SYARIAH

Ada Sahabat Beribadah Tanpa Perintah Rasulullah SAW?

sahabat beribadah tanpa perintah Rasulullah saw.
Lebih banyak belajar, lebih bijak.

mukjizat.co – Benarkah kadang sahabat beribadah tanpa perintah Rasulullah saw? Rasulullah saw. sangat serius dalam berdakwah dan membina. Para sahabat dibina dari nol hingga menjadi orang-orang yang mendapatkan nilai sempurna dari Allah Taala. Keislamaan mereka dinyatakan mendapat ridha Allah Taala. Sehingga kita pun diperintahkan untuk meneladani mereka.

Allah Taala berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah: 3].

Tapi ternyata ada riwayat-riwayat yang menyebutkan ada beberapa sahabat yang melaksanakan ibadah tanpa dituntun lebih dahulu oleh Rasulullah saw. Mereka melakukan ibadah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah saw. Kita perlu mengetahui hal-hal seperti ini untuk lebih bijak dalam menyikapi perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam.

Menyingkat Doa Karena Terlambat

Hal pertama yang membuktikan bahwa kadang sahabat beribadah tanpa perintah Rasulullah saw adalah riwayat, “Seseorang datang dan masuk shaf (barisan) sementara nafasnya masih terengah-engah, lalu mengucapkan AL-HAMDU LILLAHI HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI (segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, lagi berbarakah).”

Seusai shalat, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat tadi?” Para sahabat terdiam. Beliau mengulangi pertanyaannya, “Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi, karena hal itu tidak masalah baginya.”

Lantas seorang sahabat berujar, “Aku tadi datang, sementara napasku masih ternegah-engah, maka kuucapkan kalimat itu (maksudnya pendek dan ringkas).” Beliau bersabda: “Tadi aku melihat dua belas malaikat berebut mengangkat ucapan itu.” [Muslim].

Selalu Membaca Al-Ikhlas dalam Setiap Rakaat

Ada riwayat lain yang menunjukkan bahwa kadang sahabat beribadah tanpa perintah Rasulullah saw., “Seorang sahabat Anshar menjadi imam di Masjid Quba`. Setiapkali hendak membaca surat (setelah Al-Fatihah), ia selalu memulainya dengan membaca QUL HUWALLAHU AHAD hingga selesai. Lalu melanjutkan dengan surat yang lain. Dia selalu melakukannya di setiap rakaat.

Lantas para sahabatnya berbicara padanya, “Engkau membaca surat itu lalu menurutmu itu tidak mencukupimu, lalu kamu melanjutkannya dengan surat yang lain. Bacalah surat tersebut saja, atau jangan kau baca lalu bacalah surat yang lain.”

Sahabat Anshar itu berkata, “Aku tidak akan meninggalkannya, bila kalian ingin aku menjadi imam kalian, maka aku akan membacanya. Tapi bila kalian tidak suka, aku akan meninggalkan kalian.”

Padahal mereka menilainya sebagai orang yang paling mulia di antara mereka, maka mereka tidak ingin diimami oleh orang lain.

Saat Nabi saw. mendatangi mereka, mereka memberitahukan masalah itu, lalu beliau bersabda, “Hai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan yang diminta orang-orang, dan apa yang mendorongmu membaca surat itu di setiap rakaat?”

Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukainya.” Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya cintamu itu memasukkanmu ke dalam surga.” [Bukhari]

Selalu Shalat Setelah Berwudhu

Hal lain yang menunjukkah bahwa kadang sahabat beribadah tanpa perintah Rasulullah saw. adalah sebuah riwayat yang menyebutkan, “Sesungguhnya Rasulullah saw. bertanya kepada Bilal ra. saat shalat subuh, “Bilal, sebutkan kepadaku amalan yang paling kau harapkan (pahalanya) selama kau menjadi seorang Muslim? Karena aku telah mendengar suara sandalmu di depanku di surga.”

Beliau menjawab, “Tidak ada amalan yang paling kuharapkan pahalanya melebihi amalan yang biasa kulakukan, yaitu setiap kali aku berwudhu, baik siang maupun malam hari, aku selalu melaksanakan shalat untuk wudhu tersebut berapa rakaat pun.” [Bukhari].

Tidak sesuai Sunnah Tapi Berpahala Ganda

“Dua orang sedang dalam perjalanan. Ketika datang waktu shalat, mereka tidak mendapatkan air, maka mereka bertayamum. Setelah shalat dan masih ada waktu, mereka mendapatkan air. Maka salah seorang mengulangi shalatnya dengan berwudhu, sementara yang lain tidak mengulangi shalatnya.

Mereka lalu datang kepada Rasulullah saw. menceritakan permasalahan itu. Maka Rasulullah saw. berkata kepada yang tidak mengulangi shalatnya, “Kau sudah sesuai sunah.” Lalu berkata kepada yang berwudhu dan mengulangi shalatnya, “Kau mendapatkan pahala dua kali.” [Abu Daud].

Sebenarnya masih ada beberapa riwayat lainnya yang berisi hal serupa. Intinya, para sahabat itu melakukan hal-hal dalam urusan ibadah, tapi tanpa tuntunan dari Rasulullah saw. Lalu bagaimana menyikapi riwaya-riwayat seperti ini?

Ternyata para ulama berbeda pendapat dalam menyikapinya.

Pendapat Pertama

  • Hal seperti itu dibolehkan karena ada sunnah yang berjenis taqririyah (persetujuan) dari Rasulullah saw.
  • Para sahabat melakukan sesuatu, kalau benar akan disetujui Rasulullah saw., dan menjadi sebuah sunah. Sedangkan kalau salah, akan diluruskan oleh Rasulullah saw.
  • Oleh karena itu, kebolehan seperti ini hanya berlangsung selama hidup Rasulullah saw. Setelah beliau wafat, tidak diperbolehkan melakukan hal seperti itu. Jika ada yang melakukannya, maka bisa digolongkan sebagai bid’ah.

Pendapat Kedua

  • Hal seperti itu dibolehkan karena hal tersebut termasuk dalam kategori perbuatan baik.
  • Allah menyuruh kita untuk melakukan al-amal al-khair.
  • Oleh karena itu, selama dalam kategori amal al-khair, sesuatu yang tidak diperintahkan Rasulullah saw. bisa dilakukan, termasuk setelah beliau wafat.
  • Hal seperti itu diisebut bid’ah hasanah, bid’ah yang baik.

Allah Taala berfirman, “Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Al-Baqarah: 110].

Setidaknya, setelah mengetahui hal ini, umat Islam menjadi lebih bijak ketika menemukan perbedaan pendapat dalam pelaksanaan ibadah. Tidak langsung menyalahkan, menyesatkan, bahkan memvonis neraka. Padahal memang terdapat perbedaan pendapat yang masih diperbolehkan para ulama dan imam. Demikianlah, ternyata kadang sahabat beribadah tanpa perintah Rasulullah saw. (sof1/www.mukjizat.co)

Raih cahaya hidayah dalam serial TADABUR AL-QURAN, berisi ringkasan tadabur para ulama tafsir:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda