SYARIAH

Kondisi Berat yang Mendapat Keringanan Syariah

Kondisi berat yang mendapatkan keringan syariah
Hukum Islam bukan bertujuan menyusahkan kita.

mukjizat.co – Islam adalah agama yang memperhatikan kondisi manusia. Syariahnya mudah dilaksanakan. Hingga ketika seseorang dalam kondisi berat, masyaqqah, pun diperhatikan oleh syariah. Mendapatkan keringanan dan kemudahan.

Masyaqqah adalah hal memberatkan seseorang, baik banyak maupun hanya sedikit. Tapi yang mendapat perhatian dalam syariah ini adalah kondisi berat yang tidak lumrah, yang menyulitkan seseorang, baik karena beratnya kewajiban itu, atau karena sedang berkurangnya kemampuan orang itu dari biasanya.

Adapun kondisi berat biasa, seperti merasa kantuk ketika shalat subuh, lapar ketika berpuasa, dan lainnya, semua itu bukan hal yang menjadi pembahasan. Karena kondisi-kondisi itu terdapat dalam setiap hukum yang bertujuan memberikan ujian (ada unsur beratnya).

Syariah Memaklumi Kondisi Berat Manusia

Perintah dan larangan dalam Islam memang sedikit-banyak memberikan efek berat. Di antaranya:

  • Berat karena menahan mukalaf dari berbuat sesuka hatinya.
  • Berat karena ujiannya. Berat perintah dan larangan ini bertingkat-tingkat. Yang paling tinggi adalah kondisi berat (masyaqqah) jihad.

Maka yang dimaksud syariah adalah yang di luar kebiasaan, seseorang tidak kuat melaksanakan karena perintahnya berat, atau karena kondisi seseorang itu sedang berada di bawah kemampuan melaksanakan hal yang sebenarnya bisa dilakukan itu. Ini yang dinamakan kondisi berat yang tidak biasa (المشقة غير العادية).

Pada dasarnya hukum Islam berada dalam kemampuan manusia melaksanakannya. Oleh karena itu kewajiban melaksanakannya pun menyesuaikan kemampuan:

صل قائما، فإن لم تستطع فقاعدا، فإن لم تستطع فعلى جنب

“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring.” [Bukhari].

Kewajiban asal shalat adalah berdiri. Saat kemampuan menurun, kadar kewajiban pun menurun kepada duduk, lalu berbaring, dan seterusnya.

Dalam hal ini, kaidah yang diberlakukan syariah di antaranya adalah:

  • (المشقة تجلب التيسير) “Kondisi berat itu mendatangkan kemudahan.”
  • (إذا ضاق الأمر اتسع) “Jika sesuatu menyempit, maka akan ada keluasan.”

Seperti Apa Kondisi Berat yang Mendapat Kemudahan?

Kondisi berat yang tidak biasa (masyaqqah ghirul ‘adiyah) bisa dibagi menjadi dua macam:

  • Masyaqqah yang dibuat-buat sendiri oleh mukallaf.
  • Masyaqqah yang bersumber dari kewajban, kondisi mukallaf, atau dari kondisi lain yang berpengaruh.

Adapun masyaqqah yang dibuat sendiri oleh mukallaf, yang bukan berasal dari perintah dan larangan agama, ini tidak mendapatkan pemakluman dari syariah.

Melaksanakannya tidak bernilai ibadah, bertambahnya berat tidak menambah besarnya pahala, bahkan pelakunya bisa mendapat celaan dari agama.

Seperti bernazar untuk menjalani puasa dengan cara tertentu yang tidak diajarkan agama. Seperti berpuasa sambil terus berjemur.

أمره أن يتم ما كان لله طاعة، ونهاه عما كان لله معصية

“Rasulullah saw. memerintahkannya untuk melanjutkan ketaatan kepada Allah Taala, dan melarangnya melanjutkan kemaksiatan kepada Allah Taala.”

Rasulullah saw. memerintahkannya untuk berpuasa dengan tidak berjemur.

Sedangkan masyaqqah yang bersumber dari kewajban, dari kondisi mukallaf, atau dari kondisi lain yang berpengaruh, inilah yang menghadirkan perlakuan taysir (kemudahan) dari agama.

Kenapa Ada Kondisi Berat?

Hukum syariat adalah kondisi tengah-tengah. Tidak condong ke terlalu berat, tidak juga condong ke terlalu mudah. Melaksanakannya pun mudah bagi siapa pun dalam kondisi normal.

Ini jika hukumnya bersifat kewajiban tanpa sebab seperti shalat, puasa, haji, zakat, dan sebagainya.

Sedangkan jika hukum disyariatkan dengan sebab melencengnya manusia. Maka,

  • Hukum itu mengembalikan kepada kondisi tengah-tengah.
  • Akan terkesan seperti menarik ke arah tertentu bagi orang yang berada di posisi tertentu. Padahal arah yang dituju adalah kondisi tengah-tengah.

Kaidah Menentukan Masyaqqah

Lalu bagaimana kita menentukan apakah kondisi berat kita mendapatkan keringanan dari syariah?

  • Penentuan masyaqqah itu kadang dikembalikan kepada kita masing-masing karena kitalah orang yang paling mengetahui kondisi dirinya. Ini jika masalah terkait dengan kemampuan kita untuk bersuci, shalat, puasa dan sebagainya.
  • Kadang dikembalikan kepada para ahli seperti dokter terkait dengan kondisi sakit kita.
  • Kadang dikembalikan kepada negara yang tentunya direpresentasikan oleh para ahli yang direkrutnya. Ini seperti legislagi peraturan yang memudahkan, membawa maslahat, dan membuang mudarat.

Bagaimana Menentukannya?

Masyaqqah ada dua macam. Pertama, masyaqqah yang tidak bisa terlepas dari ibadah yang diperintahkan. Lapar dan haus dalam puasa. Ini tidak menyebabkan taysir.

Sedangkan masyaqqah yang mendapatkan kemudahan adalah masyaqqah yang bisa bisa terlepas dari perintah yang diwajibkan kepada kita. Ini terbagi dalam beberapa tingkatan:

  • Tinggi, mengkhawatirkan keselamatan jiwa, anggota fisik, dan kepentingan tertentu. Ini menyebabkan adanya taysir (kemudahan), karena memaksakan pelaksanaan perintah itu dalam kondisi yang sulit itu justru bisa menyebabkan hilangnya kemampuan kita melaksanakan ibadah itu untuk selamanya.
  • Rendah, seperti rasa sakit biasa. Ini tidak menyebabkan taysir karena melaksanakan perintah (ibadah) itu dengan tetap merasakan keberatan ini lebih utama daripada meninggalkan perintah hanya karena ada rasa berat itu.
  • Kondisi antara tinggi dan rendah, yang menjadi pembahasan dan pertimbangan para mufti untuk menentukan hukumnya.

Bentuk Masyaqqah yang Menyebabkan Taysir

Sakit.

Yaitu berkurangnya kemampuan mukalaf dalam melaksanakan ibadah dengan sempurna.

Kondisi kesehatan menurun dari kondisi normal. Berpengaruh pada pemberian rukhsah seperti bersuci, bentuk shalat, puasa, dan sebagainya.

Perjalanan.

Masyaqqahnya berupa kebutuhan dalam perjalanan, mencapai tujuan dari perjalanannya.

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyangmu.” [An-Nisa: 101].

Rasulullah saw. melakukan perjalanan dari Madinah ke Mekah. Beliau shalat dua rakaat hingga pulang kembali ke Madinah.

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” [Al-Baqarah: 184].

Silakan baca juga:

Di antara efek hukumnya adalah dibolehkan tidak berpuasa bulan Ramadhan. Demikian sekilas tentang bagaimana bentuk kondisi berat yang mendapat keringanan syariah. Semoga membuat kita semakin taat kepada hukum-hukum Allah Taala yang bertujuan kemaslahatan untuk kita semua. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda