SYARIAH

Kebebasan Berekspresi Dijamin Islam

Kebebasan berekspresi dijamin Islam
Bahkan hak ini bersifat ibadah.

mukjizat.co – Terkait kebebasan berekspresi, Islam menjamin hak semua orang untuk memilih pendapatnya sendiri dalam berbagai urusannya. Semua orang juga diberi kebebasan untuk mengekspresikan pendapatnya itu kepada orang lain. Tentunya selagi hal itu tidak merugikan orang lain. Kebebasan berekspresi dijamin Islam.

Bagi seorang Muslim, kebebasan ini adalah hak yang ditetapkan dalam syariah yang diimaninya. Karena ditetapkan oleh aturan Allah Taala, maka tidak ada yang berhak untuk membatalkan dan mencabut hak tersebut.

Bukan hanya menjadi hak, kebebasan berpendapat dan berekspresi ini bahkan kadang menjadi sebuah kewajiban. Misalnya terkait perintah untuk memberikan nasihat dan amar makruf nahi munkar, yang merupakan kewajiban bagi seorang Muslim.

Kewajiban nasihat dan amar makruf nahi munkar tidak mungkin terlaksana tanpa ada kebebasan berpendapat dan berekspresi. Karena keduanya adalah syarat dan sarana dalam melaksanakan kewajiban itu. Kalau tujuannya wajib maka sarananya pun wajib, begitu kaidahnya.

Kebijakan Pemimpin Bukan Wahyu

Islam telah memberikan kebebasan dalam berpendapat dalam berbagai masalah, terutama masalah politik. Misalnya yang dilakukan oleh Sa’ad bin Mu’az ra. dan Sa’ad bin Ubadah ra. saat Rasulullah saw. meminta pendapat mereka tentang suku Ghatafan yang siap keluar dari pasukan sekutu penyerang Madinah jika mereka mendapatkan sepertiga hasil panen kota Madinah.

Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Aku telah mengetahui bahwa bangsa Arab sudah bersatu menyerang kalian. Lalu Al-Harits (dari Ghatafan) meminta kalian untuk membagi sepertiga kurma hasil panen Madinah. Apa pendapat kalian jika kita setujui usulan dia untuk tahun ini saja, lalu kita bicarakan lagi untuk tahun berikutnya?”

Lalu mereka menjawab Rasulullah saw., “Kalau ini adalah wahyu dari langit, maka kami akan tunduk kepada perintah Allah Taala. Kalau ini adalah ide dan keinginanmu, maka kami juga akan turut dengan ide dan keinginanmu.

Tapi kalau engkau hanya ingin menyelematkan kami dari serangan mereka, maka demi Allah, kekuatan kami seimbang dengan kekuatan mereka. Sungguh mereka tidak akan pernah mengambil hasil panen kami kecuali sebagai hadiah dan hidangan tamu.” Ini bukti bahwa kebebasan berekspresi dijamin Islam.

Hak Amar Makruf Nahi Munkar

Dalam Al-Quran juga terdapat ayat-ayat yang memerintahkan umat Islam untuk saling amar makruf nahi munkar.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [At-Taubah: 71].

Rasulullah saw. juga bersabda, “Agama adalah nasihat (memberikan yang terbaik).” Para sahabat bertanya, “Kepada siapa kami memberikan yang terbaik?” Beliau menjawab, “Kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan khalayak umat Islam.” [Muslim].

Imam An-Nawawi mengatakan, maksud memberikan yang terbaik kepada para pemimpin adalah menolong mereka saat berada dalam kebenaran, dan menaati mereka. Jika mereka tidak berada dalam ketaatan, maka mengajak mereka kepada kebenaran, dan melarang mereka melawan kebenaran, mengingatkan mereka dengan lembut, menyadarkan mereka saat terlalai, atau tidak menunaikan hak-hak umat Islam.

Selain itu, Rasulullah saw. juga bersabda, “Janganlah rasa takut kepada orang lain menghalangi seseorang dari menyampaikan kebenaran saat mengetahuinya.” [Tirmizi].

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan pendapat yang benar kepada penguasa yang kejam.” [Tirmizi].

Adanya kewajiban amar makruf nahi munkar meniscayakan adanya kebebasan dalam berpendapat. Ketika Allah Taala memerintahkannya, maka Allah Taala telah memberi umat Islam hak untuk menyampaikan pendapat terkait hal-hal yang mereka lihat sebagai kebenaran maupun kemungkaran. Kewajiban bermusyawarah dengan pemimpin juga meniscayakan bahwa umat Islam diberi hak untuk menyampaikan pendapat.

Dalam Sejarah Islam

Dalam sejarah Islam, hak in benar-benar ada dan bukan sekadar wacana. Al-Hubbab bin Munzir ra. menyampaikan pendapatnya yang berbeda dengan pendapat Rasulullah saw. terkait dengan pengambilan posisi pasukan umat Islam dalam Perang Badar. Uniknya, Rasulullah saw. akhirnya memakai pendapat Al-Hubbab ra.

Dalam Peristiwa Ifki, para sahabat juga memberikan pendapat-pendapat tentang Ibunda Aisyah ra. Di antara mereka ada yang mengusulkan untuk menceraikan Ibunda Aisyah ra. Namun turun ayat Al-Quran yang mengabarkan tidak bersalahnya Ibunda Aisyah ra. dari tuduhan keji kaum munafikin itu.

Karena ini adalah sebuah hak yang diakui, seorang Muslim tidak boleh disakiti saat menggunakan haknya. Seorang wanita pernah menolak pendapat Umar bin Khattab ra. yang saat itu sedang berpidato sebagai seorang khalifah.

Masalah yang ditentangkan adalah kebijakan Umar ra. terkait mahar dalam pernikahan. Khalifah tidak mencegahnya, bahkan akhirnya kebijakan yang diberlakukan adalah pendapat yang disampaikan wanita tersebut. “Perempuan ini benar, sedangkan Umar salah,” demikian pengakuan Umar ra. saat itu. Kebebasan berekspresi dijamin Islam.

Silahkan baca juga:

Adab Menyampaikan Pendapat

Adab dalam menggunakan hak ini di antaranya harus benar-benar amanah dan jujur dalam menyampaikannya. Benar disampaikan benar, walaupun berat baginya. Salah disampaikan salah, walaupun berat baginya. Hal itu karena adanya hak berpendapat ini bertujuan untuk mengungkap dan menyampaikan kebenaran.

Niat yang harus selalu ada dalam hatinya juga adalah menyampaikan kebenaran. Bukan karena ingin dipuji, membingungkan orang lain, mengaburkan kebenaran dan kemungkaran, mengambil hak orang lain dengan cara batil, atau lainnya. Dengan demikian, tujuan adanya hak ini akan benar-benar mengembalikan umat Islam kepada kejayaan peradaban Islam yang pernah diraihnya. Kebebasan berekspresi dijamin Islam. (sof1/mukjizat.co)

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran

Ikuti juga di MEDSOS kami

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda