BINGKAI

Kata-Katamu Menggambarkan Imanmu

kata anjay kata-katamu menunjukkan imanmu
Seorang Mukmin memilih kata-katanya.

mukjizat.co – Young Lex ikut berkomentar atas sikap Lutfi Agizal mengkritisi penggunaan kata anjay. Young Lex mengaku kesal karena dia sempat mempopulerkan kata tersebut dalam lagu yang rilis beberapa tahun lalu.

Diundang ke Podcast Deddy Corbuzier, Young Lex mengaku ‘gemes’ ke Lutfi. “Gua pas nonton podcast lu dari rumah, gua gatel banget.” ungkap ayah anak satu itu, Sabtu (5/9/2020), seperti dilansir Okezone.

Rasulullah saw. sedang duduk bersama Abu Bakar ra. Datang orang yang langsung mencela Abu Bakar ra. Tapi Abu Bakar diam saja hingga dua kali dicela. Begitu orang itu mencelanya kali ketiga, Abu Bakar menjawab. Rasulullah saw. pun langsung pergi. Abu Bakar ra. mengejar dan bertanya, “Engkau marah kepadaku?” Rasulullah saw. menjawab:

“Tadi malaikat turun kepadaku untuk mengatakan bahwa kamu benar. Tapi setelah kamu menjawab, setan pun ikut datang bersama kita. Aku tidak mau berdekatan dengan setan.” [Abu Daud].

Kunci Keselamatan

Bukan hanya dalam menanggapi polemik kata anjay, seorang Mukmin memang sudah harusnya menyadari dan meyakini bahwa perkataan adalah termasuk amalan yang akan dihitung dan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

وإن الرجل ليتكلم بالكلمة لا يلقي لها بالاً يهوي بها في جهنم سبعين خريفاً

“Seseorang mungkin mengatakan satu kata, kata tidak diperhatikannya, ternyata bisa melemparkan dirinya ke neraka selama 70 tahun.” [Tirmizi].

Jangan sampai ada kata-kata kita yang kita sesali di akhirat nanti. Karena ternyata ringan dikatakan di dunia, tapi ada implikasinya di akhirat.

Mukmin Memilih kata-katanya

Abbas as. ditanya salah seorang sahabat, “Apakah engkau lebih tua daripada Rasulullah saw?”

Dalam bahasa Arab, pertanyaan itu dibahasakan (أنت أكبر أم رسول الله؟). Karena selain bermakna lebih tua, kata (أكبر) juga bisa bermakna lebih besar, maka Abbas ra. memberikan jawaban yang sangat hati-hati. Katanya:

هو أكبر مني وأنا ولدت قبله

“Beliau lebih besar dariku, dan aku dilahirkan sebelumnya.”

Hal yang sama juga dilakukan oleh Umar bin Khattab ra. Ketika melihat orang menyalakan api, mengatakan:

يا أهل الضوء

“Wahai pemilik cahaya,” dan tidak mengatakan:

يا أهل النار

“Wahai pemilik api.”

Kata selain bermakna api, kata (النار) juga bisa bermakna neraka.

Merasa Semua Kata Ada Hisabnya

Perkataan kita pasti ada hisabnya. Karena mempunyai efeknya yang sangat pasti. Perkataan baik berefek positif; dan perkataan buruk berefek negatif.

Ibunda Aisyah ra. pernah mengatakan bahwa Ibunda Shafiyah orangnya pendek. Maka Rasulullah saw. bersabda:

يا عائشة ، لقد قلت كلمة لو مزجت بمياه البحر لأفسدته

“Hai Aisyah, engkau sudah menyebutkan kata yang jika dimasukkan ke dalam air lautan, seluruh lautan pun pasti akan rusak.” [Abu Daud].

Pegawai rendahan yang jarang diperhatikan rekan kerjanya, tiba-tiba disapa direktur sepintas lalu, “Apa kabar, Mas? Sehat? Bagaimana keluarga?” Kata-kata yang tak seberapa ini mungkin akan membekas selama berhari-hari dan membuat dirinya lebih bersemangat dalam kerja.

Seorang kakak mengunjungi adiknya yang sudah menikah dan tinggal di kontrakan, lalu mengatakan, “Kamu betah di sini? Sabar banget ya kamu?” Hubungan suami-istri pun bisa  berubah total setelah kata-kata itu masuk ke telinga istri.

Seseorang bertemu kawannya yang baru menikah, dia berkata, “Sepertinya ada yang lebih cocok denganmu daripada dia.” Maka suami pun akan menemukan banyak kekurangan pada diri istrinya. Yang dilihatnya hanya sisi kekurangannya saja.

Sebelum mengatakan kata yang masih diperdebatkan baik atau buruknya, seperti polemik tentang kata anjay, hendaknya kita menyadari bahwa berkata-kata dan berkomentar baik adalah seperti sedang menebar benih. Tanpa kita sadari akan tumbuh menjadi pohon yang besar dan menghasilkan buah yang banyak. Maka tebarlah benih kebaikan sebanyak-banyaknya.

Muraqabatullah Jurus Mujarab

Muraqabatullah adalah “Seorang hamba selalu mengetahui, menyadari, dan meyakini bahwa Allah Taala terus mengawasinya, lahir dan batinnya.”

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Dan orang yang beriman kepada Allah Taala dan Hari Akhir hendaknya berkata baik, atau diam saja.” [Bukhari].

Jika kita kedatangan tamu orang yang sangat penting dalam hidup kita. Kita ingin orang itu senang. Dalam obrolan tidak boleh tersinggung. Kita pun berhati-hati dalam bercakap. Karena kalau tidak hati-hati, kata-kata kita akan membuatnya marah. Lalu berafek buruk pada hidup kita, pekerjaan kita.

Sekarang, Allah Taala Pencipta Alam Semesta selalu mengawasi dan mencatat apapun yang kita katakan:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” [Al-Hadid: 4].

Kita pun seharusnya ekstra disiplin dalam berkata-kata. Hanya akan mengatakan kata yang baik-baik. Bukan kata yang masih diperdebatkan. Kata anjay misalnya.

Jika ada yang mengatakan bahwa HP kita disadap, diawasi dan direkam semua percakapannya, pasti kita akan sangat berhati-hati jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang bisa menjerat kita.

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Qaf: 18].

Jika Hati Baik, Lisan Pun Baik

Lisan adalah jendela hati kita. Orang yang berperasaan dan berpikiran buruk, maka yang akan keluar dari lisannya hanyalah keburukan. Demikian pula sebaliknya, orang yang berperasaan dan berpikiran baik, maka yang akan keluar dari lisannya hanyalah kebaikan.

Abdullah bin Amru bin Ash ra. mengatakan tentang Rasulullah saw.

والذي بعث محمداً بالحق لا يخرج منه إلا حق

“Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, semua yang keluar dari lisannya adalah kebenaran.”

Karena iman tidak hanya mendisiplinkan kita dalam beribadah. Tapi juga mendisiplinkan kesan kita, kehendak kita, sikap kita, selera kita, syahwat kita, dan sebagainya. Jika hati dan batin kita menjadi bersih, apa yang keluar dari lisan kita pun bersih.

Buktinya ada orang yang imannya baik akan berbahagia menerima aturan-aturan yang menurut orang lain mengekangnya.

وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu.” [Ar-Ra’du: 36].

Kenapa? Karena sesuai dengan tabiat hati mereka. Siswa yang senang kebersihan, akan senang kelasnya kelas bersih, akan senang membersihkan dan menjaga kebersihan.

Baca juga:

Hubungan Sesama Muslim Harusnya Harmonis

Kalau diadakan psikotes yang dirancang untuk mengukur preferensi psikologis seseorang, mungkin akan terdapat 90% poin kesamaan antar dua orang Mukmin.

Semakin banyak titik persamaan, semakin terbangun cinta dan kasih sayang antar keduanya.

Bukan hanya cinta yang merupakan perasaan di dalam hati, tapi juga kasih sayang yang bisa berbentuk ucapan dan perbuatan baik dan lembut yang mengekspresikan rasa cinta itu. Tidak ada keinginan untuk menyakiti saudaranya. Seperti itu kiranya Muslim menanggapi polemik kata anjay. (sof1/www.mukjizat.co)

Raih cahaya hidayah dalam serial TADABUR AL-QURAN, berisi ringkasan tadabur para ulama tafsir:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.