SEJARAH

Sunnatullah dalam Mengubah Keadaan

Hubungan Sebab Akibat dalam Al-Qur’an
Sunnatullah juga berlakuk dalam menghadirkan nikmat. Harta, kekuasaan, kemenangan, dan kebahagiaan akan Allah Taala berikan kepada hamba yang layak.

mukjizat.co – Keadaan terus berubah. Ada yang menjadi aturannya. Itulah sunnatullah dalam mengubah keadaan. Baik keadaan individu, masyarakat, bangsa, maupun peradaban. Hendaknya perubahan yang terjadi pada diri kita adalah perubahan kepada yang lebih baik.

Sunnatullah adalah aturan-aturan Allah Taala. Manusia, baik individu dan kelompok, akan tunduk kepada aturan Allah Taala. Kondisi yang mereka alami merupakan hasil dari sikap, perbuatan, dan akhlak yang mereka lakukan. Sunnah ini pasti akan terjadi. Sama dengan sunnatullah dalam alam semesta, yang sering disebut denan hukum alam. Api terasa panas; es terasa dingin; dan sebagainya.

Kita semua memerlukan nikmat Allah Taala. Yaitu apa saja yang membuat manusia kecukupan, enak dan bahagia hidupnya. Bisa berupa materi seperti harta dan rumah; bisa juga berupa immateri seperti hidayah, kebebasan, dan sebagainya. Jangan sampai perubahan terjadi dalam bentuk hilangnya nikmat Allah Taala dari hidup kita.

Allah Taala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Anfal: 53].

Kejadian yang diisyaratkan dalam kata “ذلك” adalah kehancuran Fir’aun dan kerajaannya. Seperti disebutkan dalam ayat sebelumnya:

كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Firaun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya.  Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.” [Al-Anfal: 52].

Kehancuran Fir’aun adalah sesuatu yang mengherankan. Kerajaan besar; kekuasaan luas; pasukan besar; pasukan besar dan taat; dan sebagainya. Ternyata sekuat apa pun, mereka tidak bisa melawan sunnatullah.

Sunnatullah meniscayakan bahwa Allah Taala tidak akan mengubah kenikmatan yang ada pada diri kita menjadi kesengsaraan, kalau kita tidak mengubah: keyakinan, sifat, kebiasaan, akhlak, yang diridhai oleh Allah Taala, yang menyebabkan datangnya nikmat-nikmat tersebut.

Dalam ayat lain Allah Taala berfirman:

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’du: 11]

Kalau ada manusia mengubahnya, maka Allah Taala pun akan mencabut nikmat tersebut. Yang kaya akan berubah menjadi miskin; yang kuat akan berubah menjadi lemah; yang mulia akan berubah menjadi hina; dan sebagainya. Hal ini berlaku secara pribadi maupun umat.

Yang paling utama dari hal-hal tersebut adalah bersyukur kepada Allah Taala. Banyak sekali ayat yang menyebutkan kaum-kaum yang dihancurkan lantaran mereka kufur kepada Allah Taala. Yaitu menutupi nikmat Allah Taala dengan mengingkarinya; bersikap seakan tidak mendapatkan nikmat; seakan apa yang didapatnya bukan pemberian dari Allah Taala; dan nikmat tersebut digunakan untuk melakukan maksiat.

Banyak ayat yang menyebutkan kisah kaum-kaum yang Allah Taala hancurkan lantaran sebab tersebut:

وَضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَداً مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللّهِ فَأَذَاقَهَا اللّه لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” [An-Nahl: 112]

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَن مِّن بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلاً وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ

“Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada didiami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. Dan Kami adalah pewarisnya.” [Al-Qashash: 58]

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ ذَلِكَ جَزَيْنَاهُم بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.  (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” [Saba’: 15]

Sunnatullah dalam mengubah keadaan ini menunjukkan keadilan Allah Taala; tidak menyiksa atau merampas nikmat tanpa alasan. Kaum-kaum tersebut menjadi sengsara karena memang telah melakukan kesalahan. Walaupun sebenarnya Allah Taala Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Bahkan dalam Surat Ar-Ra’du, ayat tentang sunnah perubahan itu disebutkan dalam konteks ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan Allah Taala.

Itu semua berkaitan dengan hilangnya nikmat. Hal yang sama juga berlaku dalam menghadirkan nikmat. Harta, kekuasaan, kemenangan, kebahagiaan, dan sebagainya. Semua itu akan Allah Taala berikan ketika seorang hamba layak.

Allah Taala hanya akan memberikan nikmat kepada orang yang layak mendapatkannya. Yaitu jika terdapat keyakinan, sifat, kebiasaan, akhlak, yang diridhai oleh Allah Taala, dan tidak membuat-Nya murka.

Baca juga:

Hal ini juga menunjukkan bahwa kebaikan harus diusahakan dengan dua macam usaha:

  • Usaha material, seperti: bekerja, belajar, berlatih, menyiapkan perlengkapan, dan sebagainya
  • Usaha yang bersifat immaterial, seperti: keimanan, keikhlasan, kesolehan, doa, tawakkal, mengharap surga, dan sebagaianya.

Para ulama juga memahami bahwa memperbaiki keadaan sebuah kaum juga bisa dengan menggunakan ayat ini. Bahwa perbaikan hendaknya dimulai dari “ما بأنفسهم” (apa yang ada di dalam jiwa).

Memperbaiki fenomena kerusakan di masyarakat, bangsa dan negara adalah hal yang sulit. Banyak sistem-sistem yang gagal menanggulanginya.

Sesuatu menjadi fenomena di masyarakat melalui proses panjang, yaitu:

  • Fenomena
  • Akhlak
  • Kebiasaan
  • Perbuatan
  • Niat
  • Keinginan
  • Lintasan pikiran

Mengubah fenomena, akhlak, kebiasaan, dan perubahan adalah hal yang sulit. Mengubah akan lebih mudah jika dimulai dari niat, keinginan, atau bahkan lintasan pikiran. Itulah bagaimana sunnatullah dalam mengubah keadaan. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda