AKHLAK

Penyakit Orang Shalih

penyakit orang shalih
Semuanya harus untuk Allah Taala.

mukjizat.co – Ada penyakit orang shalih. Menjadi orang shalih bukanlah segala-galanya. Belum selesai perjuangan kita saat menjadi orang shalih. Masih ada banyak tantangan yang menghadang kita, dan membahayakan keimanan kita.

Pahala yang telah dikumpulkan sangat mungkin akan hilang dengan mudahnya jika kita tidak berhati-hati. Allah Taala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

من ذا الذي يتألى علي ألا أغفر لفلان ، فإني قد غفرت لفلان ، وأحبطت عمل فلان

“Siapakah orang itu yang mendahului-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak akan mengampuni Si Fulan. Sungguh Aku sudah mengampuninya, dan Aku sudah menggugurkan pahala amalan orang yang mengatakan itu.” [HR. Muslim].

Saat keluar dari masjid, orang shalih mungkin merasa dirinya sudah tercatat sebagai penduduk surga. Saat itu dia melihat orang lain yang tidak melaksanakan shalat di masjid dengan pandangan yang merendahkan. Seakan jauh di bawahnya. Bahkan mungkin menyebutnya sebagai penduduk neraka. Na’uzu billahi min zalik.

Mengatakan orang lain sebagai penduduk neraka seperti itu ternyata sangat dimurkai Allah Taala. Orang yang mengatakannya melakukan hal yang sangat tidak sopan kepada Allah Taala. Mendahului Allah Taala dalam menentukan nasib seorang manusia.

Karena sangat buruk itulah, maka balasannya adalah digugurkan pahala amalan-amalannya. Sungguh sangat merugi. Dia letih beramal tapi tidak menikmati balasannya di surga. Dia bisa beramal tidak lain adalah berkat taufik dari Allah Taala. Kenapa sekarang membanggakannya, dan melihat orang lain rendah?

Beberapa ulama mengatakan, sangat mungkin orang yang kita lihat shalih itu masuk neraka, sementara orang yang terlihat tidak shalih malah masuk surga. Kenapa? Amalan hati lebih berat timbangannya daripada amalan fisik. Dosa hati lebih berat timbangannya daripada dosa fisik.

Sangat mungkin orang yang terlihat tidak shalat di masjid tersadar, dan merasakan bahwa itu adalah sebuah kekurangan yang sangat besar sebagai seorang yang beriman. Dia menyesal dan merasa malu kepada Allah Taala. Penyesalan dan rasa malu itu adalah amalan hati. Pahalanya lebih besar daripada amalan fisik seperti shalat yang dilaksanakan tanpa menyertakan hati.

Sementara orang yang membanggakan shalatnya, merasa sudah tercatat sebagai penduduk surga, melihat orang lain dengan perasaan menghina, dia telah melakukan dosa hati. Dosa hati siksaannya jauh lebih besar daripada dosa  fisik seperti orang yang terlihat tidak melaksanakan shalat di masjid.

Kira-kira di antara keduanya siapakah yang lebih pantas masuk surga? Orang yang timbangan pahalanya lebih berat atau orang yang timbangan pahalanya lebih ringan? Siapakah di antara keduanya yang lebih pantas masuk neraka? Orang yang timbangan dosanya lebih berat atau orang yang timbangan dosanya lebih ringan?

Semoga Allah Taala menjaga hati, lisan, dan anggota tubuh kita dari kemaksiatan, menggunakan semua nikmat itu secara optimal untuk mendapatkan surga yang tinggi di Sisi Allah Taala. Tidak terjangkiti penyakit orang shalih ini. (sof1/www.mukjizat.co)

Raih cahaya hidayah dalam serial TADABUR AL-QURAN, berisi ringkasan tadabur para ulama tafsir:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment