SEJARAH

Kisah Asiya: Kehendak Allah Pasti Terwujud

kisah asiya kehendak Allah pasti terwujud
Allah Taala kirimkan ke istana mereka bayi yang akan menghancurkan mereka semua. Lucu, tanpa kekuatan, tak bisa mempertahankan diri.

mukjizat.co – Hidayah benar-benar ada di tangan Allah Taala. Diberikan-Nya kepada siapapun yang dikehendaki. Tidak ada yang bisa menghalangi mutlaknya kehendak Allah Taala. Salah satu bukti keyakinan ini adalah kisah yang terdapat dalam Al-Quran tentang seorang wanita shalihah bernama Asiya. Berikut kisah Asiya.

Rasulullah saw. bersabda: “Kesempurnaan banyak dicapai oleh kaum laki-laki. Tapi di kalangan perempuan, hanya Asiyah binti Muzahim, Maryam binti Imran, dan Khadijah binti Khuwailid.”

Masa kecil dihabiskan di pedalaman, di tepian sungai Nil yang dikelilingi wilayah yang hijau. Masa kecil yang indah, dihabiskan dengan bermain di alam bebas.

Ketika menginjak dewasa, ayahnya melarangnya bergaul bebas dengan teman-teman sebayanya. Padahal Asiyah tidaklah berbuat salah sehingga berhak dihukum.

Setelah bertanya, ibunya pun menjelaskan bahwa sudah berakhir masa anak-anak. Sekarang Asiya sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat menarik. Banyak pemuda yang datang ke rumah, meminta orangtuanya untuk bisa mempersunting Asiya.

Kisah Asiya. Saat itu, Mesir mempunyai hari raya bernama Wafa’u Al-Nil (Kesetiaan Nil). Nil adalah nadi kehidupan bagi negeri Mesir. Untuk menyambut hari raya ini, Mesir berhias diri, di rumah, jalan-jalan, pakaian, dan sebagainya.

Yang paling sibuk adalah para gadis. Mereka berhias untuk menjadi yang paling cantik sehingga dipilih menjadi ‘Arus An-Nil (Pengantin Nil), yang akan dikorbankan kepada sungai Nil, sehingga sungai itu meluapkan airnya. Mereka berkeyakinan hal itu menjadi jalan mereka masuk surga.

Pada hari itu, Asiyah menjadi gadis yang paling cantik. Tapi bukan dia yang dipilih menjadi pengantin Nil. Rupanya Fir’aun menaruh hati kepadanya.

Haman, salah seorang menteri Fir’aun mengumumkan bahwa hari raya diperpanjang untuk sekalian merayakan pernikahan Fir’aun dengan Asiyah.

Pernikahan dengan Fir’aun

Hiduplah Asiyah dalam kemewahan istana Fir’aun. View kamarnya adalah sungai Nil. Hawa sejuk bungan dan pepohonan di taman terhirup hingga ke kamarnya. Pendapatnya didengar; perintahnya ditaati; keinginannya dituruti.

Pernikahan ini bukanlah peristiwa terbesar dalam kehidupan Asiyah. Karena pernikahan dialami oleh setiap gadis. Karena peristiwa itu bahkan tidak disebutkan dalam Al-Qur’an.

Kisah Asiya. Awal sejarah Asiyah dimulai ketika sedang menikmati keindahan alam ciptaan Allah Taala, beliau teringat dengan satu harapannya yang belum tercapai, hadirnya buah hati.

Ketika beliau sedang mengkhayalkan bagaimana anaknya, jika dikaruniai, datangnya para dayangnya dengan membawa sebuah kotak yang mereka dapatkan terapung di sungai Nil. Terdapat bayi yang terlihat belum lama lahir:

  • Berwajah rupawan, penuh cahaya
  • Menyorotkan kewibawaan
  • Asiya langsung mencintainya (hal yang sama juga dialami oleh bidan Musa as.)

Asiya berkeyakinan bahwa Allah Taala mengabulkan keinginannya untuk mendapatkan keturunan.

Dalam waktu yang bersamaan, Fir’aun sudah menetapkan kebijakan membunuh semua anak kecil bangsa Bani Israil yang dilahirkan. Sudah 70-90 yang terbunuh.

Kekuasaan Allah Taala menolong Musa as.

Ketika mengetahui, Fir’aun ingin membunuhnya. Tapi Asiya menghalanginya dengan segala upaya.

وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“Dan berkatalah istri Firaun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” [Al-Qashash: 9].

Fir’aun dengan segala kekuasaannya membunuhi setiap bayi laki-laki Bani Israil yang lahir. Segala macam cara digunakan agar tidak ada satupun yang terselamatkan.

Sekarang, Allah Taala kirimkan ke istana mereka bayi yang akan menghancurkan mereka semua. Lucu, tanpa kekuatan, tak bisa mempertahankan diri. Tapi Allah Taala menyelamatkannya. Dan mereka tidak menyadarinya. Kisah Asiya.

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ

“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” [Al-Qashash: 8].

Allah Taala melindungi Musa dengan benteng cinta. Allah Taala tidak memerlukan kekuatan besar, hanya untuk melindungi Musa as. dari kekuasaan Fir’aun.

Kekuasaan Allah Taala juga yang telah mengembalikan Musa ke pangkuang ibunya. Musa as. tidak mau menyusu kepada siapa pun.

وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ

“dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu.” [Al-Qashash: 12].

Mereka pergi ke pasar untuk mencari wanita yang bisa menyusuinya. Mereka bertemu dengan saudara Musa as.

فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ

“maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” [Al-Qashash: 12].

Ibu Musa as. diminta tinggal di istana, tapi menolak. Akhirnya Musa as. dibawa pulang untuk dipelihara.

فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” [Al-Qashash: 13].

Musa Dewasa

Sejarah tidak mencatat berapa lama Musa as. bersama ibunya, bagaimana Musa as. kecil, dan bagaimana Fir’aun memperlakukan Musa as.

Sejarah kembali dimulai dengan kejadian Musa as. dituduh membunuh seorang Koptik. Fir’aun memerintahkan penangkapan Musa as. agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Kisah Asiya.

Asiya demikian mengkhawatirkan keselamatan anak angkatnya. Beliau baru merasa tenang ketika suami penyisir rambut (Masyithah) datang, mengabarkan bahwa telah bertemu dengan Musa as. dan mengarahkannya untuk melarikan diri.

قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

“Berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.” [Al-Qashash: 20].

Mulailah Asiya merasakan penderitaan berpisah dengan Musa as. selama bertahun-tahun. Tapi derita perpisahan tidak seberat derita kabar kematian. Kesedihan itu dia pasrahkan dengan berdoa kepada Allah Taala.

Sejarah juga mencatat bagaimana Musa as. dalam pengasingan selama lebih dari 10 tahun.

Dakwah Musa as. dan Harun as.

Di suatu hari Asiyah dikejutkan dengan kedatangan Musa as. yang langsung mendakwahi Fir’aun bersama saudaranya Harun.

إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى. إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَى مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى

“Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling”. [Thaha: 47-48].

Musa as. menjelaskan dengan penuh kelembutan.

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى. فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. [Thaha: 43-44]. Karena Fir’aun masih ayah angkatnya.

Fir’aun bertanya, siapa tuhanmu, kalau bukan aku? Mereka menjawab:

قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى. قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى

“Berkata Firaun: “Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa? Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” [Thaha: 49-50].

Mendengar penjelasan Musa as., Asiya bertambah iman kepada Allah Taala Beliau dari wanita penyisir istana hanya bisa berdoa agar Musa as. selamat dalam tantangan Fir’aun pada Yaumuz Zinah (hari raya mereka).

Silahkan baca juga:

Musa as. Mendapatkan Pertolongan Allah Taala

Pertolongan itu diawali dengan para penyihir Fir’aun sendiri yang beriman.

فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَى

“Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa.” [Thaha: 70].

Fir’aun pun marah besar dan mengancam mereka.

قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَى

“Berkata Firaun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.” [Thaha: 71].

Fir’aun mengancam akan segera membunuh Musa as.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

“Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” [Ghafir: 26].

Kisah Asiya. Asiyah sangat sedih dan takut, akhirnya suami penyisir istana berkata:

وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِنْ يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” [Ghafir: 28].

Nabi Musa as. mengetahui bahwa penyisir istana juga merupakan pengikut Musa as. Setelah penyisir istana ditanya tentang tuhannya, dia menjawab bahwa tuhannya adalah Allah Taala. Mereka semua dihukum bakar satu persatu.

Hal yang sama juga akhirnya dialami oleh Asiyah. Ketika dihukum dibawah matahari, para malaikat menaunginya. Dan dia melihat sebuah rumah di surga.

رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga.” [At-Tahrim: 11]

Silahkan baca juga:

Ketika dijatuhi batu besar, batu itu hanya menimpa tubuhnya yang sudah tidak ber-ruh.

وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.” [At-Tahrim: 11].

Demikianlah kisah Asiya yang menjadi bukti kekuasaan dan kehendak Allah Taala. Tidak ada yang bisa menghalangi ketika Allah Taala berkehendak. Bahkan istri Firaun pun menjadi Muslimah shalihah yang gugur dalam mempertahankan imannya. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda