BINGKAI

Bintang Emon dan Sosok Kritis dalam Al-Quran

Kritik bintang emon
Amar makruf nahi munkar tidak akan mengurangi rezeki dan memperpendek umur.

mukjizat.co – Kasus represi terhadap komika Bintang Emon di media sosial tak lepas dari kritiknya terhadap tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Dua terdakwa penyiraman Novel, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, dituntut 1 tahun oleh JPU di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, seperti diberitakan CNN Indonesia, Kamis (11/6). Jaksa menilai keduanya tidak sengaja melukai mata Novel, namun hanya hendak memberinya pelajaran.

Bintang Emon sekarang menjadi fenomena keberanian melakukan amar makruf nahi munkar di tengah ancaman hukuman yang sering dikenakan kepada orang yang berani bersuara. Undang-undang ITE adalah senjata yang sangat ampuh untuk membungkam suara-suara kritis.

Dalam Al-Quran ada sosok yang cukup mirip. Orang yang berani bersuara mengkritik sikap pemerintah yang dinilai kurang adil. Sosok tersebut adalah seorang Mukmin di kalangan keluarga istana Firaun sendiri.

Allah Taala berfirman:

وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءكُم بِالْبَيِّنَاتِ مِن رَّبِّكُمْ وَإِن يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِن يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُومُسْرِفٌ كَذَّابٌ

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan “Tuhanku ialah Allah’, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu.

Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” [Ghafir: 28].

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa laki-laki itu adalah seorang Koptik dari keluarga istana. Imam Sudi menyebutkan bahwa orang itu adalah sepupu Firaun sendiri, yang akhirnya nanti selamat bersama Nabi Musa as.

Jihad yang paling baik

Ibnu Katsir mengatakan bahwa Firaun sangat terpukul dengan kata-kata “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Tuhanku ialah Allah’?”

Keberanian orang inilah yang menjadikan perbuatannya termasuk salah satu bentuk jihat terbaik. Seperti sabda Rasulullah saw., “Jihad terbaik adalah menyampaikan perkataan yang benar kepada penguasa yang zalim.”

Batas kemampuan

Amar makruf nahi munkar diwajibkan kepada umat Islam sesuai dengan kemampuannya. Tapi ternyata kemampuan itu adalah hal yang relatif. Berbeda antara satu orang dan orang lain. Bintang Emon.

Oleh karena itu, sebagaimana bertakwa kepada Allah Taala harus dioptimalkan sesuai kemampuan kita, amar makruf nahi munkar pun demikian.

Mengubah keburukan yang dilihat bisa dilakukan dengan tindakan. Tapi tidak semua orang kuasa melakukannya. Maka bisa dilakukan oleh orang yang bisa bicara, dan kata-katanya didengar banyak orang.

Kalaupun orang yang berani berbicara itu merasa terancam, maka kewajiban menolak kemunkaran dengan hati adalah kewajiban bagi semua Muslim. Kita tidak boleh pro dengan kemunkaran.

Cerdas dalam menyampaikan

Syaikh Sa’di mengatakan bahwa laki-laki beriman dari kalangan istana Firaun adalah orang yang sangat cerdas dalam menyampaikan kritikannya yang juga sangat kuat berdasar.

“Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Tuhanku ialah Allah’, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu.?”

Seharusnya kata-kata orang itu diterima oleh orang yang mendengarnya. Karena sangat logis.

“Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.”

Orang itu membela Nabi Musa as. dengan logika yang sangat kuat. Orang itu tidak menempatkan dirinya dalam posisi sebagai pengikut Nabi Musa as., tapi hanya ingin meluruskan logika ngawur yang saat itu dipakai oleh penguasa.

Kalau dakwah Nabi Musa as. adalah omong kosong, kenapa harus dibunuh? Toh Nabi Musa as. tidak mengancam untuk membunuhi kalian. “Santai saja… Enggak usah marah, apalagi mengancam. Kan kalian tidak percaya dengan peringatan Musa akan datangnya siksaan dari Allah?”

“Kalau nanti peringatannya tidak terjadi, Musa pasti akan ditinggalkan pengikutnya. Kalian tidak usah capek-capek memusuhinya, karena dia dan dakwahnya akan hilang dengan sendirinya.”

“Tapi siap-siaplah jika memang peirngatannya itu benar. Siksaan dari tuhannya akan segera menimpa kalian.” Demikian kira-kira logika yang disampaikannya. Orang itu memang tidak membela Musa sebagai salah satu pengikutnya. Tapi hanya menyampaikan logika, semaksimal dia mampu. Bintang Emon.

Kata-kata yang lembut

Orang itu tidak mengatakan kata-kata kotor kepada Firaun dan pengikutnya. Jangan sampai logika yang diharapkan bisa muncul di kepala Firaun hilang karena tertutupi emosi kemarahan.

Rasulullah saw. bersabda:

إنَّ الرِّفقَ لا يكونُ في شيءٍ إلَّا زانه. ولا يُنزعُ من شيءٍ إلَّا شانه

“Kelembutan itu setiap kali ada pada sesuatu pasti akan menghiasinya, dan setiap kali hilang dari sesuatu pasti akan memburukkannya.” [Muslim].

Bahaya tidak amar makruf nahi munkar

Orang itu juga berkata kepada Firaun, seperti difirmankan Allah Taala:

يا قَوْمِ لَكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ظَاهِرِينَ فِي الأَرْضِ فَمَن يَنصُرُنَا مِن بَأْسِ اللَّهِ إِنْ جَاءَنَا قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلاَّ مَا أَرَى وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلاَّ سَبِيلَ الرَّشَادِ

“Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi.  Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!” Firaun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. [Ghafir: 29].

Orang itu menyampaikan pesan kepada Firaun dan pengikutnya. “Allah Taala telah memberi kalian nikmat berupa kekuasaan. Seharusnya kalian pelihara nikmat ini dengan bersyukur kepada Allah Taala. Caranya adalah menggunakannya untuk kebaikan. Bintang Emon.

Hati-hatilah dengan murka Allah Taala jika kalian tidak bersyukur. Kekuasaan, sumber daya, dan apapun yang kalian miliki tidak akan bisa menahan murka Allah Taala menimpa kalian.”

Rasulullah saw. bersabda:

والذي نفسي بيده لتأمرن بالمعروف، ولتنهون عن المنكر، أو ليوشكن الله أن يبعث عليكم عقابا من عنده، ثم لتدعنه فلا يستجيب لكم

“Demi Allah, kalian harus amar makruf nahi munkar. Kalau tidak, maka hampir-hampir Allah akan menurunkan siksaan kepada kalian. Saat itu kalian berdoa tapi tidak akan dikabulkan.” [Bukhari].

Bertawakal

Amar makruf nahi munkar bukan tidak mengundang bahaya. Tapi karena kewajiban, tetap harus dilakukan. Sembari meyakini bahwa segala sesuatu berada di Tangan Allah Taala. Pada-Nya kendali apapun yang terjadi di alam semesta ini.

Allah Taala yang memerintahkan, maka Allah Taala pula yang akan melindungi. Inilah yang dilakukan orang Mukmin dari kalangan istana Firaun itu.

فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّـهِ إِنَّ اللَّـهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ. فَوَقَاهُ اللَّـهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ

“Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” [Ghafir: 44-45].

Orang itu mengakhiri kritikannya dengan mengatakan, “Kalian akan teringat dengan kata-kataku ini, dan akan menyesal karena tidak mengikuti nasihatku.”

Dia tidak bisa memaksa. Dia hanya bisa mengkritik dan menasihati. Setelah itu, semuanya adalah urusan Allah Taala. Maka dia bertawakal kepada Allah Taala. Semoga Allah Taala melindungi orang-orang yang masih bersuara seperti Bintang Emon ini. (sof1/www.mukjizat.co)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.

About the author

Moh. Sofwan

Add Comment

Click here to post a comment