SYARIAH

Menyikapi Pendapat Ulama Salaf

ulama salaf dan salafi
Mewarisi dengan utuh, bukan sepotong-sepotong.

mukjizat.co – Saat ini di Indonesia banyak berkembang istilah ulama salaf dan salafi. Apakah ajaran salafi itu benar? Apa ciri-ciri ajaran Islam yang benar? Karena muncul juga istilah wahabi. Untuk mengetahui hendaknya dilakukan pembahasan yang mendalam. Khususnya tentang menyikapi pendapat ulama salaf.

Setiap orang dapat diterima atau ditolak ucapannya, kecuali Rasulullah SAW. yang ma’shum. Segala hal yang datang dari para ulama salaf yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah kita terima sepenuh hati.

Bila tidak maka Al-Qur’an dan Sunnah lebih utama untuk diikuti. Namun demikian, kita tidak boleh mencaci maki dan menjelek-jelekkan pribadi mereka dalam masalah-masalah yang masih diperselisihkan. Serahkan saja kepada niat mereka masing-masing, sebab mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.

Hanya Rasul saw. yang Ma’shum

Karena beliau menjadi jalan sampainya wahyu:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [An-Najm: 3-4].

Karena itu wajib menaatinya tanpa syarat:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” [Al-Hasyr: 7].

Adapun para ulama, siapapun dia, bisa benar bisa salah. Oleh karena itu, perlu menimbang pendapat para ulama dengan Al-Quran dan Sunnah. Ulama salaf dan salafi.

Jika sesuai, maka harus kita terima. Tapi jika para ulama itu berijtihad, lalu diketahui bahwa maksud Al-Quran dan Sunnah tidak sesuai pendapat mereka, maka kita wajib mengikuti pendapat yang jelas merupakan maksud Al-Quran dan Sunnah.

  • Karena mungkin ada hadits yang tidak mereka ketahui.
  • Atau menurut mereka hadits itu dhaif.
  • Atau adanya dalil lain yang menerangkan maksudnya.

Adab dengan Para Ulama

Para ulama adalah ahli waris Nabi saw. Jadi mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan nabi. Apalagi jika mereka adalah sahabat.

لا تسبّوا أصحابي، فو الذي نفسي بيده لو أنفق أحدكم مثل أحد ذهباً ما بلغ مُد أحدهم ولا نصيفه

“Jangan kalian cela sahabatku. Demi Allah, seandainya seseorang di antara kalian mensedekahkan emas sebesar gunung Uhud, maka nilai sedekah itu tidak bisa menyamai sedekah satu mud mereka, bahkan setengahnya.”

Perbedaan dan kesalahan dalam berijtihad tidak boleh menjadi alasan untuk mencela, menurunkan derajat mereka, dan meragukan niat mereka. Allah Taala memberi mereka satu pahala, kenapa kita menjelek-elekkan?

إذا حكم الحاكم فاجتهد ثم أصاب فله أجران، وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر

“Jika seorang pemimpin berijtihad lalu tepat maka dia mendapatkan 2 pahala, jika salah maka dia mendapatkan satu pahala.” [Bukhari].

Hal yang harus dilakukan adalah menjelaskan pendapat yang kuat dan tepat, dengan cara yang ilmiah dan beradab. Menjelek-jelekan pihak yang berbeda pendapat dengan kita hanya akan menimbulkan perpecahan. Ulama salaf dan salafi.

Kedudukan Ilmu Dan Ulama

Banyak sekali ayat dan hadits yang menyebutkan keutamaan ilmu dan ulama. Misalnya Allah Taala menyebutkan para ulama bersama Allah Taala dan para malaikat, bahwa mereka adalah saksi atas keesaan Allah Taala.

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Ali Imran: 18].

Ilmu para ulama juga sangat penting dalam meningkatkan keimanan. Karena ilmu akan mengungkap bukti-bukti kekuasaan Allah Taala.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” [Fathir: 28].

Sehingga kita semua diperintahkan menambah ilmu kita, berdoa agar ilmu kita bertambah. Semuanya agar iman kita bertambah.

وقل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” [Thaha: 114].

Para ulama mendapatkan derajat yang tinggi di Sisi Allah Taala. Karena itu kita juga diperintahkan untuk memuliakan mereka.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Mujadilah: 11].

Persaingan dalam masalah keduniaan seperti harta dan jabatan adalah sesuatu yang tercela. Namun demikian, persaingan bahkan hasad dibolehkan kalau terkait dengan bertambahnya ilmu kita.

لا حسد إلا في اثنتين : رجل آتاه الله مالاً فسلطه على هلكته في الحق، ورجل آتاه الله حكمة فهو يقضى بها ويعلمها الناس

“Tiada  hasad yang dibolehkan kecuali dua hal. Seseorang yang dikurnia oleh Allah akan harta, kemudian ia membelanjakannya untuk kebenaran, dan seseorang yang dikurniai oleh Allah ilmu, lalu ia  memutuskan dengan ilmunya itu dalam persengketaan, serta mengajarkannya.” [Bukhari, Muslim].

Siapa yang baik dan siapa yang buruk adalah rahasia Allah Taala. Tapi ternyata Allah Taala telah memberikan tanda yang menunjukkan apakah seseorang dalam keadaan baik atau buruk. Pemahaman seseorang dalam masalah agama bisa menjadi penanda apakah seseorang dalam keadaan baik atau buruk.

من يرد الله به خيراً يفقهه في الدين

“Orang yang diinginkan Allah mendapat kebaikan, maka dia akan dipahamkan dalam agama.” [Bukhari, Muslim].

Supaya kita semua bersemangat dalam mengejar kemuliaan ini, maka Allah Taala menjanjikan surga yang indah untuk para penuntut ilmu.

من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل الله له طريقاً إلى الجنة

“Orang yang menapaki jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memberinya jalan yang mudah menuju surga.” [Tirmizi].

Karena Allah Taala telah memuliakan mereka, kita jangan sampai mencela mereka. Mencela mereka adalah salah satu tanda kemunafikan.

ثلاث لا يستخف بهم إلا منافق: ذو الشيبة في الإسلام وذو العلم وإمام مقسط

“Tiga orang yang mencela mereka adalah perbuatan kemunafikan; orang yang menua dalam Islam, ulama, dan pemimpin yang adil.” [Thabrani].

Sifat Tawadhu Sesama Ulama

Sesama ulama selalu menerapkan sikap tawadhu. Merendahkan diri sendiri untuk memuliakan sesamanya. Hal itu bisa kita lihat dari beberapa perkataan ulama berikut ini:

Abdurrahman bin Abi Laila mengatakan, “Aku sempat bertemu dengan 120 orang sahabat Nabi saw. Setiap kali ada orang yang menanyakan sebuah hadits atau fatwa, pasti mereka menginginkan sahabat lain yang menjawabnya. Tapi kini ada orang-orang yang mengklaim sebagai ulama, sangat berani menjawab pertanyaan-pertanyaan. Padahal jika pertanyaan itu diajukan kepada Umar bin Khattab ra. pasti beliau akan mengumpulkan sahabat senior peserta Perang Badar.”

Umar bin Khattab ra. mengatakan, “Ilmu ada tiga; Al-Quran, Sunnah, dan Laa Adri (aku tidak tahu).”

Ibnu Mas’ud ra. mengatakan, “Orang yang berfatwa dalam semua masalah yang ditanyakan adalah orang gila.”

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak mesti setiap hal bisa kita jelaskan, sedangkan Rasulullah saw. saja pernah ditanya dan menjawab, “Aku tidak tahu, tunggu hingga aku tanya malaikat Jibril.”

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Seorang ulama berpenyakit jika lebih senang bicara daripada diam.”

Abdul Malik bin Umair mengatakan, “Hilangnya hadits adalah jika disampaikan orang yang tidak berkompeten.”

Kaidah dalam Mengkritik Ulama

Ketika mengetahui kaidah “Setiap orang dapat diterima atau ditolak ucapannya, kecuali Rasulullah saw. yang ma’shum,” jangan sampai ada perasaan berhak mengkritiki para ulama.

Mengkritik mereka hanya bisa kita lakukan jika kita memenuhi syarat keilmuan yang memadai,  dan menyampaikannya dengan adab. Tidak semua orang boleh mengkritik ulama. Masing-masing harus menyadari kedudukan. Kalau tidak akan terjadi kekacauan.

Berikut kaidah-kaidah yang hendaknya kita laksanan.

  • Tidak boleh ada hasad. Ibnu Umar ra.: Seseorang tidak bisa dikatakan ulama jika masih hasad dengan yang di atasnya, dan menghina yang di bawahnya.
  • Menaati mereka, jika benar. Sufyan bin Uyainah: Orang yang paling mulia di sisi Allah Taala adalah yang menjadi perantara antara manusia dengan Allah Taala. Merekalah para rasul dan ulama. Maka wajib menaati ulama.
  • Mendoakan mereka. Imam Ahmad bin Hanbal: Setiap shalat selama 40 tahun ini, aku pasti mendoakan Imam Syafi’i.
  • Mencintai mereka. Imam Syafi’i: Jika ulama yang mengamalkan ilmunya bukan wali (kekasih) Allah, maka Allah tidak memiliki kekasih.
  • Harus memastikan apakah benar itu kesalahan mereka. Ath-Thabari: Jika setiap tuduhan terhadap seorang ulama membuat kita tidak lagi mempercayainya, maka kita pun harus meninggalkan mayoritas ulama periwayat hadits karena hampir semuanya ada yang mengkritik mereka.
  • Husnu zhan kepada mereka. Ibnu Taimiyah: Kita meyakini tidak ada ulama yang luput dari kesalahan. Namun kita tetap berharap mereka mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Taala karena amal mereka, dan akhlak mereka yang sesuai dengan sunnah. Janganlah kita menutupi kebaikan seseorang dan menonjolkan kesalahannya.
  • Tidak menampakkan aib mereka. Said bin Musayyib: Semua manusia, siapapun dia, pasti memiliki aib. Tapi ada orang-orang yang tidak perlu diungkap aibnya.

Salaf dan Salafiyah

Setelah pemaparan tadi, tentu kita ingin juga mendapatkan kemuliaan yang mereka dapatkan. Hingga ada istilah salaf dan salafiyah. Apa hubungan antara ulama salaf dan salafi?

Secara periode waktu, salaf berarti periode waktu; zaman Rasulullah, sahabat, dan tabi’in. Semua mereka, dan tidak terbatasi dengan orang-orang tertentu.

Sementara salafiyah berarti tren dalam logika, emosi, dan metode yang terhubung dengan generasi terbaik tersebut. Kuat hubungannya dengan Al-Quran dan Sunnah, mengerahkan semua usaha untuk meninggikan agama Allah: manhaj dalam akidah, manhaj dalam ibadah, dan manhaj dalam harakah

Menjadi seorang salafi adalah dengan meneladani para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in dalam ilmu dan amal sekaligus. Bukan hanya dalam satu sisi kehidupan mereka saja. Harus kuat hubungan antara Ulama salaf dan salafi. (so1/www.mukjizat.co)

Raih cahaya hidayah dalam serial TADABUR AL-QURAN, berisi ringkasan tadabur para ulama tafsir:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda