SYARIAH

Miras dan Proses Pengharamannya dalam Al-Qur’an

miras dalam Al-Qur'an
Sesungguhnya seetan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (minum) khamr.

mukjizat.co – Miras atau minuman keras memabukkan adalah haram dalam Al-Qur’an. Umat Islam berproses hingga bisa menaati aturan pengharaman ini. Karena mengkonsumi miras adalah kebiasaan lumrah di negeri Arab saat itu. Lalu bagaimana proses haramnya miras dalam Al-Qur’an?

Memilih Manfaat Biasa Atau Manfaat Plus

Di awal, Allah Taala tidak langsung mengharamkan miras. Allah Taala Maha Mengetahui bahwa pengharaman miras secara langsung pasti akan mendapatkan pertentangan dan penolakan dari masyarakat saat itu.

Maka yang Allah Taala firman adalah bahwa memanfaatkan buah kurma dan anggur  dengan dua macam cara. Dengan membuatnya sebagai sakaran (minuman yang memabukkan), atau menjadikannya sebagai rizqan hasanan (makanan yang baik). Allah Taala berfirman:

 وَمِن ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Dan dari buah korma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik. sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” [An-Nahl ayat 67].

Dalam ayat ini, Allah Taala tidak menyebutkan bahwa miras adalah buruk. Miras dalam Al-Quran ini tidak dikatakan buruk. Yang Allah Taala katakan adalah bahwa ada cara yang lebih baik untuk mengkonsumsi buah kurma dan anggur. Kita bisa melihat bahwa kata “sakaran” dalam ayat tersebut tidak mendapatkan sifat apa-apa. Sedangkan kata “rizqan” mendapat sifat “hasanan” (baik).

Masyarakat Arab saat itu tidak siap untuk mendengar perkataan bahwa miras adalah buruk. Jadi yang masih bisa mereka terima adalah perkataan bahwa mengkonsumsi buah-buahan itu sebagai miras bukan cara terbaik. Ada cara lain yang lebih baik. Silakan mencoba cara itu jika ingin manfaat plus.

Miras Mengandung Manfaat dan Bahaya Besar

Berselang beberapa waktu setelah turun ayat tahapan pertama, Allah Taala kemudian menyampaikan sebuah kaidah bahwa sesuatu yang mengandung bahaya lebih banyak daripada manfaatnya, maka hendaknya tidak mengkonsumsinya.

Sudah mulai ada unsur pengharaman dalam tahap ini. Sudah ada arahan untuk meninggalkan miras, tapi hanya dengan menjelaskan bahwa miras itu mengandung bahaya yang lebih besar daripada manfaatnya. Tidak ada larangan yang bersifat lugas dalam ayat ini.

Allah Taala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا 

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. katakanlah ‘pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia tetapi dosa keduanya lebih besar dari pada manfaatnya.” [Al-Baqarah: 219]

Kata “itsmun” dalam ayat ini bukan bermakna dosa, tapi bermakna bahaya, karena dibandingkan dengan kata “naf’un” yang bermakna manfaat. Bahaya adalah lawan kata manfaat.

Apa manfaat miras yang disinggung dalam ayat ini? Manfaat miras bukan seperti banyak orang-orang fikirkan, yaitu manfaat kesehatan, pengobatan, sebagai minuman, dan sebagainya. Tapi manfaatnya adalah manfaat ekonomi. Karena disebutkan bergandengan dengan kata “maisir” yang bermakna perjudian. Keuntungan perjudian adalah keuntungan ekonomi, maka keuntungan miras juga keuntungan ekonomi.

Orang-orang Arab saat itu mengimpor miras dari negeri-negeri Syam yang mempunyai kebun anggur berlimpah. Di Mekah sendiri tidak ada kebun anggur sama sekali. Sehingga kita bisa langsung mengetahui bahwa harga anggur di negeri Syam sangat murah, sebaliknya di Mekah sangat mahal. Ada keuntungan ekonomi yang besar dalam bisnis miras.

Tapi keuntungan ekonomi ini tidak seberapa jika kita membandingkannya dengan kerugian yang kita alami dalam banyak bidang disebabkan miras ini. Kerugian dalam bidang sosial, keluarga, pemikiran, dan sebagainya. Banyak sekali kerusakan yang timbul disebabkan miras ini.

Miras dalam Al-Quran ini tidak dilarang secara lugas. Orang-orang saat itu diajak berpikir apakah miras layak untuk mereka konsumsi. Miras mengandung bahaya yang sangat banyak dan besar, sedangkan manfaatnya sedikit saja, yaitu keuntungan ekonomi.

Miras Haram di Waktu Tertentu

Setelah mengalami perubahan, dan masyarakat Arab sudah siap untuk mendapatkan larangan, maka Allah Taala melarang mereka mengkonsumi miras. Tapi dengan larangan ini mereka belum belum sepenuhnya harus meninggalkan miras.

Allah Taala melarang mereka meminum miras di waktu-waktu dekat waktu shalat. Karena ibadah ini memerlukan kesadaran penuh dalam melaksanakannya. Seseorang harus mengetahui apa yang mereka ucapkan dalam shalat mereka.

Allah Taala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” [An-Nisa’: 43].

Miras dalam Al-Qur’an ini mulai haram, umat Islam sudah harus meninggalkannya.

Ayat ini turun setelah sahabat Abdurrahman Bin Auf ra. mengadakan pesta dan mengundang sebagian sahabat. Ali Bin Abi Thalib berkata, “Abdurrahman Bin Auf mengundang kami dan dia menyuguhi kami khamr, maka aku meminumnya. Kemudian aku pergi melaksanakan shalat dan orang-orang menjadikan aku sebagai imam mereka.

Lalu aku membaca:

 قل يآأيها الكافرون. أعبد ماتعبدون, ونحن نعبد ما عبدتم

“Wahai orang-orang kafir. Aku menyembah apa yang kamu sembah, dan kami akan menyembah apa yang kamu sembah.”

Karena mabuk sehingga membaca ayat secara salah, maka turunlah ayat ini.”

Miras Haram Secara Penuh

Setelah melalui proses panjang, sudah ada kesiapan untuk meninggalkan miras sama sekali. Maka turunlah ayat yang mengharamkan miras secara penuh. Allah Taala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّـهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban) untuk berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan-perbuatan syetan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Sesungguhnya syetan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (minum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” [Al-Maidah: 89-90].

Ayat ini turun setelah Utban bin Malik mengadakan pesta dan mengundang beberapa tokoh umat Islam, termasuk di dalamnya Sa’ad bin Abi Waqash ra. Saat itu Utban membakar seekor unta.

Silakan baca juga:

Mereka pun makan suguhan dan meminum khamar. Saat sedang mabuk, masing-masing mengeluarkan syair-syair yang membanggakan kaumnya. Ada di antara mereka yang menghina kelompok Anshar.

Salah seorang Anshar pun melemparnya dengan tulang rahang unta, mengenai dan melukai kepala Saad bin Abi Waqash ra. Beliau akhirnya melaporkan kepada Rasulullah saw. kejadian ini. Hingga akhirnya turun ayat itu, sehingga miras dalam Al-Qur’an ini sudah haram mutlak. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda