BUAH HATI

Pintu Neraka di Rumah Kita

pintu neraka di rumah kita
Berhati-hati adalah jalan keluar terbaik.

mukjizat.co – Ada pintu neraka di rumah kita. Neraka adalah tempat yang sangat mengerikan. Maka kita diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah, takut kepada Allah, takut kepada neraka Allah.

Ketika kita takut, maka kita akan berusaha melindungi diri kita. Mencari hal-hal yang bisa dijadikan sebagai pelindung dari terkena siksaan neraka.

Itu semua bisa dilakukan dengan meninggalkan kemaksiatan sehingga terhindar dari neraka. Karena kemaksiatan adalah pintu menuju neraka.

Bisa juga dilakukan dengan melaksanakan perintah-perintah Allah yang bisa mengantarkan kita kepada surga.

Allah Taala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak berdurhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya, dan selalu mengerjakan semua perintah Allah.” [At-Tahrim: 6].

Ayat di atas menyebutkan hal-hal yang sangat mengerikan. Tapi bukan kata (نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ) “neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” yang paling mengerikan kita. Bukan pula kata  (مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ) “para malaikat yang kasar lagi keras.”

Yang paling mengerikan bagi kita ternyata adalah panggilan (يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) “Wahai orang-orang yang beriman.” Karena kalau panggilannya adalah (يا أيها الذين كفروا) “Wahai orang-orang yang kafir,” hal itu akan terlihat wajar saja. Karena mereka memang layak mendapatkan siksa seperti itu.

Tapi ketika panggilannya adalah untuk orang-orang yang beriman, ini adalah hal yang membuat kita bertanya-tanya, ini menunjukkan apa?

Ternyata walaupun kita sudah beriman kepada Allah Taala, kita tetap harus berhati-hati, karena di rumah-rumah kita ternyata masih terdapat banyak sekali pintu-pintu neraka.

Ada kewajiban-kewajiban yang harus kita laksanakan untuk tidak membuat pintu neraka tersebut terbuka di rumah kita. Melaksanakan kewajiban-kewajiban itu harus kita rasakan sebagai upaya dalam menutupi pintu-pintu neraka tersebut.

Di akhirat nanti, Allah Taala akan meminta pertanggungjawaban kita, jika ada anggota keluarga yang terseret masuk ke dalam neraka. Rasulullah saw bersabda:

إنَّ اللهَ سائلٌ كلَّ راعٍ عمَّا استرعاهُ، حفظَ ذلكَ أمْ ضيَّعَ، حتى يسألُ الرجلَ عنْ أهلِ بيتِهِ

“Sesungguhnya Allah Taala akan menanyakan semua orang yang diberi amanah/tanggung jawab. Apakah dia menjaganya atau menyia-nyiakannya. Hingga seorang laki-laki pun ditanya tentang keluarganya.”

Kita tidak hanya akan ditanya tentang pakaian dan makanan anak-anak kita, kesehatan dan keselamatan mereka, sekolah dan prestasi mereka.

Yang akan lebih awal ditanyakan, “Apakah kita sudah menjaga fitrah kebaikan mereka yang sudah ada sejak lahir?” Karena setiap bayi dilahirkan dalam kondisi yang baik.

“Apakah kita sudah menjadi jalan mereka semua mendapatkan hidayah dari Allah Taala? Atau bahkan menjadi penghalang hidayah bagi mereka?”

“Apakah kita sudah mengajarkan kepada mereka untuk lebih mencintai akhirat daripada dunia?” Sehingga keluarga adalah seperti dikatakan “Baity Jannaty” (Rumahku adalah surgaku).

Jika ada di antara mereka yang memasuki pintu neraka lantaran kesalahan kita, maka kita pun akan terseret bersama mereka. Karena Allah Taala telah mengamanahkan mereka kepada kita. Allah Taala juga telah memberikan kemampuan dan kekuasaan untuk membimbing mereka. Namun banyak di antara kita yang tidak menggunakannya dengan baik.

Semoga Allah Taala selalu membimbing kita kepada jalan keselamatan, menghindarkan kita dari pintu neraka di rumah kita sendiri. Amin Ya Rabbal ‘alamin. (sof1/www.mukjizat.co)

Raih cahaya hidayah dalam serial TADABUR AL-QURAN, berisi ringkasan tadabur para ulama tafsir:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment