IBADAH

Menumbuhkan Iman Kita di Bulan Ramadan

iman kita di bulan ramadan
Abu Bakar lebih baik dari kalian bukan karena banyaknya puasa dan shalatnya, tapi karena sesuatu yang ada di dadanya.

mukjizat.co – Mengisi bulan Ramadan dengan ibadah bukan tujuan utama yang Allah SWT perintahkan. Kita harus bisa menumbuhkan iman kita di bulan Ramadan. Kita melakukan evaluasi, apakah sudah ada takwa dalam hati kita?

Ada Fenomena Ini Kenapa?

Ada fenomena yang meluas di kalangan umat Islam selama ini. Kita belum bisa menumbuhkan iman kita di bulan Ramadan. Fenomenanya:

  • Rajin ibadah di bulan Ramadhan dan tidak setelah itu.
  • Rajin beribadah tapi akhlak dan muamalah tidak islami.

Ini semua sangat terkait masalah tumbuh-kembangnya iman dalam hati kita. Ketika iman kita tumbuh dan berkembang selama bulan Ramadan, maka tentunya iman itu akan terus menjadi pendorong kita untuk terus melakukan kebaikan.

Memperhatikan dengan Seimbang

Manusia terdiri dari fisik, akal, ruh, dan hati. Berbeda dengan makhluk Allah SWT yang lainnya. Karena itu, hendaknya:

  • Masing-masing bagian harus bisa tumbuh dan berkembang.
  • Karena itu, masing-masing juga membutuhkan perawatan.
  • Kalau dirawat, iman akan terus bersinar di dalamya. Tapi kalau tidak, akan dikuasai hawa.

Ibadah Menumbuhkan Iman

Semestinya ibadah bisa menumbuhkembangkan iman di dalam hati. Tapi kadang juga tidak, bahkan itu yang lebih sering terjadi. Kebanyakan kita belum bisa menumbuhkan iman kita di bulan Ramadan.

Tanda ibadah kita yang belum menumbuhkan iman adalah jika sudah beribadah tapi masih sangat mencintai dunia.

Iman berasal dari ilmu. Hal-hal yang dikabarkan Rasulullah SAW yang sudah menguat menjadi keyakinan di dalam hati. Keyakinan itu berubah menjadi nilai-nilai yang membimbing hati kita.

Iman letaknya di hati. Hati adalah pusat keberadaan perasaan-perasaan kita. Karena itulah iman harus melahirkan berbagai macam perasaan seperti rasa cinta, benci, takut, berharap dan sebagainya.

Merawat dan Menumbuhkan Iman

Untuk bisa menumbuhkan iman kita di bulan Ramadan, hendaknya kita merawat dan memberikan asupan makanan ke dalam hati kita. Ada beberapa makanan hati yang bisa kita berikan.

Ilmu. Pengetahuan kita yang kuat tentang Allah SWT, kehidupan, dan lain sebagainya hendaknya berubah menjadi nilai-nilai kuat dalam hati. Nilai itu akan menentukan baik-buruknya amalan fisik kita. Karena amal perbuatan akan tergantung dengan apa nilai yang ada di dalam hati. Kondisi ini lalu terus dirawat untuk bisa mempertahankannya.

Kejadian atau pengalaman hidup. Apapun yang kita alami dan kita lihat sejatinya bisa memberikan pengaruh keimanan di dalam hati. Yaitu jika kita menghubungkan hal itu dengan Asma’ul Husna Allah SWT. Karena segala sesuatu terjadi atas kehendak dan kekuasaan-Nya. Jangan biarkan kejadian, terutama kejadian besar dan penting dalam hidup kita, lewat begitu saja. Jika berhasil, kondisi harus terus dirawat hingga bisa bertahan ada di dalam hati.

Amal ibadah. Ibadah bertujuan agar kita bertakwa kepada Allah SWT. Maka ibadah-ibadah itu harus ada pengaruhnya dalam hati. Kita harus menyertakan hati dalam ibadah-ibadah yang kita laksanakan. Kondisi ini pun hendaknya terus kita rawat agar bertahan di dalam hati.

Hati Kita dalam Shalat Kita

Harus ada hati dalam shalat kita. Karena tanpa kesertaan hati, shalat mungkin hanya menjadi gerakan-gerakan saja. Apa yang seharusnya ada dalam hati kita agar bisa menumbuhkan iman kita di bulan Ramadan?

  • Mendengarkan azan sebagai panggilan dari Allah SWT yang menambah kerinduan kita kepada shalat.
  • Kita akan bermunajat kepada Allah SWT, kita mengawalinya dengan meninggalkan dunia.
  • Wudhu yang kita lakukan menghilangkan segala bekas dosa dan tarikan dunia.
  • Takbir yang kita kumandangnya hendaknya mengagungkan Allah SWT dari segala sesuatu dalam kehidupan ini.
  • Tunduk dalam ruku’ adalah sikap hormat kita dan mengagungkan Allah SWT.
  • Sujud menggambarkan kehinaan dan kecilnya kita sebagai hamba Allah SWT.
  • Dan seterusnya

Hati dalam Puasa Kita

Puasa juga hendaknya bukan hanya berupa menahan rasa lapar dan haus saja. Puasa harus berisi perasaan-perasaan dalam hati sehingga bisa menjadikan puasa sebagai makanan hati kita. Dengan demikian kita bisa menumbuhkan iman kita di bulan Ramadan.

  • Kita punya jiwa (nafsu) yang harus kita sucikan.
  • Ada hawa dalam nafsu kita yang harus kita lawan.
  • Ada setan yang harus kita jadikan musuh.
  • Dalam puasa kita taat setaat-taatnya kepada perintah Allah SWT.
  • Puasa kita jadikan sebagai bentuk meninggalkan kenikmatan dunia demi kenikmatan akhirat. Lapar di dunia untuk bisa kenyang di akhirat.
  • Puasa adalah benteng yang menjauhkan dari neraka.
  • Dan seterusnya.

Kabulnya Ibadah Tergantung Hati Kita

Dalam Islam niat kita mempunyai kedudukan yang sangat penting. Niat terletak di dalam hati kita. Jadi dari awal memang hendaknya kita menyertakan hati dalam ibadah-ibadah kita.

  • Allah SWT akan merima amalan dengan niat.
  • Besar-kecil pahala amalan tergantung niat.

Abdullah bin Mas’ud ra. Berkata kepada generasi Tabi’in, “Kalian lebih banyak puasa dan shalat dari sahabat Rasulullah SAW. Tapi mereka lebih baik dari kalian, karena mereka lebih zuhud terhadap dunia, dan lebih berharap kepada akhirat.”

Silakan baca juga:

“Abu Bakar lebih baik dari kalian bukan karena banyaknya puasa dan shalatnya, tapi karena sesuatu yang ada di dadanya.” Marilah kita melaksanakan ibadah-ibadah dengan baik agar bisa menumbuhkan iman kita di bulan Ramadan. Sehingga ada iman dan takwa dalam hati kita. (sof1/mukjizat.co).

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda