PERISTIWA

10 Keistimewaan Para Nabi Tidak Dimiliki Manusia Biasa

10 keistimewaan para nabi tidak dimiliki manusia biasa
Allahumma shalli 'alaa Muhammad.

mukjizat.co – Sebagai manusia, para nabi sama saja dengan manusia yang lain. Bukan setengah malaikat, apalagi setengah tuhan. Namun karena mereka adalah manusia pilihan untuk menjadi utusan Allah Taala, minimal ada 10 keistimewaan para nabi tidak dimiliki manusia biasa. Apa itu?

Wahyu

Ini adalah keistimewaan terbesar yang mereka miliki. Paling membedakan mereka dengan manusia biasa. Allah Taala berfirman:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” [Daud: 163].

Terpelihara (ma’shum)

Mereka terpelihara dari dosa besar. Baik setelah maupun sebelum mereka diangkat menjadi nabi. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan, “Umat Islam bersepakat bahwa para nabi terpelihara dari dosa yang buruk, dan dosa besar yang menjerumuskan ke dalam neraka.”

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa para nabi tidak terpelihara dari dosa kecil. Tapi jika memang melakukannya, mereka tidak dibiarkan seperti itu, tapi Allah Taala akan menegur mereka hingga segera bertobat.

Tidur Mata Tak Tidur Hati

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Ibunda Aisyah ra. pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah engau tidur sebelum shalat witir?” Rasulullah saw. menjawab:

تَنَامُ عَيْنِي وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

 “Mataku tidur tapi hatiku tidak tidur.”

As-Sindi mengatakan, maksud hati beliau tidak tidur adalah hati beliau tidak berhenti menghadap kepada Allah Taala, ataupun tetap bisa menerima wahyu dari malaikat Jibril as. Oleh karena itu, mimpi para nabi adalah wahyu.

Harta Peninggalan Menjadi Sedekah

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Kami para nabi tidak diwarisi. Harta yang aku tinggalkan nanti, setelah diambil untuk kebutuhan pekerjaku dan kebutuhan istri-istriku, adalah sedekah.”

Ibnul Mulaqin menyebutkan beberapa hikmah status peninggalan mereka sebagai sedekah, “Di antaranya, agar tidak ada orang yang berharap mereka segera meninggal dunia, dan agar orang-orang berlomba-lomba dekat dengan mereka tanpa khawatir dikira menginginkan dunia.”

Keistimewaan para nabi di antaranya disebutkan dalam hadits yang sangat terkenal, beliau bersabda, “Sesungguhnya para ulama adalah para pewaris nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Orang yang mengambilnya maka telah mengambil bagian yang sangat banyak.” [Abu Daud].

Mata yang Tidak Berkhianat

Ketika terjadi penaklukan Mekkah, Rasulullah saw. memberikan jaminan keamanan kepada semua orang kecuali empat orang laki-laki dan dua orang wanita, dan beliau menyebutkan mereka, serta Ibnu Abu Sarh.

Adapun Ibnu Abu Sarh, dia bersembunyi di rumah Utsman bin Affan ra., kemudian tatkala Rasulullah saw. mengajak warga Mekah untuk berbai’at, Utsman membawanya ke hadapan Rasulullah saw., dan berkata, “Wahai Nabi Allah, ambillah bai’at Abdullah.”

Kemudian beliau mengangkat kepalanya, dan melihat kepadanya tiga kali. Setiap melakukan hal tersebut beliau enggan untuk memba’iatnya. Setelah tiga kali beliau membai’atnya.

Lalu beliau menghadap kepada para sahabatnya dan berkata: “Bukankah di antara kalian ada orang yang berakal yang mendatangi orang ini dimana ia melihatku, aku menahan diri dari memba’iatnya, lalu ia membunuhnya?”

Mereka berkata, “Kami tidak mengetahui, wahai Rasulullah, apa yang ada di dalam hati anda. Kenapa engkau tidak memberi isyarat kepada kami dengan mata anda? Beliau berkata: “Sesungguhnya tidak selayaknya seorang nabi memiliki mata khianat.” [Abu Daud].

Tidak Membatalkan Perang Setelah Mengenakan Pakaian Perang

Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap nabi yang telah mengenakan pakaian perangnya tidak boleh menanggalkannya sebelum berperang.”

Hadits ini beliau sampaikan saat perang Uhud. Beliau meminta pendapat para sahabat tentang strategi perang yang akan diambil. Beliau setuju dengan usulan kaum muda untuk melakukan perang di luar kota Madinah. Padahal sebelumnya beliau berpendapat perang dalam kota.

Setelah Rasulullah saw. mengambil keputusan, dan mengenakan pakaian perangnya, kaum muda itu merasa ragu-ragu, dan mengatakan, “Kita tetap berada di dalam kota saja.” Maka Rasulullah saw. menyampaikan perkataan di atas.

Dimakamkan di Lokasi Wafatnya

Keistimewaan para nabi di antaranya disebutkan Ibunda Aisyah ra. mengatakan, “Ketika Rasulullah saw. wafat, para sahabat berbeda pendapat tentang tempat pemakamannya. Maka Abu Bakar ra. berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw. menyampaikan sesuatu yang tidak pernah aku lupa.

Kata beliau, ’Setiap nabi pasti dicabut nyawanya di tempat yang ingin dijadikannya sebagai makamnya. Maka makamkan beliau di tempat pembaringannya.’” [Tirmizi].

Tanah Tidak Memakan Tubuh Mereka

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Rasulullah saw. bersabda, “Hari yang paling utama adalah hari Jumat. Pada hari itulah Nabi Adam as. diciptakan, diwafatkan, dan ditiupkan ruh kepadanya. Pada hari Jumat juga akan ditiupkan sangkakala.

Maka banyaklah bershalawat kepadaku. Kalau shalawat kalian akan disampaikan dan dinampakkan kepadaku.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana shalawat kami disampaikan dan dinampakkan kepadamu, sedangkan engkau sudah luluh?”

Maka Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Taala telah mengharamkan tanah memakan tubuh para nabi. Semoga keselamatan diberikan kepada mereka.”

Mendirikan Shalat di Alam Kubur

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya para nabi tetap hidup di alam kubur mereka. Mereka mendirikan shalat.” [Abu Ya’la].

Dalam shahih Muslim juga disebutkan hadits yang mengisahkan tentang perjalanan Isra’ dan Mikraj Rasulullah saw. “Aku melewati tempat Nabi Musa as. saat diperjalankan dalam Isra’ dan Mikraj di padang pasir merah. Beliau sedang mendirikan shalatnya di kuburnya.”

Ulama menjelaskan bahwa kehidupan yang disebutkan diberikan kepada para nabi di kuburnya adalah kehidupan alam barzakh. Bukan kehidupan alam dunia. Oleh karena itu, mengimaninya tidak perlu dengan menyerupakannya dengan kehidupan kita saat ini.

Baca juga:

Semakin Sakit yang Diderita Semakin Besar Pahalanya

Keistimewaan para nabi di antaranya disebutkan Abu Sa’id Al-Khudri ra. menceritakan, “Aku pernah menjenguk Nabi saw. ketika beliau sedang sakit panas, aku meletakkan tanganku dan aku mendapati panasnya terasa hingga di atas selimut.

Aku lalu berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah panasnya sakit yang menimpa dirimu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya begitulah kita, ketika dilipatgandakan cobaan bagi kita maka akan dilipatgandakan pula pahalanya.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi.”

Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Kemudian orang-orang yang shalih, salah seorang di antara mereka ada yang dicoba dengan kefakiran sehingga tidak menemukan kecuali mantel untuk dia pakai, dan ada salah seorang dari mereka yang senang dengan cobaan sebagaimana salah seorang dari kalian senang dengan kemewahan.” Itulah 10 keistimewaan para nabi tidak dimiliki manusia biasa. [HR. Ibnu Majah]. (sof1/www.mukjizat.co)

Raih cahaya hidayah dalam serial TADABUR AL-QURAN, berisi ringkasan tadabur para ulama tafsir:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment