IBADAH

Ayat Puasa Ramadan dan Hikmahnya

ayat puasa ramadan dan hikmahnya
Jalan menuju surga telah Allah SWT mudahkan sedemikian rupa.

mukjizat.co – Ayat tentang puasa bulan Ramadan terdapat dalam surat Al-Baqarah. Ketika mengetahui arti dan tafsirnya, kita akan mengetahui hikmah-hikmah puasa terutama meraih takwa.

Kenapa Wajib Untuk Semua Umat?

Ibadah puasa ternyata wajib untuk umat-umat terdahulu juga. Apa hikmah di balik hal ini? Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” [Al-Baqarah: 183]

Dalam ayat puasa Ramadan yang pertama Allah SWT mengabarkan tentang sebuah nikmat yang sangat besar berupa kewajiban berpuasa. Allah SWT juga telah mewajibkan puasa kepada umat-umat terdahulu.

Pelajaran apa yang bisa kita petik ketika Allah SWT mewajibkan ibadah puasa ini kepada umat yang lain juga?

Hikmahnya, bahwa puasa adalah ibadah yang penting untuk semua orang. Bukan hanya umat Rasulullah SAW yang membutuhkannya, tapi juga semua orang.

Ayat puasa Ramadan ini juga mengajak kita untuk bersemangat kompetisi dengan umat-umat itu. Karena ternyata ibadah puasa bukan keistimewaan yang Allah SWT berikan kepada umat Rasulullah SAW. Semua umat juga telah mendapatkan karunia puasa itu. Hal ini jadi membuka pintu berkompetisi dengan umat-umat yang lain untuk bisa mengetahui siapa yang terbaik dalam berpuasa.

Kita juga bisa memahami bahwa puasa tidaklah berat, karena banyak umat melaksanakannya. Kalau puasa menjadi kewajiban semua umat, berarti umat yang bervariasi zaman, kondisi, wilayah, iklim, dan tradisi mereka, semuanya bisa melaksanakan ibadah puasa ini. Karena Allah SWT tidak membebankan kewajiban di atas kemampuan manusia. Kalau mereka semua kuat, kenapa kita tidak?

Bagaimana Puasa Menjadi Sarana Meraih Takwa?

Hikmah Allah SWT mewajibkan ibadah puasa adalah agar kita bertakwa. Seperti kita baca dalam ayat puasa Ramadan di atas. Lalu bagaimana puasa bisa mengantarkan kita kepada ketakwaan? Apa hubungannya? Berikut penjelasan para ulama:

  • Dengan berpuasa kita berlatih disiplin menaati perintah dan larangan Allah SWT.
  • Kita meninggalkan kesenangan kita yang Allah SWT larang. Hal itu demi taqarrub dan mendapatkan pahala.
  • Latihan muraqabatullah juga kita lakukan dengan berpuasa. Kita meninggalkan larangan yang sebenarnya bisa kita lakukan, hanya karena meyakini adanya pengawasan Allah SWT.
  • Puasa ternyata juga mempersempit ruang gerak setan yang pergerakannya pada kita seperti perputaran darah. Puasa mengurangi kendali setan, sehingga berkurang pula perbuatan maksiat.
  • Saat berpuasa kita akan banyak melakukan ketaatan. Bersemangat melaksanakan ketaatan adalah salah satu bentuk ketakwaan.
  • Rasa lapar yang kita dapatkan saat berpuasa akan membuat kita empati dengan kesusahan orang-orang miskin sehingga kita terdorong untuk menolong mereka.

Kemudahan yang Berlapis dari Allah SWT

Selain kemudahan karena Allah SWT wajibkan kepada semua orang. Ada bentuk-bentuk kemudahan yang lain dalam kewajiban berpuasa. Sepertti Allah SWT firman dalam ayat puasa Ramadan yang berikutnya:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [Al-Baqarah: 184].

Kata (أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ) “dalam beberapa hari yang tertentu.” Bagian ayat puasa Ramadan ini menunjukkan bahwa ibadah puasa adalah hal yang mudah, karena kita wajib berpuasa dalam beberapa hari yang tertentu saja. Tidak setiap hari kita harus berpuasa.

Hati-hati dengan Pencuri Waktu

Namun karena sedikit, kita pun harus berhati-hati jangan sampai kehilangan kesempatan mendapatkan kemuliaan yang sangat besar dalam bulan Ramadan ini. Ada target besar yang harus kita capai, jangan sampai kesempatan habis sebelum kita meraih apa yang kita targetkan.

Karena itulah Rasulullah SAW memperingatkan kita semua dalam sabdanya:

ورَغِمَ أنفُ رجلٍ دخلَ علَيهِ رمضانُ ثمَّ انسلخَ قبلَ أن يُغفَرَ لَهُ ، ورغمَ أنفُ رجلٍ أدرَكَ عندَهُ أبواهُ الكبرَ فلم يُدْخِلاهُ الجنَّةَ

“Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya).” [Tirmizi]

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” [Bukhari]

Secara umum puasa telah Allah SWT mudahkan bagi semua orang. Tapi akan ada orang-orang tertentu yang kemampuan dan kesempatannya sedang tidak normal. Sehingga orang-orang tersebut mendapatkan tambahan kemudahan dari Allah SWT.

Hal itu terwakili dengan kondisi sakit dan bepergian adalah salah satu bentuk kesulitan sehingga mendapatkan kemudahan dari Allah SWT. Orang-orang yang memiliki kedua kondisi itu atas sejenisnya boleh tidak berpuasa di bulan Ramadan, lalu menggantinya dengan berpuasa sejumlah hari yang sama di luar Ramadan.

Ayat puasa Ramadan tentang keringanan ini juga memberikan maksud yang lain berupa isyarat bahwa berpuasa adalah sangat penting untuk setiap Muslim, sehingga bagi yang terpaksa meninggalkannya di bulan Ramadan wajib mengganti di hari lainnya ketika sembuh, atau sudah tidak bepergian.

Orang Kuat Boleh Ganti Puasa dengan Fidyah?

Kata (يُطِيقُونَهُ) mempunyai dua makna; kuat dan kuat dengan kesusahan. Kalau menggunakan makna pertama, benarkah orang yang kuat berpuasa boleh tidak berpuasa lalu menggantinya dengan membayar fidyah?

Orang yang bisa melaksanakan puasa, boleh memilih antara puasa atau tidak berpuasa dengan membayar fidyah. Tapi ini adalah syariat di awal kewajiban berpuasa Ramadan. Umat Islam masih dalam tahap latihan, sehingga mereka mendapatkan pilihan antara berpuasa dan membayar fidyah.

Selanjutnya puasa menjadi wajib secara pasti ketika seseorang dalam kondisi mampu melaksanakannya. Sedangkan jika berada dalam kondisi tidak mampu, tetap boleh menggantinya di hari yang lain.

Jadi makna pertama tetap bisa kita gunakan tapi untuk masa-masa awal pensyariatan ibadah puasa. Adapun penggunaan makna itu untuk zaman sekarang adalah “kuat berpuasa dengan kondisi kepayahan”. Orang yang kuat berpuasa tapi berat boleh menggantinya dengan membayar fidyah. Makanan satu orang miskin untuk satu hari puasa yang ditinggalkan.

Membedakan Bulan Agar Memuliakan Al-Qur’an

Banyak ulama mengatakan bahwa di antara hikmah kewajiban puasa di bulan Ramadan adalah untuk memuliakan Al-Qur’an kitab petunjuk untuk seluruh umat Islam. Ayat puasa Ramadan menghubungkan antara ibadah puasa dan Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).

Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185]

Puasa yang diwajibkan adalah puasa di bulan Ramadan. Bulan turunnya kebaikan sempurna, yaitu Al-Qur’an.

Bulan saat turunnya Al-Qur’an Allah SWT jadikan sebagai musim ibadah. Sangat berbeda dengan bulan-bulan yang lain. Apa yang membedakannya? Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an, bukan bulan-bulan yang lain.

Dengan membedakan bulan Ramadan, ada isyarat bahwa umat Islam harus membedakan Al-Qur’an, memuliakan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab yang harus mendapatkan perhatian besar kita semua. Allah SWT mengingatkan hal itu dengan datangnya bulan Ramadan. Bulan yang berbeda sama sekali.

Allah SWT Memudahkan Jalan Menuju Surga

Al-Qur’an adalah petunjuk dari Allah SWT untuk mengantarkan kita kepada surga. Ternyata jalan menuju surga sudah Allah SWT mudahkan sedemikian rupa. Sehingga orang yang tidak masuk surga bukan karena tidak mampu, tapi tidak mau.

Allah SWT berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

Allah SWT memudahkan jalan untuk mencapai keridhaan-Nya.

  • Semua kewajiban adalah mudah pelaksanakannya.
  • Jika seorang Muslim berada dalam kondisi tidak normal, akan mendapat tambahan kemudahan lagi.
  • Bagian ayat ini masuk dalam semua bagian syariat, sehingga semua hukum Islam adalah mudah melaksanakannya.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Setiap umatku pasti masuk surga, kecuali yang tidak mau. Para sahabat bertanya, ‘Siapa yang tidak mau, Ya Rasulullah?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Orang taat kepadaku pasti akan masuk surga, sedangkan orang yang tidak taat kepadaku dialah yang tidak mau masuk surga.’” [Bukhari].

Allah SWT Maha Dekat dengan Ahli Ibadah

Orang yang beribadah kepada Allah SWT adalah sedang mendekatkan diri kepada-Nya. Kepada orang-orang seperti ini tentulah Allah SWT cinta. Allah SWT pun dekat dengan mereka untuk mengabulkan apa yang mereka inginkan, melindungi mereka, membela mereka, dan sebagainya.

Allah SWT berfirman dalam ayat puasa Ramadan berikutnya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [Al-Baqarah: 186]

Ini adalah jawab untuk Rasulullah SAW sampaikan kepada para sahabat yang bertanya kepada beliau, “Apakah Allah itu dekat hingga kami cukup berbisik-bisik, atau jauh hingga kami harus memanggil-Nya?”

Kedekatan Allah SWT ada dua macam:

  • Maha Dekat dengan mengetahui keadaan seluruh makhluk-Nya. Ini berlaku untuk semua manusia. Tidak ada satu pun perbuatan yang bisa mereka sembunyikan dari pengawasan Allah SWT.
  • Maha Dekat dengan orang-orang yang beribadah dan berdoa sehingga mengabulkan dan memberikan taufik hidayah-Nya.

Macam-macam Doa

Ternyata doa juga ada dua macam:

  • Doa permohonan. Ketika kita membutuhkan sesuatu kita memohonnya kepada Allah SWT dengan memanjatkan doa.
  • Doa ibadah. Kita berdoa walaupun tidak sedang membutuhkan. Karena memang Allah SWT memerintahkan kita untuk berdoa. Berdoa adalah ibadah, pengakuan bahwa Allah SWT Maha Pemberi.

Silakan baca juga:

Akan lebih cepat pengabulan doa tersebut ketika kita juga melakukan hal yang sama. Apa itu? Cepat dalam menyambut seruan Allah SWT. Perintah dan larangan Allah SWT hendaknya kita taati segera, agar mendapatkan pengabulan doa yang juga segera.

Itulah beberapa ayat puasa Ramadan dengan beberapa arti, makna dan hikmahnya. Masih banyak sekali yang belum kita gali. Semoga bisa menggalinya sembari melaksanakan ibadah puasa nanti. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda