IBADAH

Membaca Al-Qur’an Apakah Perlu Niat?

niat membaca Al-Qur'an
Yang kita dapatkan dalam ibadah hanyalah yang kita niatkan.

mukjizat.co – Membaca Al-Qur’an atau tilawah Al-Qur’an adalah sebuah ibadah, maka harus diawali dengan niat. Bisa melalui doa sebelum dan setelah membaca Al-Qur’an.

Kenapa ini penting? Kebanyakan kita membaca Al-Qur’an dengan tujuan mendapatkan pahala. Tidak ada yang salah dalam tujuan ini. Tapi tujuan diturunkannya Al-Qur’an jauh lebih besar daripada sekadar pahala. Jadi dibutuhkan niat membaca Al-Qur’an yang lain.

Ada fenomena menarik, kenapa ada penghafal Al-Qur’an yang tidak mengamalkan Al-Qur’an, bahkan akhlaknya tidak qurani, padahal entah berapa ratus kali mereka khatam membaca Al-Qur’an. Mungkin ini terkait dengan niat membaca Al-Qur’an.

Oleh karena itu harus memasang niat jika ingin mendapatkan kebaikan-kebaikan dari bacaan Al-Qur’an kita. Karena Rasulullah saw. bersabda “wa innama likulli imriin maa nawwa” (Yang didapatkan seseorang hanyalah yang diniatkannya).

Apalagi Islam memandang niat seseorang lebih penting daripada amalannya. Orang yang berniat untuk beramal tapi batal melaksanakannya sudah dicatatkan pahala niatnya. Sedangkan orang yang beramal tanpa niat tidak mendapatkan pahala amalannya.

Dalam membaca Al-Qur’an, ada banyak niat yang bisa kita pasang. Paling tidak adalah:

  • Mendapatkan ilmu
  • Mendapatkan motivasi untuk beramal
  • Bermunajat dengan Allah Taala
  • Mendapatkan pahala
  • Mendapatkan kesembuhan

Membaca Al-Qur’an Untuk Mendapatkan Ilmu

Ini adalah tujuan yang sangat penting dalam membaca Al-Qur’an. Karena tujuan inilah yang disebutkan secara langsung oleh Allah Taala.

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” [Shaad: 29].

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” [Qaaf: 37].

Ibnu Umar ra. mengatakan, “Cukuplah Al-Qur’an sebagai pemberi nasihat bagi orang yang menggunakan akalnya.”

Ahmad bin Abil Hawari mengatakan, “Saat aku membaca Al-Qur’an, aku memikirkan satu ayat, dan otakku terus memikirkannya. Aku heran dengan para penghafal Al-Qur’an bagaimana mereka bisa tidur nyenyak. Bahkan di antara mereka ada yang bisa membaca Al-Qur’an sambil melakukan pekerjaan duniawi.

Kalau saja mereka memahami apa yang sedang mereka baca, mengetahui maksudnya, lalu merasakan nikmatnya, dan merasakan lezatnya berbisik-bisik dengan Allah Taala. Saat itu mereka pasti tidak akan bisa mengantuk saking bahagianya dengan rezeki yang baru saja mereka terima.”

Ilmu apa yang kita ambil dari membaca Al-Qur’an? Yang paling penting adalah ilmu tentang Allah Taala. Mengetahui-Nya yang menambah iman dan ibadah.

Ilmu yang melahirkan istighfar, meminta ampunan Allah Taala.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” [Muhammad: 19].

Ilmu yang membuat kita merasa takut lalu meminta ampunan kepada Allah Taala.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” [Fathir: 28].

Bagaimana Melakukannya?

Bagaimana cara membaca Al-Qur’an untuk mendapatkan ilmu?

  • Kita baca Al-Qur’an seperti seorang mahasiswa yang sedang membaca bukunya di malam ujian.
  • Membaca Al-Qur’an seperti seorang pegawai membaca aturan kerjanya.
  • Al-Qur’an adalah referensi kita dalam setiap masalah yang kita hadapi dalam kehidupan kita.

Oleh karena itu, jika ingin sukses dalam kehidupan, hendaknya kita hafal dan memahami Al-Qur’an dengan benar. Karena kalau demikian, kita bisa segera bersikap sesuai dengan Al-Qur’an setiap kali menghadapi masalah.

Dalam Al-Qur’an banyak dicontohkan bagaimana orang menghadapi masalah, lalu bisa memberikan jawaban dengan sangat tepat.

Rasulullah saw. di dalam gua Tsur, Abu Bakar ra. menyampaikan kekhawatirannya. Beliau berkata

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” [At-Taubah: 40].

Saat Nabi Musa as. terjepit dalam kejaran Firaun dan tentaranya, Bani Israel takut dan kalut dengan keadaan tersebut. Tapi dengan tenangnya, Nabi Musa as. mengatakan

كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

“Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” [Asy-Syuara: 62].

Saat digoda kecantikan, kekayaan dan kekuasaan seorang wanita bangsawan, Nabi Yusuf as. berkata

مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” [Yusuf: 23].

Semua itu adalah jawaban spontan dalam kondisi yang sangat sulit, yang seharusnya telah membuat akal kebingungan.

Kiranya orang yang menghafal Al-Qur’an, dan memahami pesan-pesan yang terdapat di dalamnya akan mendapatkan hal sedemikian.

Bagaimana Mempraktekkannya?

Pernahkah suatu hari kita lewat di sebuah jalan, lalu mengetahui ada sebuah toko yang menurut kita baru, padahal toko itu sudah lama ada dan kita sudah lewat di jalan itu berulang kali?

Saat membaca Al-Qur’an, hal serupa pun bisa terjadi. Banyak sekali pelajaran yang tersebar dalam ayat-ayat Al-Qur’an tapi kita tidak menyadarinya karena pikiran kita kosong, atau hanya memikirkan tajwid saja, atau pahala saja. Oleh karena itu, saat membaca hendaknya kepala kita penuh dengan pertanyaan yang kita inginkan jawabannya dari Al-Qur’an.

Makanya saat terjadi sebuah peristiwa, lalu ternyata ada komentarnya dalam Al-Qur’an, banyak di antara kita bertanya, “Ini ayat Al-Qur’an? Seakan aku baru mendengarnya. Itu terjadi karena kita membaca tanpa memahami pesan-pesannya.”

Membaca Al-Qur’an Untuk Mendapatkan Motivasi Beramal

Tujuan mendapatkan motivasi beramal ini sangat penting dalam membaca Al-Qur’an. Apa kata ulama tentang hal ini?

Ali bin Abi Thalib ra., “Wahai pengemban Al-Qur’an, wahai pengemban ilmu, amalkanlah Al-Qur’an dan ilmu kalian. Karena orang yang berilmu hanyalah yang mengamalkan apa yang diketahuinya. Amalannya sesuai dengan ilmunya.

Nanti akan ada orang yang membawa ilmu tapi hanya sebatas bacaan. Amalannya berbeda dengan ilmunya. Isi hatinya berbeda dengan tampilan luarannya. Mereka duduk di halaqah-halaqah ilmu untuk saling membanggakan dengan kelompok yang lain. sampai-sampai dia marah jika ada muridnya yang pindah ke guru lain.”

Hasan bin Ali ra., “Bacalah Al-Qur’an yang kau taati larangannya. Jika tidak engkau taati larangannya, maka itu bukan bacaan yang sesungguhnya.”

Ibnu Mas’ud ra., “Rasulullah saw. mengajar para sahabat sepuluh ayat-sepuluh ayat. Beliau tidak mengajarkan sepuluh ayat berikutnya sebelum mereka mempelajari ilmu dan amalnya.”

Al-Ajuri, “Seseorang hendakanya membuka-buka Al-Qur’an untuk membina dirinya sendiri. Kapan aku termasuk orang yang bertakwa? Kapan aku termasuk orang yang khusyuk? Kapan aku termasuk orang yang sabar? Kapan aku zuhud terhadap dunia? Kapan aku melawan hawa nafsu?”

Hasan Al-Basri mengatakan:

  • “Orang yang mentadabburi Al-Qur’an hanyalah orang yang mengamalkannya. Bukan hanya dengan membaca hurufnya dengan benar.”
  • “Mungkin ada orang yang mengaku telah membaca seluruh Al-Qur’an, tidak ketinggalan satu huruf pun, padahal dia sudah meninggalkan seluruh Al-Qur’an.”
  • “Ada juga orang yang mengaku bisa membaca satu surat hanya dalam satu tarikan nafas. Ketahuilah bahwa mereka itu bukan qurra’, ulama, hukama, ataupun sufi. Bagaimana mungkin seorang qari’ melakukan hal semacam itu? Semoga tidak banyak orang-orang seperti ini.”

Ibunda Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw., jawaban beliau:

كان خلقه القرآن يغضب لغضبه ويرضى لرضاه

“Akhlak Rasulullah saw. adalah Al-Qur’an. Marah dan ridhanya sesuai dengan Al-Qur’an.”

Seorang ibu datang kepada Abu Darda’, mengatakan, “Anak kecilku ini telah berhasil menghafalkan Al-Qur’an.”

Abu Darda’ menjawab, “Ya Allah ampunilah aku. Orang yang menghafal Al-Qur’an adalah orang yang mau menaati perintahnya.”

Hudzaifah mengatakan, “Wahai para penghafal Al-Qur’an, kalian sudah jalan jauh di depan kami. Bila kalian tersesat ke kanan atau ke kiri, maka kalian tersesat sangat jauh.”

Sebaiknya Anda baca juga:

Dengan niat membaca Al-Qur’an yang ini, maka apa yang bisa kita dapatkan?

  • Membaca Al-Qur’an dengan niat mencari ilmu yang bisa diamalkan. Meneliti satu ayat, apa kira-kira yang bisa diamalkan. Perintah, larangan, keutamaan, ancaman bahaya.
  • Menjadikan Al-Qur’an untuk mengoperasikan dan memelihara jiwa. Jiwa dibina dengan Al-Qur’an.
  • Membaca Al-Qur’an dengan niat mencari jawaban atas masalahnya atau mencari penyebab gejala keburukan. Sama seperti buku-buku psikologi yang kita baca saat ada masalah kejiwaan.

Demikianlah betapa pentingnya niat dalam membaca Al-Qur’an. Ternyata banyak sekali kebaikan yang kita lewatkan hanya karena tidak memasang niat saat membaca Al-Qur’an. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda