BUAH HATI

Agar Bisa Ridha Saat Harus Berpisah

agar bisa ridha saat harus berpisah
Jika seorang hamba mengetahui dan meyakini bahwa sesuatu yang buruk bisa mendatangkan kebaikan, dan sebaliknya sesuatu yang baik bisa mendatangkan keburukan, tentu dia tidak akan merasa aman bila mendapatkan sesuatu yang baik, dan tidak akan berputus asa dan bersedih bila mendapatkan sesuatu yang buruk.

mukjizat.co – Di musim pandemi Covid 19, sangat sering kita mendengar kabar duka. Lalu apa yang harus kita lakukan agar bisa ridha saat harus berpisah dengan pasangan hidup kita, saudara, kenalan, rekan kerja, atau teman sekolah dulu, yang mendahului kita dengan cara yang sangat mengejutkan dan menyedihkan?

Berumur Panjang Pun Tetap Ada Ajalnya

Sebagai seorang Mukmin yang beriman kepada Hari Akhir, tentunya kita akan lebih mudah menerima kenyataan wafatnya seseorang. Karena memang sudah diatur sedemikian. Kehidupan itu mencakup empat alam: alam sebelum kelahiran, alam dunia yang berfungsi untuk beramal, lalu alam barzakh untuk penantian, dan terakhir yang kekal selamanya alam akhirat untuk pembalasan.

Sekarang kita sampai pada tahap kedua, yaitu alam dunia. Tugas kita adalah beramal sebanyak-banyaknya dengan ikhlas. Setelah itu, kita masuk ke alam berikutnya dengan kematian. Masuk ke alam barzakh. Menunggu semua manusia dan makhluk lainnya mati. Karena kematian adalah kiamat kecil, dan kiamat besarnya nanti saat semua manusia mati dengan hancurnya alam semesta. Akhirat adalah alam untuk pembalasan; baik dan buruk, surga dan neraka. Ini harus kita sadari agar bisa ridha saat harus berpisah.

Dunia Tidak Dapat Menampung Pahala

Pembalasan secara adil dan sempurna memang hanya bisa dilakukan di alam akhirat nanti. Alam dunia tidak cukup untuk menampung pahala dan siksaan untuk manusia. Coba kita renungkan bersama bagaimana Rasulullah saw. menjelaskan masalah pahala ini.

  • Pahala membaca alhamdulillah saat mendapatkan nikmat adalah lebih mahal dari dunia dan segala isinya;
  • Pahala sekali membaca tasbih adalah ditanamnya pohon di surga yang lebar naungan daunnya tidak habis dicapai oleh burung yang terbang dari awal dilahirkan sampai saat dimatikan;
  • Pahala shalat dua rakaat sebelum subuh seperti dunia dengan segala isinya;
  • Di akhirat seorang Muslim juga bisa dinikahkan dengan 70 bidadari;
  • Pelum lagi pahala orang yang melakukan shalat tahajjud, pahalanya tidak disebutkan tapi disimpan Allah Taala untuk sebuah kejutan di akhirat nanti;

Rasulullah saw. juga bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan (akhirat kelak), dan disenangi oleh Allah Taala: SubahanAllah wabihamdihi subhanallahil ‘Azhim.” Perbuatan yang mudah dan ringan kita lakukan di dunia, ternyata di akhirat nanti sangat besar pahalanya.

Dijelaskan juga bahwa serendah-rendahnya derajat di surga adalah surga yang luasnya seperti dunia dan segala isinya. Wah, itu serendah-rendahnya, padahal di surga tingkatan-tingkatanya banyak sekali. Misalnya untuk para mujahid di jalan Allah Taala disediakan 100 tingkatan. Belum lagi derajat surga para nabi. Pokoknya, dunia ini tidak akan cukup menampung tabungan pahala orang Mukmin. Karena besar dan banyaknya.

Sudah begitu, sudah berapa ribu kali kita membaca tasbih? Berapa kali kita shalat dua rakaat sebelum subuh? Berapa kali kita membaca alhamdulillah? Hingga akhirnya sudah berapa banyak dunia dengan segala isinya yang menjadi tabungan pahala orang yang beriman? Tidak akan terbayang sama sekali bagaimana besarnya akhirat. Semua ini perlu kita yakini agar bisa ridha saat harus berpisah.

Pahala Amalan Batin Lebih Besar Lagi

Itu semua adalah ibadah lahir (badan) kita. Sedangkan kata para ulama, ibadah batin (hati) kita itu lebih utama dan lebih banyak pahalanya. Bahkan berlipat-lipat pahalanya. Ibadah batin adalah perasaan-perasaan hati yang baik.

Misalnya sabar, husnuzhan kepada Allah Taala, ridha kepada Allah Taala, menyadari bahwa Allah Taala senantiasa melihat dan memperhatikan kita, meyakini kebesaran dan keagungan Allah Taala, yakin dengan janji Allah Taala, berharapan besar pada ampunan dan rahmat Allah Taala, dan sebagainya. Itu semua adalah amalan batin, dan masih banyak yang lain.

Pernahkah terbayang dalam benak kita ada orang yang belum shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya masuk surga? Ternyata ada. Dia adalah seorang sahabat yang baru masuk Islam, kemudian turut berjihad, dan kemudian mati syahid di medan perang. Ada beberapa orang yang seperti itu. Mereka itu masuk surga, padahal belum pernah shalat, zakat, apalagi haji. Itu karena Allah Taala sangat mengutamakan amalan batin para hamba Nya.

Orang yang baru masuk Islam itu, di hatinya terdapat keyakinan yang sangat kuat bahwa Allah Taala itu Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan sebagainya. Keyakinan tersebut membawanya untuk bisa meninggalkan agama yang telah dipeluknya sejak lama, kemudian beriman kepada Allah Taala Ketika seseorang mati membawa keyakinan seperti itu, Allah Taala akan memasukkannya ke dalam surga.

Jadi, semakin hati-hati kita menjaga hati ini, dan menyuburkannya dengan perasaan-perasaan yang baik, semakin banyak lagi tabungan pahala kita di surga, selain pahala dari amal-amal badan kita.

Untuk menambah keyakinan kita juga, ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa Allah Taala memiliki 100 rahmat. Dari 100 ini, yang diturunkan ke bumi bari satu rahmat saja. Dengan satu rahmat itulah, manusia, jin dan hewan saling berkasih sayang. Nabi menyayangi kaumnya, ibu bapak menyayangi anaknya, induk hewan menyayangi anak-anaknya, demikian juga jin, semenjak bumi ini ada, dan sampai hari kiamat.

Hanya dengan satu rahmat Allah Taala saja mereka berkasih sayang. Sisanya, yang 99, Allah Taala simpan untuk Hari Akhirat bagi orang Muslim yang mendapatkan perlindungan dan masuk surga saja. Bisa dibayangkan betapa besar kasih sayang Allah Taala kepada orang Muslim di akhirat nanti. Jadi sangat merugi orang yang hanya terpaku dengan kehidupan dunia saja.

Syaratnya, Keridhaan

Tapi, semua itu juga akan bisa dengan mudah hilang tanpa bekas, karena memang banyak sekali penggugur pahala. Kalau kita tidak ikhlas beramal, misalnya dengan riya’, ingin disebut-sebut orang, pahala amalan kita akan hilang. Amalan juga bisa hilang kalau ada perubahan dalam keimanan kita.

Seandainya ada keraguan-raguan dalam iman kita, dikhawatirkan semua itu akan hilang. Sementara cakupan sangat banyak. Di antaranya juga iman dengan qadha dan qadar (takdir). Kehendak Allah Taala yang terwujud dalam peristiwa-peristiwa yang kita alami, harus diterima dengan ridha, sabar, dan meyakini bahwa itu adalah yang terbaik untuk kita. Agar bisa ridha saat harus berpisah.

Sungguh Maha Pengasih dan Penyayang Allah Taala, Tuhan kita. Akankah kita tidak ridha dengan segala kehendak-Nya? Bisakah kita bersabar sebentar, untuk mendapatkan pahala dan keutamaan yang begitu agung di Sisi-Nya? Semoga kita selalu diberi taufiq dan hidayah-Nya. Karena sangat merugi orang yang sudah mengetahui amalan yang ringan dengan pahala yang amat besar, tapi kita tidak mau, atau enggan, atau sering terlupa melaksanakannya. Na’uzubillahi min Zalik.

Sabar Nabi Ya’kub Tanpa Batas

Kesabaran seorang Mukmin dalam menghadapi ujian akan teruji, jika dia banyak beribadah tapi tetap saja mendapat kesengsaraan dalam hidup. Jika dalam kondisi seperti itu dia masih istiqamah, maka dia adalah orang yang sabar dan ridha dalam menghadapi cobaan.

Seberat apapun cobaan, dia tetap istiqamah, karena dia yakin bahwa Allah Taala lah yang Maha Mengetahui apa yang baik dan membawa mashalahat bagi hamba-Nya. Atau karena dia tahu bahwa tujuan Allah Taala menurunkan cobaan adalah untuk melihat kesabaran hamba-Nya. Jika dia sabar, maka dia lulus. Sebaliknya, jika tidak sabar, berarti dia gagal.

Orang yang banyak beribadah, lalu berharap mendapatkan hidup yang enak, maka seakan hidup yang enak itu adalah upah dari ketaatannya selama ini. Apakah kita rela upah ibadah kita hanya didapat di dunia, sedangkan akhirat yang demikian besarnya kita tinggalkan?

Agar bisa ridha saat harus berpisah, marilah kita meneladani nabi Ya’kub yang hidup tersiksa karena kehilangan Nabi Yusuf lebih dari 80 tahun? Tapi setelah sekian lama beliau berdoa, Allah Taala malah mengambil satu lagi anaknya, yaitu Benyamin. Ternyata beliau tetap bersabar dan berkeyakinan baik kepada Allah Taala.

Allah Taala berfirman:

“Apakah kalian menyangka bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan berbagai macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankan datangnya pertolongan Allah Taala itu?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah Taala itu amat dekat.” [Al-Baqarah: 214].

“Katakalah hai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah Taala adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (tanpa hitungan).” [Az-Zumar: 10].

Rasa Sakitnya Takkan Lama

Agar bisa ridha saat harus berpisah, hendaknya seorang Mukmin tidak bersedih hati saat ditimpa musibah, walaupun perasaan memang sesuatu yang sangat sulit dikendalikan. Tapi hendaknya dia tetap bersabar. Karena dengan sabar, dia bisa mendapat pahala kesabaran, dan kesabaran adalah tanda keridhaan dengan takdir Allah Taala.

Hendaknya dia menyakini bahwa penderitaan dunia ini ada batasnya. Sebentar saja, rasa derita itu akan hilang. Lihatlah orang yang baru sembuh dari sakit, apakah setelah dia sehat akan merasa bahwa penderitaannya itu panjang? Dia pasti merasakan bahwa penderitaannya sebentar saja. Karena nikmat sehat ternyata lebih panjang.

Sekarang, jika sabar, selain derita itu sudah tidak dirasa lagi, dia pun mendapat pahala karena sabar. Untung dua kali. Berbeda dengan enaknya melakukan maksiat yang hanya sebentar saja. Lalu setelah selesai, habislah rasa enak itu, sedangkan dosa dan penyesalannya tetap melekat.

Hikmah yang Pasti, Tapi Sulit Dipercaya

Banyak orang yang tidak bisa sabar dalam menerima takdir. Ada yang karena imannya agak lemah, hingga dia menyambut takdir itu dengan protes. Ada juga yang karena sangat lemah imannya, sehingga dia mengingkari adanya hikmah di balik semua yang terjadi.

Bukankah Allah Taala adalah Tuhan yang memiliki segala sesuatu yang ada di atas bumi ini? Zat yang memiliki sesuatu tentu bebas melakukan apa saja pada barang milik-Nya. Bukankah Allah Taala adalah Tuhan yang Maha Bijaksana? Segala kehendak dan keputusan Zat yang Maha Bijaksana pasti mengandung hikmah. Karena Nama Al-Hakim (Maha Bijaksana) berasal dari kata hikmah.

Ingatlah peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Nabi Musa as. bersama Nabi Khidir as. Pikiran Nabi Musa as. yang terlalu cepat mengambil kesimpulan dan terkondisi oleh peristiwa di depannya, telah membuat beliau menganggap bahwa perbuatan Nabi Khidir as. itu salah dan tidak mengandung hikmah. Peristiwa-peristiwa merusak perahu yang sedang dinaiki, membunuh anak kecil, dan memperbaiki rumah roboh tanpa upah, tentu tidak bisa diterima kebenarannya oleh otak biasa jika tanpa iman.

Tapi bukankah setelah diterangkan, Nabi Musa as. langsung menyadari kekeliruannya? Di kemudian hari, baru diketahui ternyata semua peristiwa itu mengandung hikmah. Perahu itu adalah punya anak yatim, dirusak agar tidak dirampok. Anak kecil itu dibunuh adalah akan merusak iman orang tuanya. Tembok yang miring itu ditakutkan akan menutupi harta warisan anak yatim yang orang tuanya adalah orang salih. Hendaknya sikap kita terhadap takdir Allah Taala seperti sikap Nabi Musa as. yang akhirnya menyadari kekeliruannya dan mengakui bahwa semua takdir Allah Taala mengandung hikmah.

Perhatikanlah saat kita makan. Bila kita makan, tubuh kita akan tumbuh dan terjaga kesehatannya. Tapi apa sebenarnya yang terjadi? Kita tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi. Bukankah yang kita ketahui hanyalah kita makan makanan yang enak di lidah kita, lalu kita merasa kenyang? Kita sama sekali tidak mengetahui detail proses makanan itu bisa berfungsi bagi tubuh kita. Maka yakinlah bahwa segala peristiwa yang kita jalani mempunyai aspek lahir dan batin. Lahir yang kita ketahui, dan batin yang tidak kita ketahui.

Mungkin ketika melihat makanan yang enak, tanpa banyak pertimbangan kita langsung menyantapnya, dan tanpa kita ketahui, ternyata tubuh kita jadi sehat. Padahal kita tidak banyak mempertimbangkan apakah ada faedahnya bagi tubuh kita atau tidak.

Tapi untuk meminum obat, kita masih butuh keyakinan bahwa minuman yang sangat pahit ini memang berguna bagi kesehatan kita. Padahal jelas-jelas, minuman itu mengandung faedah yang sangat besar untuk tubuh kita, tapi kita sangat sulit menghadirkan keyakinan itu. Musibah dan cobaan itu tak ada bedanya dengan obat. Karena pahitnya, kadang kita kesusahan untuk yakin bahwa dia bermanfaat untuk kita. Maka yakinlah bahwa cobaan itu adalah ada demi kebaikan dan kemaslahatan kita, agar bisa ridha saat harus berpisah.

Menabung Kesedihan

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa setiap kali seorang Muslim berdoa, Allah Taala pasti mengabulkan. Tapi pengkabulannya itu mengambil beberapa bentuk. Bisa dalam bentuk pengkabulan yang cepat, diterlambatkan, atau disimpan untuk diberikan di akhirat kelak.

Setelah melihat kenyataan di akhirat kelak, setiap hamba pasti menyesal. Dia ingin seandainya saja semua doa yang diucapkannya dulu tidak dikabulkan di dunia. Karena dia mendapati bahwa semua permintaan yang telah dikabulkan di dunia telah dihabiskan di dunia. Sedangkan yang didapati sekarang adalah doa-doa yang disimpan pengkabulannya oleh Allah Taala, yang dulu kita duga tidak dikabulkan dan sempat kita sesali.

Maka, penderitaan berupa banyaknya keinginan hati yang tidak tercapai, jika kita menerimanya dengan penuh keridhaan, kita akan mendapatkan gantinya di akhirat. Tidak hanya itu, kita juga akan menyesal, kenapa dulu di dunia kita tidak lebih sengsara lagi saja, sehingga di akhirat akan lebih bahagia.

Contoh nyata dari penyesalan itu adalah ketika pada syuhada ditanya di alam barzakh tentang keinginannya, mereka menjawab bahwa keinginan mereka adalah bagaimana mereka bisa dihidupkan lagi ke dunia dan bisa berkali-kali mati di medan perang. Padahal apakah ada yang lebih berat dan sengsara dibanding mati di peperangan?

Berbekal Keyakinan

Orang yang mendapatkan cobaan hendaknya bersabar. Sedangkan untuk bersabar, dia membutuhkan banyak bekal. Karena kesabaran yang dituntut adalah kesabaran yang panjang. Segala sesuatu sebenarnya bisa dijadikan bekal, bila orang itu bersungguh-sungguh dan berkeinginan keras untuk bisa sabar. Di antara bekal yang hendaknya kita kumpulkan agar bisa ridha saat harus berpisah adalah:

  • Menyakini bahwa cobaan adalah datangnya dari Allah Taala, dan sebagai tanda rasa cinta Allah Taala pada hamba-Nya.
  • Meyakini bahwa yang telah diambil Allah Taala adalah hanya sedikit dari banyak nikmat yang telah diberikan kepada hamba, sedang nikmat-nikmat yang tersisa sungguh masih sangat banyak.
  • Meyakini bahwa bila dia berhasil sabar menghadapi cobaan, Allah Taala akan menggantinya juga di dunia sebelum di akhirat.
  • Meyakini bahwa kesabaran adalah ibadah yang akan diganjar Allah Taala tanpa batasan.
  • Meyakini bahwa sabar adalah akhlak yang baik, sehingga orang lain pun akan cinta padanya.
  • Meyakini bahwa tidak sabar tidak akan bisa mengembalikan apa yang telah hilang, bahkan bisa membuat kita kehilangan yang lain.

Dengan bekal-bekal ini, orang yang ditimpa musibah akan semakin ringan dalam perjuangannya untuk sabar.

Ujian Mengimani Hikmah

Allah Taala telah menciptakan tubuh manusia dengan fungsi-fungsinya yang begitu sempurna. Melihat hal ini, dengan akal kita bisa meyakini bahwa Allah Taala memang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Tapi, setelah itu, kenapa Allah Taala merusakkan tubuh yang telah sempurna itu? Segala fungsi tubuhnya dinonaktifkan, mulai dengan sakit, hingga berakhir dengan kematian? Akal kita sulit menerima, kenapa Allah Taala yang Maha Bijaksana berkehendak seperti itu?

Ternyata dijelaskan bahwa diciptakannya tubuh manusia, hanyalah untuk bisa beramal di dunia ini. Di dunia ini manusia diuji apakah bisa taat kepada Allah Taala atau tidak. Jika musim ujiannya telah usai, maka tubuh itu pun akan dirusakkan. Karena tugasnya telah selesai. Musim lain telah menjelang, musim pembalasan. Bagi yang lulus, masuk surga-Nya. Sedangkan yang gagal, harus masuk neraka-Nya. Tubuh dirusakkan adalah untuk disempurnakan kembali di alam yang baru.

Itulah hikmah. Hikmah penciptaan, dan hikmah kematian. Baik dan buruk pasti ada hikmahnya. Tapi kadang hati dan pikiran kita kurang mampu memahaminya. Dalam kondisi seperti itu, kita harus menyerah, mengakui keterbatasan akal kita, dan terus meyakini bahwa sebuah peristiwa pasti memiliki hikmah walaupun kita tidak mengetahuinya.

Perhatikan berbagai peristiwa ini. Kenapa Allah Taala mencabut nyawa seorang pemuda gagah, padahal dalam hidupnya belum banyak yang dilakukannya? Kenapa Allah Taala mengambil nyawa seorang bayi yang sudah lama ditunggu-tunggu kelahirannya oleh kedua orang tuanya? Bukankah Allah Taala Maha Kaya untuk sekadar mengambil bayi itu? Bukankah kedua orang tuanya sangat merindukan dan membutuhkan bayi mereka?

Kenapa Allah Taala tetap memberi kehidupan kepada seorang tua yang telah sangat renta? Bukankah hidupnya hanya menjadi beban bagi orang lain? Bukankah jika dia terus hidup, dia malah akan tersiksa lebih lama? Kenapa seorang Muslim yang sangat taat beribadah tetap dibiarkan dalam kemiskinan? Bukankah jika mendapat banyak rejeki, dia bisa menggunakannya untuk membantu orang lain dan berdakwah?

Kenapa Allah Taala memberi rejeki banyak kepada orang kafir yang jahat? Bukankah harta mereka yang banyak itu hanya akan digunakan untuk maksiat dan memusuhi hamba-hambaNya? Akal kita kadang tidak sampai dan tidak mampu memahami semua itu. Tapi yakinlah bahwa semua itu ada hikmahnya, dan semua untuk kemashlahatan hambaNya. Yakinlah dengan kebaikan Allah Taala agar bisa ridha saat harus berpisah.

Kebaikan dalam Keburukan, Keburukan dalam Kebaikan

Agar bisa ridha saat harus berpisah, marilah merenungi firman Allah Taala: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Taala mengetahui, sedang KAMU TIDAK MENGETAHUI.” [Al-Baqarah: 216].

Jika seorang hamba mengetahui dan meyakini bahwa sesuatu yang buruk bisa mendatangkan kebaikan, dan sebaliknya sesuatu yang baik bisa mendatangkan keburukan, tentu dia tidak akan merasa aman bila mendapatkan sesuatu yang baik, dan tidak akan berputus asa dan bersedih bila mendapatkan sesuatu yang buruk.

Oleh karena itu, yang paling penting untuk dilakukan manusia adalah berusaha sebisa mungkin melaksanakan semua perintah dan keinginan agama. Walaupun kadang pada mulanya akan terasa berat. Karena sudah pasti, di balik semua perintah itu ada kebaikan dan kebahagiaan. Kemudian, sebaliknya, yang penting baginya adalah berusaha sebisa mungkin meninggalkan perbuatan yang dilarang agama, karena jelas perbuatan itu akan membawa kesengsaraan dan malapetaka.

Kebahagiaan dunia jauh lebih kecil dari kebahagiaan akhirat. Demikian juga kesengsaraan dunia jauh lebih kecil dari kesengsaraan akhirat. Kadangkala untuk mendapatkan kebahagiaan dunia yang kecil, manusia harus membayar dengan kehilangan kebahagiaan akhirat yang agung, dan menderita kesengsaraan akhirat yang pedih tiada tara. Sering pula, kebahagiaan akhirat yang agung dan kekal bisa diperoleh dengan cara sabar dengan hilangnya kebahagiaan dunia yang remeh dan menahan derita kesengsaraan dunia yang hanya sementara saja.

Orang yang berakal tentu akan memilih sabar untuk sengsara sebentar demi mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Dia akan melihat kenikmatan dunia tak bedanya dengan sepiring makanan yang enak tapi mengandung racun. Dengan menyakini hal itu, tentu dia tidak akan pernah menyentuhnya. Godaan dunia juga ibarat seseorang yang berkata kepada orang biasa, “Nikmatilah kemewahan istana raja ini sehari, tapi setelah itu kau akan kuhukum mati.” Ibadah dan ketaatan adalah ibarat obat yang sangat pahit. Banyak orang enggan mencicipinya. Tapi ternyata obat itu membawa kesehatan untuk selamanya.

Oleh karena itu, yang harus terus ada dalam benak kita adalah akhirat, bukan dunia. Akhirat adalah patokan kita dalam bersikap. Selagi sesuatu itu baik untuk akhirat, bagaimanapun buruk dan sakitnya, kita laksanakan. Sebaliknya selagi sesuatu itu buruk untuk akhirat, bagaimanapun indahnya harus kita tinggalkan.

Bayangkanlah keindahan surga, niscaya kita akan merasa ringan dalam melaksanakan kebaikan. Bayangkanlah kesengsaraan di neraka, niscaya kita akan merasa ringan dalam meninggalkan perbuatan yang dilarang agama. Demikianlah yang bisa kita lakukan agar bisa ridha saat harus berpisah. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran I An-Nisa

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda