SYARIAH

Adakah Ilmu Laduni?

Adakah ilmu laduni
Mengada-adakan sesuatu dari Allah Taala tanpa ilmu lebih buruk dari perbuatan syirik.

mukjizat.co – Adakah ilmu laduni? Ada pihak yang mengaku memilikinya bahkan tingkat tinggi dalam manfaat dan kehebatan. Tapi ada juga yang memperingatkan itu bahaya dan sesat.

Kadang ada kaum sufi yang mengklaim dan menggembar-gemborkan ilmu laduni. Jenis ilmu yang tidak memerlukan ilmu kasbi (tanpa usaha belajar) yang berdasar atas dalil dan argumentasi.

Imam al-Harawi misalnya, dalam Manazilus Sairin, mendefinisikan ilmu laduni sebagai ilmu yang Allah Taala tiupkan ke dalam hati seseorang tanpa adanya usahanya, dan tanpa usaha menggunakan dalil; karena itulah bernama laduni (dari-Ku). Allah Taala berfirman, “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” [Al-Alaq: 5].

Ilmu ini istimewa dan lebih khusus dari ilmu-ilmu lainnya. Karena itulah, Allah menisbatkannya kepada Diri-Nya. Sama ketika menisbatkan Ka’bah sebagai rumah-Nya. Sehingga, jauhlah keutamaan ilmu-ilmu yang berdasarkan pada dalil-dalil dan argumentasi-argumentasi jika berhadapan dengan ilmu laduni.

Bisakah Ilmu Laduni Tanpa Dalil?

Menanggapi pendapat ini Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa ilmu yang berasal dari dalil dan argumentasi itulah ilmu hakiki, ilmu yang sebenarnya. Sedangkan sesuatu yang klaimnya hadir tanpa dalil dan argumentasi adalah hal tidak dapat kita percayai, sehingga bisa kita katakan bukan sebuah ilmu.

Memang, terkadang ilmu yang orang memperolehnya dengan dalil akan makin menguat dan bertambah. Hingga objek ilmu berubah menjadi seperti objek mata. Kegaiban menjadi seperti sesuatu yang nyata. Dan ‘ilmul yaqin menjadi seperti ‘ainul yaqin.

Artinya, sesuatu akan melewati fase-fase: perasaan, kesadaran, keyakinan, pengetahuan, ‘ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Kemudian tiap-tiap tingkatan larut dalam tingkatan di atasnya sehingga kebenaran terdapat pada tingkatan yang lebih tinggi tersebut.

Klaim tentang adanya suatu jenis ilmu tanpa adanya satu pun usaha pemakaian dalil adalah klaim yang tidak benar. Karena Allah Taala telah mengaitkan pengetahuan dengan sebabnya, sebagaimana Dia telah mengaitkan segala yang makhluk hidup dapatkan dengan sebabnya, sehingga manusia tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan dalil atas ilmu tersebut.

Juga, Allah Taala telah menguatkan rasul-rasul-Nya dengan berbagai macam dalil dan argumentasi yang membuktikan bahwa apa yang mereka bawa benar-benar berasal dari Allah Taala.

Allah Taala menjadi saksi atas kebenaran mereka lewat dalil-dalil yang Allah Taala berikan kepada mereka. Ini artinya setiap ilmu yang tidak berdasarkan pada dalil adalah klaim yang tidak berdalil dan keyakinan yang tak berdasar. Sesuatu yang seperti itu keadaannya bukanlah sebuah ilmu, dan tentu saja ia bukan juga laduni.

Dengan demikian, ilmu laduni adalah sesuatu yang sebuah dalil sahih menyatakan berasal dari Allah melalui Iisan rasul-rasul-Nya. Adapun yang selain itu adalah sesuatu yang berasal dari hawa nafsu seseorang. Tidak lebih.

Terlalu Banyak yang Mengaku Mendapat Ilmu Laduni

Pada perkembangannya, ilmu laduni sudah demikian murahnya karena banyak sekali kelompok yang menyatakan ilmu mereka sebagai ilmu laduni. Setiap orang yang berbicara tentang hakikat iman, tasawuf, dan asma dan sifat Allah Taala, lalu menyatakannya sebagai ilmu laduni, bisa saja hanya merupakan lintasan pikiran dalam benaknya, atau mungkin bisikan setan ke dalam hatinya.

Orang-orang ini telah berkata benar dan telah berkata dusta sekaligus. Sebab, laduni berasal dari kata “ladun” yang berarti “’inda” (di), sehingga mereka seakan mengatakan, “Ilmu yang ada di diriku.” Tapi mereka juga berdusta karena mengatakannya berasal dari Allah Taala.

Banyak ayat Al-Qur’an yang mengecam tindakan-tindakan seperti mereka, mengaku apa yang mereka sampaikan adalah pemberian dari Allah Taala.

“Mereka mengatakan: ‘la (yang orang itu membacanya itu datang) dari sisi Allah’ padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” [Ali Imran: 78].

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah.” [Al-Baqarah: 79].

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: ‘Telah diwahyukan kepada saya padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya.” [Al-An’am: 93].

Semua orang yang mengatakan “ilmu ini berasal dari Allah” sedangkan ia sendiri telah berdusta dalam penisbatan ini, maka ia termasuk yang mendapatkan celaan ini. Ayat yang seperti di atas banyak terdapat di dalam Al-Qur’an. Di sana Allah Taala mencela orang yang menisbatkan kepada-Nya sesuatu yang tidak berasal dari-Nya dan orang yang mengatakan sesuatu yang dia tidak mengetahuinya atas nama-Nya.

Karena alasan itulah, Allah Taala membagi perbuatan haram ke dalam empat tingkatan, dengan menjadikan perkataan tanpa dasar ilmu sebagai tingkatan terburuk. Allah menempatkannya pada tingkatan terburuk, berarti tidak boleh dalam keadaan bagaimana pun. Bahkan, ia haram dalam seluruh agama dan lewat lisan semua rasul.

Silakan baca juga:

Dengan demikian, orang yang mengatakan “ini ilmu laduni” untuk sesuatu yang jelas bukan berasal dari Allah Taala, dan bukan berdasarkan atas suatu argumentasi/dalil dari Allah Taala, adalah seorang pendusta yang membuat-buat sesuatu atas nama-Nya. Dia termasuk orang yang paling zalim dan orang yang paling dusta. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda