KEJIWAAN

Manfaat Memikirkan Umur Kita yang Tersisa

untuk apa memikirkan umur kita yang tersisa
Persiapan yang sering terlupa.

mukjizat.co – Memikirkan umur kita yang tersisa. Kita tidak mengetahui masih seberapa lama tersisa umur kita. Apakah masih panjang ataukah pendek? Apakah kita terbimbing untuk melakukan kebajikan serta amal shalih, ataukah kita akan terjerumus pada kemaksiatan? Apalagi perkembangan zaman semakin membuat sulit orang berbuat kebaikan.

Karena itu, perasaan takut dan waspada, ditambah penuh berharap kepada rahmat Allah Taala harus selalu menyertai kita. Yang demikian itu akan mendorong kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan berbagai kebajikan yang mendatangkan manfaat bagi kita di dunia dan akhirat.

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh balasannya di Sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya.” [Al-Muzammil: 20]

Untuk memikirkan hal tersebut, cobalah Anda duduk sejenak seorang diri. Lalu bayangkan bahwa para ahli medis telah menyimpulkan bahwa Anda terserang penyakit berbahaya yang akan menyebabkan kematian dalam waktu enam bulan mendatang. Anda dipastikan akan segera mati.

Anda pun melihat umur Anda yang sangat terbatas, dan terus berkurang. Bayangkanlah, bagaimana kondisi Anda saat itu. Bila beriman, maka dapat dipastikan Anda akan segera melakukan segala kebajikan yang Anda mampu, memanfaatkan seluruh waktu, dan tidak menyia-nyiakan sedetik pun untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhiratmu.

Anda tidak akan ragu mempersembahkan harta, tenaga, pikiran, jiwa dan segala yang dimiliki di jalan Allah Taala.

Pasti Anda tidak akan berani melakukan kemaksiatan. Bahkan tidak akan terbersit dalam pikiran untuk berbuat maksiat. Sebab bagaimana mungkin berbuat maksiat, sementara Anda sedang bersiap-siap untuk menghadap Allah untuk menerima penghisaban dan pembalasan dalam waktu dekat. Marilah selalu memikirkan umur kita yang tersisa.

Adakah seorang dari kita yang dapat menjamin bahwa hidupnya akan berlangsung sampai 6 bulan, beberapa hari, beberapa jam, beberapa detik, atau bahkan 6 detik lagi?

Karena itu, mari kita berupaya menghadirkan kondisi seperti itu. Kita menanti perjumpaan dengan Allah Taala, dan bersiap-siap selalu untuk menyambutnya, sebab hal itu akan datang dengan tiba-tiba.

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [Luqman: 34]

Bila datang kesempatan untuk berbuat baik, maka gunakanlah sebaik-baiknya. Jangan menunda-nunda. Sebab, boleh jadi akan muncul penghalang antara dirimu dan kesempatan itu. Bahkan jangan menunggu-nunggu datangnya kesempatan itu. Agar tergolong orang yang dipuji Allah Taala dalam firman-Nya:

“Mereka ini bersegera untuk mendapatkan kebakan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” [Al Mukminuni: 61].

Kita sering melihat orang yang melakukan perjalanan jauh, begadang di waktu malam, dan berusah-payah untuk mendapatkan harta kekayaan dunia yang tidak seberapa. Bahkan mungkin mereka sampai lama melupakan kebutuhan fisiknya seperti makan dan istirahat, hanya karena mengejar kekayaan.

Mengapa kita tidak bersusah payah seperti mereka, padahal yang sedang kita lakukan adalah perdagangan dengan Allah. Sungguh sangat jauh perbedaan antara dua perdagangan, dan dua keuntungannya.

Hendaknya kita bersungguh-sungguh dan berusaha semampu kita untuk beramal dengan ikhlas, komitmen dengan syari’at Allah, dan beristiqamah dengan perintah-Nya. Usahakan agar kematian datang pada saat kita tidak mempunyai tanggungan hutang pada seorang pun. Sementara hutang kepada Allah lebih wajib untuk dilunasi.

Hendaknya kita bertemu dengan Allah dalam keadaan hati kita bersih dari perasaan buruk kepada saudara kita sesama muslim. Karena tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah salamatus shadr (hati bersih dari perasaan tidak baik pada saudara kita), sedang puncaknya adalah itsar (mengutamakan saudara daripada diri sendiri).

Hendaknya kita segera bertaubat dan beristigfar sebelum ajal menjemput. Sebab tobat saat itu tidak diterima Allah.

“Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertobat sekarang” Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” [An-Nisa’: 17-18]. Marilah selalu memikirkan umur kita yang tersisa. (sof1/www.mukjizat.co)

Sumber: Fikih Dakwah

Raih cahaya hidayah dalam serial TADABUR AL-QURAN, berisi ringkasan tadabur para ulama tafsir:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.