BINGKAI

Berkata Baik dalam Pergaulan

berkata baik dalam pergaulan
Ada pribahasa klasik mengatakan bahwa bahasa menunjukkan bangsa.

mukjizat.co – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menerbitkan pernyataan berjudul ‘Hentikan Menggunakan Istilah Anjay’ pada Sabtu (29/8/2020) yang lalu, seperti dilansir tirto.id. Surat yang ditandatangani oleh Ketua Umum Arist Merdeka Sirait dan Sekretaris Jenderal Dhanang Sasongko itu mengatakan dalam konteks tertentu ‘anjay’ mengandung unsur kekerasan dan merendahkan martabat seseorang. Berkata baik dalam pergaulan.

Allah Taala memerintahkan kita untuk memilih kata-kata yang baik dalam berbicara. Pemilihan kata yang baik ditujukan agar tercipta rasa cinta dan kasih sayang antar sesama dalam pergaulan. Tidak timbul permusuhan, saling menjauhi dan memutus hubungan.

Allah Taala berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوّاً مُبِيناً

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ” Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” [Al-Isra’: 53].

Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan, “Perintah ini adalah salah satu bentuk kelembutan Allah Taala kepada hamba-Nya. Allah memerintahkan mereka untuk melakukan yang terbaik dalam akhlak, perbuatan, dan perkataan. Semua itu akan membawa mereka kepada hidup bahagia di dunia dan akhirat.”

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ” Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)” adalah sebuah perintah terkait semua bentuk perkataan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Taala. Baik berupa tilawah, zikir, mengajarkan ilmu, amar makruf nahi mungkar, dan juga perkataan yang baik dan lembut.

Semua itu ternyata bertingkat-tingkat. Sehingga jika ada perkataan yang baik dan perkataan yang lebih baik, maka hendaknya kita memilih perkataan yang lebih baik.

Perkataan yang baik akan mendatangkan akhlak dan amalan yang baik pula. Karena itu orang yang bisa mengendalikan lisannya, dia bisa mengendalikan dirinya seutuhnya.

Lawan Setan dengan Berkata Baik

“Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka” artinya adalah bahwa setan berada di antara orang-orang yang sedang bergaul untuk merusak agama dan kehidupan dunia mereka.

Agar selamat dari bahaya setan, maka jalan keluarnya adalah tidak menaati setan untuk berkata-kata yang buruk. Berkata yang baik sesama rekan pergaulan akan membuat setan kesulitan dalam menimbulkan perselisihan dan permusuhan. Berkata baik dalam pergaulan.

Sesama manusia jangan saling bermusuhan, karena setanlah yang sebenarnya musuh bagi manusia. Manusia sudah seharusnya secara bersama-sama memusuhi setan. Karena setan tidak mungkin bisa dijadikan sebagai teman.

Adapun sesama manusia, permusuhan terjadi karena jiwa mereka telah dikendalikan setan sehingga selalu memerintahkan kepada keburukan (nafsun ammarah bis-suu’). Jika jiwa ini dibersihkan dari penyakit-penyakitnya, pastilah manusia akan kembali lurus, menaati perintah agama, dan menjaga persaudaraan sesama manusia.

Perkataan Kita Dicatat dan Direkam

Sebagai seorang Muslim, kita hendaknya meyakini hal yang berkali-kali dinyatakan oleh Al-Quran bahwa perkataan kita dicatat dan direkam oleh Allah Taala. Kita akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Taala.

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Qaaf: 18].

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar.” [Ali Imran: 181].

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ

“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?  Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” [Az-Zukhruf: 80].

Masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan bahwa perkataan kita itu dicatat oleh Allah Taala. Perkataan itu bisa menguntungkan kita di akhirat, bisa juga merugikan kita. Oleh karena itu, pelajarannya adalah hendaknya kita mengendalikan lisan kita dari berkata yang buruk dalam segala kondisi kita, sehingga semua catatan perkataan kita adalah baik. Berkata baik dalam pergaulan.

Baca juga:

Harus Belajar

Syariat Islam telah memotivasi kita untuk selalu berkata baik dalam pergaulan. Berkata yang membahagiakan orang lain yang mendengarkannya. Allah Taala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْناً

“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” [Al-Baqarah: 83].

Dalam kondisi-kondisi tertentu yang sangat spesifik, berkata yang ‘kasar’ (buruk) dibolehkan. Misalnya dalam kondisi sedang terzalimi, dan harus mengatakannya kepada pelaku kezaliman itu.

لا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعاً عَلِيماً

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [An-Nisa’: 148].

Diceritakan bahwa para ulama dan orang-orang shalih sangat berhati-hati dalam berbicara. Mereka benar-benar tidak mengatakan sesuatu yang nantinya akan mereka sesali kenapa pernah mengatakannya.

Al-Ahnaf bin Qais pernah dimusuhi oleh seseorang. Orang itu mengatakan, “Jika kau berkata buruk satu kali kepadaku, aku akan membalasnya sepuluh kali.” Apa jawaban Al-Ahnaf? Beliau mengatakan, “Jika kau berkata buruk sepuluh kali, aku tidak mendengarkannya satu kali pun.”

Dikisahkan bahwa ketika melihat seekor babi berjalan, Isa bin Maryam as. mengatakan, “Lewatlah engkau dengan selamat.” Maka ada yang bertanya kepadanya, “Kenapa engkau mempersilahkan babi seperti itu?” Isa as. menjawab, “Aku sedang membiasakan lisanku berkata baik.”

Taqiyudin As-Subki mendengar anaknya berkata kepada anjing, “Hai anjing, engkau anak anjing.” Maka beliau melarang anaknya mengatakan seperti itu. “Bukankah benar dia anak anjing, ayah?” tanya anaknya. As-Subki menjawab, “Engkau boleh mengatakannya tapi bukan untuk menghina.” Berkata baik dalam pergaulan. (sof1/www.mukjizat.co)

Raih cahaya hidayah dalam serial TADABUR AL-QURAN, berisi ringkasan tadabur para ulama tafsir:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment