AKHLAK

Kasih Sayang Rasulullah Kepada Pembencinya

kasih sayang Rasulullah kepada pembencinya
Hanya ada satu orang Musyrik melawan hati nurani saat membenci orang sebaik Rasulullah saw.

mukjizat.co – Kasih sayang Rasulullah kepada pembencinya adalah bagian dari kasih sayang beliau kepada seluruh umatnya. Ini adalah salah satu mukjizat beliau, karena tidak ada orang mengasihi dan menyayangi orang-orang yang membencinya.

Allah Taala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiyaa: 107].

Hubungan Antar Pemeluk Agama Lain

Ada beberapa prinsip Islam dalam mengatur hubungan pemeluknya dengan pemeluk agama lain. Di antara:

Islam tidak mau ajarannya dicampuradukkan dengan ajaran lain. Karena memang beda antara akidah, ibadah dan tradisi milik Islam dan milik selain Islam.

قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” [Al-Kafirun].

Namun demikian, Islam tidak memaksakan keyakinannya. Islam hanya menyediakan kondisi merdeka, sehingga orang-orang bisa bebas memilih keyakinannya.

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الغَيِّ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” [Al-Baraqah: 256].

Jihad adalah syariat yang dimaksudkan untuk membebaskan orang lemah dari kekejaman dan pemaksaan penguasa zhalim. Demi terwujud kemerdekaan dalam memilih agama dan lainnya.

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” [An-Nisaa: 75].

Ketika ada orang ingin berdamai, Islam memerintahkan berdamai. Karena jihad disyariatkan dengan tujuan, jika tujuan tercapai tanpa perang maka hukum asalnya adalah damai.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah (penyiksaan) lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang lalim.” [Al-Baqarah: 193].

Sehingga ketika memungkinkan terjadinya perdamaian, maka harus diwujudkan.

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.” [Al-Anfal: 61].

Akhlak Rasulullah saw. dalam Berperang

Saat terpaksa dilakukan perang dengan tujuan mulia seperti di atas, bukan berarti boleh melakukan apa saja yang bertentangan dengan prinsip-prinsip akhlak mulia. Hal itu terlihat dari akhlak Rasulullah saw. dalam perang yang juga harus menjadi pedoman umatnya dalam berperang. Itulah salah satu bentuk kasih sayang Rasulullah kepada pembencinya.

Rasulullah saw. hanya memerangi pihak yang memeranginya.

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Baqarah: 190].

Beliau mempunyai rasa iba yang sangat besar; melarang pasukan membunuh orang lemah.

لا تغلّوا ولا تغدروا ولا تمثلوا ولا تقتلوا وليداً ولا امرأة ولا شيخاً كبيراً ولا راهباً في صومعته

“Jangan kalian menilap harta rampasan, mengingkari perjanjian, memutilasi, membunuh anak kecil, perempuan, orang tua, dan pendeta di tempat ibadahnya.” [HR. Muslim].

Dalam perang Uhud, Rasulullah saw. berdoa:

اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون

“Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka belum mengetahui (sehingga menolak dakwah).”

Padahal saat itu beliau terluka, Hamzah (pamannya) dimutilasi, dan Abdullah bin Jahsy (sepupunya) meninggal dunia.

Ketika penaklukan kota Mekah, beliau berkata, “Apa yang kalian kira akan aku lakukan?” penduduk Mekah menjawab, “Engkau saudara yang mulia, anak saudara yang mulia.”

Kemudian beliau mengucapkan perkataan yang sama dikatakan Nabi Yusuf as. kepada saudara-saudaranya:

لا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ اليَوْمَ يَغْفِرُ الله لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” [Yusuf: 92].

Beliau mengumumkan, “Pergilah, kalian semua kubebaskan.” Padahal di antara sebab beliau dan para  sahabatnya hijrah adalah karena intimidasi penduduk Mekah.

Akhlak Rasulullah kepada Orang yang Menjahatinya

Memaafkan orang yang hendak membunuhnya saat tidur di bawah pohon. “Rasulullah saw. tertidur di bawah sebatang pohon. Saat banget didapatinya seorang laki-laki musyrikin yang mengacungkan pedang kepadanya. Dia berkata kepada Rasulullah saw., “Muhammad, siapa yang akan melindungimu dariku?” Maka Rasulullah saw. menjawab, “Allah.”

Tiba-tiba tangan orang itu bergetar dan pedangnya jatuh dari genggamannya. Pedang itu lalu diambil oleh Rasulullah saw. Beliau bertanya, “Siapakah yang bisa melindungimu dariku?” Orang itu menjawab, “Tidak ada.” Maka Rasulullah saw. berkata, “Pergilah. Aku sudah memaafkanmu.” [HR. Bukhari].

Slogan yang dicanangkan Rasulullah saw. saat memasuki kota Mekah adalah

اليوم يوم المرحمة

“Hari ini adalah hari kasih sayang.” [Ibnu Ishaq].

Ketika ada orang musyrikin yang menemuinya dengan bergetar, beliau berkata:

هوّن عليك فإني لست بملك وإنما أنا ابن امرأة من قريش كانت تأكل القديد

“Tenanglah. Aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah anak dari seorang perempuan yang makananya sama dengan makanan orang-orang Quraisy.” [Ibnu Majah].

Saat Rasulullah saw. menghancurkan berhala di Masjidil Haram, Fudhalah bin Umair, mencari kesempatan untuk membunuhnya. Rasulullah saw. menanyainya, tapi tidak mengaku. Akhirnya, beliau mengusap dada Fudhalah. Terjadi perubahan pada dirinya, sehingga Rasulullah saw. menjadi orang yang paling dicintainya.

Saat menaklukkan kota Mekah, beliau menundukkan kepalanya hingga menyentuh leher kendaraanya, tawadhu, tidak membangga-banggakan kemenangannya. Ibunda Aisyah ra. berkata:

ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم منتصرا من مظلمة ظُلِمَها قط ما لم يُنْتَهَك من محارم الله شيء

“Aku belum pernah Rasulullah saw. membalas dendam untuk kezhaliman yang dialaminya. Kecuali jika hukum Allah Taala dilanggar.” [Bukhari].

Memperlakukan Baik Tawanan Perang

Kasih sayang Rasulullah kepada pembencinya terlihat dalam menyikap tawanan perang. Dalam perang Badar, tertawan puluhan orang Musyrikin Mekah. Beberapa di antara mereka adalah pembesar.

Umar usul mereka dibunuh; Abu Bakar usul mereka dimaafkan, Rasulullah saw. memilih usul Abu Bakar, hingga turun ayat:

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Anfal: 67].

Abu Aziz (tawanan) diperlukan sangat baik dalam hal makannya, bahkan lebih dimuliakan daripada tentara penjaganya.

Suhail bin Amru (penyair penghina, tawanan), ada yang usul gigi depan beliau dirontokkan agar tidak lagi menyair, Rasulullah saw. malah mendoakan beliau.

Tsumamah bin Atsal ditawan di masjid selama 3 hari. Setiap hari ditanya oleh Rasulullah tentang kondisinya. Hari pertama dia menjawab:

“Aku punya banyak harta. Jika kau membunuhku, akan ada orang-orang yang menuntut. Jika kau beri aku kebaikan, maka aku adalah orang yang pandai berterima kasih. Jika kau menginginkan harta, maka mintalah sekehendakmu.”

Padahal hari kedua menjawab:

“Seperti yang kukatakan kemarin, jika kau memberiku kebaikan maka aku adalah orang yang pandai berterima kasih.”

Pada hari ketiga menjawab:

 “Seperti yang kukatakan kemarin.”

Akhirnya dia dibebaskan, dan masuk Islam, “Engkau menjadi orang yang paling kucintai, Islam menjadi agama yang paling kucintai, dan Madinah menjadi tempat yang paling kucintai.”

Sejarahwan Gustave Le Bon membandingkan akhlak Rasulullah saw. dengan tentara Salib saat menguasai Al-Quds.

“Pasukan Salib telah melakukan kejahatan perang kepada umat Islam dan Kristen Timur yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang gila. Di antara hiburan yang mereka sukai adalah memutilasi anak-anak kecil dan membakarnya.

Mereka sungguh telah berlebihan dalam menumpahkan darah di Palestina. Jasad-jasad korban mengambang di kubangan darah. Potongan-potongan tangan terpencar-pencar dari tubuh. Para ksatria yang ‘shalih’ itu membunuh semua penduduk Al-Quds. Baik umat Islam, Yahudi maupun Kristen.

Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. saat tiba di Al-Quds beberapa abad sebelumnya. Kita tidak bisa mengelak dari pengakuan bahwa tidak ada kejatanan yang dilakukan pemenang perang lebih jahat daripada yang dilakukan kepada umat Islam.”

Sikap Kepada Orang-orang Munafik

Kasih sayang Rasulullah kepada pembencinya juga terlihat dalam menyikapi orang-orang munafik. Orang munafik adalah orang yang sangat membenci Rasulullah saw. dan umat Islam. Mereka tinggal di Madinah, tapi memusuhi negara.

Rasulullah saw. tidak menghukum karena kemunafikan mereka, tapi hanya menghukum kejahatan yang nampak. Memperlakukan mereka sama dengan warga negara yang lain.

Mengijinkan mereka dan menerima alasan mereka saat menghindar dari kewajiban-kewajiban sebagai warga negara seperti berperang dalam membela negara.

Memaafkan mereka saat berbuat jahat kepada beliau. Ini terkait dosa kepada pribadi beliau.

Bahkan Rasulullah saw. mendoakan mereka. Rasulullah memberikan pakaian beliau untuk membungkus jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kelompok munafik.

Silakan baca juga:

Rasulullah memintakan ampun untuknya, tapi ternyata dilarang Allah Taala.

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja).  Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” [At-Taubah: 80].

Demikianlah kasih sayang Rasulullah kepada pembencinya. Akhlak ini adalah mukjizat yang membuktikan bahwa beliau adalah seorang nabi. Tidak ada pemimpin dan panglima perang yang sebaik beliau dalam memperlakukan musuhnya. Semoga banyak orang tersadar. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda