SYARIAH

Mengatakan Orang Lain Kafir, Apa Aturannya?

mengatakan orang lain kafir
Harus sangat berhati-hati dalam masalah ini. Sebenarnya yang pantas menilainya adalah ulama, bukan orang awam.

mukjizat.co – Takfir atau mengatakan orang lain kafir adalah sebuah perbuatan yang sangat berbahaya. Karena telah menghukumi seseorang sebagai penduduk kekal di neraka. Selain itu, bahaya takfir akan muncul dalam persatuan umat Islam. Akan terjadi saling tuduh dan saling menyalahkan.

Pengertian Kafir

Secara bahasa, kata kafir berasal dari  kata “كفر” bermakna menutupi. Oleh karena itu, dalam bahasa Arab kata “كافر” bisa bermakna petani, karena petani biasa menanam benih dengan menutupnya di dalam tanah. Kata “كافور” adalah bagian yang menutupi buah.

Dalam syariat, kata “كفر” bisa bermakna kufur nikmat, yaitu tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Taala, dengan cara menggunakannya untuk kemaksiatan. Namun kufur yang paling besar adalah kufur terhadap wihdaniyah Allah Taala, terhadap kenabian, dan syariat.

Kata “كفر” mempunyai bentuk infinitive “كفرا” yang lebih sering untuk kufur kepada Allah Taala, “كفورا” yang lebih sering untuk kufur nikmat, dan “كفران” yang biasa dipakai untuk dua-duanya.

Secara istilah, kafir bermakna keyakinan, perkataan, dan perbuatan, yang disebutkan dalam syariat bahwa orang yang melakukannya bukan orang Islam. Para ulama berijma’ bahwa kekafiran bisa terjadi walaupun hanya dengan perkataan dan perbuatan seseorang.

Macam-macam Kafir:

Ada dua macam kafir, yaitu kafir asli dan kafir murtad.

Pertama, kafir asli. Yaitu orang-orang yang belum masuk agama Islam, ulama sepakat bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Tentunya ini dalam pandangan Islam. Karena dalam pandangan agama tertentu, semua pemeluk agama lain adalah kafir.

Namun dalam pandangan bernegara, perlakuan terhadap semua warga negara tentunya harus sama. Istilah yang dipakai misalnya adalah Muslim dan Non-Muslim; Kristen dan Non-Kristen, dan sebagainya. Tidak boleh dengan ungkapan Muslim dan kafir; Kristen dan kafir.

Kedua, kafir karena murtad. Seorang Muslim dinilai telah murtad karena hal-hal berikut:

  • Kufru takdzib, mendustakan agama.
  • Menghina Allah Taala, rasul, dan agama.
  • Mencela Allah Taala, Rasul, dan agama.
  • Tidak mau menaati Allah Taala karena sombong.
  • Berpaling dari agama Allah Taala.
  • Dengan perkataan yang menyebabkan kekafiran, seperti yang dilakukan orang-orang munafik.
  • Sujud, menyembelih untuk selain Allah Taala.
  • Sihir.
  • Meragukan agama.
  • Dan lainnya.

Kaidah Takfir

Keimanan kita kepada agama Islam harus disertai keyakinan bahwa hanya agama Islam yang benar. Selainnya adalah agama yang tidak akan menyelamatkan di akhirat nanti.

Namun demikian, harus ada kaidah-kaidah yang mengatur agar tidak salah mengkafirkan orang lain. Karena ketika salah menghukumi, maka telah melakukan kezhaliman yang paling besar. Berikut kaidah-kaidahnya:

Kaidah 1

Seseorang masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Kita hanya bisa menilai bagian luar diri manusia.

Rasulullah saw. menganggap setiap orang yang baru bersyahadat sebagai seorang Muslim. Ada kisah seorang Yahudi yang menyatakan masuk Islam beberapa saat sebelum Rasulullah saw. memulai sebuah perang.

Orang itu bertanya, “Apa yang hendaknya kudulukan, shalat dulu atau langsung berperang?” Rasulullah saw. memerintahkannya langsung berperang. Ternyata dia terbunuh dalam pertempuran itu. Dia menjadi orang yang masuk surga padahal belum pernah melaksanakan shalat, puasa, dan sebagainya.

Kisah Usamah bin Zaid ra. juga menjadi bukti penguat. Dalam perang, beliau berduel dengan salah sorang kafir. Setelah terdesak, orang itu menyatakan keimanan. Namun Usamah ra. tetap membunuhnya dengan persepsi bahwa dia masuk Islam bukan karena keyakinan, tapi karena ketakutan.

Mendengar hal itu, Rasulullah saw. pun marah besar kepada Usamah. “Apakah engkau membunuh orang yang telah beriman? Tidakkah kau belah dadanya untuk mengetahui bahwa sebab keislamannya adalah karena rasa takut?”

Rasulullah saw. bersabda:

أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا: لا إله إلا الله، فإذا قالوها فقد عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحقها وحسابهم على الله

“Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang sampai mereka menyatakan bahwa Tiada Tuhan selain Allah. Jika mereka sudah menyatakannya, maka mereka telah memelihara dariku darah dan harta mereka. Kecuali jika mereka harus dihukum. Dan perhitungan mereka adalah oleh Allah Taala.” [Bukhari dan Muslim].

Jadi kita harus berkeyakinan baik kepada orang-orang yang masuk Islam dan telah mengikrarkan syahadatain. Tidak menaruh curiga kepada mereka bahwa ada agenda terselubung dalam keislaman mereka. Tidak mengatakan orang lain kafir hanya dengan anggapan yang tidak pasti.

Kaidah 2

Orang yang matinya dalam kondisi tauhid akan masuk surga.

Sungguh beruntung orang yang telah masuk Islam. Jika tidak masuk surga secara langsung karena banyaknya kebaikan yang dilakukannya, setidaknya mereka akan mendapatkan dua hal:

  • Selamat dari kekal di neraka.
  • Masuk surga (walaupun mungkin masuk neraka dulu).

Rasulullah saw. bersabda:

ما من عبد قال: لا إله إلا الله ثم مات على ذلك إلا دخل الجنة

“Setiap hamba yang mengucapkan (beriman) bahwa tiada Tuhan selain Allah Taala, lalu meninggal dunia tetap dalam keimanannya, maka pasti masuk surga.” [Bukhari dan Muslmi]. Maksudnya walaupun masuk neraka, dia tidak akan kekal di dalamnya.

أتاني جبريل فبشرني: أنه من مات من أمتك لا يشرك بالله شيئا دخل الجنة. قلت: وإن زنى وإن سرق؟ قال: وإن زنى وإن سرق

“Malaikat Jibril datang kepadaku dan memberikan kabar gembira, ‘Setiap orang dari umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah Taala dengan sesuatupun pasti akan masuk surga.’ Maka aku bertanya, ‘Walaupun dia melakukan zina dan mencuri?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Iya, walaupun dia melakukan zina dan mencuri.’” [Bukhari dan Muslim].

Oleh karena itu sangat penting menjaga keimanan dalam hati. Orang yang banyak berbuat maksiat jangan pernah merasa dirinya kepalang tanggung, dan akhirnya rela melepas keimanannya.

Oleh karena itu, selagi saudara kita masih memelihara tauhid dalam hatinya, maka kita tetap harus berpandangan positif kepadanya. Karena Allah Taala juga akan menyelamatkannya dari kekal di dalam neraka. Tidak mengatakan orang lain kafir sebesar apapun perbuatan dosanya.

Kaidah 3

Konsekwensi orang yang masuk Islam, harus berkomitmen dengan hukum-hukum Islam.

Ketika seseorang telah memilih untuk memeluk agama Islam, maka hal berikutnya yang harus dilakukannya adalah:

  • Meyakini kebenaran dan kesuciannya.
  • Meyakini kewajiban tunduk dan menyerah diri kepadanya.
  • Hukum-hukum Islam yang harus disikapi demikian adalah hukum lugas yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, dan tidak menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Di antara ayat yang menyebutkan hal itu adalah:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” [Al-Ahzab: 36]

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” [An-Nur: 51].

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [An-Nisa: 65]

Hukum-hukum yang dimaksud adalah yang memiliki derajat wajib (harus dikerjakan) dan haram (harus ditinggalkan), atau yang bersifat hukuman.

Biasanya disimpulkan dari Al-Quran dan hadits dengan cara yang qath’I (yakin kebenarannya dan jelas maksudnya). Semua orang mengetahui hukumnya, tidak perlu ijtihad untuk menyimpulkannya.

Kaidah 4

Perbuatan dosa besar mengurangi iman, bukan menghilangkannya.

Ketika seorang Muslim berbuat dosa, maka perbuatan itu tidak menjadikannya sebagai seorang kafir. Memang saat melakukan perbuatan dosa itu kondisi keimanannya sedang melemah sehingga rasa takutnya kepada neraka Allah Taala tidak mencegahnya dari perbuatan tersebut. Tapi dia tetap beriman, dengan iman yang kurang.

Di antara dalil kaidah ini adalah adanya hukuman-hukuman yang Allah Taala tetapkan untuk pelaku dosa besar. Ada hukuman pezina, pencuri, peminum minuman keras, dan sebagainya. Kalau perbuatan-perbuatan itu mengilangkan iman, maka hukumannya satu, yaitu hukuman mati karena telah murtad.

Al-Qur’an mengakui hubungan saudara antara pembunuh dan keluarga besar terbunuh.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأُنثَى بِالأُنثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاء إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).” [Al-Baqarah: 178].

Ada kata saudara dalam ayat itu. Persaudaraan yang dimaksudkan adalah persaudaraan dalam keimanan.

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.  Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” [Al-Hujurat: 9].

Ketika ada peminum khamr yang dihukum, ada sahabat yang menyumpahinya (أخزاك الله) “Semoga Allah Taala menghinakanmu.” Maka Rasulullah saw. menasihatinya, “Jangan kalian menjadi penolong setan dalam melawan saudara kalian. Katakanlah, ‘Ya Allah, ampuni dia. Ya Allah kasihi dia.’”

Ada sahabat yang melaknati peminum khamr yang sangat sering dihukum. Maka Rasulullah saw. menegurnya dengan bersabda:

لقد علمت أنه يحب الله ورسوله

“Aku mengetahui bahwa dia mencintai Allah Taala dan Rasul-Nya.”

Rasulullah saw. demikian positif memandang orang yang berbuat kemaksiatan. Tidak mencapnya sebagai orang yang tidak diampuni Allah Taala. Karena orang yang pasti tidak diampuni Allah Taala hanyalah orang kafir. Kita tidak mengatakan orang lain kafir hanya dia berbuat dosa.

Kaidah 5

Selain dosa syirik, masih mungkin diampuni Allah Taala.

Allah Taala Maha Pengampun. Ketika seorang hamba berbuat dosa, kecil maupun besar, lalu bertobat, maka akan diampuni-Nya. Semua dosa termasuk syirik akan diampuni Allah Taala ketika pelaku bertobat kepada Allah Taala.

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.  Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az-Zumar: 53].

Namun ketika dia meninggal dunia tanpa sempat bertobat sebelumnya, maka Allah Taala masih sangat mengampuni dosa-dosa besar selain dosa syirik kepada Allah Taala. Jadi dosa yang dikatakan tidak akan diampuni Allah Taala adalah dosa syirik yang dibawa mati tanpa bertobat.

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [An-Nisa: 116].

Maksud syirik di sini adalah syirik akbar, bukan syirik asghar seperti berbuat riya’ dan sebagainya.

Jadi sebesar apapun dosa yang dibawa mati seseorang tanpa bertobat, kita masih mempunyai harapan yang sangat besar dia akan diampuni Allah Taala. Pembunuh, pezina, peminum minuman keras, dan sebagainya. Kita hendaknya mendoakan mereka, bukan mengatakan mereka tidak akan diampuni Allah Taala, dan akan kekal di neraka.

Kita tidak boleh mengatakan orang lain kafir selagi dia tidak mati dalam kesyirikan.

Kaidah 6

Kufur ada 2, yaitu akbar (besar) dan ashghar (kecil).

Mengetahui perbedaan antara keduanya sangat penting karena ada ayat dan hadits yang menyebutkan kata kafir atau kufur tapi tidak memaksudkan makna keluar dari agama.

Apa perbedaan antara keduanya?

Pertama, kufur akbar terkait dengan keyakinan sedangkan kufur ashghar terkait dengan perbuatan maksiat.

Misalnya, bersumpah dengan selain Nama Allah Taala. Orang yang melakukannya telah berbuat maksiat, bukan telah keluar dari agama.

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ

“Orang yang bersumpah dengan selain Allah Taala, maka telah kafir.” [Tirmizi].

Hal yang sama disabdakan Rasulullah saw. tentang berperang sesama umat Islam.

لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

“Janganlah kalian kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku. Sesama kalian saling membunuh.” [Bukhari].

Perbedaan kedua, kufur akbar menyebabkan kekal di neraka. Sedangkan kufur ashghar menyebabkan masuk neraka atau diampuni.

Ketiga, orang yang kafir akbar dikatakan murtad, sedangkan orang yang kafir asghar dikatakan sebagai pelaku maksiat dan fasik.

Semua perbuatan maksiat adalah kufur asghar. Karena kufur ashghar adalah lawan kata syukur. Sedangkan syukur adalah melakukan ketaatan, menggunakan nikmat dari Allah Taala bukan untuk kemaksiatan.

Jadi jangan menggunakan hadits-hadits itu untuk mengatakan orang lain kafir. Karena hadits-hadits itu tentang kemaksiatan, bukan tentang kekafiran.

Kufur akbar adalah lawan kata iman. Seperti dalam ayat:

فَمِنْهُم مَّنْ آمَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ

“maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.” [Al-Baqarah: 253].

Sedangkan kufur asghar adalah lawan kata syukur. Seperti dalam ayat:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” [Al-Insan: 3].

Kaidah 7

Kadang beberapa cabang keimanan bertemu dengan beberapa cabang kekufuran, kenifakan, atau kejahiliyahan.

Ada anggapan salah, yaitu menilai orang dan sesuatu dengan hitam-putih. Dalam penilaiannya manusia ada 2; beriman-kafir, muslim-jahiliyah, dan sebagainya.

Padahal ada iman yang tidak sempurna, ada juga kufur yang tidak sempurna.

Ketika melakukan kesalahan, Rasulullah saw. pernah murkan kepada Abu Dzar ra. dengan mengatakan:

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Sesungguhnya engkau orang yang masih memiliki sifat jahiliyah.” [Bukhari].

Padahal beliau adalah seorang sahabat Nabi yang mulia, banyak memilik keutamaan. Tapi ternyata dikatakan masih memiliki beberapa sifat jahiliyah. Jadi masih sangat mungkin seorang Muslim memiliki sifat jahiliyah. Tidak otomatis menjadi kafir.

Ketika menolak berperang bersama Rasulullah saw. Allah Taala berfirman tentang orang-orang munafik:

هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ

“Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.” [Ali Imran: 167]

Jadi ada keimanan, kekafiran, dekat kepada keimanan, dan dekat kepada kekafiran. Ada keimanan dan kekafiran yang sempurna, ada keimanan dan kekafiran yang tidak sempurna.

Jadi ada tingkatan-tingkatan:

  • Mukmin yang paling baik akan berada di surga yang paling tinggi.
  • Orang-orang munafik yang sempurna akan berada di dasar neraka; walaupun di dunia, mereka diperlakukan sama dengan mukmin.
  • Kalau di hati ada iman dan kemunafikan, maka dinamakan muslim.
  • Kalau kemunafikannya lebih dominan, maka dinamakan munafik (هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلإِيمَانِ).
  • Kalau keimanannya lebih dominan, maka dia tidak termasuk orang yang masuk surga secara langsung. Harus masuk neraka dulu kalau tidak mendapat syafaat.

Hal ini berbeda dengan keyakinan kelompok khawarij dan sejenisnya. Mereka berpendapat bahwa seseorang kekal di surga, atau kekal di neraka.

Sedangkan pendapat ahlussunnah, seseorang bisa masuk neraka, lalu dikeluarkan darinya. Namanya mukmin naqishul iman (mukmin dengan keimanan yang kurang). Yang lebih tepat:

  • Dalam hukum dunia, dia adalah mukmin.
  • Dalam hukum akhirat, dia tidak berhak langsung masuk surga, tidak berhak kekal di neraka.

Jadi kita tidak mengatakan orang lain kafir atau munafik hanya karena memiliki beberapa tanda kemunafikan. Tanda-tanda itu tidak mesti menjadikan dia sebagai seorang munafik yang akan menempati dasar neraka.

Yang akan menempati dasar neraka adalah orang munafik dengan kemunafikan keyakinan, dan orang munafik yang memiliki seluruh tanda kemunafikan yang sangat banyak itu. Puluhan jumlahnya.

Kaidah 8

Ketaatan itu bertingkat-tingkat.

Mukmin bertingkat-tingkat dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan larangan. Iman itu naik-turun. Kita tidak seharusnya menilai orang lain dari sudut pandang kita, tapi dari sudut pandang Al-Quran dan hadits. Karena kalau menilai dari sudut pandang sendiri, maka akan subyektif. Bisa menilai orang sangat buruk, padahal hanya berada di bawah tingkatan kita.

Misalnya firman Allah Taala:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” [Fathir: 32]

Silakan baca juga:

Ayat ini membagi hamba-hamba pilihan ke dalam tiga tingkatan:

  • Dhalim (menganiaya diri sendiri). Yaitu orang-orang yang meninggalkan sebagian kewajiban; dan mengerjakan sebagian larangan. Mereka mendapatkan ampunan dari Allah Taala.  Larangan yang dimaksud mencakup dosa kecil dan besar. Sedangkan orang yang lalu bertobat, dan meninggalkan dosa besar, akan termasuk tingkatan berikutnya (muqtashid atau sabiq).
  • Muqtashid (pertengahan). Yaitu orang-orang yang mengerjakan kewajiban, meninggalkan larangan, mengerjakan sebagian yang makruh, dan meninggalkan yang sunnah. Meraka akan mendapatkan hisaban yasira (perhitungan yang mudah, ditampilkan dosa-dosanya untuk diampuni).
  • Sabiqun bil khairat (lebih dahulu berbuat kebaikan). Mereka adalah orang-orang yang mengerjakan yang wajib dan sunnah; meninggalkan yang dilarang dan makruh. Mereka akan masuk surga bighairi hisab (tanpa melalui perhitungan).

Demikianlah aturan dan kaidah dalam memandang dan menilai keimanan orang lain. Jangan sampai kita jatuh pada takfir yang salah. Mengatakan orang lain kafir, padahal dia masih beriman. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda