SEJARAH

Bukti Al-Quran Firman Allah Tak Terbantahkan

Bukti Al-Quran firman Allah
Semoga kita semakin kuat memegang Al-Quran sebagai petunjuk kita.

mukjizat.co – Karakteristik Al-Qur’an yang paling besar, bahwa Al-Quran adalah firman Allah, dalam seluruh kata-kata dan hurufnya. Banyak sekali bukti Al-Quran wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw., sebagai risalah terakhir kepada seluruh manusia.

Baik kata maupun substansinya merupakan wahyu Allah. Proses penurunannya melalui wahyu yang jelas, dibawa turun oleh utusan dari jenis malaikat, yaitu Jibril, kepada seorang utusan dari jenis manusia, yaitu Muhammad. Cara penurunannya bukan dengan ilham, hembusan, mimpi, atau lainnya. Allah Taala berfirman:

“Alif lam ra’. (Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Al-lah) Yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu.” [Hud: 1].

Allah berseru kepada Rasul-Nya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [An-Naml: 6].

“Dan Kami turunkan (Al-Qur’an) dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” [Al-Isra’: 105].

Al-Quran Hidup dan Menghidupkan

Sebagian ulama ada yang berpendapat tentang firman Allah Taala:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” [Al-Isra’: 85]

Bahwa yang dimaksudkan roh di sini adalah Al-Qur’an. Dikuatkan dengan ayat lain:

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) roh (wahyu) dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” [An Nahl: 2].

Yang juga dikuatkan ayat lain di akhir surat Asy-Syura:

“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an), dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang kami tunjuki dengan ia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” [Asy Syura: 52].

Al-Qur’an merupakan roh dari Allah Taala, yang menghidupkan akal dan hati. Al-Quran juga merupakan aturan dari Allah Taala yang mengatur kehidupan individu dan masyarakat. Adalah hikmah Allah ketika menurunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur. Karena Al-Quran harus tertanam di dalam hati dan meresap ke dalam akal.

Dengan begitu, Al-Quran telah memecahkan berbagai masalah, menjawab berbagai pertanyaan, dan juga meneguhkan hati Rasulullah Saw. dalam menghadapi berbagai ujian dan kesulitan, bersama para sahabat. Ini bukti Al-Quran firman Allah Taala. Allah Taala berfirman:

“Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” [Al-Furqan: 32-33].

Ada pula hikmah lain, bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, sehingga memudahkan untuk dihapal, dipahami dan diamalkan.

“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” [Al-Isra’: 106].

Tapi Al-Qur’an bagi Allah Taala merupakan kitab yang sudah jelas, mana awalnya dan mana akhirnya, yang tertuang di dalam Lauh Mahfuzh. Hal ini telah dinyatakan Al-Qur’an:

“Ha’ mim. Demi kitab (Al-Qur’an) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam Bahasa Arab supaya kalian memahaminya. Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” [Az-Zukhruf: 1-4].

“Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al-Qur’an yang mulia, yang tersimpan di dalam Lauh Mahfuzh.” [Al-Buruj: 21-22].

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhkan kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Rabb semesta alam.” [Al-Waqi’ah: 77-80].

Al-Quran Hanyalah Wahyu yang Diturunkan

Al-Qur’an harus diyakini sebagai firman Allah. Al-Quran mengungkap apa yang dicintai dan diridhai Allah Taala dari hamba-hamba-Nya. Allah Taala berfirman:

“Dan jika seseorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.” [At-Taubah: 6].

Di antara bukti Al-Quran firman Allah Taala, Malaikat Jibril hanya bertugas membawakan Al-Quran dari Lauh Mahfuzh ke dalam hati Nabi Muhammad saw. Seperti firman Allah:

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan Bahasa Arab yang jelas.” [Asy-Syu’ara’: 192-195].

Sedangkan Nabi Muhammad Saw. hanya bertugas membaca dan menghapalkannya agar tidak lupa, seperti difirman Allah Taala:

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” [Al-Qiyamah: 16-17].

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabbmu (Al-Qur’an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya.” [Al-Kahfi:27].

Tugas Rasulullah saw. selanjutnya adalah membacakan ayat-ayat Allah itu kepada orang-orang yang didakwahinya, seperti difirmankan Allah Taala:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah).” [Al-Jumu’ah: 2]

Rasulullah saw. diperintahkan menyampaikan Al-Quran kepada semua orang dengan kondisi yang sama persis sebagaimana Al-Quran diturunkan. Allah Taala berfirman:

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” [Al-Maidah: 67].

Sesudah itu Rasulullah saw. diperintahkan untuk membacanya secara tartil dan merenungkannya agar mendapatkan pelajaran. Allah Taala berfirman:

“Dan bacalah Al-Qur’an secara tartil.” [Al-Muzzammil: 4].

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapt pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” [Shad: 29].

Bukti Tidak Ada Ayat yang Disembunyikan

Beliau telah menyampaikan apa yang diturunkan itu kepada seluruh orang, terkhusus para sahabatnya. Lalu mereka membaca, menulis, dan menghafalkannya. Ini juga bukti Al-Quran firman Allah Taala.

Aisyah berkata, “Sekiranya Muhammad menyembunyikan sebagian dari apa yang diturunkan kepada beliau, tentunya beliau telah menyembunyikan ayat ini, “Sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allahlah yang lebih berhak untuk kamu takuti.” [Al-Ahzab: 37]. Ternyata ayat ini masih ada.

Ayat ini juga tentu sudah disembunyikan, karena berisi teguran kepada beliau. “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu, kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu?” [At-Tahrim: 1]

Setelah itu beliau bertugas menjelaskannya kepada orang-orang tentang ayat-ayat yang tidak mereka pahami. Allah Taala berfirman:

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [An-Nahl: 44].

Orang yang ingin memahami dan menafsiri Al-Qur’an, harus memenuhi persyaratannya. Bukan hanya kemampuan akalnya saja, tapi juga amal dan jiwanya. Sebab orang itu adalah makhluk ciptaan, sedangkan yang ditafsirinya adalah firman Penciptanya. Manusia penuh dengan kelemahan dan keterbatasan, sedangkan Allah Taala adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, dengan ilmu yang tidak terbatas.

Al-Quran Bukan Kreasi Peradaban

Salah besar jika orang yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah kreasi ilmiah, atau hasil dari perkembangan peradaaban Arab. Karena pandangan ini telah menafikannya sebagai wahyu dari Allah Taala. Tentu ini adalah kesalahan besar dan bertentangan dengan kenyataan yang harus kit yakini bersama.

Adapun terkait dengan diturunkannya Al-Quran dengan bahasa manusia, hal ini tidak otomatis menjadikannya sebagai bukan firman Allah Taala. Digunakannya bahasa manusia tidak menghilangkan kesuciannya sebagai firman Allah Taala. Al-Quran tetaplah firman Allah Taala yang suci, yang berbeda dengan perkataan manusia biasa.

Allah Taala Maha Kuasa untuk berfirman kepada manusia. Adanya agama samawi meniscayakan adanya para nabi. Adanya para nabi meniscayakan adanya proses penurunan wahyu. Wahyu inilah yang terkumpul menjadi Kitab suci, yang kemudian disampaikan kepada seluruh manusia untuk dijadikan sebagai pedoman hidup. Semua ini meniscayakan dipilihnya bahasa-bahasa tertentu untuk dijadikan bahasa kitab-kitab tersebut.

Sedangkan digunakannya Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an bukanlah atas inisiatif manusia. Ajaran-ajaran yang terkandung di dalam Al-Quran bukan berasal dari atau dipengaruhi oleh berkembangnya peradaban manusia yang terjadi di negeri Arab. Semua itu turun kepada manusia atas kekuasaan Allah Taala yang lebih tinggi dari kekuasaan mereka.

Kita bisa membaca sejarah bagaimana kondisi bangsa Arab yang sangat jauh dari peradaban dunia di masa turunnya Al-Quran. Al-Quranlah yang kemudian membangun peradaban manusia, terutama di negeri-negeri Arab. Allah Taala berfirman:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia ара yang tidak diketahuinya.” [Al-Alaq: 1-5].

Al-Qur’an sendiri juga sudah menegaskan bahwa Allah menurunkannya dalam Bahasa Arab:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kalian memahaminya.” [Yusuf: 2].

Kesaksian Barat Tentang Al-Quran

Siapa pun yang membaca dan memahami Al-Qur’an, disertai sedikit pengetahuan tentang kondisi masyarakat Arab dan sekitarnya saat itu, tentu dia akan menyimpulkan bahwa Al-Qur’an mempengaruhi bukan dipengaruhi, meluruskan keyakinan yang batil saat itu, melempangkan berbagai pemahaman yang salah, melabelkan sesat tradisi yang zhalim, menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang rusak, mengakhiri kebatilan yang turun-temurun. Bahkan juga meluruskan penyimpangan-penyimpan yang dilakukan pada kitab-kitab terdahulu.

Orang yang beranggapan bahwa Al-Qur’an merupakan hasil peradaban yang berlaku saat itu, berarti dia tidak tahu-menahu tentang Al-Qur’an, tidak mengerti sejarah dan masalah wahyu. Banyak orang Non Muslim yang obyektif, membaca Al-Qur’an secara seksama, lalu berkata, “Sekiranya kitab ini ditemukan di suatu hamparan gurun, maka pembacanya tentu langsung tahu bahwa ini adalah kalam Allah.”

Seorang peneliti di University of California mengatakan, “Apa pun isinya, Al-Qur’an bukan karya manusia. Jika kita mengingkarinya sebagai firman Allah, berarti kita telah menganggap Muhammad sebagai tuhan.”

Setiap perkataan menunjukkan jati diri siapa yang mengatakannya. Siapa pun orang yang membaca Al-Qur’an, dengan penuh objektivitas, tentu akan yakin bahwa Al-Qur’an bukan perkataan manusia. Bahasa Al-Quran berbeda dengan hadits-hadits Nabi saw. yang lafazhnya berasal dari beliau walaupun esensinya adalah wahyu dari Allah Taala.

Ibnul Qayyim Merasakan Seperti Apa Al-Quran Itu

Bukti Al-Quran firman Allah Taala yang lain terdapat dalam perkataan Ibnu Qayyim yang layak untuk disimak. Beliau menulis dalam bukunya At-Tibyan fi Aqsamil-Qur’an:

“Perhatikanlah kandungan Al-Qur’an, niscaya engkau akan mendapatkan bahwa Allah adalah Raja yang memiliki seluruh kekuasaan dan pujian. Semua urusan ada di Tangan-Nya, keluar dan bersumber dari-Nya.

Dia berada di atas Arsy, tak ada sedikit pun dari kekuasaan-Nya yang lepas dari penglihatan-Nya. Dia mengetahui apa yang tersimpan di dalam jiwa hamba-Nya, mengetahui apa yang mereka nyatakan dan apa yang mereka sembunyikan.

Sendirian dalam mengurus kerajaan-Nya, mendengar, melihat, memberi, menahan, memberi pahala dan hukuman, memuliakan, menghinakan, menciptakan, memberi rezki, menghidupkan, mematikan, menetapkan, memutuskan, menangani segala urusan, yang kecil dan yang detail, semua urusan turun dari-Nya dan naik kepada-Nya.

Tidak satu atom pun yang bergerak melainkan dengan seizin-Nya, tidak ada satu lembar daun pun yang jatuh melainkan atas sepengetahuan-Nya.

Perhatikan bagaimana Dia memuji atas Diri-Nya sendiri, menasihati hamba-hamba-Nya, menunjukkan kepada mereka apa yang mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi mereka, memperingatkan apa yang mendatangkan kebinasaan bagi mereka, memperkenalkan Diri dengan asma’ dan sifat-sifat-Nya.

Senang menganugerahkan nikmat dan karunia kepada mereka, mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat-Nya, memerintahkan mereka untuk melakukan hal-hal yang dapat menyempurnakan nikmat itu, mengingatkan mereka tentang pembalasan dan siksa-Nya, menyebutkan apa yang sudah Dia persiapkan bagi mereka, berupa kemuliaan jika mereka taat kepada-Nya, mengingatkan mereka apa yang sudah Dia persiapkan, berupa siksaan jika mereka mendurhakai-Nya.

Dia juga mengabarkan apa yang Dia perbuat terhadap para kekasih dan musuh-musuh-Nya, bagaimana kesudahan yang didapatkan masing-masing, memuji para kekasih-Nya karena amal-amal kebaikan yang mereka kerjakan dan mencela musuh-musuh-Nya karena amal-amal keburukan yang mereka kerjakan.

Dia membuat berbagai perumpamaan, meragamkan dalil dan bukti keterangan, menjawab alasan yang dibuat-buat musuh-musuh-Nya dengan jawaban yang telak, membenarkan orang yang benar, mendustakan orang yang dusta, mengatakan yang benar, menunjuki jalan, mengajak ke negeri damai, mengabarkan sifat-sifat dan kenikmatan di dalamnya, mengingatkan neraka dan siksaan di dalamnya.

Dia mengingatkan hamba-hamba-Nya tentang butuhnya mereka kepada-Nya, mereka pasti membutuhkan-Nya setiap saat, sementara Dia tidak membutuhkan mereka dan segala yang ada. Dia Mahakaya dan tidak membutuhkan selain-Nya, sedang selain-Nya membutuhkan-Nya.”

Tuduhan yang Selalu Berulang

Orang-orang Barat mempunyai sikap tersendiri tentang Al-Qur’an, yang semuanya hampir seragam, bahwa mereka mengingkarinya bersumber Allah dan menganggapnya sebagai kitab karya manusia, hasil kreasi dan kreasi Muhammad.

Ada yang beranggapan bahwa Muhammad mengarang Al-Qur’an ini dengan suatu cara tertentu, lalu mengklaim bahwa itu adalah beradal dari Allah.

Ada yang beranggapan bahwa Muhammad mengutipnya dari kitab orang-orang Yahudi dan Nasrani, yaitu Taurat dan Injil.

Ada pula yang beranggapan bahwa Muhammad tidak sengaja mengarangnya, tapi beliau merasa seakan Allah sedang mewahyukan kepadanya, padahal kata-kata itu murni datang dari dirinya sendiri, bukan dari sumber mana pun di luar dirinya.

Masih banyak tuduhan-tuduhan lain terkait dengan Al-Quran dan Rasulullah saw. Padahal beliau digelari Ash-Shadiqul Amin (orang yang selalu berkata benar dan menjaga amanah) jauh sebelum beliau mengaku menjadi nabi. Padahal bagaimana mungkin beliau tidak berdusta kepada sesama manusia, lalu berdusta dengan Allah Taala?

Objektivitas Heraklius

Hal inilah yang pernah disimpulkan oleh Heraklius, pemimpin Romawi, setelah membaca surat beliau yang mengajaknya masuk Islam. Sementara pada waktu yang sama ada rombongan pedagang Quraisy yang memasuki wilayahnya.

Heraklius mengajukan beberapa pertanyaan cerdas tentang diri beliau. Dari jawaban mereka itu Heraklius yakin bahwa Muhammad adalah nabi yang sedang ditunggu-tunggu, seperti yang pernah diberitahukan Al-Masih.

Bahkan Heraklius mengatakan bahwa sekiranya saja dia ada di sisinya, tentu dia mau membasuh kedua kaki beliau. Tapi orang-orang di sekitarnya tidak setuju dengan sikap Heraklius ini. Maka dia pun tidak jadi masuk Islam, dan lebih memilih menjadi penguasa.

Yang penting kesaksian untuk kerasulan Muhammad saw. sempat terlontar dari Heraklius saat mengajukan pertanyaan, “Apakah kalian pernah melihatnya berdusta?” Mereka menjawab, “Kami tidak pernah melihatnya berdusta.” Heraklius berkata, “Tidak mungkin dia meninggalkan kedustaan terhadap manusia lalu berdusta terhadap Allah.” Ini bukti Al-Quran firman Allah Taala.

Membantah Tuduhan Orientalis

Berbagai tuduhan yang dilontarkan para orientalis dan missionaris Barat pada zaman sekarang, tak berbeda jauh dengan yang dilontarkan orang-orang kafir Quraisy penyembah berhala, yang kemudian dijawab langsung oleh Al-Qur’an:

“Dan, orang-orang kafir berkata, ‘Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain’. Maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezhaliman dan dusta yang besar.

Dan, mereka berkata, ‘dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang’. Katakanlah, Al-Qur’an ini diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang!” [Al-Furqan: 4-6].

Terkadang mereka kebingungan tentang hakikat Al-Qur’an ini dan hakikat kedatangannya. Maka mereka beralih dari satu anggapan ke lain anggapan, dan tidak pernah yakin tentang satu anggapan. Allah berfirman:

“Bahkan mereka berkata (pula), (Al-Qur’an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri se-orang penyair!” [Al-Anbiya’: 5].

Tapi kemudian Al-Qur’an mengalahkan semua anggapan mereka dengan hujjah dan berbagai keterangannya. Mereka pun beriman, dan menanggalkan sikap sombong dan taqlid kepada nenek moyang serta. Maka mereka berkata:

“Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kalian kepada Rabb kalian’, maka kami pun beriman.” [Ali Imran: 193].

Orang-orang yang tadinya memusuhi Al-Qur’an berubah menjadi pendukung dan pembela. Al-Qur’an benar-benar menjadi cahaya di hati mereka dan sesuatu yang mereka cintai. Ini bukti Al-Quran firman Allah Taala.

Sebagaian orang ada yang menyadari mengapa orang-orang Barat yang berpaham materialis, yang tidak pernah percaya kepada apa pun yang ada di balik materi yang ditangkap indera, sehingga lumrah saja jika mereka tidak percaya kepada wahyu dan kenabian, bahkan tidak percaya kepada tuhan yang menguasai alam ini, tidak pula kepada roh manusia.

Tidak heran jika mereka mengingkari semua kitab yang diturunkan, mengingkari setiap rasul yang diutus. Mereka ini termasuk dalam firman Allah:

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata, Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia’.” [Al-An’am: 91].

Mereka tunduk kepada logika dan filsafat materialisme. Sehingga tidak aneh jika mereka mengingkari kenabian Muhammad, dan menganggap Al-Qur’an sebagai kreasi manusia.

Membandingkan dengan Taurat dan Injil

Yang tak habis pikir adalah sikap para orientalis dan missionaris yang meyakini kenabian Musa as. dan Isa as.. Mereka percaya unsur ketuhanan dalam Taurat dan Injil. Keduanya mereka yakini suci dan berasal dari Allah Taala.

Padahal sejarah mencatat bahwa Taurat yang asli telah musnah terbakar di tangan pasukan Babilonia saat menyerbu Bani Israel. Taurat itu tak berbekas sama sekali selama puluhan tahun. Baru kemudian muncul Azra yang menulis Taurat dari hapalannya dan dari orang-orang di sekitarnya.

Maka tidak mengherankan jika isinya banyak sekali berubah dan mengalami penyimpangan baik lafazh maupun esensinya. Dalam kitab-kitab Taurat yang beredar pada saat ini terdapat distorsi tentang Allah Taala, yang seharusnya memiliki segala sifat kesempurnaan, dan suci dari segala kekurangan. Sedangkan Taurat mensifati Allah dengan sifat bodoh, lemah, menyesal, dengki dan lain-lainnya.

Distorsi serupa juga terjadi pada kisah para nabi dan rasul. Mereka adalah utusan Allah Taala yang memberi petunjuk dan mengajari manusia dengan teladan kebaikan. Tapi Taurat mensifati mereka dengan perilaku buruk dan hina.

Di dalam Taurat yang ada sekarang terdapat banyak ajaran yang aneh, seperti hukuman yang dijatuhkan kepada binatang, diskriminasi berdasar ras dan etnik, menganggap sebagian lebih mulia dari yang lain, bahkan sebagian boleh diperbudak.

ilakan baca juga:

Apa yang terjadi pada Taurat juga terjadi pada Injil yang awalnya diturunkan kepada Nabi Isa as. Injil yang asli tidak dikenal dan tidak ditemukan di mana pun. Yang beredar pada zaman sekarang hanya sekedar kisah yang ditulis orang-orang sepeninggal Al-Masih, yaitu sebagian muridnya yang terkenal, seperti Matius, atau murid dari murinya lagi.

Penulisan menggunakan bahasa yang sekarang tidak ada teks aslinya. Yang ada hanyalah terjemahan dengan menggunakan bahasa-bahasa lain. Dari 70 Injil yang ada, tersaring 4 Injil yang kemudian diakui pihak gereja. Sedangkan yang lain tidak boleh digunakan.

Di dalam Injil-injil ini terdapat perbedaan dan pertentangan antara yang satu dengan yang lain. Bahkan dalam satu Injil pun terdapat pertentangan, yang tentu diketahui setiap peneliti.

Sepertinya tidak tepat membandingkan antara Taurat dan Injil yang ada pada zaman sekarang ini dengan Al-Qur’an. Al-Quran terbukti tak ada seorang pun yang berani menambahi atau mengurangi satu huruf pun. Bukti Al-Quran firman Allah Taala. Hal itu karena Allah Taala sendiri yang memeliharanya sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9).

Tidak bisa juga membandingkan kandungan Taurat dan Injil saat ini dengan kandungan Al-Qur’an. Kandungan akidah, ibadah, nilai dan akhlak, syariat dan mu’amalat, berbagai pengabaran tentang alam gaib dan alam nyata, yang semuanya memerintahkan kita memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di dalam diri manusia. Demikian bukti Al-Quran firman Allah Taala. Semoga kita semakin baik dalam berinteraksi dengan Al-Quran. (sof1/mukjizat.co)

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda