SYARIAH

Memilih Pendapat Paling Berat Pasti Benar?

memilih pendapat yang paling berat
Ada aturan dalam memilih pendapat.

mukjizat.co – Yang sering dijadikan kaidah, bahwa memilih pendapat paling berat pasti lebih selamat. Benarkah demikian? Seringkali ulama berbeda pendapat dalam sebuah masalah. Masing-masing pendapat didasarkan pada dalil yang kuat. Seorang Muslim tentunya bisa memilih salah satu pendapat itu jika dia bisa memahami dalil.

Masalahnya, jika menurut pandangannya terdapat kesetaraan antar pendapat-pendapat itu sehingga tidak memilih salah satunya, apakah dia bisa memilih pendapat yang paling ringan baginya? Lalu jika nantinya terbukti bahwa pendapat yang benar bukanlah yang dipilihnya, apakah dirinya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Taala atas kesalahannya dalam memilih itu?

Seorang ulama yang telah mempu menganalisis dalil hendaknya berusaha berijtihad menyimpulkan hukum dalil-dalil yang ada. Lalu amalan yang dilakukannya hendaknya sesuai dengan hasil ijtihad tersebut.

Sedangkan orang yang tidak memiliki kemampuan seperti itu hendaknya bertaklid kepada ulama-ulama itu. Dia memilih pendapat yang paling kuat menurut dirinya. Lalu apabila dia tidak bisa menemukan hal yang menguatkan sebuah pendapat lebih dari pendapat yang lain, maka yang bisa dilakukannya adalah:

  • Memilih pendapat yang paling berat, sebagai sikap hati-hati
  • Memilih pendapat mana saja, dengan syarat bukan hanya mencari keringanan
  • Atau memilih pendapat yang paling mudah, karena karakteristik syariah adalah mempermudah dan memperingan

Pendapat ketiga ini didasarkan kepada ayat-ayat dan hadits-hadits misalnya:

  • “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [Al-Baqarah: 185].
  • “dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” [Al-Haj: 78].
  • “Sesungguhnya agama adalah mudah.” [Bukhari].
  • “Mudahkanlah dan jangan persulit. Berilah kabar gembira, jangan jadikan mereka membenci. Kalian itu diutus untuk memudahkan, kalian tidak diutus untuk mempersulit.” [Bukhari].

Jika saat bingung itu dia memilih pendapat yang paling mudah maka dia tidak menanggung dosa pada Hari Akhirat nanti. Hal itu karena dia telah melaksanakan hal dia mampu dan bertakwa kepada Allah Taala. Demikian kata Syaikh Utsaimin.

Seandainya saja pendapat yang dipilihnya ternyata salah, maka dia termasuk yang dimaafkan Allah Taala. Sesuai doa dalam firman-Nya, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” [Al-Baqarah: 286]. Dalam riwayat Muslim dikatakan bahwa Allah Taala telah mengampuninya.

Silahkan baca juga:

Rasulullah saw. juga telah bersabda bahwa seorang mujtahid yang tepat hasil ijtihadnya akan mendapatkan dua pahala; dan jika salah akan mendapatkan satu pahala. Jika seorang mujtahid mengikuti betul hasil ijtihadnya, dia tidak akan menanggung dosa. Maka sama juga, orang yang bertaklid kepada ulama telah lepas tanggung jawabnya, dan dinyatakan telah melaksanakan apa yang wajib baginya.

Demikianlah, tidak selamanya memilih pendapat paling berat pasti lebih selamat. Asalkan memilih pendapat yang mudah bukan karena mencari-cari keringanan. Wallahu A’lam bish-shawab. (sof1/mukjizat.co).

Mutiara tadabur para ulama tafsir: Al-Fatihah I Al-Baqarah I Ali Imran

Ikuti juga di MEDSOS kami

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda