KEJIWAAN

Memulai Perjalanan Menuju Kesempurnaan Iman

bagaimana mencapai kesempurnaan iman?
Momen Tahun Baru sangat tepat untuk memulai tahun yang baru dengan semangat perubahan yang baru pula.

mukjizat.co – Banyak orang membutuhkan momen untuk memulai sebuah perjalanan berubah menjadi lebih baik. Untuk bisa melihat perbedaan yang jelas antara setelah dan sebelumnya. Maka memulai perjalanan menuju kesempurnaan iman hendaknya juga kita lakukan, apalagi ketika ada momen yang sangat tepat seperti Tahun Baru, ulang tahun, pernikahan, pindah rumah, dan sebagainya.

Perubahan yang paling harus diwujudkan adalah keimanan. Untuk mendapatkan kesempurnaan iman, iman harus terus berubah menjadi lebih baik. Momen Tahun Baru sangat tepat untuk memulai tahun yang baru dengan semangat perubahan yang baru pula.

Allah swt. berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Hasyr: 18]

Menghitung-hitung bahwa tahun lalu penuh dengan dosa, sangat kurang dengan amal ibadah, adalah hal sangat penting untuk bisa mengisi tahun yang baru dengan kebaikan yang maksimal. Menghitung-hitung amalan ini dilakukan para ulama salaf. Umar bin Khattab ra. mengatakan:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا

“Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.Berhiaslah untuk hari dinampakkan seluruh amal perbuatan manusia. Hisab di sana akan lebih ringan bagi orang yang telah melakukan muhasabah di dunia.” [HR. Tirmizi]

Pertumbuhan Seimbang

Manusia terdiri dari fisik, akal, ruh, dan hati. Hal ini meniscayakan kita untuk memberikan perhatian yang seimbang kepada semua bagian itu.

  • Masing-masing harus tumbuh berkembang.
  • Masing-masing membutuhkan perawatan.
  • Kalau dirawat, iman akan terus bersinar, kalau tidak akan kembali dikuasai hawa.

Hampir semua orang mengetahui bagaimana menumbuhkan fisik dan akal. Tapi masih banyak yang tidak mengetahui bagaimana menumbuhkan iman mereka agar mendapatkan iman yang sempurna. Maka banyak hal yang harus kita lakukan. Setidaknya, selalu memberikan asupan makanan untuk hati akan membuat iman tidak kelaparan dan sakit. Makanan hati di antaranya adalah:

  • Ilmu. Yaitu pengetahuan yang bisa berubah menjadi nilai-nilai kuat dalam hati. Keyakinan yang kuat itu akan mendorong kepada amal yang baik. Ilmu yang paling dibutuhkan hati adalah ilmu-ilmu yang Allah Taala tebar di dalam Al-Qur’an.
  • Kejadian dan pengalaman menjalaninya. Karena semua yang kita alami akan berpengaruh di hati. Jika kita renungkan, apapun yang kita alami akan mengenalkan kita kepada Allah Taala. Iman yang sempurna kepada Allah Taala.
  • Ibadah dan amal ketaatan. Ini adalah makanan yang bisa langsung menyehatkan hati kita. Syaratnya, harus menyertakan hati dalam ibadah-ibdah kita.
  • Semua hasil yang didapatkan dalam proses-proses itu hendaknya terus dirawat di dalam hati. Tidak pernah membiarkannya hilang begitu saja tanpa bekas.

Kehadiran Hati dalam Ibadah Kita

Ibadah yang harus menyertakan hati misalnya adalah shalat. Apa yang hendaknya hidup dalam hati kita saat mendirikan shalat?

  • Bermunajat (berbisik-bisik) kepada Allah Taala: harus ada perasaan sedang sangat dekat dengan Allah Taala. Ada kondisi seperti ini adalah meninggalkan sibuknya pikiran kita tentang dunia.
  • Perasaan bahwa wudhu menghilangkan segala bekas dosa dan tarikan dunia.
  • Perasaan bahwa azan adalah panggilan untuk akhirat yang tentunya menumbuhkan kerinduan dalam hati kita.
  • Perasaan bahwa takbir adalah mengagungkan Allah Taala dari segala sesuatu. Termasuk masalah dan obsesi hidup kita.
  • Perasaan bahwa rukuk menyimbolkan rasa hormat dan mengagungkan Allah Taala.
  • Perasaan bahwa sujud adalah bentuk kehinaan dan kecilnya hamba di hadapan Allah Taala.

Hati memang harus dihadirkan dalam ibadah-ibadah kita. Itu adalah syarat untuk mendapatkan buah manisnya ibadah. Memudahkan kita mendapatkan kesempurnaan iman.

  • Diterimanya amal ibadah disyaratkan dengan adanya niat.
  • Besar-kecilnya pahala ditentukan kualitas dan kuantitas niat.
  • Abdullah bin Mas’ud mengatakan kepada generasi Tabi’in, “Puasa dan shalat kalian lebih banyak daripada puasa dan shalat sahabat Rasulullah saw.. Tapi mereka lebih baik daripada kalian. Karena mereka lebih zuhud kepada dunia, dan lebih berharap kepada akhirat.”
  • Abu Bakar lebih baik dari kalian bukan karena banyaknya puasa dan shalatnya, tapi karena sesuatu yang ada di dadanya.

Lalu bagaimana perkembangan dan pertumbuhan keimanan di dalam hati?

Berawal dari Cahaya

Ketika sangat jauh dari Allah Taala. Hati manusia dalam keadaan gelap. Tidak ada cahaya yang membuatnya melihat segala sesuatu dengan benar. Kondisi sangat berbahaya karena sangat mungkin keburukan akan dilihatnya sebagai kebaikan. Sedangkan kebaikan bisa dilihatnya sebagai keburukan.

Kondisi gelap ini akan berubah ketika Allah Taala mengirimkan cahaya hidayah. Cahaya itu bisa berupa tersentuhnya hati saat mendengarkan nasihat, melihat musibah besar menimpa orang di sekitarnya, ditimpa masalah yang sulit dicari solusinya, kematian orang-orang terkasih yang dimilikinya. Apa yang terjadi pada hatinya?

  • Cahaya iman masuk ke dalam hatinya. Hati pun mulai benar dalam menilai.
  • Cahaya akan tetap ada dan tumbuh membesar jika terus dirawat.
  • Jika dibiarkan, maka kembali gelap (فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ) “kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.” [Al-Hadid: 16]

Ibarat orang yang sedang tidur, dia mendapatkan sekilas cahaya, atau sedikit suara yang mengganggu kelelapan tidurnya. Tapi karena lelap, bisa saja orang itu kembali tidur walaupun sempat terjaga sejenak oleh cahaya dan suara itu. Kembali kepada kesesatan yang sempurna, semakin menjauh dari kesempurnaan iman.

Hati Tersadar

Ini terjadi ketika cahaya itu dirawat, dijaga dari hal yang bisa memadamkan, dan terus diberi asupan makanannya. Maka pada tahap berikutnya, hati orang itu akan tersadar. Ibarat orang tidur, dia sudah bangun sadar, dan bisa memulai aktivitas seperti berwudhu dan sebagainya.

Saat ini hati mulai hidup, setelah sebelumnya dikuasai oleh hawa, gelap, dan tidak bisa melihat dan mengikuti kebenaran.

Kondisi ini seperti difirmankan Allah Taala:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?” [Al-An’am: 122].

Pertumbuhan apa yang terjadi dalam hati pada tahap ini?

  • Mulai memikirkan hakikat kehidupan dan kematian.
  • Ingin tahu kejadian setelah mati.
  • Menyesal saat mengingat masa lalu.
  • Malu kepada Allah Taala, dan berharap ampunan.
  • Mulai mengembalikan hak orang lain.
  • Dunia mengecil di matanya.
  • Perkembangan positif dalam ibadahnya.

Kesadaran Penuh

Ini adalah kondisi yang sudah sangat baik, karena kesadaran telah penuh. Ibarat orang yang bangun dari tidur panjang, dia telah melakukan aktivitas bermanfaat setelah bangun tidur. Sudah mengambil air wudhu dan menentukan bahwa ibadahlah yang akan dilakukan setelah itu.

Ini terjadi jika iman terus dirawat. Tidak puas dengan kondisi sebelumnya, sehingga terus mengembangkannya. Terjadi karena memang iman itu naik dan turun. Tidak selalu memiliki iman yang sempurna.

Pertumbuhan apa yang terjadi dalam hati pada tahap ini?

  • Semakin bersemangat dalam kebaikan.
  • Tambah wara’ (meninggalkan yang haram, lalu yang syubuhat, lalu yang mubah).
  • Tidak terlalu bersemangat dengan dunia. Dapat, tidak terlalu bahagia. Hilang, tidak terlalu sedih.
  • Tambah memikirkan kematian, bisa datang setiap saat.
  • Berlomba dalam kebaikan.
  • Rasulullah saw. Sebutkan, “Lebih fokus kepada negeri abadi, tidak berambisi dengan negeri penuh tipuan, dan menyiapkan kematian sebelum benar-benar datang.”

Al-Hudhur Al-Qalby dan Al-Qalbu As-Salim

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Taala menjelaskan bagaimana orang yang selalu dibersamai Allah Taala, mendapatkan kesempurnaan iman.

“Sesungguhnya Allah Taala telah berfirman, ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqarrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (perbuatan) yang Aku sukai seperti bila ia melakukan yang fardhu yang Aku perintahkan kepadanya.

Hamba-Ku senantiasa (bertaqarrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang ia gunakan untuk memegang, sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.

Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti akan Aku berikan kepadanya.” [HR. Bukhari].

Tentang Al-Qalbu As-Salim, Rasulullah saw. menjelaskan:

“Berbagai ujian dihadapkan kepada hati seperti tikar (yang menempel dan berhadapan dengan tubuh orang yang tidur) sehelai-sehelai. Setiap hati yang dirasukinya akan tertitik padanya titik hitam. Setiap hati yang menolaknya akan tertitik padanya titik putih.

Sehingga hati manusia ada dua macam; pertama, hati putih seperti bukit Shafa yang selamanya ujian tidak akan membahayakannya (karena bukit Shafa putih, atau karena bukit Shafa kuat tidak akan bisa dihancurkan dengan mudah).

Sedangkan yang kedua, hati hitam (yang kadang sangat hitam pekat, kadang berubah). Hati ini seperti gelas terbalik, tidak bisa mengakui kebaikan dan menolak kemungkaran, hanya mengakui yang sesuai dengan hawa nafsunya.” [HR. Muslim].

Perubahan dalam Berinteraksi

Interaksi dengan dunia:

  • Menjadi apa adanya, tidak tertipu.
  • Tidak ambisius.
  • Menjadikannya ladang akhirat.
  • Terbebas dari menghamba kepada dunia, mudah melepaskannya.

Interaksi dengan sesama manusia:

  • Mulai tidak mengandalkan, tidak memikirkan, dan tidak mencari ridha orang lain.
  • Berkembang terus hingga tidak tergantung sama sekali dengan mereka.
  • Meyakini orang lain hanyalah wasilah.

Interaksi dengan kejadian:

  • Setiap kejadian adalah perwujudan Al-Asma’ul Husna Allah Taala.
  • Kejadian, apalagi yang besar, akan bisa menjadi cahaya iman.
  • Jika semakin tumbuh, bisa mengenal Allah Taala dari kejadian.

Silakan baca juga:

Interaksi dengan rezeki dan ujian

  • Nikmat datang untuk mengingatkan kepada pemberi nikmat sehingga bersyukur.
  • Tidak hanya sabar dalam ujian tapi juga ridha dengannya.
  • Iman terus mengalami pertumbuhan hingga segala sesuai dari Allah Taala diyakini sebagai kebaikan.

Kelahiran kedua:

  • Bisa mempertahankan kondisi ibadah hingga di luar ibadah.
  • Mudah tersentuh walau diingatkan dengan hal kecil.
  • Mudah mendapatkan tadabbur Al-Qur’an
  • Hubungan dengan Allah Taala membaik. Bertambah rindu untuk bertemu, nyaman ketika berada dalam ibadah, mendapatkan rasa manisnya iman, dan seterusnya.

Demikianlah, kesempurnaan iman bisa diraih dengan sebuah perjalanan dan perjuangan yang panjang dan berat. Dibutuhkan perhatian dan keseriusan. Tanpanya semakin sulit mencapai tujuan perjalanan kita. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda