KEJIWAAN

Apa yang Dirasakan Saat Proses Kematian?

Apa yang Dirasakan Saat Proses Kematian?
Akidah dalam Islam, kematian adalah jalan menuju hidup kekal.

mukjizat.co – Kematian dialami semua orang. Apa yang dirasakan orang meninggal dunia tidak ada yang bisa menjelaskannya. Tapi ada gambaran tentang rasa mati menurut Islam tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dijelaskan juga fase dan proses kematian, dimulai dari sakaratul maut yang sangat dahsyat.

Proses termasuk hal ghaib, sehingga sangat cocok jika yang mengabarkannya adalah Allah Taala Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Seharusnya, dahsyatnya kematian mampu mengurangi kecintaan kita kepada dunia.

Hidup Kekal Memang Ada

Manusia difitrahkan mencintai kekekalan. Itu baik, karena tujuan diletakkan fitrah itu adalah untuk mengusahakan hidup kekal di akhirat. Bukan hidup kekal di dunia yang tidak mungkin bisa diraih.

Oleh karena itu, Islam menanamkan keimanan kepada kematian, bagaimana prosesnya, bagaimana rasanya, dengan berbagai macam cara.

Karena Iblis juga akhirnya menggoda Nabi Adam as. dengan kekekalan, bahwa kematian bisa dihindari, rasa sakitnya kematian dan kehilangan bisa dielakkan.

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَاآدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” [Thaha: 120].

Kekekalan memang ada, tapi harus melalui kematian terlebih dulu. Iman kepada kekekalan periode kedua ini sangat penting untuk meluruskan jalan hidup manusia saat hidup di dunia. Kenapa?

  • Jika kenikmatan dunia kian hari kian pudar, tentu hal itu akan membuat orang bersedih. Beriman dengan kehidupan fase kedua akan menumbuhkan kembali optimisme.
  • Ketika meyakini kematian dan tidak percaya kebangkitan, orang akan habis-habisan menikmati kelezatan dunia tanpa batasan. Merasa tidak ada kesempatan untuk menikmatinya lagi.
  • Orang beriman meyakini kehidupan dunia sangat singkat, tapi memiliki nilai sangat besar bagai kehidupan akhirat. Maka dia akan memanfaatkan hidupnya untuk menanam kebaikan.

Bagaimana Cara Mengimani Kehidupan Akhirat?

Akhirat adalah alam ghaib. Hanya melalui kabar dari Allah Taala manusia bisa mengetahuinya. Dengan penuh hikmah, Allah Taala membicarakan kejadian akhirat di sela-sela pembicaraan tentang kehidupan dunia. Hal ini bertujuan mengobati hati-hati yang dirusak setan dan tertipu dunia.

Pembicaraan tentang kehidupan akhirat disebutkan dengan sangat jelas dan detail. Tapi tetap dalam batasan yang dibutuhkan manusia untuk mengimaninya.

Akhirat adalah alam ghaib, kabar yang kita percaya haruslah benar-benar berasal dari Rasulullah saw. Karena banyak orang menerangkan proses kematian dan fase kematian dengan dasar-dasar yang tidak bisa diyakini.

Kiamat Kecil

Kematian kita bisa dinamakan juga dengan sebutan Kiamat Kecil. Inilah kiamat yang akan dirasakan oleh semua orang. Proses dan fasenya akan dijalani semua orang. Rasulullah saw. bersabda:

كَانَ رِجَالٌ مِنْ الْأَعْرَابِ جُفَاةً يَأْتُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَسْأَلُونَهُ مَتَى السَّاعَةُ فَكَانَ يَنْظُرُ إِلَى أَصْغَرِهِمْ فَيَقُولُ إِنْ يَعِشْ هَذَا لَا يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ حَتَّى تَقُومَ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ قَالَ هِشَامٌ يَعْنِي مَوْتَهُمْ

“Orang-orang badui yang kasar datang kepada Rasulullah saw. menanyakan tetang kapan datangnya kiamat. Maka Rasulullah saw. melihat di antara mereka yang terkecil. Lalu mengatakan, “Jika dia panjang umur, maka sebelum dia renta, kalian sudah kedatangan kiamat.” [Bukhari].

Ibnu Katsir mengatakan, “Orang yang mati sudah berpindah ke akhirat. Orang yang mati sudah datang kiamatnya.” Yaitu kiamat kecil. Adapun kiamat besar akan terjadi dengan kebinasaan semua makhluk Allah Taala.

Alam setelah kematian dinamakan alam barzakh. Bermakna pembatas antara dua hal. Karena sebagian manusia sudah mati, dan masih tersisa manusia yang sedang atau belum menjalani fase kehidupan dunia.

وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا

“Dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” [Al-Furqan: 53].

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” [Al-Mukminun: 100].

Pembatas antara dunia dan akhirat. Fase dunia telah habis bagi mereka yang sudah mati, tapi belum dimulai fase-fase akhirat, sehingga mereka masih harus menunggu di alam pembatas. Bukan dunia dan bukan akhirat yang sebenarnya.

Apa Itu Mati?

Secara bahasa bermakna tenang dan diam. Sedangkan secara istilah berarti terputusnya hubungan antara ruh dan jasad. Ruh meninggalkan jasad, lalu terpisah. Keadaan berubah total. Ruh berpindah dari alam dunia ke akhirat. Itulah proses kematian.

Sama seperti kiamat, ada kematian kecil dan ada kematian besar. Tidur adalah kematian kecil, sementara waktu ruh dicabut Allah Taala. Sehingga bangun tidur adalah kebangkitan dari kematian.

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari.” [Al-An’am: 60].

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” [Az-Zumar: 42].

Kepastian Mati

Ini yang diketahui manusia, tapi sering dialpakan ketika sedang terlalu sibuk atau terlalu mencintai dan membenci sesuatu. Allah Taala menetapkan bahwa semua manusia akan mengalami kematian.

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” [Al-Qasas: 88].

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ. وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” [Ar-Rahman: 26-27]

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” [Ali Imran: 183].

Kalau ada yang kekal, Rasulullah saw. lah orang yang paling layak mendapatkan hidup yang kekal. Tapi ternyata beliau juga tidak mendapatkannya. Bahkan langsung disebutkan Allah Taala dalam Al-Quran:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” [Az-Zumar: 30].

Karena itu, Rasulullah saw. pun dihibur Allah Taala, bahwa memang tidak ada manusia yang akan hidup kekal, walaupun sangat dicintai Allah Taala:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad).” [Al-Anbiya’: 34].

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

“Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu. Tiada Tuhan selain Engkau yang tidak mati sementara semua jin dan manusia mati.” [Bukhari].

Mati Ada Jadwalnya

Manusia tidak bisa menggeser jadwal kematian (ajal) yang telah Allah tentukan dan tuliskan di Lauhul Mahfuz. Setiap kasus kematian, bagaimana pun bentuknya, apa proses kematiannya, adalah sesuai dengan ajal yang telah ditentukan Allah Taala.

Semua orang meninggal dunia sesuai dengan kehendak Allah Taala.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” [Ali Imran: 145].

Sekuat apapun kita melakukan usaha menghindari kematian, proses kematian akan tetap berjalan ketika sudah dikehendaki Allah Taala.

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” [An-Nisaa: 78].

Kita tidak mengetahui jadwal kematian kita, tapi waktu yang telah ditentukan Allah Taala tidak bisa kita geser sedetik pun.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” [Al-A’raf: 34].

Melarikan diri dari proses kematian adalah hal yang sia-sia. Bahkan dikatakan bahwa kematian sudah menunggu di depan kita. Melarikan diri adalah meninggalkan, sedangkan kita semua mendatangi kematian yang sudah menunggu. Bagaimana mungkin menghindar?

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” [Al-Jumuah: 8].

Maka bukan umur panjang yang kita usahakan, tapi hal-hal lain yang lebih memungkinkan.

قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ زَوْجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ أَمْتِعْنِي بِزَوْجِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِأَبِي أَبِي سُفْيَانَ وَبِأَخِي مُعَاوِيَةَ قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ سَأَلْتِ اللَّهَ لِآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ وَلَوْ كُنْتِ سَأَلْتِ اللَّهَ أَنْ يُعِيذَكِ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ أَوْ عَذَابٍ فِي الْقَبْرِ كَانَ خَيْرًا وَأَفْضَلَ

“Ummu Habibah berdoa, “Ya Allah, berilah aku kesenangan yang lama dengan suamiku, (Rasulullah saw.), ayahku (Abu Sufyan), dan saudaraku (Mu’awiyah).” Maka Rasulullah saw. meluruskan, “Engkau telah meminta Allah Taala hal-hal yang sudah ajalnya yang ditetapkan, hari yang sudah dihitung, rezeki yang sudah dibagi. Allah Taala tidak akan mempercepat sesuatu sebelum waktunya, atau menunda sesuatu setelah waktunya. Jika engkau meminta dilindungi dari siksa neraka atau siksa kubur, tentu itu lebih baik.” [Muslim]

Mati Jadwalnya Rahasia

Masing-masing kita memiliki jadwal kematian. Kapan, di mana, bagaimana proses kita meninggal dunia. Tapi itu semua dirahasiakan Allah Taala. Agar kita beramal kebaikan sepanjang hidup kita jika ingin kebahagiaan akhirat.

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” [Lukman: 34].

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَرَادَ قَبْضَ رُوحِ عَبْدٍ بِأَرْضٍ جَعَلَ لَهُ فِيهَا أَوْ قَالَ بِهَا حَاجَةً

“Sesungguhnya Allah Taala jika ingin mencabut nyawa seorang hambanya di sebuah negeri lain, maka akan Allah Taala akan menjadikan suatu urusannya di negeri itu.” [Ahmad].

Datangnya Malaikat Kematian

Proses kematian diawali dengan datangnya malaikat kematian, malaikat pencabut nyawa. Allah Taala memiliki banyak sekali malaikat. Di antara mereka ada yang ditugaskan untuk mencabut nyawa makhluk-makhluk-Nya.

وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

“dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” [Al-An’am: 61].

Ada perbedaan antara proses kematian seorang Mukmin dan proses kematian orang kafir.

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنْ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ قَالَ فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا

“Seorang hamba mukmin, jika sedang berpisah dengan dunia, dan menyongsong akhirat, maka malaikat akan turun dari langit, dengan wajah yang putih. Muka mereka layaknya matahari bersinar. Mereka membawa kafan dari surga, serta wewangian dari surga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata, “Wahai jiwa yang baik (jiwa yang tenang) keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya”. Ruhnya keluar bagaikan tetesan air dari mulut kantung air. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya.” [Ahmad].

وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنْ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمْ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنْ اللَّهِ وَغَضَبٍ قَالَ فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنْ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ فَيَأْخُذُهَا

“Seorang hamba kafir jika sedang berpisah dengan dunia, dan menyongsong akhirat,  turunlah malaikat azab dari langit. Wajah-wajahnya hitam dan seram. Mereka membawa kain yang kasar dan jelek. Mereka duduk di tempat sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat maut hingga dia duduk di samping kepalanya. Kemudian dia berkata, “Wahai jiwa yang jelek, keluarlah menuju kemurkaan Allah Taala dan kemarahan-Nya.” Maka ruh tersebut bergetar di seluruh tubuhnya, kemudian malakul maut mencabutnya sebagaimana dicabutnya besi alat pemanggang dari bulu-bulu yang basah. Dia kemudian mengambil ruh tersebut.” [Ahmad].

فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ. وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ. وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ

Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” [Al-Waqi’ah: 83-85].

Kita mungkin melihat orang yang sedang kesakitan karena sakaratul maut, tapi tidak melihat para malaikat yang sedang mencabut nyawanya.

كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ. وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ. وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ. وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ. إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” [Al-Qiyamah: 26-30].

Ancaman dan Kabar Gembira

Selain proses kematian secara biologis, ada hal lain terkait dengan keyakinan tentang akhirat. Yaitu diberikannya kabar gembira oleh para malaikat kepada Mukmin yang takut dengan fase akhirat yang menjelang di depannya, dan mengkhawatirkan dunia yang ditinggalkannya.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu“.

Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Fushilat: 30-32].

Sedangkan orang kafir malah ditakut-takuti dengan siksaan yang segera dirasakannya.

وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ. ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya.” [Al-Anfal: 50-51].

Sakaratul Maut

Sakarat adalah kondisi kacau yang memisahkan antara seseorang dan akalnya. Biasa digunakan saat orang mabuk, marah, kasmaran, mengantuk, dan sakit.

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” [Qaaf: 19].

Bahkan kondisi dahsyat itu pun dirasakan oleh Rasulullah saw. Seperti diceritakan oleh Ibunda Aisyah ra.

قَالَتْ عَائِشَةُ مَا رَأَيْتُ الْوَجَعَ عَلَى أَحَدٍ أَشَدَّ مِنْهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aisyah ra. berkata, “Belum pernah aku melihat rasa kesakitan pada seseorang seperti yang kulihat pada diri Rasulullah saw.” [Tirmizi].

Saat itu Rasulullah saw. kesakitan dan mengatakan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ

“Laa ilaaha illa Allah. Sesungguhnya dalam kematian ada kondisi yang sangat sulit.” [Bukhari].

Adapun yang dirasakan dan dialami orang kafir tentu lebih parah.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

“Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”.

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”.

Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” [Al-An’am: 93].

Saat mendapat banyak ancaman dari malaikat, ruh orang kafir merasa ketakutan hingga menyebar di seluruh tubuhnya dan enggan keluar. Maka malaikat pun memukulinya.

Abdullah bin Amru bin Ash berkata:

يا أبتاه إنك لتقول: يا ليتني ألقى رجلاً عاقلاً لبيباً عند نزول الموت حتى يصف لي ما يجد، وأنت ذلك الرجل، فصف لي، فقال: يا بني، والله كأن جنبي في تخت، وكأني أتنفس من سمّ إبرة، وكأن غصن شوك يجذب من قدمي إلى هامتي

“Ayah, engkau pernah berkata ingin bertemu dengan orang berakal yang cerdas saat kedatangan kematiannya agar bisa menjelaskan apa yang dirasakannya. Kukira, engkaulah orang yang tepat itu. Jelaskanlah, ayah.” Maka Amru bin Ash ra. mengatakan, “Nak, demi Allah. Seakan diriku berada di atas bangku (lemari baju). Seakan aku melalui lubang jarum. Seakan ada duri yang ditarik dari kakiku hingga ke kepalaku.” [At-Tazkirah, Qurthubi].

Sangat berbeda dengan orang yang mati syahid. Dikatakan oleh Rasulullah saw.

الشهيد لا يجد ألم القتل إلا كما يجد أحدكم ألم القرصة

“Orang yang mati syahid hanya mendapatkan rasa dibunu seperti sakitnya dicubit.” [Tirmizi].

Ingin Dipulangkan ke Dunia

Orang yang tidak memanfaatkan kehidupan dunianya, proses kematian adalah awal penyesalannya, dan ada keinginan besar untuk dipulangkan ke dunia agar bisa beramal kebaikan walaupun sedikit saja.

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ – لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.  Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” [Al-Mukminun: 99-100].

Dia bertobat kepada Allah Taala. Padahal tobat itu hendaknya dilakukan begitu berbuat kesalahan

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَئِكَ يَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya.” [An-Nisaa: 17].

Kenapa Ada Orang Tersenyum Saat Meninggal Dunia?

Ada orang-orang yang terlihat senyuman di wajahnya. Mungkin ada tafsiran-tafsiran ilmiah tentang hal ini. Tapi secara keyakinan ghaib, Rasulullah saw. menjelaskan proses kematian yang terlihat indah ini dengan adanya kematian yang membahagiakan. Beliau bersabda:

من أحب لقاء الله أحب الله لقاءه، ومن كره لقاء الله كره الله لقاءه، قالت عائشة أو بعض أزواجه: إنا لنكره الموت، قال: ليس كذلك، ولكن المؤمن إذا حضره الموت بشر برضوان الله وكرامته، فليس شيء أحب إليه مما أمامه، فأحب لقاء الله وأحب الله لقاءه، وإن الكافر إذا حُضِر بُشِّر بعذاب الله وعقوبته، فليس شيء أكره إليه مما أمامه، فكره لقاء الله، وكر الله لقاءه

“Orang yang senang bertemu Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya. Orang yang tidak senang bertemu Allah, maka Allah pun tidak senang bertemu dengannya.” Ibunda Aisyah atau salah seorang istri Rasulullah saw. berkata, “Kita semua tidak senang mati.”

Rasulullah saw. menjelaskan, “Bukan itu. Orang yang beriman ketika didatangi kematian mendapatkan kabar gembira berupa ridha dan kemuliaan dari Allah Taala. Itu adalah hal yang paling dicintai di hadapannya. Maka dia pun senang bertemu dengan Allah Taala, lalu Allah Taala pun senang bertemu dengannya.

Sementara orang kafir, saat didatangi kematian, diberi kabar siksa dan hukuman dari Allah Taala. Itu adalah hal yang paling tidak disukainya di hadapannya. Maka dia pun tidak suka bertemu dengan Allah Taala, lalu Allah Taala pun tidak senang bertemu dengannya.” [Bukhari].

Silakan baca juga:

Ingin Segera Dipertemukan

Bahkan orang-orang seperti ini seperti tidak sabar untuk melihat apa yang dijanjikan Allah Taala. Karena itulah meninggalnya orang yang kita lihat jelas keshalihannya tidak boleh membuatnya kasihan. Karena dia sedang berbahagian dengan balasan akhirat. Kita yang masih di dunialah yang masih belum pasti masa depannya.

إذا وضعت الجنازة فاحتملها الرجال على أعناقهم، فإن كانت صالحة قالت: قدموني، وإن كانت غير صالحة قالت لأهلها: يا ويلها أين تذهبون بها؟ يسمع صوتها كل شيء إلا الإنسان، ولو سمع الإنسان لصعق

 “Saat jenazah diangkat di pundak orang-orang, jika dia salih, maka akan berkata, “Segerakanlah aku.” Sementara jika tidak salih, maka dia akan berkata, “Celakalah dia, kemana kalian membawanya?” Suaranya didengar oleh semua makhluk Allah Taala kecuali manusia. Kalau manusia mendengarnya, pasti akan pingsan.” [Bukhari].

Demikian proses kematian, fase kematian, apa yang dirasakan dan dialami oleh orang yang meninggal dunia. Semoga kita menjadikannya sebagai penuntun kita dalam menjalani hidup di dunia dengan lebih baik lagi. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda