TUNTUNAN

Bekal Dakwah Seorang Da’i dari Mana?

bekal dakwah
Tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah Taala.

mukjizat.co – Bekal dakwah seorang da’i adalah sangat penting. Seorang da’i harus bisa mencari sumber-sumber untuk mendapatkan bekal dakwahnya. Dakwah akan menjadi perjalanan panjang yang melelahkan.

Dakwah  merupakan kewajiban bagi setiap muslim, karena Allah Taala telah menjadikan umat Islam sebagai pembimbing bagi umat manusia.

“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi (atas perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” [Al-Baqarah: 143]

Karena menjadi tugas para Rasul, berdakwah merupakan tugas yang mulia, memiliki kedudukan yang tinggi, sangat besar pahalanya, dan sekaligus bisa menambah iman dan takwa kita.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri.” [Fushilat: 33]

Menyesuaikan dengan Isi Dakwahnya

Seorang da’i akan terdorong untuk menyesuaikan diri dengan kemuliaan dakwah. Dia tidak akan berkata atau berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan tugas mulia tersebut.

Masalah tauhid adalah hal utama yang hendaknya didakwahkan. Seorang da’i harus menyampaikan masalah tersebut kepada umat, menghidupkan hati mereka dengan makrifatullah, dan menyeru mereka untuk menaati-Nya.

Maka secara berbarengan, keimanan seorang da’i pun akan selalu bertambah, dan hatinya akan selalu berhubungan dengan Allah. Ini akan memberikan bekal dakwah yang amat berguna bagi seorang da’i dalam menjalani hidupnya.

Selalu Berada di Tempat Kebaikan

Seorang da’i menghabiskan mayoritas waktunya di kebun-kebun surga, berupa majelis-majelis zikir bersama obyek dakwahnya.

Rasulullah saw. bersabda bahwa majelis-majelis ini dikelilingi para Malaikat, diliputi rahmat, dikaruniai ketenangan dan disebut-sebut oleh Allah di kalangan para malaikat.

Tentulah ini akan memberikan bekal dakwah yang melimpah ke dalam hati seorang da’i.

Mengingatkan Orang Lain Mengingatkan Diri Sendiri

Seorang da’i selalu mengingatkan orang lain dengan nilai-nilai kebaikan yang dapat memperbaiki keadaan mereka, dan menjauhkan mereka dari keburukan. Aktivitas ini secara tidak langsung juga dapat menjadi pengingat bagi sang da’i.

Dia dapat mengambil pelajaran sebagaimana orang lain mengambil pelajaran darinya. Kondisi ini berbeda dengan bukan da’i, yang sangat mungkin lupa dengan nilai-nilai kebaikan tersebut karena tidak mendapatkan peringatan dari orang lain.

Berusaha Menjadi Teladan Kebaikan

Seorang da’i selalu berusaha menjadi teladan yang baik bagi obyek dakwahnya dalam kebaikan yang telah disampaikan. Berusaha tidak menyelisihi perintah dan larangan yang ia sampaikan, dan selalu merasa takut terhadap murka Allah:

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berfikir?” [Al-Baqarah: 44]

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [Ash-Shaff: 2-3]

Rasa takut ini tentu akan memberikan dorongan yang kuat untuk menjadi orang baik sebelum mengajak orang lain kepada kebaikan.

Selalu Berinteraksi dengan Al-Qur’an dan Hadits

Seorang da’i  memilih tema-tema penting dan mendasar dalam dakwahnya. Dia memperkuat pembicaraannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi. Membacakan ayat dan hadits Nabi saw. tentu akan memberikan pengaruh luar biasa pada bertambahnya keimanan seorang da’i.

Terutama bila da’i tersebut betul-betul menghayati apa yang diucapkan. Seorang da’i akan melakukannya karena “kata yang keluar dari hati akan sampai ke dalam hati, sedang yang keluar dari lisan akan hanya sampai pada pendengaran.”

Berkorban Demi Kebenaran

Seorang da’i mengorbankan waktu tenaga, harta dan fisiknya dalam beberapa perjalanan di jalan Allah Taala. Ini merupakan pelatihan untuk jiwa agar terbebas dari kemalasan, kebakhilan, kelemahan, dan kepengecutan.

la juga mengumandangkan kebenaran dengan lantang, walaupun mungkin sangat pahit akibatnya. Dan ini merupakan pengkondisian bagi jiwa serta yang pembentukan pribadinya untuk melanjutkan jalan dakwah.

Terus Meningkatkan Keilmuan

Seorang da’i akan selalu berusaha menambah ilmu agar bisa memiliki bekal keilmuan yang cukup. Dia mempersembahkannya orang lain dan agar ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang objek dakwah lontarkan kepadanya.

Dalam keyakinannya, mencari ilmu tidak boleh berhenti karena umur. Karena belajar adalah bermulai dari buaian hingga ke liang lahat. Upaya untuk menambah ilmu ini tentu bisa menjadi bekal dakwah amat penting bagi kelangsungan dakwah.

Berhati-Hati Mengajarkan Kebenaran

Seorang da’i membiasakan dirinya untuk selalu teliti dan jeli dalam menyampaikan pengetahuan kepada orang lain. Jangan sampai ada kekeliruan, penyimpangan, atau yang melanggar Al-Qur’an dan Sunah Rasululullah saw. dalam seluruh pembicaraannya.

Sebab, bila itu terjadi, maka ia bertanggung jawab atas tersebarnya kesalahan dan penyimpangan tersebut. Kebiasaan teliti dalam berbicara serta memperhatikan yang benar dalam segala hal tersebut dapat membantu pembinaan pribadi aktivis dakwah itu sendiri. Yaitu berkata benar dan sifat amanah.

Mengatur Waktu dengan Baik

Di samping menyadari tanggung jawab di hadapan Allah terhadap obyek dakwah, seorang da’i juga harus bertanggung jawab terhadap waktu objek dakwah mereka.

Karenanya, ia akan disiplin dalam menghadiri pertemuan, tidak menyia-nyiakan waktu mereka orang hanya untuk menunggu mereka, dan tidak menjejali mereka dengan pembicaraan yang tidak banyak berfaedah.

Dengan begitu ia akan terbiasa menghargai waktu dan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Sebab waktu adalah kehidupan, dan kewajiban lebih banyak dari pada waktu yang tersedia.

Berdakwah dengan Keikhlasan

Seorang da’i beramal karena Allah dan untuk mencari keridhaan-Nya. Dia tidak melaksanakan dakwah karena motif-motif dunia atau agar orang lain mencintainya.

Sebab bila ia berbuat begitu, maka rusaklah amal-amalnya, dan akan mendapat murka Allah Taala karena menggunakan dakwah untuk agenda dunia.

Dengan begitu ia menjadi orang yang paling merugi; yaitu orang yang menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia orang lain.

Berdakwah dengan Meneladani Rasulullah saw.

Seorang da’i harus mengikuti ajaran Islam dan mencontoh Rasulullah saw. dalam mendakwahi orang lain. Seperti yaitu dengan lemah lembut, kasih sayang, bijaksana, nasihat yang baik, debat dengan cara yang lebih baik, sabar menghadapi gangguan dari obyek dakwah, dan begitu seterusnya.

Allah Taala berfirman:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali Imran: 159]

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [An-Nahl: 125]

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami pada mereka.” [Al-An’am: 34]

Membawa Perasaan dalam Berdakwah

Seorang da’i akan bersedih karena kasihan kepada orang-orang yang berpaling bahkan dakwahnya.

“Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini Al-Qur’an.” [Al-Kahfi: 6]

Demikianlah, sifat-sifat terpuji itu muncul dalam diri aktivis dakwah melalui kearifannya dalam melakukan dakwah. Dan ini merupakan bekal dakwah yang amat melimpah.

Memelihara Semangat Berdakwah

Seorang da’i tidak boleh kendur dalam menunaikan tugas dakwah gara-gara keletihan, rasa sakit, perjalanan panjang, kurang tidur, dan harus berkorban. Sebab itu semua merupakan bekal dakwah yang pasti bermanfaat bagi perjalanan yang panjang menuju akhirat.

Bahkan seharusnya dia merasakan nikmat dalam kelelahannya, lezat dalam rasa sakitnya, untung dalam setiap yang diberikan, dan ganti yang tidak diragukan dalam setiap yang dikobarkan.

Tidak Membanggakan Diri

Seorang da’i melatih dirinya agar tidak terjangkit penyakit ghurur (berbangga diri) saat orang simpatik kepadanya, atau banyak pendengar yang terpukau oleh kata-katanya.

Sebaliknya ia juga tidak boleh berputus asa bila yang terjadi adalah sebaliknya. Betapa pun jeleknya sambutan orang-orang yang menjadi objek dakwah, tapi boleh jadi dari mereka muncul sekelompok kecil orang yang lebih bermanfaat daripada yang besar.

Hendaknya ia meyakini bahwa kewajibannya hanya menyeru, sementara seseorang menerima hidayah atau tidak menerima adalah urusan Allah. Allah Taala berfirman:

“Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan.” [Al-Maidah: 99]

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Allah kehendaki.” [Al-Qashash: 56]

Sabar Menghadapi Tantangan

Terbebasnya jiwa dari ghurur dan putus asa merupakan bekal dakwah yang seorang da’i harus meneruskan dakwahnya meski pun menghadapi banyak gangguan.

Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. amat besar. Membalas gangguan orang-orang musyrik dengan do’a, “Ya Allah, tunjukilah kaum saya karena mereka belum mengetahui.”

Beliau terus berdakwah walaupun tantangan tidak pernah sepi dari perjalanan. Ulama mengatakan, “Bersikaplah seperti pohon dalam mensikapi manusia; mereka melemparinya dengan batu, namun ia membalas dengan melemparkan buah-buahan kepada mereka.”

Membiasakan jiwa untuk membalas keburukan dengan kebaikan seperti itu, merupakan sebaik-baik bekal dakwah. Maha Benar Allah yang berfirman:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.” [Fushilat: 34-35]

Keberhasilan seorang da’i dalam mengemban tugasnya dapat kita ukur dengan kecintaan yang tulus karena Allah dari para mad’unya (obyek dakwahnya). Ini merupakan salah satu karunia Allah terbaik yang sebagian besar orang tidak mendapatkannya. Cukuplah bagi seorang da’i bahwa dia mendapat doa yang baik tanpa sepengetahuannya dari orang-orang yang mencintainya.

Pahala yang Besar

Seorang da’i memperoleh pahala yang sangat besar, bila Allah menjadikan dakwah sebagai penyebab berpindahnya seseorang dari kesesatan menuju petunjuk.

Rasulullah saw. bersabda,” Sungguh, andai Allah memberikan hidayah kepada seseorang lantaran kamu, itu lebih baik bagimu dari pada unta merah (kekayaan yang paling berharga di Jazirah Arab saat it.). Pahala yang besar itu bisa menjadi bekal dakwah yang sangat baik.

Tawadhu kepada Allah Taala

Seorang da’i yang lulus harus menyadari bahwa kemampuannya berbicara kepada orang lain, hingga mereka terpesona oleh ucapannya adalah karunia dari Allah Taala. Bukan disebabkan semata-mata kehebatan, kecerdasan atau kepiawaiannya.

Karenanya, ia tidak menyombongkan diri, bahkan seharusnya semakin bertawadhu kepada Allah Taala, bertaqwa, bersyukur serta berserah diri pada-Nya, hingga Allah Taala menambahkan kemampuannya. Allah Taala berfirman:

“Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Al-Baqarah: 282]

“Sesungguhnya sekiranya kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” [Ibrahim: 7]

Silakan baca juga:

Menimbang dengan Timbangan Islam

Seorang da’i yang tulus ikhlas akan selalu bertaqwa kepada Allah Taala.  Selalu menimbang segala persoalan yang berkembang dengan timbangan Islam yang benar. Tanpa kemunafikan, menjilat, atau takut pada seseorang betapa pun kekuasaannya.

Dia tidak akan memutarbalikkan fakta atau mencampur aduk yang hak dan yang batil, hingga orang lain belajar darinya dengan tolok ukur yang Rabbani. Hal ini juga merupakan bekal dakwah yang baik bagi seorang da’i. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda