BUAH HATI

Meneladani Nabi Ibrahim dalam Menyiapkan Generasi

Bagaimana mendidik anak rajin shalat?
nabi ibrahim menyiapkan generasi
Hidayah kita adalah berkah doa dan pendidikan Nabi Ibrahim as.

mukjizat.co – Kisah singkat Nabi Ibrahim as. sarat dengan pelajaran. Kisah berisi pesan lengkap untuk kita sebagai ayah, istri, suami, anak, dan tentu Muslim. Mukjizat tidak akan bisa diteladani, tapi sifat dan perbuatan beliaulah yang bisa dijadikan pedoman kita. Terutama dalam mendidik anak. Meneladani Nabi Ibrahim as. dalam menyiapkan generasi.

Umat terbaik yang diciptakan untuk kebaikan manusia

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” [Ali Imran: 110].

Umat manusia saat ini adalah umat yang perlu bimbingan dan asuhan. Umat Islamlah yang ditugaskan sebagai pengasuhnya.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” [Al-Baqarah: 143].

Mungkin predikat itu lambat-laun semakin sirna dari benak umat Islam. Kondisi yang sehari-hari mereka saksikan membuktikan sebaliknya, bahwa umat Islamlah umat yang perlu diasuh dan dibimbing.

Hari Raya Idul Adha dan rangkaian ibadah haji sebenarnya telah kembali membuktikan bahwa umat Islam adalah umat terbaik. Nilai-nilai persatuan, persamaan, keadilan, dan semangat berkorban, sangat jelas terlihat dalam ibadah haji. Terlihat juga umat Islam adalah umat yang sangat besar.

Oleh karena itu, ibadah haji hendaknya semakin kita gali terus untuk mengoptimalkan faedah-faedahnya bagi umat Islam.

Kita dan Nabi Ibrahim as

Ibadah haji dan ibadah kurban tidak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim as.

Bahkan kita adalah umat yang paling berhak belajar kebaikan dari Nabi Ibrahim as. Karena beliau adalah seorang Muslim, bukan Yahudi ataupun Nasrani.

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” [Ali Imran: 67].

Keberkahan yang diperoleh umat Islam saat ini juga sangat erat hubungannya dengan peran beliau. Karena kedatangan Nabi Muhammad saw adalah bentuk dari pengabulan doa beliau:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Baqarah: 129]

  • Doa Nabi Ibrahim ini dikabulkan Allah Taala dengan diutusnya Nabi Muhammad saw.
  • Ini menunjukkan Nabi ibrahim as. sudah mempunyai visi bagaimana membangun generasi penerusnya hingga sangat jauh.
  • Karena jarak antara zaman kehidupan Nabi Ibrahim as. dan zaman kehidupan Nabi Muhammad saw adalah 2530 tahun. Nabi Ibrahim adalah kakek ke-61. Dengan doa di atas, berarti beliau mendoakan kehadiran cucunya yang ke-61.
  • Begitulah pembawa bendera tauhid, harus selalu bersambungan. Nabi Ibrahim as. telah memikirkan kehidupan kita saat ini. Kita pun hendaknya mulai memikirkan kehidupan anak-cucu kita pada zaman-zaman yang akan datang.

Banyak sekali hal yang bisa diteladani dalam menyiapkan generasi mendatang

Beliau ada keluarga pilihan Allah Taala. Sangat tepat kalau dijadikan teladan dalam menyiapkan generasi.

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),” [Ali Imran: 33].

Beliau menjadi salah satu keluarga pilihan karena banyak nabi diutus dari anak-cucu beliau.

Semua itu ternyata berawal dari penantian yang panjang. Beliau selalu berdoa mendapatkan keturunan yang shalih.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” [Ash-Shafat: 100].

Namun tak kunjung diberi keturunan oleh Allah Taala.

Ketika diberi, beliau bersyukur kepada Allah Taala walaupun baru dikabulkan setelah penantian yang sangat lama.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ. رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” [Ibrahim: 39-40].

  • Menunggu lama membuat semakin berharap kepada Allah Taala. Karena keturunan yang shalih tidak lain murni pemberian dari Allah Taala.
  • Menunggu lama menjadikan diri semakin siap untuk menerima amanah dari Allah Taala berupa anak. Karena banyak orang tua yang tidak siap memegang amanah ini.
  • Bersyukur dengan betul-betul akan membuat kita menghargai nikmat dari Allah Taala, sehingga kemudian tidak menyia-nyiakannya. Nikmat dari Allah Taala adalah sesuatu yang sangat berharga, harus dijaga dengan benar-benar.

Dari kecil, putranya sudah diajarkan makna taat, tawakkal, dan ridha dengan kepada tuntutan-tuntunan Allah Taala. Bagaimana Nabi Ibrahim as. menyiapkan genarasi.

Sejak jabang bayi, sudah ditinggalkan di tempat yang tandus tanpa tanda-tanda kehidupan

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati,“ [Ibrahim: 37]

Nabi Ibrahim menyiapkan generasi. Hajar dan anaknya bersikap ridha dan tawakkal. Saat ditinggalkan di Makkah hanya dengan bekal kurma dan air.

Hajar bertanya kepada Nabi Ibrahim, “Apakah Allah Taala yang telah memerintahkanmu meninggalkan kami di sini?”

Nabi Ibrahim as. menjawab, “Iya, Allah Taala yang memerintahkan aku ini.”

Hajar berkata, “Kalau demikian, berarti Allah Taala takkan menyia-nyiakan kami di sini.”

Saat tumbuh dewasa, diajari bagaimana menyikapi perintah Allah Taala.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” [Ash-Shafat: 102].

Subhanallah. Ini adalah ketaatan paripurna. Ketaatan yang dilakukan walaupun harus mengorbankan dirinya.

Hal lain yang ditunjukkan Nabi Ibrahim as adaah pentingnya pendidikan shalat pada anak-anak:

Begitu mendapat keturunan, Nabi Ibrahim as. langsung mendoakan anaknya agar menjadi orang yang selalu mendirikan shalat.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” [Ibrahim: 40].

Anggota keluarga bisa selalu mendirikan shalat adalah hal utama yang harus diwujudkan. Adapun mendapatkan rezeki yang berkah hanyalah agar anggota keluarga mensyukuri nikmat Allah Taala.

رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” [Ibrahim: 37].

Baca juga:

Hal yang sama dilakukan oleh anaknya, Nabi Ismail as.

وكان يأمر أهله بالصلاة والزكاة

“Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.” [Maryam: 55].

Mendidik anak shalat berarti memusatkan aktivitas anak di masjid. Ini sangat penting karena:

  • Mereka akan tumbuh dalam suasana ibadah. (شاب نشأ في عبادة الله) “Anak muda yang tumbuh-kembang dalam suasana ibadah.” [Bukhari dan Muslim].
  • Mereka akan berada dalam lingkungan orang-orang shalih.
  • Mereka akan berada dalam suasana Qurani.

Seperti itulah bagaimana Nabi Ibrahim as. menyiapkan generasi penerus, hingga kita. (sof1/www.mukjizat.co)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment