SYARIAH

Banyak yang Halal Kenapa Harus yang Haram?

Banyak yang halal kenapa harus yang haram?
Yang halal bersifat luas, sedangkan yang haram bersifat sempit.

mukjizat.co – Disiplin dalam hal halal dan haram menurut Islam adalah bagian dari ujian iman. Betapa banyak yang halal kenapa harus yang haram. Kenapa Allah SWT mengharamkan babi dan miras misalnya, adalah karena berbahaya, dan telah disediakan alternatif lain yang sangat banyak.

Islam sangat mementingkan kehalalan apa yang kita gunakan dan konsumsi. Tidak ada alasan kita mengkonsumsi yang haram, karena banyak sekali yang halal kenapa harus yang haram? Masih mengonsumsi yang haram adalah sebuah sikap tidak taat dan mengikuti hawa nafsu, bukan memenuhi kebutuhan.

Pada Asalnya Segala Sesuatu Dibolehkan

Alam semesta diciptakan untuk manusia. Kita boleh memanfaatkan semua ciptaan Allah SWT. Mulai dari benda, tumbuhan, hewan, dan sebagainya bisa kita kelola untuk memenuhi kebutuhan kita. Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” [Al-Baqarah: 29].

Dalam ayat ini, Al-Qur’an mengatakan bahwa pada asalnya semua hal adalah halal. Sehingga kita pun tidak bisa sebutkan semua jenis-jenis makanan yang halal. Saking banyaknya. Karena semuanya halal kecuali yang syariah Islam larang sehingga menjadi haram. Atau karena makanan itu berbahaya.

Dalam syariah Islam, sesuatu yang haram harus berdasarkan dalil pengharaman yang shahih, jelas dan lugas penafsirannya. Semua itu karena pengharaman adalah pengecualian. Syariah mengecualikan beberapa hal ada hikmah yang Allah SWT kehendaki.

Yang halal bersifat luas, sedangkan yang haram bersifat sempit. Karena bersifat sempit itulah, Al-Qur’an kemudian menjelaskannya secara rinci.

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

“Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu.” [Al-An’am: 119].

Jika ada dalil yang kuat dan lugas menyebutkan bahwa sesuatu adalah haram, maka sesuatu itu mendapatkan status hukum haram.

Sedangkan jika tidak ada dalil pengharamannya, maka sesuatu itu tetap berada dalam lingkup kehalalannya, atau mungkin juga hukumnya boleh tanpa ada ancaman sanksi bagi yang memanfaatkannya.

Rasulullah SAW bersabda:

ما أحل الله في كتابه فهو حلال وما حرم فهو حرام وما سكت عنه فهو عفو فاقبلوا من الله عافيته وما كان ربك نسيا

“Sesuatu Allah halalkan dalam Al-Quran adalah halal. Apa yang Allah haramkan adalah haram. Apa yang Allah tidak sebutkan adalah dibiarkan tanpa sanksi, maka terimalah itu dari Allah Taala. Sesunggunya Allah tidak lupa.” [Abu Daud].

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan beberapa kewajiban maka jangan kalian sia-siakan. Menentukan beberapa yang haram maka jangan kalian langgar. Telah memberikan batasan-batasan maka jangan kalian lampaui. Telah membiarkan banyak hal bukan karena lupa maka jangan kalian bahas-bahas hukumnya.” [Daruqutni].

Yang Halal Sudah Mencukupi

Banyak yang halal kenapa harus yang haram? Ternyata setiap kali Allah SWT mengharamkan sesuatu, selalu saja Allah SWT menyediakan alternatif halal untuk memenuhi kebutuhan manusia. Berikut beberapa contohnya:

  • Mengundi nasib haram, ada alternatif berupa doa istikharah.
  • Allah SWT mengharamkan riba, tapi menghalalkan banyak sekali jenis perdagangan.
  • Ketika judi mempunyai hukum haram, kita boleh mengikuti perlombaan yang mendidik dan bermanfaat untuk persiapan berjuang di jalan Allah SWT.
  • Kain sutera adalah haram dikenakan kaum laki-laki, tapi dia boleh mengenakan segala jenis kain lainnya yang tidak kalah berkualitas.
  • Zina adalah perbuatan dosa yang sangat buruk, ada gantinya berupa pernikahan yang sesuai sunnah Rasulullah SAW.
  • Miras haram hukumnya, tapi masih banyak sekali macam minuman halal lainnya.
  • Makanan haram tidak seberapa jumlahnya dari banyaknya makanan halal.

Kiranya hal itu sama dengan yang Nabi Adam as. alami saat berada di surga. Allah SWT membolehkannya menikmati segala sesuatu di surga. Di antara banyak sekali pepohonan Allah SWT hanya melarangnya mendekati sebatang pohon saja.

وَقُلْنَا يَاآدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.” [Al-Baqarah: 35].

Yang Haram Pasti Buruk dan Berbahaya

Lebih dari itu, banyak yang halal kenapa harus yang haram, padahal sesuatu menjadi haram karena buruk dan berbahaya.

Allah SWT Maha Pencipta, menciptakan kita dan seluruh makhluk di alam raya. Sebenarnya menjadi hak Allah SWT menghalalkan dan mengharamkan apa saja. Kita sebagai ciptaan-Nya tidak berhak untuk mengajukan protes.

Tapi Allah SWT juga Maha Bijaksana. Hingga menghalalkan yang baik, dan mengharamkan yang buruk. Dengan kenyataan ini, maka kita semakin mudah untuk lulus dalam ujian halal haram dalam Islam. Meninggalkan yang haram karena berbahaya bagi kita.

Walaupun memang ada beberapa yang baik tapi kemudian Allah SWT haramkan. Tapi hal itu lebih sebagai bentuk hukuman untuk umat tertentu. Misalnya untuk orang-orang Yahudi.

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِبَغْيِهِمْ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

“Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku; dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.” [Al-An’am: 146]

Rasulullah saw. membebaskan mereka dari belenggu itu.

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

“dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” [Al-A’raf: 157].

Ada sebuah kaidah yang sangat penting terkandung dalam ayat berikut ini terkait dengan halal haram dalam Islam, bahwa yang haram pasti berbahaya. Allah SWT berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” [Al-Baqarah: 219].

Silakan baca juga:

Kita bisa menyimpulkan beberapa hal berikut:

  • Kalau sesuatu itu murni baik, maka halal.
  • Bila murni buruk, maka haram.
  • Sesuatu yang keburukannya lebih dominan adalah haram.
  • Sesuatu yang kebaikannya lebih dominan adalah halal.

Walaupun memang pengetahuan manusia selalu berkembang. Sehingga ada beberapa hal yang saat kita ketahui sangat berbahaya, padahal sebelumnya kita tidak mengetahuinya. Sehingga wajar ketika para ulama belum mengetahui sisi bahaya itu, mereka masih menghalalkannya. Marilah terus disiplin dalam halal dan haram menurut ajaran Islam. Banyak yang halal kenapa harus yang haram? (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda