SYARIAH

Amar Makruf Nahi Munkar dan Selamatnya Bangsa

maksud takwa sesuai kemampuan
Salah satu faktor utama kejayaan umat Islam.

mukjizat.co – Amar makruf nahi munkar, memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang munkar, adalah hal yang sangat penting dalam Islam. Bahkan dijadikan sebagai faktor utama bagi terwujudnya kejayaan umat Islam.

Allah swt. berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Ali Imran: 110].

Amar Makruf Nahi Munkar Oleh Negara

Allah swt. berfirman:

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” [Al-Haj: 41].

Pada dasarnya, amar makruf nahi munkar dilakukan oleh pemerintah, atau yang mempunyai kekuasaan memerintah dan melarang.

Ini bisa bersifat memaksa, karena mempunyai kekuasaan.

Bisa amar makruf nahi munkar kepada rakyatnya, bisa juga kepada negara lain yang lebih lemah.

Ini menunjukkan kewajiban memilih pemimpin yang baik, amanah, dan bertanggung-jawab:

Rasulullah saw. bersabda:

فَإِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Kalau amanah sudah disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat.” [HR. Bukhari]. Karena tanda kiamat ada dua macam, kerusakan dunia dan kerusakan kondisi masyarakat.

Memilih pemimpin yang tidak baik adalah bentuk tidak amanah. Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Jika sebuah tanggung jawab diberikan kepada orang yang tidak kompeten, maka tunggulah datangnya hari kiamat.” [HR. Bukhari].

Amar Makruf Nahi Munkar Ulama Kepada Umat Islam

Allah swt. berfirman:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” [At-Taubah: 122].

Ini termasuk tanggung jawab ulama dalam ilmunya. Para ulama menjelaskan buruknya kemungkaran. Mengajak para pelaku kemungkaran untuk segera meninggalkannya jika tidak ingin ditimpa malapetaka dari Allah Taala.

Ini bersifat penjelasan, sehingga tidak bisa memaksa dengan kekuatan dan paksaan. Para ulama tidak memiliki otoritas penegakan undang-undang. Yang memilikinya adalah pemerintah.

Amar Makruf Sesama Umat Islam

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Orang yang melihat kemungkaran, hendaknya merubahnya dengan tangannya (kekuasaannya). Jika tidak bisa, maka dengan lisannya (penjelasannya). Jika tidak bisa, maka dengan hatinya (tidak menyenanginya).” [HR. Muslim].

Ini bersifat nasihat, dan tidak memaksa.

Ini menunjukkan bahwa amar makruf nahi munkar adalah kewajiban bagi semua umat Islam, masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Umat Islam yang paling wajib melaksanakannya adalah para ulama.

Kenapa Kita Serius dalam Amar Makruf Nahi Munkar?

Urgensi melaksanakan amar makruf nahi munkar tidak lain adalah untuk keselamatan semua orang. Melihat kemungkaran diibaratkan Rasulullah saw. seperti melihat orang yang sedang melubangi dinding kapal. Bisa membahayakan seluruh penumpang, yang baik maupun yang jahat. Rasulullah saw. bersabda:

مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا

“Perumpanaan orang yang menjaga batasan-batasan Allah swt., dan orang yang melanggarnya, adalah seperti sekelompok orang yang melakukan undian untuk naik sebuah perahu. Sebagian mereka mendapat bagian atas, dan sebagian lain mendapat bagian bawah.

Ketika hendak mengambil air, orang-orang yang di bawah harus melewati orang-orang di atas. Maka mereka pun mempunyai ide, ‘Baik juga kalau kita menjebol dinding perahu bagian kita sehingga tidak mengganggu orang-orang yang di atas.’

Kalau orang-orang membiarkan mereka melakukan hal tersebut, maka mereka semua akan mati. Tapi kalau mereka dicegah melakukannya, maka mereka akan selamat, dan semuanya juga akan selamat.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Allah Taala Maha mengabulkan doa. Tapi ada waktunya doa-doa yang dipanjatkan tidak akan dikabulkan Allah Taala. Yaitu ketika meninggalkan amar makruf nahi munkar. Rasulullah saw. bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Allah yang memegang jiwaku, engkau harus memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Kalau tidak, maka Allah akan segera menimpakan adzab. Lalu kalian memohon kepada-Nya, tapi tidak dikabulkan.” [HR. Tirmidzi].

Aneh sekali jika ada orang meninggalkan amar makruf nahi munkar karena rasa takut kepada orang yang akan memusuhinya. Kenapa takut kepada sesama manusia, tapi tidak takut kepada Allah Taala? Rasulullah saw. bersabda:

لَا يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ أَنْ يَرَى أَمْرًا لِلَّهِ عَلَيْهِ فِيهِ مَقَالًا، ثُمَّ لَا يَقُولُهُ، فَيَقُولُ اللَّهُ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَقُولَ فِيهِ، فَيَقُولُ: رَبِّي خَشِيتُ النَّاسَ، فَيَقُولُ: وَأَنَا أَحَقُّ أَنْ تَخْشَى

“Hendaklah di antara kalian tidak ada yang menghinakan dirinya. Yaitu ketika dia melihat sebuah perbuatan yang dilarang Allah swt., tapi dia tidak mencegahnya. Maka Allah swt. akan berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau tidak mencegahnya?’ Dia pun akan menjawab, ‘Tuhanku, aku takut kepada mereka.’ Allah swt. berkata lagi, ‘Padahal Aku hendaknya lebih kamu takuti.’” [HR. Ahmad].

Silakan baca juga:

Bahkan amar makruf nahi munkar adalah upaya untuk menjaga kebaikan dan keselamatan hati kita. Allah Taala akan terus menguji hati kita. Jika lulus, maka hati akan tetap sehat. Tapi jika gagal, maka hati akan sakit dan mati. Tidak bisa lagi menerima hidayah dari Allah Taala. Rasulullah saw. bersabda:

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.

“Berbagai ujian dihadapkan kepada hati seperti tikar (yang menempel dan berhadapan dengan tubuh orang yang tidur) sehelai-sehelai. Setiap hati yang dirasukinya akan tertitik padanya titik hitam. Setiap hati yang menolaknya akan tertitik padanya titik putih.

Sehingga hati manusia ada dua macam; pertama, hati putih seperti bukit Shafa yang selamanya ujian tidak akan membahayakannya (karena bukit Shafa putih, atau karena bukit Shafa kuat tidak akan bisa dihancurkan dengan mudah).

Sedangkan yang kedua, hati hitam (yang kadang sangat hitam pekat, kadang berubah). Hati ini seperti gelas terbalik, tidak bisa mengakui kebaikan dan menolak kemungkaran, hanya mengakui yang sesuai dengan hawa nafsunya.” [HR. Muslim].

Demikianlah bagaimana amar makruf nahi munkar tidak boleh kita tinggalkan. Kalau kita bisa mengusahakannya, akan banyak sekali kebaikan yang kita dapatkan. Bahkan dalam skala nasional dan dunia. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda