SEJARAH

Dinamika Dakwah Perubahan dalam Kisah Surat Al-Kahfi

Kisah surat Al-Kahfi
Mengubah kehidupan menjadi lebih baik bisa dilakukan dalam setiap kondisi. Indah sekali menyimak kandungan kisah-kisah berikut ini.

mukjizat.co – Melakukan perubahan pada kehidupan manusia adalah tugas para rasul “bangunlah, lalu berilah peringatan.” [Al-Muddatsir: 2]. Dakwah perubahan ternyata memiliki dinamika, kadang berkondisi lemah kadang kuat. Masing-masing ada tuntutan dan strateginya. Kisah Surat Al-Kahfi telah merangkum dinamika dakwah perubahan ini.

Mengubah kondisi manusia dilakukan setiap saat, dalam kondisi apa pun. Ayat perintah untuk memberi peringatan itu diterima dan dilaksanakan Rasulullah saw.:

  • 10 tahun sebelum kewajiban shalat
  • 15 tahun sebelum kewajiban zakat
  • 18 tahun sebelum kewajiban haji

Jadi dakwah perubahan yang dimaksud adalah perubahan dari kondisi buruk, menjadi kondisi baik, menjadi kondisi lebih baik.

Kisah-kisah dalam Surat Al-Kahfi itu adalah:

  • Kisah Ashabul Kahfi
  • Kisah dua orang kawan
  • Kisah Nabi Musa as. dan Khidir
  • Kisah Zulkarnain

Dalam tiga kisah di atas ada konflik terkait dakwah perubahan, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah dua orang kawan, dan kisah Zulkarnain. Sedangkan satu kisah lainnya menyebutkan sebuah kerja sama dalam dakwah mewujudkan kebaikan.

Terdapat di dalam Surat Al-Kahfi yang disunnahkan dibaca pada hari Jumat bersamaan dengan Surat Jumah yang berisi suksesi (perubahan dan peralihan kekuasaan) kepada umat Islam.

Ashabul Kahfi, Ketika Kebenaran Tertindas

Setting kisah Surat Al-Kahfi yang satu ini menggambarkan kondisi saat kebenaran: lemah, terzalimi, dimusuhi, ditindas.

Sedangkan kebatilan: kuat, zalim, congkak, berkuasa, memusuhi agama dan segala usaha memperjuangkannya.

Sekelompok pemuda mukmin yang mendapatkan ancaman pembunuhan jika tidak kembali kepada agama penguasa:

إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” [Al-Kahfi: 20].

Cara yang tepat untuk melakukan dakwah perubahan kondisi ini adalah:

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka.” [Al-Kahfi: 16]

وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا

“dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun.” [Al-Kahfi: 19].

Inilah yang juga dialami dan dilakukan Rasulullah saw.

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu.” [Al-Anfaal: 26]

كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang.” [An-Nisaa: 77].

Ketika Sumayyah ra. dan Yasir ra. terbunuh dengan cara sangat keji, sikap Rasulullah saw. hanya, “Bersabarlah kalian keluarga Yasir, karena pertemuan kita nanti di surga.” Tergambar betapa tertindasnya umat Islam, dan tidak melakukan banyak hal.

Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash terburu-buru dengan membalas keburukan Quraisy, Rasulullah saw. berkata, “Kita belum diperintahkan untuk itu.”

Lalu ketika dapat dilakukan perubahan kondisi, strategi ini pun berubah. “Rasulullah saw. mengerahkan pasukan ke suku Yahudi Qainuqa’ lantaran ada wanita Muslimah yang disingkap pakaiannya oleh Yahudi tersebut.”

Karena sudah ada:

  • Negara dan kekuatan, yang akan semakin gagah ketika bisa melindungi warga.
  • Mekanisme hukum yang bisa ditempuh.
  • Jumlah pengikut yang banyak.

Hal yang sangat kontras bisa kita rasakan. Saat Sumayah ra. dibunuh dengan menusuk auratnya, Rasulullah saw. hanya diam. Tapi ketika seorang Muslimah tersingkap auratnya, Rasulullah saw. mengerahkan pasukan. Inilah sisi penting kenapa dakwah perubahan harus memiliki kekuatan dan kekuasaan.

Kisah dua kawan; Masa Kesetaraan dan Keterbukaan

Setting kisah Surat Al-Kahfi kali ini adalah ketika kebenaran dan kebatilan berada dalam kondisi setara dalam hal kekuasaan; tidak ada satu di antara mereka berkuasa atas yang lain. Walaupun ada perbedaan dalam hal kekayaan materi.

Dua orang kawan boleh berbeda dalam hal pilihan keimanan dan kekafiran. Yang satu beriman kepada Allah Taala dan Hari Akhir.

Sementara lainnya menyatakan kekafirannya.

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا. وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا.

“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, 18:36. dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.” [Al-Kahfi: 35-36].

Maka yang digunakan dalam situasi seperti ini adalah berdialog dalam kesetaraan.

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” [Al-Kahfi: 37].

Bukan menghindar, dan bukan juga melakukan kekerasan, tapi berdialog.

Strategi perubahan seperti ini berlaku saat ada kesetaraan antar rekan, organisasi, negara, dan sebagainya. Harus berbentuk dialog, ajakan damai, dan segala perangkat yang konstitusional.

  • Tidak tepat jika ada organisasi rahasia.
  • Dakwah harus terbuka sehingga siap melakukan interaksi dan dialog dengan obyek perubahan.
  • Bahkan di negara non-muslim yang menjamin hak-hak sipil.
  • Pelaku perubahan harus hidup berbaur dalam membangun masyarakat.

Karena itu, terjadi juga penggantian strategi dakwah rahasia kepada dakwah terbuka dilakukan Rasulullah saw.

  • Hijrah ke Habasyah. Walaupun berada di negeri non Muslim, para sahabat mendapatkan perlakuan yang sama. Bahkan mereka diberi kesempatan untuk berdialog.
  • Berdialog dengan berbagai suku dan kerajaan di sekitar Jazirah setelah Perjanjian Hudaibiyah. Tidak ada perang, dan ada jaminan keamanan, sehingga Rasulullah saw. berkesempatan untuk memperluas dakwah Islam dengan cara mengirimkan utusan dan surat ke negara-negara kawasan.

Kisah Zulkarnain; Ketika Kebenaran Dilindungi Kekuasaan

Setting kisah Surat Al-Kahfi berikutnya adalah saat kekuatan politik yang dibangun oleh pengusung kebenaran sudah sangat optimal. Hal itu ditandai dengan:

Kebenaran memiliki semua bentuk kekuatan yang diperlukan:

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” [Al-Kahfi: 84].

Lalu menggunakan semua kekuatan ini sebagai sarana untuk perubahan di berbagai wilayah yang berjauhan.

فَأَتْبَعَ سَبَبًا

“maka dia pun menempuh suatu jalan.” [Al-Kahfi: 85]

Tujuannya adalah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا. وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا.

“Berkata Zulkarnain, “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.

Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” [Al-Kahfi: 87-88].

Ketika ada kezaliman dilakukan sebuah bangsa kepada bangsa lain, solusinya bukan lagi sekadar dialog, tapi:

فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ

“maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat).” [Al-Kahfi: 95].

  • Kekuatan materi, ilmu, keputusan, teknologi, pembangunan, perlindungan, dan sebagainya dikerahkan untuk menundukkan kekuatan kezaliman.
  • Semua itu bisa dilakukan karena kekuasaan sudah berada di tangan orang yang baik.
  • Keadilan akan dirasakan semua orang tanpa pandang agama, warna kulit, ras, dan kedudukan mereka. Hanya karena mereka adalah manusia “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” [Al-Israa: 70].

Inilah yang dilakukan Rasulullah saw. setelah Perang Ahzab:

  • “Sekarang kita yang memerangi mereka, bukan mereka yang memerangi mereka. Kita akan mendatangi mereka.” [Bukhari].
  • Menghukum orang-orang Yahudi yang berkhianat kepada negara.
  • “Pergilah, kalian bebas.” [Sirah Ibnu Hisyam]. Dikatakan kepada orang-orang Mekah saat pembukaannya.

Salah jika negara-negara Islam saat ini tidak membangun kekuatan dan terus-menerus menjadi bangsa lemah yang tidak bisa berkehendak.

Jika penguasa bersikap adil dalam memimpin, tidak akan ada gerakan rahasia. Gerakan rahasia sangat berbahaya, karena kita tidak tahu:

  • Doktrin yang ditanamkan
  • Tingkat kebencian mereka kepada pihak lain
  • Bentuk perubahan yang mereka inginkan
  • Ukuran kekuatan mereka
  • Rencana mereka.

Silahkan baca juga:

Bagi dakwah perubahan, dalam kondisi normal semua usaha perubahan harus bersifat konstitusional, seperti:

  • Mendirikan organisasi
  • Mendirikan partai
  • Berdemonstrasi damai
  • Memanfaatkan jalur peradilan
  • Dakwah secara terbuka
  • “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [An-Nahl: 125]
  • “Sesungguhnya kelembutan yang dilakukan pada semua hal pasti akan membuatnya indah, dan jika dicabut dari apapun pasti akan membuatnya buruk.” [Muslim].
  • Mencari sarana terbaik untuk menyebarkan dakwah kebenaran.
  • Sama sekali tidak diperkenankan menggunakan kekerasan.

Demikianlah perubahan harus terus dilakukan dalam dinamika. Dalam kondisi apapun. Karena perubahan yang dituntut tidaklah sama. Ada masa-masa dakwah lemah, dan ada masa-masa dakwah kuat dan dilindungi kekuasaan. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda