BINGKAI

Wafatnya Ulama, Apa Sikap Kita yang Seimbang?

Wafatnya Ulama, Apa Sikap Kita yang Seimbang?
Allah Taala tidak akan membiarkan ada satu zaman tanpa ada tokoh yang akan menjadi saksi kebenaran ajaran Islam.

mukjizat.co – Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Syekh Ali Jaber dikabarkan wafat setelah beberapa pekan menjalani pengobatan di rumah sakit. Kabar wafatnya ulama ini dibenarkan Ketua Yayasan Syekh Ali Jaber, Habib Abdurrahman Al-Habsyi, kepada Republika.co.id, Kamis (14/1).

Umat Islam Indonesia berduka dengan wafatnya satu lagi tokoh ulama yang dikenal luas memberikan pencerahan luar biasa kepada umat Islam. Wafatnya ulama memang harus disikapi dengan rasa sedih.

Kenapa Bersedih?

Ibnu Mas’ud ra. mengatakan, “Kematian seorang ulama dalam Islam membuka lubang yang tidak bisa ditutup dengan apapun selamanya.”

Sa’id bin Jubair ra. ditanya, “Apa tanda orang-orang akan celaka?” Beliau menjawab, “Jika telah meninggal dunia para ulama mereka.”

Perkataan para sahabat ini sesuai dengan hadits Rasulullah saw., “Sesungguhnya Allah Taala tidak mencabut ilmu secara langsung dari hamba-hamba-Nya. Tapi Allah Taala mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama.

Hingga ketika tidak tersisa satupun ulama, orang-orang akan mengangkat orang bodoh sebagai pemimpin. Maka ketika para pemimpin ditanyai fatwa, mereka akan berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka pun tersesat dan menyesatkan.” [Bukhari dan Muslim]

Dalam menafsirkan ayat:

أَوَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” [Ar-Ra’du: 41].

Ibnu Abbas ra. menafsirkannya dengan kerusakan bumi yang disebabkan kematian para ulama, fuqaha, dan orang-orang yang mencintai kebaikan.

Ka’ab ra. mengatakan, “Kalian harus belajar sebelum ilmu hilang. Hilangnya ilmu adalah wafatnya para ulama. Seorang ulama wafat seperti bintang yang padam, sesuatu yang patah tanpa bisa disambung, sesuatu yang lubang tanpa bisa dirapatkan.  Kepergianku adalah ke tempat mereka berada. Yang kuharapkan adalah bertemu dengan mereka. Aku tidak bisa mendapatkan kebaikan tanpa mereka.”

Kesedihan kita dengan wafatnya ulama adalah kesedihan yang bernilai iman. Para ulama adalah pewaris Nabi saw. Mereka dicintai Allah Taala. Sebagai orang yang beriman, tentu kita mencintai siapa pun yang dicintai Allah Taala.

Namun demikian, hendaknya kita menyikapinya hanya dengan bersedih.

Jangan Patah Semangat

Kematian seorang atau beberapa ulama bukan berarti hancurnya umat Islam karena kebodohan mereka. Karena umat Islam masih memiliki sejumlah ulama lain yang juga memikirkan dan bertanggung jawab atas keselamatan umat Islam.

Umat Islam hendaknya tidak berputus asa dengan wafatnya mereka. Hendaknya tetap bersemangat berjuang untuk agama Islam. Akan lahir para pemimpin (ulama) baru yang akan mengusung panji Islam.

Ilmu-ilmu Islam akan tetap terpelihara selama Al-Qur’an dan Sunnah dipelihara. Allah Taala tidak akan membiarkan ada satu zaman tanpa ada tokoh yang akan menjadi saksi kebenaran ajaran Islam.

Bersemangat Melanjutkan Perjuangan

Kematian beberapa ulama hendaknya malah memberikan semangat untuk memperjuangkan ajaran Islam. Seluruh umat Islam, terkhusus para pelajar ilmu agama, harus lebih bersemangat dalam tugas mereka mengembangkan keilmuan Islam.

Mereka harus mewaris ilmu, semangat, dan keshalihan para ulama yang telah pergi mendahului. Ketokohan seorang ulama tidak terlahir dalam sekejap. Lahirnya ulama membutuhkan perjuangan yang luar biasa dalam mengembangkan keilmuan.

Silakan baca juga:

Sinergi semua elemen umat, para ulama, pakar pendidikan, donatur, dan lain-lainnya, sangat diperlukan dalam pengembangan pendidikan Islam agar tidak ketinggalan roda peradaban manusia yang tidak mau menunggu.

Akhirnya, wafatnya ulama hanyalah takdir dari Allah Taala yang harus kita terima dengan penuh keridhaan dan bersikap dengan akal sehat. Mata kita memang berlinang air mata, dan hati kita memang bersedih, tapi pikiran dan ucapan kita haruslah tetap diridhai Allah Taala. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda