KEJIWAAN

Hikmah Takut Kepada Allah Taala

takut kepada Allah
Semakin kuat rasa takut itu, diharapkan kita semakin beriman dan banyak beramal kebaikan.

mukjizat.co – Kenapa harus takut kepada Allah Taala? Kenapa Allah Taala menakuti-nakuti manusia? Kenapa Al-Quran menceritakan neraka yang demikian mengerikan? Kenapa Al-Quran mengancam?

Sering kita dengar pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sangat mungkin mereka bertanya karena tidak tahu hikmah takut kepada Allah Taala

Allah Taala berfirman:

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ.

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [Ali Imran: 175]

Pekerjaan setan adalah “menakut-nakuti”. Baik dengan datangnya bahaya atau hilangnya manfaat.

Yang berhasil ditakut-takuti setan adalah “kawan-kawan setan”. Yaitu orang yang mencintai, mendukung, dan menolong setan.

“Jika kamu orang-orang yang beriman.” Ini adalah salah satu bentuk tahyij atau provokasi dalam ilmu balaghah. Maksudnya, kalau kalian benar-benar beriman, tidak mungkin akan melakukan hal semacam itu. Dalam keseharian sering kita dengar, “Kalau kamu berani, coba lakukan ini…” Keimanan yang dimaksud di sini adalah kesempurnaan iman, bukan pokok keimanan.

Dalam ayat ini rasa takut menjadi salah satu syarat iman kepada Allah Taala. Kalau kita takut kepada Allah Taala, maka kita sudah beriman kepada-Nya.

Ada Takut yang Bernilai Pahala dan Dosa

Rasa takut terbagi menjadi dua:

Takut fitri yang Allah Taala tanamkan dalam diri manusia. Menjadi fitrah pada semua manusia. Segala yang Allah Taala tanamkan dalam diri manusia pastilah mempunyai hikmah. Hanya saja harus di-tazkiyah (disucikan) terlebih dulu. Sehingga tidak menjadi penyebab terjadinya hal yang tidak diperbolehkan.

Takut ikhtiyari (takut kepada Allah Taala) yang harus dipelajari dan diusahakan. Hukum takut ini adalah wajib. Inilah takut yang bernilai pahala dan dosa. Kalau takut kepada selain Allah Taala dengan takut ini, maka telah berdosa. Sedangkan kalau takutnya kepada Allah Taala, justru itu adalah salah satu syarat keimanan.

Di antara tugas Rasulullah saw. adalah menyampaikan kabar gembira dan kabar menakutkan. Allah Taala berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan.” [Al-An’am: 48].

Apa Itu Takut Kepada Allah Taala?

Takut kepada Allah Taala dapat diperinci kepada beberapa hal. Dalam kesempatan ini akan dibahas tiga macam takut kepada Allah Taala saja, yaitu:

  • Takut amal ibadah ditolak.
  • Takut dengan kematian.
  • Takut dengan pertanyaan Allah Taala di Akhirat.

Masih ada beberapa jenis takut lain, seperti takut dengan siksaan neraka.

Takut Amal Ibadah Ditolak

Ibadah akan diterima jika memenuhi syarat-syaratnya. Yaitu sesuai dengan tuntunan Allah Taala dan Rasul-Nya, diniatkan dengan ikhlas, dan tidak merasa ujub. Persyaratan ini sangat sulit. Karena banyak berkaitan dengan hati yang sangat sulit dikendalikan.

Para shalihin selalu merasa takut jika amal ibadah mereka tidak diterima. Padahal amal ibadah mereka sangat banyak. Seperti dalam ayat:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,” [Al-Mukminun: 60].

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ  وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Adz-Dzariyat: 17-18].

Rasa takut para shalihin tersebut tetap ada, walaupun beberapa di antara mereka sudah termasuk orang-orang yang dijamin masuk surga. Seperti Abu Bakar ra., “Aku masih khawatir, jika kaki kiriku belum masuk surga walaupun kakanku sudah masuk.”

Bahkan Umar bin Khattab ra. sudah merasa bahagia masuk surga walaupun hanya merupakan sehelai bulu yang tumbuh di punggung seorang mukmin yang masuk surga.

Demikian halnya dengan Abdullah bin Umar ra. yang sangat terkenal dengan kezuhudan dan ibadahnya. Beliau berkata, “Aku akan merasa sangat senang jika mengetahui bahwa ada satu kali sujudku yang diterima Allah Taala Lebih senang melebihi senangnya mendapat dunia dengan segala isinya. Karena Allah Taala berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” [Al-Maidah: 27].

Satu saja amalan yang diterima, berarti beliau termasuk orang yang bertakwa.

Takut dengan kematian

Mengingat kematian adalah sebuah sarana tarbiyah yang sangat baik. Karena Rasulullah saw. sendiri memerintahkan ziarah kubur. Dalam sebuah hadits:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“Dulu aku melarang kalian ziarah kubur. Sekarang berziarahlah ke kubur.”

Ada beberapa hal yang harus ditakuti berhubungan dengan kematian, dan hal itu sudah cukup untuk membuat kita takut kepada Allah Taala.

  • Kematian akan datang; kita siap ataupun tidak. Allah Taala berfirman, “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” [Al-Jumah: 8].
  • Beratnya sakaratul maut dan apa yang akan terjadi setelah kematian.
  • Sangat mungkin Allah Taala tidak memberi kita kesempatan untuk bertobat sebelum mati. Allah Taala berfirman, “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),” [Al-Mukminun: 99]. Karena menunda-nunda, mati mendadak, kesenangan berbuat maksiat, dan sebagainya.
  • Sangat mungkin Allah Taala mencabut kita dalam keadaan su’ul khatimah. Allah Taala berfirman, “Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).” [Al-Anfal: 50].

Setiap kali mendapatkan hati keras, hendaknya kita mengingat kematian dengan ziarah kubur. Hal itu akan mengingatkan kita dengan hari Akhirat. Mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia tidak akan selamanya.

Orang yang kuburannya kita ziarahi mungkin beberapa saat sebelumnya adalah orang-orang yang dekat dengan kita; kakek, nenek, ayah, ibu, saudara, tetangga, dan sebagainya. Mereka sekarang sudah melihat apa yang sampai sekarang belum kita lihat.

Ziarah kubur menghadirkan kepada kita kondisi yang sedang dihadapi orang yang sedang berada dalam kubur; tidak mempunyai daya-upaya sedikitpun, dan yang bisa diharapkan adalah adanya kiriman doa dari anaknya yang shalih, murid, dan orang yang pernah diperlakukan dengan baik selama hidupnya.

Dia meminta kepada Allah Taala untuk dikembalikan ke dunia sehingga bisa beramal kebaikan, tapi Allah Taala tidak akan mengabulkannya. Sekarang anggaplah bahwa yang sedang mengalami hal itu adalah diri kita, dan ternyata Allah Taala mengabulkan permintaan kita mengembalikan ke dunia. Setelah kembali, apakah kita mau main-main, berbuat maksiat, dan sebagainya. Tentulah untuk beribadah.

Hal tersebut banyak dicontohkan para ulama dengan:

  • Menjenguk orang sakit.
  • Mengurus jenazah; memandikan, mengkafani, menshalati, dan mengantar ke kuburan.
  • Rutin berziarah kubur, baik bersama-sama maupun sendirian; ke kuburan saudara atau orang lain.

Takut dengan Pertanyaan Allah Taala

Setiap apa yang kita lakukan akan ditanyakan dan dihitung Allah Taala walupun manusia sendiri telah melupakannya. Dalam sebuah ayat disebutkan:

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” [Al-Mujadilah: 6].

Hari perhitungan adalah hari yang sangat menakutkan. Oleh karena itu kita berharap masuk surga tanpa dihisab, atau mendapat hisaban yasiran. Dalam sebuah hadits disebutkan:

مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

“Orang yang dihisab secara apa adanya pasti akan masuk neraka.” [HR. Bukhari].

Karena setiap orang pasti mempunyai kesalahan, sebaliknya kebaikan yang dilakukannya sangat sedikit dan tidak luput dari riya’, ujub dan sebagainya.

Sangat mungkin, nikmat-nikmat yang kita rasakan saat ini tidak menandakan kita orang yang disayang Allah Taala tapi merupakan istidraj (jebakan hingga dosa kita semakin banyak). Allah Taala berfirman:

وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

“dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.” [Al-Kahfi: 36].

Silakan baca juga:

Sangat mungkin, dosa yang kita kita kira kecil dan santai dalam melakukannya, di akhirat ternyata menjadi dosa besar.

Para salafu ash-shalih sangat takut dengan pertanyaan Allah Taala tersebut, baik mereka itu pemimpin atau ulama:

  • Umar bin Khattab ra. berkata, “Kalau ada seekor unta yang mati di pinggir sungai Eufrat karena hilang, maka aku takut akan ditanya Allah Taala tentang hal itu di akhirat.”
  • Pada hari Arafah, ada orang yang berkata kepada Umar bin Abdul Aziz ra., “Lihatlah betapa banyak rakyatmu. Hanya Allah Taala yang mengetahui jumlah mereka.” Beliau menjawab, “Iya, banyak sekali. Dan semuanya akan menuntut aku di akhirat.”
  • Imam Malik berkata, “Aku berharap seandainya setiap fatwa yang aku keluarkan diganti dengan satu kali cambukan di tubuhku.” Hal itu karena takut ditanya pertanggung-jawabannya di akhirat

Ternyata banyak hikmah yang terkandung dalam takut kepada Allah Taala. Semakin kuat rasa takut itu, maka kita semakin beriman dan beramal kebaikan sebagai bekal untuk perjalanan dalam kehidupan akhirat. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda