfakkan hartanya pada jalan kebaikan akan jauh lebih indah surganya daripada orang miskin.

Lebih Hati-hati pada Hal-hal yang Syubuhat

Dalam masalah seperti itu, dia akan menanyakan kepada hati sanubarinya yang paling dalam, apa ini baik atau buruk. Adab akhir Ramadhan.

الْبِرُّ مَا انْشَرَحَ لَهُ صَدْرُكَ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَإِنْ أَفْتَاكَ عَنْهُ النَّاسُ

“Perbuatan baik adalah yang terasa nyaman di dalam dada. Sedangkan perbuatan dosa adalah yang terasa tidak nyaman di dalam dada, walaupun banyak orang sudah membolehkannya.” [HR. Ahmad].

Artikel berikut juga baik dan penting untuk dibaca:

Dalam masalah yang membingungkan, dia akan memilih hal yang menyelamatkan agamanya:

إن الحلال بين وإن الحرام بين وبينهما مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس فمن اتقى الشبهات استبرأ لدينه وعرضه ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram  juga jelas. Di antara keduanya ada hal-hal yang syubuhat dan tidak diketahui kebanyakan orang. Orang yang berhati-hati terhadap yang syubuhat, maka dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Sedangkan orang yang mengambil hal yang syubuhat, maka dia akan terjatuh pada hal yang haram.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Alhamdulillah kita ucapkan jika memang tujuan berpuasa yaitu agar bertakwa kepada Allah SWT bisa kita raih. Itu kita ketahui setelah mengukur takwa kita saat berpuasa dengan ada atau tidaknya tanda ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari kita. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah

Anda bisa kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda