SYARIAH

Perbedaan dan Perpecahan dalam Islam

Perbedaan dan perpecahan
“Orang yang tidak mengakui perbedaan ulama sejatinya dia belum mencium baunya ilmu fikih.”

mukjizat.co – Sering terjadi perpecahan dalam tubuh umat hanya karena perbedaan yang tidak prinsipil. Sebenarnya apa yang harus kita lakukan untuk menyikapi perbedaan dan perpecahan ini?

Perbedaan pendapat tidak mungkin dihindari. Maka tidak boleh menjadi penyebab perpecahan. Perbedaan paham dalam masalah-masalah furu’ (cabang dan tidak prinsipil) hendaklah tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan, dan tidak melahirkan kebencian.

Setiap mujtahid akan mendapatkan pahala masing-masing ketika berijtihad dan mengeluarkan pendapat yang berbeda. Kita harus menghargai setiap orang yang berpendapat, selama masih menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan.

Namun demikian tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang obyektif dalam persoalan-persoalan khilafiyah, dalam suasana saling mencintai karena Allah, dan tolong-menolong untuk mencapai kebenaran yang hakiki.

Studi tersebut tidak boleh menyeret pada debat yang tercela dan fanatik buta. Kita hendaknya berusaha mencari titik temu, dan tetap menjaga kecintaan pada saudara seiman. Sebab pendapat yang kita ambil belum tentu benar, tapi membenci saudara itu jelas salah.

Pemahaman yang Baik Menguatkan Persatuan

Persatuan umat Islam ternyata tidak hanya bisa diupayakan dengan meningkatkan ukhuwah Islamiyah. Namun pondasinya yang tak kalah penting adalah adanya pemamahan yang baik terhadap ajaran agama Islam. Seorang ulama mengatakan:

الفهم الدقيق يؤلف القلوب ويوحد الصفوف ويعالج النفوس

“Pemahaman yang detail dan baik akan bisa menautkan hati, menyatukan barisan, dan mengobati jiwa.”

Dengan memiliki pemahaman yang baik, umat Islam akan menyikapi perbedaan dengan baik. Hasilnya, hubungan dan cinta dengan sesama Muslim akan bertambah baik. Kondisi ini tentu akan membuat umat Islam semakin kuat. Karena itulah Allah Taala berfirman:

وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” [Al-Anfal: 46].

Perbedaan dan perpecahan tidaklah sama. Perbedaan yang disertai dengan berbantah-bantahan akan menyebabkan perpecahan. Karena dilakukan bukan dengan dasar itikad baik untuk mencapai kebenaran. Tapi untuk memenangkan eksistensi diri sendiri.

Harus Memaklumi Perbedaan

Banyak sekali perbedaan yang harus diakui dan dimaklumi (khilaf muktabar). Perbedaan itu bahkan berasal dari pemahaman para ulama yang berbeda. Walaupun teks dalilnya adalah sama, yaitu berasal dari Al-Quran dan hadits.

Ada beberapa macam hukum dalam Al-Quran. Bukan hanya satu macam. Ada yang boleh berbeda, ada yang tidak boleh berbeda.

Pertama, hukum yang disebutkan secara eksplisit, lugas dan jelas. Ini bukan wilayah ijtihad para ulama. Para ulama tidak boleh berijtihad, sehingga tidak boleh juga ada perbedaan pendapat dalam hukum masalah-masalah ini.

Kedua, hukum yang disebutkan Al-Quran secara global, lalu dijelaskan oleh Sunnah. Hukum ini mengandung maqashid syariah dan kaidah umum syariah. Hukum seperti ini bisa menjadi wilayah ijtihad para ulama. Adanya hukum seperti ini sangat penting bagi keberlanjutan syariah sepanjang masa.

Dari jenis ini ada yang kemudian disepakati para ulama secara mutawatir, sehingga menjadi IJMA’, dan itu bukan wilayah ijtihad para ulama, sehingga tidak boleh berbeda.

Ada yang tidak disepakati para ulama, sehingga wilayah ijtihad dan boleh berbeda. Syariah yang bersifat umum (untuk semua manusia), dan abadi (untuk semua zaman) tidak mungkin menjelaskan dengan pasti segala hal di awal turunnya.

Hukum-hukum itu akan muncul bersamaan dengan perkembangan zaman dan permasalahannya. Karena itulah, di awal Islam hukum-hukum itu turun  dalam bentuk global, lebih menekankan maqashid syariah dan kaidah umum. Dengan demikian relevansi syariah Islam akan abadi selamanya.

Ketiga, Hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Quran, tapi disebutkan oleh Rasulullah saw. Hal ini masuk dalam maksud ayat:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

“Dan taatilah Allah, dan taatilah Rasulullah.” [At-Taghabun: 12].

Misalnya pengharaman keledai, Muslim tidak dihukum mati karena membunuh kafir, pengharaman emas dan sutera bagi kaum laki-laki, dsb.

Jangan Khawatir dengan Perbedaan

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi perbedaan dalam masalah-masalah pokok (ushul), dan hal yang wajib diyakini.

Hukum-hukum yang termaktub dalam dalil-dalil dengan teks qath’i wajib ditaati oleh umat Islam. Hal itu biasanya berupa akhlak-akhlak pokok, dan keburukan-keburukan pokok.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan, “Seandainya Allah Taala menginginkan seluruh manusia mempunyai satu pemahaman, maka pasti semua ayat akan muhkamat dan qath’iyat (bukan mutasyabihat dan zhaniyat). Penyatuan pemahaman hanya akan menimbulkan kesulitan yang besar bagi manusia, mengebiri akal, dan tidak bisa menghadapi masalah baru yang terus bermunculan.”

Oleh karena itu tidak perlu khawatir dengan adanya perbedaan di kalangan umat Islam. Seorang ulama mengatakan, “Aturan yang tidak akan berubah disebutkan terperinci. Aturan yang akan berubah disebutkan secara global.”

Jangan samakan antara perbedaan dan perpecahan. Jadi sudah ada pemilahan antara masalah-masalah yang boleh berbeda pendapat dan masalah-masalah yang tidak boleh. Para ulama hanya berbeda pendapat dalam masalah-masalah yang diperbolehkan.

Masalah-masalah yang memungkinkan terjadinya perpecahan tidak diperbolehkan berbeda pendapat. Dalil-dalilnya pasti disebutkan dengan bentuk yang qath’I (pasti) baik terkait dengan validitas keshahihan dalilnya maupun terkait pemahamannya. Maka berbeda pendapat dalam masalah-masalah ini berarti telah berbeda agama. Kelompoknya dinamakan firqah. Allah Taala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka.” [Al-An’am: 159]

Sedangkan masalah-masalah lain disebutkan dengan bentuk yang memungkinkan terjadi pemahaman yang berbeda di kalangan para ulama, sehingga terbentuklah perbedaan pendapat untuk mendatangkan kemudahan. Dari sini bermunculanlah mazhab-mazhab fikih dan akidah.

Kata Para Ulama Salaf Tentang Perbedaan

“Aku tidak mau para sahabat tidak berbeda pendapat. Karena kalau mereka sepakat, berbeda dengan mereka adalah sesat. Kalau mereka berbeda, kita bisa memilih.” (Umar bin Abdulaziz)

“Perbedaan adalah keluasan.” (Ahmad bin Hanbal)

“Ulama adalah orang yang memberi keluasan dan kemudahan. Maka para mufti pun berbeda, ada yang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan mufti lain. Tapi mereka tidak saling mencela.” (Yahya bin Said)

“Perbedaan pendapat para ulama menjadi rahmat bagi umat.” (Asy-Syathibi)

“Tidak boleh melarang orang memilih pendapat tertentu dalam hukum yang diperselisihkan. Tapi menganjurkannya dengan cara yang baik dan lembut untuk keluar dari perbedaan adalah tindakan yang baik.” (An-Nawawi)

“Orang yang tidak mengakui perbedaan ulama sejatinya dia belum mencium baunya ilmu fikih.” (Ulama fikih)

“Orang yang paling berilmu adalah orang yang paling mengetahui perbedaan kondisi orang-orang. Karena dengan melihat sebuah masalah dari seluruh sudutnya lebih memudahkan untuk tepat dalam menghukuminya benar atau salah.” (Abu Hanifah)

“Semua masalah yang menjadi wilayah ijtihad tidak bisa menjadi wilayah amar makruf nahi munkar.” (Al-Ghazali)

Sebab Perbedaan dalam Al-Quran

Banyak sekali sebab munculnya perbedaan yang terdapat di dalam Al-Quran. Misalnya:

  • Ayat-ayat yang terlihat bertentangan, lalu ulama berbeda pendapat dalam menyatukannya.
  • Ayat yang menggunakan lafaz bermakna musytarak (mengandung lebih dari satu makna).
  • Ayat dipahami secara harfiah, atau secara maqashidiyah.
  • Ayat yang dipahami zhahirnya, atau dipahami dengan melihat penjelasnya oleh ayat lain.
  • Ayat yang menggunakan bahasa yang bisa dipahami berbeda.

Sebab Perbedaan dalam Sunnah

Demikian juga dalam Sunnah, banyak sekali sebab yang memunculkan perbedaan dalam memahami. Di antaranya:

  • Karena ada ulama yang tidak mendengar atau mengetahui sebuah hadits.
  • Karena ada ulama yang menolak sebuah hadits lantaran kedhaifannya.
  • Karena ada ulama yang tidak mengetahui bahwa sebuah hadits sudah mansukh.
  • Karena ada ulama yang tidak mengetahui bahwa sebuah hadits telah bertentangan dengan hadits lain yang lebih kuat.
  • Perubahan kondisi dan waktu.
  • Perbedaan memahami hadits yang telah disepakati keshahihannya.

Perbedaan Sudah Ada Sejak Zaman Sahabat

Perbedaan dan perpecahan tidaklah sama. Para ulama berbeda, tapi mereka tidak berpecah. Perbedaan pendapat sama sekali tidak menunjukkan berkurangnya keimanan. Terbukti bahwa perbedaan pendapat sudah ada sejak zaman sahabat. Mereka sering berbeda pendapat dalam menghadapi masalah baru.

  • Berpegang pada Al-Quran dan As-Sunnah.
  • Jika tidak didapatkan, berijtihad dalam naungan Al-Quran dan As-Sunnah.
  • Kadang hasil ijtihad itu disepakati semua sahabat, sehingga menjadi ijmak yang harus diikuti seluruh umat Islam.
  • Lebih sering hasil ijtihad tidak disepakati, sehingga dalam masalah tersebut terdapat banyak pendapat yang memungkinkan terbukanya pilihan-pilihan.

Silahkan baca juga:

Namun demikian, ada perbedaan yang tidak dibolehkan. Yaitu perbedaan yang disebutkan dalam ayat dan hadits berikut ini:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” [Ali Imran: 105].

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka.” [Al-An’am: 159]

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” [Al-An’am: 153].

Kesimpulannya, kita tidak harus menghormati adanya perbedaan, dan tidak perlu merasa khawatir dengan itu. Beda antara perbedaan dan perpecahan. Karena perbedaan yang akan menyebabkan perpecahan adalah perbedaan dalam hal yang tidak boleh berbeda. Juga perbedaan yang dilakukan dengan niatan yang buruk, dan tidak disertai dengan pengetahuan yang utuh dalam masalah yang diperselisihkan.  (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda