HOW TO

Sebaiknya Berapa Banyak Tilawah Kita?

niat membaca Al-Qur'an
Yang pasti, setiap orang harus memperbanyak bacaan, tanpa menimbulkan kebosanan atau kejemuan untuk membaca.

mukjizat.co – Dari namanya saja, Al-Quran adalah kitab yang harus dibaca. Membacanya adalah amalan yang sangat mulia. Umat Islam diperintahkan sering tilawah dan mengkhatamkan Al-Quran. Tapi seberapa sering dan banyak tilawah seorang Muslim?

Menurut Al-Imam As-Suyuthi, membaca Al-Qur’an harus diperbanyak sebanyak-banyaknya. Karena Allah Taala memuji orang yang banyak membaca firman-Nya:

“Mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat).” [Ali Imran: 113].

Sedangkan Rasulullah saw. memotivasi kita untuk ingin membaca yang banyak, “Tidak ada hasad kecuali kepada dua orang: (Salah satunya) seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah, sedang dia membacanya pada sebagian waktu malam dan siang hari.” [Bukhari Muslim]

Maka para ulama salaf mempunyai beberapa kebiasaan yang berbeda. Ada riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa di antara mereka ada banyak tilawah sehingga yang mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an hingga 8 kali dalam sehari semalam. Yaitu 4 kali dalam semalam, dan 4 kali pada siang harinya. Ada juga kebiasaan-kebiasaan lainnya.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan, “Seandainya saja orang itu tidak melakukan kegiatan yang lain sama sekali. Sehari semalam untuk banyak tilawah Al-Quran hingga khatam 8 kali. Lalu bagaimana dengan aktivitas lainnya seperti makan, minum, tidur, buang hajat dan lain-lainnya?”

Beliau memperkirakan riwayat ini tidak benar. Kalaupun benar, sulit untuk bisa diterima. Karena yang demikian itu merupakan bacaan yang tidak disertai memperhatikan dan memikirkan isi dan kandungan bacaannya. Sahabat secerdas Ibunda Aisyah ra. saja tidak setuju dengan kebiasaan ini.

Al-Imam As-Suyuthi lalu menyebutkan riwayat orang yang banyak tilawah sehingga mengkhatamkan 4 kali sehari semalam, ada yang mengkhatamkan 3 kali, ada yang mengkhatamkan 2 kali, dan ada yang hanya sekali dalam sehari semalam.

Beliau menyatakan bahwa Ibunda Aisyah ra. justru mencela perbuatan itu. Kata beliau, “Mereka memang membaca, tapi seperti tidak membaca. Aku pernah shalat bersama Nabi saw. semalam suntuk. Beliau membaca Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa’.

Setiap kali melewati ayat yang berisi kabar gembira beliau pasti berdoa dan menginginkannya. Setiap kali melewati ayat yang mengandung kabar menakutkan pasti beliau berdoa dan memohon perlindungan.”

Setelah itu Al-Imam As-Suyuthi menyebutkan orang yang mengkhatamkan dalam 2 malam, ada yang pula yang mengkhatamkannya selama 3 malam. Inilah yang baik, menurutnya.

Karena itu, ada sebagian ulama yang memakruhkan banyak tilawah sehingga khataman lebih cepat dari itu. Didasarkan kepada hadits Rasulullah saw., “Orang yang membaca (mengkhatamkan) Al-Qur’an lebih cepat dari 3 hari, maka dia tidak akan paham.”

Sedangkan Ibnu Mas’ud ra. mengatakan, “Janganlah kalian mengkhatamkan Al-Qur’an lebih cepat dari 3 hari.”

Mu’adz bin Jabal ra. juga tidak suka mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.

Sa’id bin Al-Munzir ra. pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, bolehkah aku mengkhatamkan Al-Qur’an selama tiga hari?” Beliau menjawab, “Boleh, selagi engkau mampu.”

Kemudian Al-Imam As-Suyuthi menyebutkan orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an selama 4 hari, 5 hari atau selama 7 hari. Mereka termasuk yang sedang dan paling baik. Inilah yang paling banyak dilakukan para shahabat.

Abdullah bin Amru bin Ash ra. berkata, “Rasulullah saw. pernah bersabda kepadaku, “Khatamkan Al-Qur’an selama sebulan.” Maka kukatakan, “Aku mampu melakukannya lebih.”

Beliau bersabda, “Kalau begitu khatamkan selama 10 hari.” Kukatakan, “Aku mampu melakukannya lebih.”

“Kalau begitu khatamkan selama 7 hari, dan jangan lebih dari itu,” demikian sabda beliau.

Kemudian As-Suyuthy menyebutkan orang yang mengkhatamkan Al Qur’an selama 8 hari, 10 hari, sebulan dan 2 bulan.

Makhul mengatakan, “Para sahabat yang kuat biasa mengkhatamkan Al Qur’an selama 7 hari. Di antara mereka ada pula yang mengkhatamkannya selama sebulan, 2 bulan dan ada pula yang lebih dari itu.”

Abul Laits berkata, “Seorang pembaca harus mengkhatamkan 2 kali dalam satu tahun, kalau memang dia tidak mampu lebih banyak dari itu.”

Abu Hanifah mengatakan, “Siapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an 2 kali dalam setahun, berarti dia telah memenuhi hak Al-Qur’an. Sebab Nabi saw. membaca di hadapan Jibril 2 kali pada tahun terakhir dari kehidupan beliau.”

Ada pula yang berkata, “Makruh hukumnya menunda khataman Al-Qur’an lebih dari 40 hari tanpa ada alasan.” Ini merupakan pernyataan Ahmad, karena Abdullah bin Amr ra. pernah bertanya kepada Nabi saw., “Berapa lama kami harus mengkhatamkan Al-Qur’an?” Beliau menjawab, “Selama 40 hari.”

Silakan baca juga:

Sedangkan An-Nawawi menyebutkan bahwa banyak tilawah adalah pilihan yang bisa berbeda tergantung masing-masing individu. Siapa yang bisa mencari rahasia-rahasia Al-Quran, hendaknya dia tidak terlalu cepat-cepat, agar dia mendapatkan kesempurnaan pemahaman dari apa yang dibacanya.

Begitu pula orang yang sibuk dengan penyebaran ilmu, berijtihad dalam banyak permasalahan, atau menyelesaikan urusan umat, hendaklah dia membaca seukuran tidak mengurangi kesempurnaannya dalam melaksanakan perannya yang utama.

Yang pasti, setiap orang harus memperbanyak bacaan, tanpa menimbulkan kebosanan atau kejemuan untuk membaca. Itulah seberapa sering dan banyak tilawah seorang Muslim. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda