SYARIAH

Keutamaan Memelihara Ibadah Sunnah

ibadah sunnah
Banyak orang tidak mementingkannya, padahal sangat penting.

mukjizat.co – Keutamaan memelihara ibadah sunnah ternyata sangat besar. Pahala dan banyak sekali fadhilah bisa kita peroleh dengan memelihara macam-macam ibadah sunnah. Dimulai dari yang sehari-hari, yaitu sunnah rawatib, sunnah muakkadah, dan sebagainya.

Namun demikian kita harus menyempurnakan ibadah wajib sebelum bersemangat dalam melaksanakan ibadah sunnah. Karena ibadah wajib adalah prioritas utama. Bahkan ibadah wajiblah yang paling dicintai Allah Taala.

Allah Taala berfirman dalam hadits qudsi:

وَمَا تقرَّبَ إِلَيَ عبْدِي بِشْيءٍ أَحبَّ إِلَيَ مِمَّا افْتَرَضْت عليْهِ

“Tidak ada yang lebih kucintai yang dilakukan hamba-Ku untuk mendekatkan diri kepada-Ku melebihi ibadah wajib.” [Bukhari].

Hingga Abu Bakar Ash-Shidiq ra. berkata:

لا يقبل الله نافلة حتى تؤدى فريضة

“Allah Taala tidak menerima yang sunnah sebelum terlaksana yang wajib.”

Kewajiban bukan hanya melaksanakan perintah, tapi juga meninggalkan larangan. Jadi sebelum melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, kita pun hendaknya sudah melaksanakan perintah yang wajib, dan meninggalkan larangan yang haram.

ما نَهَيتُكُمْ عَنْهُ، فاجْتَنِبوهُ، وما أمرتُكُم به، فأتُوا منهُ ما استطعتُم

“Semua perkara yang aku larang maka jauhilah, dan seluruh perkara yang aku perintahkan maka laksanakanlah sesuai kemampuan kalian.” [Bukhari Muslim].

Oleh karena itu, para ulama sangat memperhatikan tobat dari kemaksiatan mereka sebelum melaksanakan ibadah sunnah.

ما عُبِّدَ العابدون بشيءٍ أفضلَ من ترك ما نهاهم الله عنه

“Ibadah yang paling baik adalah meninggalkan yang dilarang Allah Taala.”

Misalnya Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Mengembalikan 1 Dirham hak orang lain, lebih aku senangi daripada berinfak 100.000 Dirham.”

Menutupi Kekurangan Ibadah Wajib

Siapa di antara kita yang telah melaksanakan ibadah wajib dengan sempurna? Sulit bagi kita untuk mengklaim hal seperti itu. Kita benar-benar jauh dari kata sempurna dalam beribadah kepada Allah Taala. Apalagi jika dibandingkan dengan kenikmatan yang kita terima dan rasakan.

Ternyata ibadah sunnah bisa berfungsi sebagai penyempurna ibadah wajib yang sudah kita lakukan dengan cara dan kondisi yang tidak sempurna. Itu akan terlihat dalam proses hisab di akhirat nanti.

Rasulullah saw. bersabda:

“Amalan pertama manusia yang akan dihisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Taala berfirman kepada para malaikat, padahal Allah Maha Mengetahui, “Lihatlah shalat hamba-Ku, dilaksanakan dengan sempurna atau kurang.” Kalau sempurna, maka amalannya akan ditulis sempurna.

Jika ada sesuatu yang kurang, maka Allah Taala berfirman, “Lihatlah, apakah hamba-Ku mempunyai ibadah sunnah?” Jika dia memiliki ibadah sunnah, maka Allah Taala akan berfirman, “Sempurnakanlah ibadah wajibnya menggunakan ibadah sunnahnya.” Kemudian semua amalnya pun dinilai sebagai amalan yang sempurna.” [Abu Daud].

Ini sangat penting karena amalan yang kita laksanakan mungkin tidak semua bagiannya diterima Allah Taala. Tentang shalat misalnya, Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي الصَّلاةَ مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلا نِصْفُهَا، ثُلُثُهَا، رُبْعُهَا، خُمْسُهَا، سُدُسُهَا، عُشْرُهَا

“Seseorang bisa saja melaksanakan shalat, tapi yang diterima hanyalah setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, seperenamnya, atau sepersepuluhnya.” [Ahmad, Thabrani].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Orang yang kurang dalam melaksanakan ibadah-ibadah yang tertinggal, maka hendaknya banyak melaksanakan ibadah sunnah. Karena Allah Taala akan menghisabnya dengan ibadah itu pada Hari Kiamat.”

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, “Generasi sahabat dan tabi’in membiasakan diri melaksanakan ibadah sunnah sama seperti mereka membiasakan ibadah wajib. Mereka tidak membedakan antara keduanya dalam hal mencari pahala.”

Menyiapkan Ibadah dan Menjaga Hasilnya

Ibadah wajib adalah terminal-terminal pengambilan bekal kita setiap hari. Allah Taala sudah menyiapkannya untuk kita. Ketika berjumpa dengan sebuah terminal, hendaknya kita optimal dalam mengambil bekal ruhani itu. Harapannya, jangan sampai kehabisan bekal sebelum bertemu terminal berikutnya.

Oleh karena itu, wajib hukumnya mengoptimalkan setiap ibadah wajib yang kita temui. Di antara caranya adalah melaksanakan ibadah sunnah. Sebelum ibadah wajib, ibadah sunnah bisa dijadikan sebagai sarana mempersiapkan diri agar optimal dalam melaksanakan ibadah wajib. Sedangkan setelah ibadah wajib, ibadah sunnah bisa dijadikan alat untuk menjaga efek ibadah wajib tersebut.

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ

“Peliharalah segala salat (mu).” [Al-Baqarah: 238]

Ada ulama yang mengatakan bahwa di antara maksudnya adalah “Peliharalah hasil shalat di waktu antara dua shalat.” Bekal ruhani yang kita dapatkan di shalat kita jangan sampai habis lebih cepat sebelum datangnya waktu shalat berikutnya.

Memagari Ibadah Wajib

Ibadah sunnah yang kita lakukan akan memagari ibadah wajib kita. Karena orang yang membiasakan ibadah sunnah, akan sangat berat untuk meninggalkan ibadah wajib. Sedangkan orang yang meninggalkan ibadah sunnah sama sekali, akan digoda untuk meninggalkan ibadah wajib.

Setan akan berusaha membuat kita meninggalkan ibadah kepada Allah Taala. Seperti berat bagi dia untuk menggoda kita meninggalkan ibadah wajib jika kita masih giat melaksanakan ibadah sunnah. Dia akan sibuk menghabisi ibadah sunnah kita dulu, baru kemudian melangkah menuju ibadah wajib.

Ibarat tanaman yang kita jaga dari serangan binatang liar. Jika ada tanaman lain yang memagarinya, tentu tidak langsung bisa dicapai binatang liar itu. Binatang liar akan sibuk merusak tanaman pagar dulu untuk sampai ke tanaman yang diinginkannya.

Yunus bin Ubaid mengatakan, “Orang yang meremehkan ibadah sunnah pasti akan meremehkan ibadah wajib.”

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, “Terus-terusan merasa cukup dengan ibadah wajib dan meninggalkan ibadah sunnah akan melahirkan senang santai dan tidak bersemangat dalam beribadah.”

Menyediakan Pahala Sangat Besar

Dunia adalah waktunya mengumpulkan pahala, bekal kita dalam perjalanan panjang pada kehidupan setelah dunia. Terbayang oleh kita betapa butuhnya kita nanti dengan pahala-pahala itu sehingga Allah Taala pun menyiapkan ibadah-ibadah sunnah selain ibadah-ibadah yang telah diwajibkan.

Ibadah sunnah ternyata juga menyediakan pahala yang sangat besar. Terntunya ibadah wajib lebih besar lagi pahalanya walaupun tidak disebutkan.

ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dengan segala isinya.” [Muslim]

من صام رمضان ثم أتبعه ستًا من شوال فكأنما صام الدهر كله

“Orang yang berpuasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan dengan puasa 6 hari bulan Syawal, maka seperti berpuasa sepanjang tahun.” [Abu Daud]

Dalam logika orang yang hendak bepergian, mengumpulkan bekal memang tidak boleh asal-asalan. Apalagi perjalanan yang akan dilaluinya belum benar-benar diketahui bagaimana bentuk dan kebutuhannya.

Maka mencari bekal untuk perjalanan akhirat kita harus berlebih. Karena itu pulalah Al-Quran menggunakan kata “tazawwud”, berasal dari kata “ziyadah” yang bermakna lebih.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” [Al-Baqarah: 197].

Untuk mengetahui mahalnya pahala dalam kehidupan akhirat nanti, ibadah sunnah yang kita lakukan dengan cara dan kualitas biasa saja akan jauh lebih bernilai daripada harta dunia kita.

Suatu hari Rasulullah saw. berjalan bersama para sahabat. Mereka melalui sebongkah kuburan. Rasulullah saw. mengajak berhenti. Beliau ingin menjadikan kuburan itu sebagai alat peraga pelajaran yang akan disampaikannya. Beliau pun bersabda:

ركعتان خفيفتان مما تحقرون وتَنَفَّلُون، يزيدهما هذا في عمله أحبُّ إليه من بقية دنياكم

“Dua rakaat ringan yang kalian remehkan dan sunnah, kalau ditambahkan kepada timbangan amalan orang ini (yang sudah dikubur) lebih baik daripada harta dunia kalian semua.” [Thabrani]

Membuka Pintu Ampunan

Siapa di antara kita yang tidak berdosa? Hanya para nabi yang terpelihara dari perbuatan dosa. Karena itulah orang yang terbaik di antara kita bukan orang yang tidak berdosa tapi orang yang bertobat ketika berbuat dosa. Dosanya pun diampuni, dan dirinya kembali bersih dari dosa.

Penting bagi kita untuk mengetahui dan mengerjakan amalan yang membuat kita diampuni Allah Taala. Ternyata banyak di antara amalan itu adalah ibadah sunnah. Misalnya, Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Orang yang “berwudlu seperti wudluku ini, lalu  dia shalat dua rakaat dan tidak berbicara antara keduanya, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu.“ [Bukhari].

صوم يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده

“Puasa Hari Arafah, aku harapkan kepada Allah Taala, akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” [Muslim].

Mengantarkan ke Surga Idaman

Perjalanan ke surga adalah perjalana yang sangat panjang dan berliku. Pasti akan sangat banyak orang yang gagal mencapai kebahagiaan impiannya. Hanya orang yang dibimbing Allah Taala saja yang meraihnya. Di antara tanda adanya bimbingan Allah Taala itu adalah semangat seseorang dalam melaksanakan ibadah sunnah.

Walaupun ibadah itu hanyalah shalat dua rakaat yang terlihat ringan untuk dilaksanakan. Tapi kecintaan kepada Allah Taala dan kerinduan kepada surga telah menjadikan shalat itu kendaraan yang mengantarkannya ke surga.

Rasulullah saw. bertanya kepada sahabtnya, Bilal bin Rabah ra.:

يا بلالُ، حدِّثْنِي بأَرْجَى عملٍ عَمِلْتَهُ في الإسلامِ، فإنِّي سمعتُ دُفَّ نعليْكَ بينَ يديَّ في الجنةِ». قال: “ما عملتُ عملًا أَرْجَى عندي أنِّي لم أَتَطَهَّرَ طَهورًا، في ساعةِ ليلٍ أو نهارٍ، إلا صلَّيتُ بذلكَ الطَّهورِ ما كُتِبَ لي أن أُصلِّي

“Bilal, sebutkan kepadaku amalan yang paling kau harapkan (pahalanya) selama kau menjadi seorang Muslim? Karena aku telah mendengar suara sandalmu di depanku di surga.” Beliau menjawab, “Tidak ada amalan yang paling kuharapkan pahalanya melebihi amalan yang biasa kulakukan, yaitu setiap kali aku berwudhu, baik siang maupun malam hari, aku selalu melaksanakan shalat untuk wudhu tersebut berapa rakaat pun.” [Bukhari].

Meraih Cinta Allah Taala

Ini adalah segalanya. Cukuplah mendapat cinta Allah Taala menjadi motivasi kita melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Karena dengan cinta Allah Taala ini, apa pun bisa kita raih. Allah Taala memberikan apa pun kepada hamba yang dicintai-Nya.

Ibadah sunnah adalah jalan yang tepat untuk mendapat cinta dari Allah Taala ini. Dalam hadits qudsi, Allah Taala berfirman:

ومَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.” [Bukhari].

ابن آدم اطلبني تجدني، فإن وجدتني وجدت كل شيء، وإن فتك فاتك كل شيء، وأنا أحب إليك من كل شيء

“Wahai manusia, carilah Aku niscaya kau dapatkan Aku. Jika kau dapatkan Aku engkau dapatkan segala sesuatu. Jika kau kehilangan-Ku kau kehilangan segala sesuatu. Akulah yang lebih kau cintai dari segala sesuatu.”

Orang yang telah mendapat cintai Allah Taala telah mendapat segalanya. Apa yang hilang dari orang yang telah menemukan Allah? Apa yang didapatkan orang yang telah kehilangan Allah?

Berdekatan dengan Rasulullah saw.

Para sahabat sangat senang hidup bersama Rasulullah saw. Tak bertemu dalam waktu pendek saja telah membuat kerinduan mereka menggebu-gebu. Suatu hari seorang sahabat menangis karena khawatir tidak akan pernah bertemu dengan Rasulullah saw. lagi.

Kematian akan memisahkan mereka untuk selamanya, pikir sahabat itu. Karena walaupun sama-sama masuk surga, tentulah surga Rasulullah saw. sangat istimewa dan tidak bisa diraih oleh siapapun manusia yang lain. Tapi saat itu Rasulullah saw. mengatakan bahwa mereka sangat mungkin untuk kembali disatukan dan dipertemukan di surga.

Hal yang sama juga terjadi pada diri Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami. Beliau ditawari sesuatu yang sangat istimewa dari Rasulullah saw.

سلني فقلت: أسألك مرافقتك في الجنة، فقال: أو غير ذلك؟ قلت: هو ذاك، قال: فأعني على نفسك بكثرة السجود

“Rasulullah saw. bersabda kepada Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami, “Mintalah kepadaku.” Rabi’ah menjawab, “Aku minta menemanimu di surga.” Rasulullah saw. bertanya lagi, “Bukan permintaan yang lain?” Rabi’ah menjawab, “Itu yang kuminta.” Maka Rasulullah saw. meminta Rabi’ah, “Bantulah aku, kau harus perbaiki dirimu dengan banyak bersujud.” [Muslim].

Kita Sering Beralasan Sibuk

Demikian besar keutamaan memelihara ibadah sunnah. Tapi ternyata semangat kita dalam mengusahakannya tidak sebanding dengan keutamaan yang disediakan itu. Kita sering menyikapi ibadah-ibadah itu sekadar sunnah saja, sehingga tidak terlalu perlu diusahakan.

Apalagi kalau kita berada dalam kondisi sibuk dengan berbagai aktivitas. Kesibukan itu semakin menguatkan alasan kita untuk tidak melaksanakan ibadah-ibadah itu. Maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri apakah benar kesibukan kita telah menghalangi kita meraih kebaikan yang demikian besar?

Sesibuk apakah kita dibandingkan dengan kesibukan Rasulullah saw? Beliau yang bertanggung jawab atas keselamatan dan kebahagiaan umat manusia sedunia. Sibuk pikiran, sibuk hati, dan tentunya sibuk fisik beliau.

Tapi bagaimana shalat sunnah beliau? Sabahat Abdullah bin Mas’ud ra. menceritakan:

صليت مع رسول الله ﷺ فأطال حتى هممت بأمر سوء، قال: قيل: وما هممتَ به؟ قال: هممت أن أجلس، وأدعه

“Aku shalat bersama Rasulullah saw. Shalatnya panjang hingga aku punya pikiran buruk. Apa itu? Aku ingin duduk dan meninggalkannya.” [Bukhari].

Padahal Ibnu Mas’ud mengkhatamkan Al-Quran 70 kali bersama Rasulullah saw. Sahabat yang sangat istimewa tentunya terkait dengan Al-Quran dan ibadahnya.

Orang sibuk berikutnya adalah para khalifah, pengganti Rasulullah saw. sepeninggal beliau. Ali bin Abi Thalib ra. di antaranya. Ada seseorang berkata kepada beliau:

يا أمير المؤمنين: صوم بالنهار، وسهر بالليل، وتعب فيما بين ذلك، فلما فرغ علي من صلاته قال: سفر الآخرة طويل يحتاج إلى قطعه بسير الليل

“Wahai Amirul Mukminin (Ali ra.), siang puasa, malam qiyamullail, urusan banyak.” Jawaban beliau: “Perjalanan akhirat panjang, harus ditempuh dengan perjalanan malam.”

Kehadiran Hati dalam Ibadah

Kenapa orang-orang sibuk itu bisa mendapatkan keutamaan ibadah sunnah yang sangat besar itu? Di antara sebabnya adalah karena kezuhudan mereka. Mereka memiliki harapan yang sangat besar kepada akhirat, sehingga dunia pun mengecil di hari mereka. Kondisi ini kemudian membuat mereka mengejar kebahagiaan akhirat dengan sedemikian rupa.

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, “Kalian (para tabi’in) mungkin lebih banyak puasa dan shalatnya daripada sahabat Rasulullah saw. Tapi mereka lebih baik dari kalian. Kenapa? Karena mereka lebih zuhud kepada dunia, dan lebih berharap kepada akhirat.”

Di antara mereka juga mengatakan, “Abu Bakar lebih baik dari kalian bukan karena banyaknya puasa dan shalatnya, tapi karena sesuatu yang ada di dadanya.”

Istiqamah (Memelihara) Ibadah Sunnah

Mungkin kita bisa melaksanakan ibadah yang luar biasa kualitasnya. Tapi bukan hanya itu yang diminta oleh Allah Taala. Keistiqamahan dalam melaksanakan ibadah itu jauh lebih penting lagi. Islam menginginkan kita mendekatkan diri kepada Allah Taala sepanjang hidup kita. Sehingga ada istilah husnul khatimah. Akhiran kehidupan yang baik.

Karena itu Rasulullah saw. mewanti-wanti umatnya agar tidak meninggalkan ibadah yang sudah mereka lakukan. Baik karena keinginan mereka, atau karena mereka tidak kuat lagi melakukannya.

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

“Ada seorang laki-laki yang selalu melakukan amalan ahli surga, hingga tinggal satu hasta lagi sampai ke surga. Tapi kemudian melakukan amalan ahli neraka, hingga di masuk ke dalamnya.” [HR. Muslim].

Ada banyak nasihat Rasulullah saw. agar kita istiqamah dalam beribadah. Di antaranya adalah tidak berlebihan dalam menentukan kadar ibadah yang kita tentukan.

لا تشددوا على أنفسكم فيشدد عليكم، فإن قوما شددوا على أنفسهم فشدد عليهم، فتلك بقاياهم في الصوامع والديارات، رهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم

“Janganlah kalian memberat-beratkan diri sendiri, maka kalian akan benar-benar diberatkan. Sebelum kalian ada kaum yang memberat-beratkan kepada diri mereka, sehingga mereka pun diberatkan. Lihatlah sisa-sisa mereka di tempat-tempat ibadah itu. “Kerahiban yang mereka buat-buat, padahal tidak kami wajibkan kepada mereka.” [HR. Ibnu Katsir].

Menambah kadar ibadah haruslah bertahap. Sesuai dengan kondisi fisik dan keimanan kita. Memaksanakannya hanya akan berujung malapetaka. Hal itu diibaratkan dengan bagaimana menyesuaikan kecepatan lari kuda kita dengan kondisi.

فَإِنَّ الْمُنْبَتَّ لاَ أَرْضًا قَطَعَ ، وَلاَ ظَهْرًا أَبْقَى

“Orang yang memaksakan lari kudanya, maka tidak akan sampai tujuan, dan akan kehilangan kendaraan.” [HR. Baihaqi].

Kebosanan adalah sifat yang akan selalu lekat dengan hati kita. Oleh karena itu, kita perlu meminimalkan kebosanan dalam beribadah.

اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Pikullah amalan yang kalian mudah melaksanakannya. Karena Allah swt. tidak akan bosan (memberi kemurahan-Nya) sampai kita bosan (beribadah kepada-Nya). Sesungguhnya amalan yang paling Allah swt. cintai adalah yang bertahan lama, walaupun kadarnya sedikit.”[HR. Abu Daud].

Ketika kita mengetahui kondisi hati, kita bisa memanfaatkan kondisi-kondisi tertentu untuk mengoptimalkan kebaikan.

وَلِكُلِّ عَمِلٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ يَكُنْ فَتْرَتُهُ إِلَى السُّنَّةِ ، فَقَدِ اهْتَدَى ، وَمَنْ يَكُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ ، فَقَدْ ضَلَّ

“Setiap amalan itu ada puncak semangat dalam melakukannya. Setiap puncak itu ada menurunnya. Orang yang turunnya kepada sunnah, maka masih mendapat hidayah. Sedangkan orang yang turunnya kepada selain itu, maka dia tersesat.” [HR. Thabrani].

Banyak orang tidak mau melaksanakan ibadah-ibadah sunnah hanya karena tertancap dalam pikiran mereka beratnya melaksanakan ibadah-ibadah itu. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari kekurangbijakan sebagian orang dalam menentukan pilihan-pilihan fikih mereka dalam beribadah.

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا

“Sesungguhnya agama itu mudah. Setiap orang yang membuatnya berat, pasti akan kalah sendiri. Oleh karena itu, tetaplah dalam kebenaran (tanpa kurang dan berlebih-lebihan), dekat-dekat sajalah ke amalan yang sempurna, bergermbiralah (dengan pahala surga, jika bertahan dengan amalan kebaikan tersebut).” [HR. Bukhari].

Ketika kita tidak berlebihan, maka otomatis kita tidak bisa seimbang. Lalu dipastikan akan ada kewajiban-kewajiban kita yang terabaikan.

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya ada hak Allah swt. yang wajib kamu tunaikan; hak dirimu yang wajib kamu tunaikan; dan hak isterimu yang wajib kamu tunaikan. Maka tunaikanlah hak kepada yang berhak mendapatkannya.” [HR. Bukhari].

Imam Malik Dikatakan Kurang Ibadah

Ada seorang ahli ibadah yang menilai Imam Malik kurang dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Dia menuangkan nasihatnya itu dalam secarik surat. Imam Malik menjawab surat itu seperti berikut ini:

إن الله قسم الأعمال كما قسم الأرزاق، فرُبَّ رجل فُتح له في الصلاة، ولم يفتح له في الصوم، وآخر فتح له في الصدقة، ولم يفتح بالصوم، وآخر فتح له بالجهاد، فنشر العلم من أعظم أعمال البر، وقد رضيت بما فُتح لي فيه، وما أظن ما أنا فيه بدون ما أنت فيه، وأرجو أن يكون كلانا على خير، وبِرّ

“Sesungguhnya Allah Taala membagi amalan seperti membagi rezeki. Ada orang dimudahkan melaksanakan shalat, tapi tidak dimudahkan dalam berpuasa. Ada orang dimudahkan memberi sedekah, tapi tidak dimudahkan dalam berpuasa. Sementara menyebarkan ilmu termasuk kebaikan paling agung, dan aku sudah ridha dengan yang dimudahkan untukku. Aku tidak yakin kesibukanku tidak lebih rendah daripada kesibukanmu. Aku berharap kita berdua dalam kebaikan.”

Ibnu Mas’ud Dikatakan Kurang Banyak Berpuasa

Hal yang sama dialami oleh sahabat senior, Abdullah bin Mas’ud ra. Beliau dikritik sahabat lain terkait kurangnya dalam berpuasa.

عبد الله بن مسعود أنكر عليه أصحابه قلة الصيام؛ وقد كان ابن مسعود يصوم الإثنين، والخميس، والأيام البيض، فقالوا له: صومك قليل، فأقرهم على أن هذا فعل قليل، لكنه اعتذر بعذر فقال: إني أخاف أن يضعفني عن القراءة، والقراءة أحب إلي من الصيام

Abdullah bin Mas’ud dikritik para sahabat kurang berpuasa, padahal sudah puasa senin-kamis dan ayyamul bidh. Beliau pun mengakui kekurangan itu, dan menyampaikan alasan, “Aku khawatir puasa membuatku lemah dalam membaca, sementara membaca lebih aku senangi daripada puasa.”

Silahkan baca juga:

Maka Kaidahnya Adalah

وهناك حد أدنى من الصيام، ومن قراءة القرآن، وقد يكون العبد مشمراً في باب من الأبواب لكنه محافظ على الحد الأدنى في بقية الأبواب

Ada standar minimal dalam berpuasa dan membaca Al-Quran. Tapi masing-masing dibolehkan lebih bersemangat dalam ibadah tertentu dengan tetap menjaga standar minimal ibadah yang lain.

عليكم من العمل ما تطيقونه، فوالله لا يمل الله حتى تملوا

Yang diinginkan Allah Taala dalam ibadah kita adalah ibadah selamanya. Sepanjang umur kita. Bukan pada saat bersemangat saja. Oleh karena itu, jangan sampai cara ibadah kita membuat kita berhenti beribadah. Menentukan kadar yang tepat dalam beribadah juga sangat penting. Namun demikian, harus ada penambahan yang terus-menerus dengan cara yang tidak ekstrem.

Seorang murid menceritakan Imam Ahmad bin Hanbal.

صحبته خمساً، وعشرين سنة فما دخلت عليه في يوم إلا وهو في زيادة عن اليوم الذي قبله

“Aku membersamainya 25 tahun. Setiapkali bertemu, pasti dalam kondisi lebih baik dari pertemuan sebelumnya.”

Demikianlah keutamaan memelihara ibadah sunnah yang hendaknya kita perhatikan benar-benar agar bahagia di dunia dan akhirat. Selamat mencoba dan berusaha. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran

Ikuti kami juga di Media Sosial

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda