KEJIWAAN

Kenapa Putus Asa Dekat Kekafiran?

kenapa putus asa dekat kekafiran
“Hidup penuh dengan bebatuan. Jangan mau jatuh, kumpulkan batu itu dan buatlah tangga yang menyampaikanmu kepada kesuksesan.”

mukjizat.co – Dikatakan bahwa putus asa sangat dekat dengan kekafiran. Putus asa adalah hilangnya harapan akan terjadinya sesuatu, kenapa dihubungkan kekafiran?

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf: 87].

Ketika kehilangan sesuatu, dan tidak ada kemampuan untuk mengembalikannya, akan ada perbedaan sikap yang diambil seorang Mukmin dan kafir.

Seorang mukmin tidak akan berputus asa, karena dia beriman bahwa Allah Taala akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dia akan berdoa dan meminta kepada Allah Taala

Orang kafir akan berputus asa, hilang harapan dari hatinya, melakukan kejahatan, bunuh diri dan sebagainya.

Kenapa itu bisa terjadi? Tidak lain adalah karena adanya iman yang memberikan harapan yang besar kepada Allah Taala sebagai pemberi rezeki.

Bagaimana kondisi hati seorang Mukmin? 

  • Meyakini bahwa harta dimiliki bukan karena usahanya, tapi karena ada unsur lain.
  • Percaya bahwa miliknya adalah pemberian Allah Taala. Allah Taala memiliki yang lebih banyak lagi, dan tidak terbatas.
  • Dia tidak mengandalkan kekuatan dirinya. Ketika tidak lagi bisa berusaha, diaa akan lari kepada Allah Taala.
  • Seperti orang yang kehilangan uang di kantongnya, dia tidak sedih. Karena masih ada andalan lain; dia masih punya di brankas di rumahnya. Santai saja.

Sedangkan orang kafir, yang tidak beriman kepada Allah Taala akan:

  • Meyakini bahwa harta dimiliki karena usahanya, tidak ada unsur lain.
  • Tidak meyakini bahwa hartanya adalah pemberian dari Allah Taala. Dia tidak tahu bahwa Allah Taala masih memiliki yang lebih banyak lagi.
  • Dia mengandalkan kekuatan dan kemampuannya saja. Ketika tidak bisa lagi berusaha, maka yang ada hanya putus asa.
  • Seperti orang yang kehilangan segala sesuatu. Tidak langsung tenang.

Selalu ada harapan adalah salah satu hikmah bersyukur kepada Allah Taala atas segala nikmat yang kita dapatkan. Sedangkan bersyukur adalah sifat orang yang beriman. Ketika seorang Mukmin bersyukur, maka yang terjadi dalam keyakinannya adalah:

  • Yang dia miliki adalah nikmat dari Allah Taala
  • Allah Taala Yang Kuasa memberi; Allah Taala juga kuasa mengambil.
  • Allah Taala mengambilnya pasti karena hikmah yang diinginkan-Nya. Maka yang bisa dilakukannya adalah berhusnuzhan (berkeyakinan baik(, sabar, ridha.
  • Husnuzhan, sabar, dan ridha adalah hal penting, karena hidup itu penuh dengan perubahan dan pergantian.
  • Orang yang beriman akan percaya adanya Sunnatullah: sebab-akibat yang bisa dipelajari, tapi juga ada kekuasaan Allah Taala yang tidak terbatas, tidak berketentuan, kadang sulit dipahami.

Orang yang berputus asa dihubungkan dengan kekafiran karena menjadikan kekuasaan Allah Taala sama dengan kekuasaan manusia. Ketika manusia tidak kuasa; Allah Taala juga tidak kuasa. Ini adalah keyakinan yang sangat berbahaya. Wajar jika putus asa dekat kekafiran.

Banyak kisah nyata dan perkataan orang-orang yang sangat memberikan harapan. Misalnya kisah Nabi Ya’kuq as. Beliau kehilangan anak yang sangat disayanginya, Yusuf as. Saat kehilangan yang kedua, beliau mengatakan:

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).  Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Yusuf: 83]

Nabi Zakaria as. yang sudah demikian renta, dan belum dikaruniai keturunan. Beliau tetap berkeyakinan kuat kepada Allah Taala, dan terus berdoa.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

“Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” [Maryam: 4]

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” [Ali Imran: 39].

Kisah taubatnya Fudhail bin Iyadh (‘abidul haramain). Awalnya adalah pencuri dan perampok. Kalau ada anak kecil menangis, akan diam kalau disebut kata Fudhail. Taubat ketika hendak mencuri.

Baca juga:

Abu Nawas: penyair minuman keras. “Biarkan masjid untuk orang-orang yang beribadah. Ayo kita pergi saja ke tempat minuman keras. Allah tidak mengatakan “celaka” kepada orang yang mabuk. Tapi Dia mengatakan “celaka” untuk orang yang shalat.” Sebelum meninggal, beliau menjadi seorang ‘Abid.

Orang bijak mengatakan, “Hidup penuh dengan bebatuan. Jangan mau jatuh, kumpulkan batu itu dan buatlah tangga yang menyampaikanmu kepada kesuksesan.” Demikianlah kenapa putus asa dekat kekafiran. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda