IBADAH

Rasa Shalat yang Khusyuk

Seperti apa rasa shalat yang khusyuk?
Apakah semua kita bisa menemukan keindahan seperti ini?

mukjizat.co – Mengupas bagaimana mengambil bekal ruhani dari shalat adalah hal yang sangat penting. Shalat merupakan hubungan kita dengan Allah Taala. Hubungan antara makhluk yang ditiupkan ruh Allah Taala kepadanya dengan sumber asli ruh tersebut. Indahnya rasa shalat yang khusyuk.

Hubungan ini bertujuan untuk memperoleh kehidupan dan berkah dari Allah Taala. Shalat adalah cara mendekatkan diri kepada Allah Taala, dan bagaimana bisa meraih hubungan yang indah dengan-Nya. Rasulullah saw. menyebutkan keindahan itu dengan bersabda, “Dijadikan ketentraman hatiku dalam shalat.”

Karenanya kita melihat Rasulullah saw. selalu melakukan shalat malam, dan tenggelam dalam shalatnya hingga kedua kakinya bengkak tanpa terasa. Memang, orang yang ruh dan perasaannya telah membumbung tinggi, kepayahan dan sakit fisik tidak lagi terasa. Shalat merupakan sumber kekuatan ruhani yang selalu terbarukan. Indahnya rasa shalat yang khusyuk.

Waktu shalat terbagi di waktu siang dan malam hari. Hal ini memudahkan untuk berbekal secara kontinu dan memperbaharui cadangan bekal. Lalu Allah Taala memudahkan cara pelaksanaannya sehingga kita tidak terhalang mendapatkan bekal darinya dalam berbagai waktu dan kondisi. Saat damai, perang, bepergian, bermukim, sehat, sakit dan sebagainya. Ini merupakan karunia dan rahmat Allah yang sangat besar kepada kita.

Shalat merupakan refreshing dan upaya membebaskan diri dari berbagai kesibukan dunia, untuk menghadap Allah Taala. Dengan khusyuk, tunduk, rukuk dan sujud. Membaca dan mendengar kalam Allah swt., membaca tasbih, mengagungkan, memohon ampunan dan berdo’a kepada Allah Taala. Seolah-olah shalat merupakan tangga yang menjulang tinggi bagi ruh kita untuk bertemu Allah Taala, dan melepaskan diri dari tarikan bumi dengan berbagai godaannya.

Siapa yang melakukan shalat dengan hati yang jernih dan niat yang ikhlas, maka Allah Taala akan melimpahkan ketenangan, rahmat, cahaya, dan hidayah-Nya. Shalat akan dapat membantu orang yang melakukannya untuk menghadapi liku-liku kehidupan dengan tenang dan mantap. Tidak ada kegelisahan, ketakutan, kegundahan dan kelemahan.

Dia terlindung dari berbagai godaan, perbuatan keji, kemungkaran dan bisikan-bisikan setan. Dia berada dalam perlindungan dan pemeliharaan Allah Taala. Merasa selalu bersama Allah Taala ke mana pun ia pergi, dan di mana pun dia tinggal. Bertawakal kepada Allah Taala, menyerahkan segala urusan kepada-Nya, percaya sepenuhnya kepada-Nya dalam melaksanakan perintah atau menjauhi larangan-Nya.

Begitulah dia hidup dalam penghambaan yang benar, kebahagiaan yang sempurna serta keridhaan dari Tuhannya. Inilah balasan orang yang takut kepada Tuhannya.

Orang yang menjaga shalatnya akan merasa bahwa dia baru saja menghadap Allah Taala, dan sebentar lagi akan pulang menghadap kepada-Nya. Karenanya tidak sepatutnya dia melupakan Allah Taala pada rentang waktu antara dua shalat.

Demikianlah dia selalu berada dalam lingkup pengaruh rabbani hasil dari shalatnya. Dia juga hampir tidak pernah jauh dari-Nya. Maka setan tidak mempunyai kesempatan untuk membisikinya agar menyimpang dari jalan yang lurus, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktımya atas orang-orang yang beriman.” [An-Nisa’: 103]

Apabila Rasulullah saw. mendapatkan persoalan rumit, beliau segera melakukan shalat. Dengan itu beliau mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan taufiq. Beliau selalu mengatakan, “Ya Bilal, tenangkan kami dengan shalat.” Dengan begitu, shalat bagi seorang Mukmin ibarat lembah rimbun dan hijau di tengah sahara kehidupan yang panas.

Kerundukan dan rukuk di hadapan Allah Taala dapat membekali orang yang melakukannya dengan nilai kemuliaan dan izzah. Karenanya, orang shalat tidak akan tunduk dan tidak akan membungkuk dengan penuh hormat, kecuali hanya kepada Allah Taala saja.

“Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorangpun selai kepada Allah.” [Al- Ahzab: 39]

Setiap kali kita mengagungkan dan memuliakan Allah Taala dengan sebenar-benarnya, maka akan bertambahlah ketundukan, ketaatan, dan kepasrahan kita kepada-Nya. Kita akan mendapatkan ketenangan yang lebih di sisi-Nya. Sebaliknya, akan semakin merasakan takut pada kemaksiatan dan penyimpangan terhadap perintah-Nya. Ini adalah sebaik-baik bekal.

Sujud di hadapan Allah Taala adalah setinggi-tinggi tingkatan iman. Di dalamnya tercermin penghambaan mutlak kepada Allah Taala, kerendahan yang tulus dihadapan-Nya, serta kedekatan dan hubungan yang indah dengan-Nya. Indahnya rasa shalat yang khusyuk.

Rasulullah saw. telah merasakan lezatnya sujud pada Allah Taala, dan mendapatkan segala yang terkandung di dalamnya. Karenanya beliau melamakan sujud dalam tahajudnya di waktu malam. Rasulullah saw. juga mengingatkan kita akan kebaikan yang ada dalam sujud dan menggemarkan kita untuk melakukannya. Beliau bersabda bahwa kedudukan yang paling dekat antara hamba dan Tuhannya adalah ketika dia bersujud. Indahnya rasa shalat yang khusyuk.

Orang yang shalat merasakan kedekatan tersebut dan dia mengetahui bahwa itu merupakan kedudukan tertinggi dan termulia baginya di dunia ini. Karena saat itu dia betul-betul dekat dengan Tuhannya. Dengan begitu dia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Inilah sebaik-baik bekal.

Alangkah baiknya, Anda baca juga:

Duduk tasyahhud memiliki makna yang sangat agung untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala. Saat itu kita mengucapkan penghormatan yang penuh barakah dan pujian yang indah. Kita mengucapkan salam penghormatan Islam kepada kekasih kita Rasulullah saw. “Assalamu’alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wabarakatuh”.

Kita mengucapkan salam penghormatan untuk diri kita sendiri dan hamba-hamba Allah yang shalih. Kemudian kita mengakui dua kalimah syahadat. Lalu membaca shalawat dan salam pada Rasulullah saw.

Alangkah indahnya meresapi posisi duduk dengan seolah-olah merasakannya berada di hadapan Allah swt., beserta Rasulullah saw., dan hamba-hamba Allah yang shalih dari umat Muhammad saw. Allah memandang kita dengan ridha dan restu. Indahnya rasa shalat yang khusyuk.

Kemudian kita keluar dari shalat setelah duduk yang mengasyikkan itu untuk menghadapi liku-liku kehidupan dengan jiwa yang pasrah dan tenang.

Gerakan-gerakan shalat juga dapat menyehatkan badan orang yang melaksanakannya. Sikap disiplin kita kepada gerakan-gerakan shalat seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw., dalam satu rakaat, satu rukuk, dan dua kali sujud, adalah cermin penghambaan secara total kepada Allah Taala. Hal itu juga berarti penerimaan secara mutlak terhadap perintah-perintah Allah Taala, walaupun belum mengetahui hikmah yang terkandung di dalamnya.

Iblis dijauhkan dari rahmat Allah Taala bukan hanya sekadar karena kedurhakaannya pada perintah Allah Taala saat diperintah untuk sujud kepada Adam as. bersama malaikat. Akan tetapi karena dia berpaling dari penghambaan secara total yang menjadi konsekuensi perintah tersebut. Demikianlah, dari shalat kita belajar memahami makna penghambaan kepada Allah Taala.

Kebersihan badan, pakaian, tempat, dan berwudhu untuk persiapan shalat dapat mentarbiyah Muslim untuk selalu bersih dan menghindari berbagai kotoran dan najis, baik yang nampak maupun yang tidak nampak.

Bila kesucian lahir ini dibarengi dengan kesucian batin dari hal-hal yang membuat Allah Taala murka, maka sempurnalah sudah kebahagiaan. Tiada dendam, tiada dengki, tiada iri, tiada kebencian, dan tiada permusuhan di antara kaum Muslimin. Ini merupakan bekal kaum Muslimin secara umum sehingga mereka akan hidup dalam kedamaian. Indahnya rasa shalat yang khusyuk.

Masuk waktu shalat adalah syarat sahnya shalat. Melaksanakan shalat tepat waktu dapat mengkondisikan orang yang melakukannya untuk disiplin dan perhatian terhadap waktunya. Tiada satu waktu pun yang lewat tanpa ada perhatian, sebab waktu-waktu shalat selalu mengingatkan dan menyadarkannya dari kelalaian.

Dengan begitu, daya tarik dunia tidak akan memperdayakannya dari mengingat Allah Taala, menegakkan shalat, beramal dan berjihad di jalan Allah Taala. Sifat-sifat seperti itu sangat diperlukan oleh umat Islam untuk memperjuangkan agamanya.

Menghadap kiblat dalam shalat menuntut seorang Muslim agar mengetahui arah dan letak geografis Baitullah, yaitu Ka’bah. Perasaan bahwa seluruh kaum muslimin di segala penjuru dunia menghadap ke satu kiblat dapat menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan dengan saudara-saudara sesama Muslim. Ini merupakan pendidikan yang harus diwujudkan di kalangan kaum muslimin, hingga mereka menjadi umat yang kuat.

Menghadap kiblat juga dapat mengkondisikan hati untuk mengorientasikan niat hanya kepada Allah Taala, dan membebaskannya dari pengaruh riya’ atau syirik. Sedangkan ketulusan niat adalah hal yang paling dibutuhkan oleh setiap Muslim.

Memenuhi panggilan untuk shalat saat mendengar adzan, dan meninggalkan berbagai kesibukan dunia adalah cermin dari mujahadah untuk memperkuat tekad, memperkokoh kemauan, dan mengalahkan keinginan-keinginan hawa nafsu. Ini merupakan bekal dan pendidikan bagi jiwa yang akan mempengaruhi kehidupan seorang Muslim, hingga dapat menata skala prioritas dalam berbagai tugas dan urusan.

Kerapian, kelurusan barisan dan ketaatan pada imam, serta mengingatkannya saat dia terlupa atau salah dalam shalat berjamaah merupakan tarbiyah bagi jiwa Muslim. Sebab sikap jundiyah (keprajuritan), keteraturan, kerapian, dan ketaatan yang disertai dengan kesiapan memberi nasihat pada kekeliruan adalah hal-hal yang sangat dibutuhkan umat Islam.

Kesetaraan dalam satu shaf di hadapan Allah Taala. Tanpa perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Tanpa kesombongan dan diskriminasi. Semuanya sama di hadapan Allah. Bahkan mungkin orang kaya meletakkan dahinya untuk sujud kepada Allah Taala di dekat telapak kaki orang fakir yang berada di shaf depannya.

Ini merupakan nilai tarbiyah yang amat penting dan bekal yang sangat diperlukan untuk mempertautkan hati kaum Muslimin, mengakrabkan mereka, dan memperkokoh hubungan di antara mereka.

Pertemuan kaum Muslimin di masjid saat melakukan shalat lima waktu, shalat jum’at dan shalat hari raya, seharusnya dapat memberi kesempatan kepada kaum Muslimin di suatu lingkungan untuk saling mengenal, saling menyatu, dan saling bekerja sama; memberi bantuan yang kekurangan, menjenguk yang sakit, ikut serta merasakan suka dan duka sesama, saling mengasihi, dan saling mencintai di antara mereka.

Perhatian kaum Muslimin untuk menunaikan shalat di masjid dapat mengikat mereka dengan masjid, dan dapat mengembalikan risalah masjid seperti di permulaan dakwah Islam. Masjid Rasulullah saw. digunakan untuk mengatur urusan kaum Muslimin, menyusun pasukan, mengatur strategi, dan mengkaji hal-hal yang dibutuhkan oleh kaum Muslimin. Alangkah perlunya mengembalikan risalah masjid seperti masa pertamanya.

Demikianlah, seluruh aktivitas shalat dan yang terkait dengannya merupakan bekal ruhani seorang Muslim. Masih banyak kebaikan dan manfaat yang terkandung dalam shalat yang tidak terungkap dalam tulisan ini. Semoga kita semua mendapatkan indahnya rasa shalat yang khusyuk. (sof1/www.mukjizat.co)

Sumber: Fikih Dakwah

Raih cahaya hidayah dalam serial TADABUR AL-QURAN, berisi ringkasan tadabur para ulama tafsir:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

Moh. Sofwan

Tulis komentar terbaik Anda di sini

Silahkan klkik disini untuk mengunggah komentar Anda