BAHASA

Hidayah Allah SWT dalam Surat Al-Fatihah

hidayah Allah SWT dalam surat al-fatihah
Surat ini harus sesering mungkin kita renungkan kandungannya. Sangat seringnya membaca surat mulia ini mungkin membuat kita kehilangan pikiran dan rasa saat membacanya.

mukjizat.co – Bagaimana cara mendapat Hidayah Allah SWT? Dalam surat Al-Fatihah hidayah Allah SWT ada dalam bagian ayat “اهدنا الصراط المستقيم”. Artinya adalah doa memohon petunjuk dan bimbingan kepada jalan yang lurus, menguatkan keberadaan di jalan yang lurus. Jalan Islam.

Ada beberapa analisis menarik terkait dengan hidayah Allah SWT dalam surat Al-Fatihah ini. berikut di antaranya:

Jalan Menuju Hidayah Allah SWT

Doa (اهدنا الصراط المستقيم) “Tunjukilah kami jalan yang lurus” kita panjatkan setelah membaca (وإياك نستعين) “dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”.

Ini menunjukkan selama ada keyakinan bahwa ‘hanya Allah Penolong kita’ dan ‘Allah memiliki semua sifat terpuji’, maka Allah SWT lah yang kuasa memberi kita hidayah.

Ini juga menujukkan bahwa jalan menuju hidayah Allah SWT adalah dengan memuji dan beribadah hanya kepada-Nya.

Jalan Hidayah Saat Malaikat Mengamini Doa Kita

Kita masing-masing membaca doa (اهدنا الصراط), termasuk saat melaksanakan shalat secara fardi, sendirian. Tapi Allah SWT mengajari kita doa dengan kata ganti plural, “kami”. Bukan (اهدني الصراط) “Tunjuki aku jalan yang lurus”.

Hal ini menunjukkan kepada banyak hal, di antaranya:

  • Keutamaan berjamaah
  • Doa berjamaah lebih besar harapan mendapatkan pengkabulan.
  • Kalau kita mendoakan orang lain, malaikat akan mengaminkan.

Rasa Ingin Tahu Orang yang Mendapat Hidayah

Jalan hidayah atau jalan lurus ada dalam bagian (صراط الذين أنعمت عليهم) “yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.”

Padahal maksudnya adalah jalan orang yang beriman. Hidayah kepada jalan orang-orang yang beriman, hidayah untuk tetap berada di jalan orang-orang yang beriman.

Kenapa tidak langsung dengan frasa (صراط المؤمنين) “jalan orang-orang yang beriman”. Dalam kebiasaan bahasa Arab, hal seperti itu berfungsi untuk mengundang rasa ingin tahu.

Supaya kita masing-masing bertanya-tanya, “Siapakah orang-orang yang mendapatkan nikmat itu? Apa kriteria mereka?” Sehingga kemudian kita berusaha mewujudkan sifat-sifat itu pada diri kita.

Penjelasannya ada pada ayat:

فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِين، وحسن أولئك رفيقا

“Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang mendapatkan anugerah nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisa’: 69].

Saling Mencintai Sesama Muslim Jalan Hidayah

Dalam surat Al-Fatihah terdapat rangkuman seluruh jenis manusia di seluruh bumi di sepanjang sejarah. Hal itu terdapat dalam ayat (الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) “Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Jadi kesimpulannya, dalam kehidupan ini sebenarnya hanya ada 2 kelompok, yaitu

  • Orang yang bahagia, yaitu orang yang mendapatkan nikmat hidayah Allah SWT.
  • Orang yang sengsara, yaitu orang yang dimurkai Allah SWT dan orang yang tersesat.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa hidayah Allah SWT hanya kita dapatkan jika kita melakukan hal-hal berikut ini:

  • (صراط الذين أنعمت عليهم). Bermuwalaah, yaitu saling mencintai, membela dan mendukung sesama muslim.
  • (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ). Berbaraa’ah, yaitu tidak saling mencintai, membela dan mendukung orang-orang kafir.
  • Hal itu seperti Allah terangkan dalam ayat (إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّه) “ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah.” [Al-Mumtahanah: 4].

Keburukan Pasti Beralasan

Di antara orang-orang yang sengsara adalah orang-orang yang mendapat murka Allah SWT. Terdapat dalam bagian ayat (غير المغضوب عليهم) “bukan (jalan) mereka yang dimurkai”.

Kita memohon Allah SWT menunjukkan kita bukan ke jalan mereka. Jalan orang-orang yang mendapatkan murka Allah SWT.

Ada hal yang menarik dalam bagian ini. Yaitu bahwa Allah SWT tidak berfirman ”mereka yang kau murkai” seperti dalam (الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ) “orang-orang yang kau beri nikmat kepada mereka.”

Kita mengetahui dengan jelas bahwa kenikmatan adalah pemberian Allah SWT. Termasuk juga hidayah Allah SWT. Sedangkan dalam hal kemurkaan, walaupun memang berasal dari Allah SWT, tapi tidak dinyatakan secara jelas. ”Mereka dimurkai, bukan Allah murka kepada mereka.”

Ini adalah salah satu bentuk beradab kepada Allah SWT. Bahwa dalam kebaikan, hendaknya kita meyakini bahwa nikmat seutuhnya adalah pemberian Allah SWT, bukan karena peran kecerdasan kita, keuletan kita, bahkan keshalihan kita.

Sedangkan dalam hal keburukan, kita tidak boleh mengatakan bahwa keburukan itu berasal dari Allah SWT. Tapi kita melakukan introspeksi diri. Pasti ada kesalahan yang kita lakukan sehingga berkonsekwensi keburukan yang menimpa kita.

Dari rasa bahasa, bagian ayat ini juga memberikan kesan bahwa kemurkaan Allah SWT mungkin menimpa kita sekali saja. Sedangkan kenikmatan selalu berdatangan kepada kita, karena penyebutannya menggunakan fi’il (kata kerja) yang bermakna selalu berlangsung.

Macam-macam Orang Terkait Hidayah

Ada tiga macam orang dalam menanggapi hidayah Allah SWT dalam surat Al-Fatihah. Ini adalah sebuah rangkuman, sehingga masing-masing kita pasti bisa dimasukkan ke dalam salah satu dari tiga macam orang itu.

  • (الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ): Orang yang mengetahui kebenaran dan mau mengamalkannya.
  • (الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ): Orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengamalkannya.
  • (الضَّالِّين): Orang yang tidak mengetahui kebenaran sehingga tidak mengamalkannya.

Walaupun dalam hadits disebutkan bahwa golongan pertama adalah umat Islam, golongan kedua adalah bangsa yahudi, dan golongan ketiga adalah umat Nasrani, tapi manusia-manusia selebihnya bisa masuk ke dalam salah satu dari ketiganya.

Silakan baca juga:

Keserasian Antara Awal dan Akhir Surat

Terdapat keserasian antara awal dan akhir surat Al-Fatihah jika kita memahaminya dari sudut pandang hidayah Allah SWT.

  • Awal: orang-orang yang mencari hidayah dengan cara memuji allah dan berdoa kepada-nya.
  • Akhir: orang-orang yang diangkat hidayahnya karena sombong (tidak mau mengamalkan hidayah mereka).

Demikianlah pembahasan hidayah Allah SWT dalam surat Al-Fatihah. Surat ini harus sesering mungkin kita renungkan kandungannya. Sangat seringnya membaca surat mulia ini mungkin membuat kita kehilangan pikiran dan rasa saat membacanya. Semoga tulisan ini bisa turut membantu. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda