BUAH HATI

Rahasia Lukman Al-Hakim dalam Mendidik

Lukman Al-Hakim
Allah senang dan ridha dengan orang yang menjaga pemberian-Nya.

mukjizat.co – Anak adalah ciptaan Allah Taala. Mendidik anak sesuai dengan petunjuk Allah Taala. Ada kisah Lukman Al-Hakim dalam mendidik anaknya. Kiranya itu bisa menjadi petunjuk kita dalam mendidik anak.

Siapakah Lukman Sang Bijak?

Lukman Al-Hakim adalah hamba yang shalih, ahli ibadah, dan mendapatkan kenikmatan yang besar berupa hikmah dari Allah Taala. Itu hal paling penting yang bisa kita jadikan pelajaran.

Setelah ada Nabi Daud as., Lukman tidak lagi memberi fatwa dan hikmahnya, merasa cukup dengan tuntunan dari wahyu.

Kisah beliau diawali dengan ayat:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Lukman: 12]

Dirinya sering dijadikan sebagai teladan dalam mendidik anak. Kenapa? Beliau memiliki kunci keberhasilan dalam mendidik anak.

Kunci itu terkandung dalam kata (آتينا) “Kami berikan”. Dalam Al-Quran, kata ini sering digunakan untuk proses Allah Taala memberikan wahyu kepada para nabi.

Ternyata Lukman mendapatkan kata tersebut. Karena bukan nabi, maka yang beliau dapatkan adalah ilham berupa hikmah.

Hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Kondisi pribadi seseorang yang membuatnya mampu meletakkan sesuatu pada tempatnya dengan mudah tanpa kesulitan.

Apa yang dikatakan dan dilakukan selalu tepat. Ketika ada masalah, solusinya tepat. Ketika memberi nasihat, kata-katanya tepat.

Ternyata itu adalah given dari Allah Taala. Karena menggunakan kata (آتينا).

Bagaimana Mendapatkannya?

Ilham didapatkan dengan reciever yang tidak rusak. Receiver tidak rusak jika masih dalam kondisi fitrah seperti diciptakan Allah Taala

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بنيءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ على أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بلى

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” [Al-A’raf: 172].

Yaitu kondisi beriman kepada Allah Taala dengan sebenarnya. Hati tetap terus berada dalam keadaan baru, menerima dan melaksanakan manhaj Allah Taala.

Hati yang seperti ini layak mendapatkan sesuatu dari Allah Taala.

يِا أَيُّهَا الذين آمنوا إِن تَتَّقُواْ الله يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan (pembeda kebenaran dan kebatilan).” [Al-Anfal: 29]

والذين اهتدوا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقُوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” [Muhammad: 17].

Dalam Al-Quran disebutkan contoh orang yang mendapatkan keistimewaan tersebut:

Khidr

Banyak yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang nabi. Tapi tidak sedikit juga yang mengatakan bahwa beliau bukanlah seorang nabi.

Perbedaan pendapat ini terjadi karena kalaupun beliau bukan seorang nabi, tapi kondisinya sangat mirip dengan seorang nabi.

فَوَجَدَا عَبْداً مِّنْ عِبَادِنَآ آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْماً

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” [Al-Kahfu: 65].

Ibu Musa as.

Beliau juga bukan seorang nabi karena tidak ada nabi yang berjenis kelamin perempuan. Tapi kondisi beliau demikian miripnya dengan nabi.

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati,” [Al-Qashash: 7].

Kenapa Given?

Allah senang dan ridha dengan orang yang menjaga pemberian-Nya tersebut. Ibarat seorang anak yang diberi uang oleh orang tuanya, bisa menggunakan dengan baik, akan ditambah oleh orang tuanya. Itulah yang didapatkan Lukman Al-Hakim.

Dalam hadits qudsi, Allah Taala berfirman:

عبدي، أطعني تكُنْ ربانياً، تقول للشيء كُنْ فيكون

“Hamba-Ku, taatilah Aku, maka kau akan menjadi seorang yang Rabbani. Apapun yang kau katakan akan Kukabulkan.”

Alangkah baiknya, Anda baca juga:

Nasihat, pendidikan, petuah orang seperti ini bukan hanya berbekas pada diri anaknya, tapi juga anak-cucunya.

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” [Al-Kahfu: 82].

Kesalihan seorang ayah bahkan menjadi sebab datangnya dua orang nabi untuk memelihara anaknya. Ini adalah janji Allah Taala.

Hendaknya kita meneladani Lukmah Al-Hakim dalam mendidik anak. Ternyata keberhasilannya dalam mendidik anak adalah nikmat pemberian dari Allah Taala. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda