KEJIWAAN

Bagaimana Al-Qur’an Menenangkan Hati?

bagaimana Al-Qur'an menenangkan hati kita?
Kegelisahan diganti dengan keyakinan.

mukjizat.co – Bagaimana Al-Qur’an menenangkan hati kita ketika dirundung kesedihan? Banyak sekali hal yang saat ini bisa membuat kita takut, putus asa, sedih, kecewa, dan merana di tengah pandemi Corona saat ini.

Rasulullah saw. mengajarkan doa dan bacaan dzikir supaya hati tenang:

أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

“Aku memohon jadikanlah Al-Quran sebagai musim semi hatiku, cahaya dadaku, hilangnya kesedihanku, dan perginya kebingunganku.” [HR. Ahmad].

Doa dan dzikir ini berisi permohonan kepada Allah Taala untuk menjadikan Al-Qur’an yang kita baca sebagai penenang hati kita. Al-Qur’an bisa memberikan kesejukan dalam hati kita sehingga hilang kesedihan dan kebingungan di dalam hati.

Bagaimana Al-Qur’an Bisa Menenangkan Hati?

Di antara ayat al-Qur’an yang menenangkan hati dan pikiran kita adalah ayat Al-Qur’an yang mengajarkan dan memberikan keyakinan bahwa hidup lebih luas dan panjang daripada sekadar kehidupan dunia.

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka.” [An-Najm: 29-30].

Masih ada alam barzakh dan alam akhirat yang kita masuki setelah kematian kita. Di alam itulah harapan-harapan kita yang tidak tercapai dunia akan bisa kita capai dengan sempurna. Kebahagiaan yang kita idamkan akan kita dapatkan tanpa sesuatu yang merusaknya. Ayat ini benar-benar menenangkan hati kita.

Ali bin Abi Thalib ra. mengatakan tentang Al-Qur’an:

كتاب الله، فيه نبأ ما كان قبلكم، وخبر ما بعدكم، وحكم ما بينكم

“Kitabullah. Di dalamnya terdapat berita sebelum kalian, kabar setelah kalian, putusan masalah kalian.”

Kematian Adalah Jalan Mendapatkan Kenikmatan yang Sempurna

Al-Qur’an menenangkan hati dengan mengabarkan bahwa kematian adalah jalan menuju diberikannya kebahagiaan yang sempurna.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan pahala yang semmpurna hanya akan diberikan pada Hari Kiamat.” [Ali Imran: 185].

Saat mati, jiwa akan tetap hidup, bahkan bersiap-siap untuk mendapatkan hasil amalan mereka secara sempurna.

Kehidupan dunia yang sebentar saja, kita harus menggunakannya dengan baik untuk mempersiapkan akhirat. Tidak menggunakannya dengan baik adalah sikap bermain-main

فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّى يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ

“Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.” [Az-Zukhruf: 83].

Kenikmatan dan kebahagiaan dunia hanyalah pemberian hadiah saja. Sedangkan kenikmatan dan kebahagiaan yang sempurna akan mereka dapatkan di akhirat kelak.

إِنَّ اللهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً، يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَة

“Sesungguhnya Allah Taala tidak menzhalimi seorang Mukim dalam beramal kebaikan. Pahala diberikan-Nya di dunia, dan disempurnakan-Nya di Akhirat.” [HR. Muslim].

Kebahagiaan Adalah Ketika Menaati Allah Taala

Al-Quran menenangkan hati kita dengan mengajarkan bahwa kebahagiaan kita adalah ketika kita menaati Allah Taala. Banyak sekali Ayat Al-Qur’an tentang hati. Di antaranya adalah yang mengabarkan kebahagiaan dan ketenangan.

Di antara ayat itu mengabarkan bahwa beda antara rasa enak dan kebahagiaan. Seorang Mukmin hanya bisa mendapatkan kebahagiaan saat berbuat ketaatan yang bertujuan membersihkan jiwanya.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” [Asy-Syams: 9].

عبْدِيْ، كُنْ لِيْ كَمَا أُرِيْدُ أَكُنْ لَكَ كَمَا تُرِيْدُ، كُنْ لِيْ كَمَا أُرِيْدُ، وَلَا تُعَلِّمْنِيْ بِمَا يُصْلِحُكَ، أَنْتَ تُرِيْدُ، وَأَنَا أُرِيْدُ، فَإِذَا سَلَّمْتَ لِيْ فِيْمَا أُرِيْدُ كَفَيْتُكَ وَمَا تُرِيْدُ، وَإِنْ لَمْ تُسَلِّمْ لِيْ فِيْمَا أُرِيْدُ أَتْعَبْتُكَ فِيْمَا تُرِيْدُ، ثُمَّ لَا يَكُوْنُ إِلَّا مَا أُرِيْدُ

“Hamba-Ku, jadilah engkau seperti yang Kuinginkan, maka Aku akan seperti yang kau inginkan. Jadilah engkau seperti yang Kuinginkan, dan jangan Kau ajari Aku tentang apa yang baik bagimu. Engkau menginginkan sesuatu, Aku juga menginginkan sesuatu. Jika engkau serahkan (percayakan) kepada-Ku sesuai yang Kuinginkan, maka Aku akan mencukupkanmu apa yang kau inginkan. Tapi jika kau tidak serahkan (percayakan) kepada-Ku sesuai yang Kuinginkan, maka Aku akan membuatmu lelah mencari apa yang kau inginkan, dan akhirnya yang kau dapatkan hanyalah yang Kuinginkan.” [Ibnu Qayim: Madarijus Salikin].

Kesuksesan Terbesar Adalah Ketika Menaati Allah Taala

Al-Quran menenangkan hati kita karena mengabarkan bahwa kesuksesan terbesar adalah ketika menaati Allah Taala. Saat orang bisa melaksanakan shalat, berpuasa, mengeluarkan zakat, dan sebagainya, itulah kesuksesan dan kemenangan yang orang Mukmin dapatkan.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al-Ahzab: 71].

Maka orang Mukmin hendaknya berbahagia saat meninggal dunia, karena akan menerima hadiah kemenangannya saat di dunia.

Abdullah bin Umar ra. mengatakan:

تحفة المؤمن الموت

“Hadiah bernilai akan didapatkan seorang Mukmin dengan kematian.” [Thabrani].

Abdullah bin Amru ra. mengatakan:

الموت عرس المؤمن

“Kematian adalah pesta kebahagiaan seorang Mukmin.” [Abdullah bin Amr; Baihaqi].

Di Akhirat Kita Melupakan Apa yang Kita Rasakan Saat Ini

Al-Qur’an menenangkan hati kita karena mengabarkan bahwa apa yang kita rasakan saat ini belum ada apa-apanya. Rasa bahagia belum ada apa-apanya. Demikian juga derita. Ketika masuk neraka, kebahagiaan dunia hilang sama sekali dari ingatan. Ketika masuk surga, derita hidup dunia hilang sama sekali dari ingatan.

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seorang pun tidak mengetahui apa yang Allah sembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [As-Sajdah: 17]

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda:

“Pada Hari Kiamat Allah Taala memanggil seorang penduduk neraka yang di dunia paling enak hidupnya. Allah Taala memasukkannya ke neraka sebentar saja, lalu bertanya, “Hai manusia, apakah engkau pernah melihat kebaikan? Apakah engkau pernah mendapatkan kenikmatan?” Dia menjawab, “Demi Allah, tidak pernah, Ya Tuhanku.”

Lalu Allah Taala memanggil seorang penduduk surga yang di dunia paling sengsara hidupnya. Allah Taala memasukkannya ke surga sebentar saja, lalu bertanya, “Hai manusia, apakah engkau pernah melihat keburukan? Apakah engkau pernah mendapatkan kesempitan?” Dia menjawab, “Demi Allah, tidak pernah, Ya Tuhanku.” [HR. Muslim]

Kita Harus Mengutamakan Akhirat

Kesimpulan dari penjelasan di atas bahwa kita harus mengutamakan kebahagiaan akhirat. Beginilah cara bagaimana Al-Qur’an menenangkan hati kita.

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Maka sesuatu apa pun yang Allah berikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal.” [Asy-Syura: 36].

Silakan baca juga:

Apa yang hilang dari orang yang telah menemukan Allah? Apa yang orang dapatkan yang telah kehilangan Allah?

Kebaikan kalau berujung dengan neraka bukanlah kebaikan. Keburukan kalau berujung dengan surga bukanlah keburukan

Beramallah untuk dunia seberapa lama kau akan menempatinya. Beramallah untuk akhirat seberapa lama kau akan menempatinya.

Wahai anak manusia, engkau dilahirkan ibumu dalam keadaan menangis. Orang-orang di sekitarmu tertawa bahagia. Beramallah engkau, supaya ketika mereka menangis di hari kematianmu. Giliran engkau yang tertawa bahagia.

Setelah membaca ayat-ayat di atas, bagaimana? Apakah Al-Quran menenangkan hati kita? Al-Quran adalah penenang hati dan pikiran kita, seperti sabda Rasulullah saw. dalam doanya. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa I Al-Maidah

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda