PERISTIWA

Kisah Islam Umar; Antara Fanatisme dan Kebenaran

kisah islam umar
Ketika fanatisme tak kuasa bendung hidayah kebenaran.

mukjizat.co – Bersama satu kesulitan pasti ada dua kemudahan. Itulah janji Allah Taala. Rasulullah saw. dan para sahabat sedang mengalami kesewenang-wenangan dan kezhaliman. Saat itu ada kejadian menggembirakan, islamnya Umar bin Khattab ra. Beliau masuk Islam pada bulan Zulhijah tahun ke-6 kenabian. Kisah Islam Umar menjadi bukti bahwa Allah selalu mendukung dakwah Islam.

Sebelum itu, Nabi telah berdoa kepada Allah untuk keislamannya, “Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin Khattab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam.” Ternyata orang yang paling dicintai Allah adalah Umar bin Khattab.

Kisah Islam Umar menggambarkan bagaimana masuknya cahaya Islam ke dalam sanubari terjadi secara bertahap. Umar dikenal sebagai orang yang menjaga kehormatan dirinya dan memiliki watak yang temperamental. Setiap kali dia berpapasan dengan orang-orang Muslim, pasti dia menimpakan berbagai macam siksaan. Yang pasti, di dalam hatinya bergolak berbagai perasaan yang sebenarnya saling bertentangan.

Dia sangat menghormati tradisi leluhur, bahkan hingga tradisi mabuk dan bercanda ria. Tapi di sisi lain, dia merasa takjub dengan ketabahan dan kesabaran orang-orang Muslim dalam mempertahankan akidahnya.

Keadaan ini masih ditambah lagi dengan perasaan baru yang masuk ke dalam benaknya bahwa apa yang diserukan Islam jauh lebih baik daripada ajaran jahiliyah. Umar benar-benar bingung hingga tidak habis pikir. Begitulah yang ditulis Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam buku sirahnya.

Suatu malam dia keluar rumah hingga dia tiba di Baitul-Haram. Dia menyibak kain penutup Ka’bah, dan dilihatnya Nabi sedang berdiri melaksanakan shalat. Saat itu beliau membaca surah Al-Haqqah. Umar menyimak bacaan Al-Qur’an itu, dan dia merasa takjub terhadap susunan bahasanya.

Dia berkata di dalam hati, “Demi Allah tentunya ini adalah ucapan seorang penyair seperti yang biasa diucapkan orang-orang Quraisy.”

Tapi kemudian terdengar Rasulullah saw. membaca ayat:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ. وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) rasul yang mulia, dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.” [Al-Haqah: 40-41].

Umar ra. berkata dalam hati, “Kalau begitu ucapan tukang tenung.”

Tiba-tiba terdengar Rasulullah saw. membaca ayat:

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ. تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan, bukan perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam.” [Al-Haqah: 42-43].

Beliau meneruskan bacaannya hingga akhir surat. Seperti yang diceritakan Umar sendiri, mulai saat itulah kisah Islam Umar bermula. Sedikit demi sedikit Islam merasuk ke dalam hatinya. Tapi tidak mudah bagi Umar ra. karena tradisi jahiliyah dan fanatismenya sudah mendarah daging dengan dirinya.

Hingga dia pun keras dalam memusuhi Islam. Berusaha menutupi perasaan yang ada dalam hatinya. Suatu hari dia keluar rumah sambil menghunus pedangnya, dengan maksud ingin menghabisi Rasulullah saw. Di tengah jalan dia berpapasan dengan Nu’aim bin Abdullah.

“Hendak kemana kau, Umar?” tanya Nu’aim.

“Aku akan menghabisi Muhammad,” jawabnya.

“Apa yang bisa menjamin keamanan dirimu dari pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika engkau membunuh Muhammad?”

“Sepertinya engkau juga telah meninggalkan agama yang telah engkau peluk selama ini,” Umar balik bertanya.

“Bagaimana jika kutunjukkan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang wahai Umar? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini engkau peluk,” Nu’aim berkata penuh provokasi.

Dengan terburu-buru Umar berlalu hingga tiba di rumah adik perempuannya dan iparnya. Ada Khabbab bin Al-Art di sana yang sedang memegang lembaran Al-Quran berisi surat Thaha. Khabbab membacakan surat ini di hadapan mereka berdua.

Tatkala mendengar suara kedatangan Umar, Khabbab pun menyingkir ke bagian belakang ruangan. Sedangkan Fathimah menyembunyikan Al-Qur’an yang tadi dibacanya. Tapi ternyata Umar sudah sempat mendengar bacaan Khabbab itu.

“Apa suara bisik-bisik yang sempat kudengar dari kalian tadi?” tanya Umar tatkala sudah masuk rumah.

“Hanya sekadar obrolan di antara kami,” jawab keduanya.

“Kupikir kalian berdua sudah keluar dari agama kita,” kata Umar.

“Wahai umar,” kata adik iparnya, “Apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu?”

Seketika Umar melompat ke arah adik iparnya dan menginjaknya keras-keras. Adiknya mendekat untuk menolong suaminya dan mengangkat badannya. Namun, Umar menonjok Fathimah hingga wajahnya berdarah.

“Wahai Umar,” kata Fathimah dengan berang, “Jika memang kebenaran itu ada dalam selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada Ilah selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”

Umar mulai merasa putus asa. Karena dia lihat darah yang meleleh dari wajah adiknya. Ada perasaan menyesal dan malu atas perbuatannya. Di sinilah kisah Islam Umar memuncak.

“Berikan kitab yang tadi kalian baca!” pinta Umar.

Adiknya menjawab, “Engkau adalah orang yang najis. Kitab ini tidak boleh disentuh kecuali orang-orang yang suci. Bangun dan mandilah jika mau!”

Maka Umar segera mandi, setelah itu mengambil lembaran Al-Quran itu. Dia mulai membaca isinya, “Bismillahir-rahmanir-rahim.” Lalu dia berkata, “Nama-nama baik dan suci.” Kemudian dia membaca, “Thaha,” hingga berhenti pada firman Allah:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” [Thaha: 14].

Tatkala mendengar perkataan Umar seperti itu, Khabbab segera muncul dari belakang. Dia berkata, “Terimalah kabar gembira wahai Umar. Karena aku benar-benar berharap agar doa Rasulullah pada malam Kamis itu jatuh pada dirimu. Rasulullah saat ini berada di suatu rumah di kaki bukit Shafa.”

Umar memungut pedangnya dan menghunusnya. Kemudian dia pergi hingga tiba di tempat yang dimaksud. Dia menggedor pintu. Seseorang mengintip dari celah-celah pintu dan bisa melihat sosok Umar yang berdiri sambil menghunus pedang. Orang itu memberitahukan Rasulullah, lalu mengumpulkan orang-orang di satu tempat.

“Ada apa kalian ini?” tanya Hamzah.

“Ada Umar,” mereka menjawab.

“Umar? Bukakan pintu. Jika kedatangannya untuk maksud yang baik, maka kami akan memberikan yang baik. Tapi jika dia datang dengan maksud yang buruk, kami akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri.”

Rasulullah saw. turut campur tangan dengan memberi isyarat agar Hamzah menghampiri Umar. Maka dia menemui Umar di luar lalu membawanya bertemu beliau di dalam salah satu ruangan.

Beliau memegang baju dan pegangan pedangnya, lalu menariknya dengan tarikan yang keras, seraya bersabda:

“Apakah engkau tidak mau menghentikan tindakanmu, wahai Umar? Tidak takutkah engkau bila Allah menurunkan kehinaan dan bencana kepadamu seperti yang ditimpakan kepada Al-Walid bin Al-Mughirah?

Ya Allah. Inilah Umar bin Khattab ra… Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab ra..”

Umar pun berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah.”

Jadilah Umar masuk Islam. Semua yang ada di dalam rumah itu bertakbir secara serempak, sehingga takbir mereka bisa didengar orang-orang yang ada di Masjidil Haram.

Umar adalah orang yang memiliki watak tempramental dan sulit dihalang-halangi. Sehingga kisah Islam Umar mengguncangkan orang-orang musyrik dan membuat mereka merasa hina. Adapun bagi orang yang beriman, hal itu menambah kemuliaan, kekuatan dan kegembiraan.

Umar pernah bercerita, “Tatkala aku sudah masuk Islam, aku mengingat-ingat, siapa penduduk Makkah yang paling keras memusuhi Nabi. Dialah Abu Jahal. Maka kudatangi rumahnya dan kugebrak pintu rumahnya hingga dia keluar menemuiku.

“Ahlan wa sahlan,” katanya,” apa yang engkau bawa?”

“Aku datang untuk memberitahumu bahwa aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad serta kuyakini kebenaran apa yang dibawanya.”

Dia langsung menggebrak pintu di depan mataku, sambil berucap “Semoga Allah memburukkan rupamu dan memburukkan apa yang engkau bawa.”

Umar juga berkata, “Setelah masuk Islam, aku mendatangi pamanku Al-Ashy bin Hasyim, dan kuberitahu kepadanya tentang keislamanku. Tapi dia justru masuk rumah. Lalu kudatangi pembesar Quraisy yang lain, yang juga melakukan hal serupa. “

Karena keislamannya, Umar pernah dikeroyok orang-orang musyrik hingga Umar terduduk dalam keadaan lemas. Kepada para pengeroyoknya Umar berkata, “Lakukanlah semau kalian. Aku bersumpah, setelah jumlah kami sudah mencapai tiga ratus orang, kita akan bertempur. Hingga kami yang akan melumatkan kalian, atau kalian yang melumatkan kami.”

Ibnu Abbas pernah bertanya kepada Umar tentang sebab gelar Al-Faruq yang disandangnya, “Apa sebabnya engkau dijuluki Al-Faruq?”

Umar menjawab,”Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, bukanlah kita berada di atas kebenaran, mati maupun hidup?”

“Benar,” beliau menjawab, “Demi jiwaku yang ada di Tangan-Nya, sesungguhnya kalian berada di atas kebenaran, hidup maupun mati.”

“Lalu mengapa kita masih sembunyi-sembunyi?” tanya Umar, “Demi Allah yang mengutus engkau membawa kebenaran, lebih baik jika kita keluar.”

Maka beliau mengeluarkan kami dalam dua barisan. Barisan pertama diserahkan kepada Hamzah dan satu lagi diserahkan kepadaku. Hamzah membawa garam yang ditumbuk halus layaknya tepung.

Kami bergerak hingga memasuki Masjidil Haram. Aku bergantian memandang ke arah orang-orang Quraisy lalu beralih ke arah Hamzah. Ada rona kesedihan membayang pada diri mereka, yang tidak pernah kulihat sebelumnya seperti itu. Maka pada saat itulah Rasulullah menjuluki “Al-Faruq” (yang suka memisahkan antara haq dan batil).”

Ibnu Mas’ud berkata, “Hampir-hampir kami tidak bisa mendirikan shalat di dekat Ka’bah hingga Umar masuk Islam.”

Shuhaib Ar-Rumi berkata, “Setelah Umar masuk Islam, maka Islam menjadi tampak, dan dakwah kepada Islam dilakukan secara terang-terangan. Kami bisa duduk membuat lingkaran di sekitar Baitul-Haram, thawaf di sekeliling Ka’bah, berani mengambil tindakan terhadap orang yang berlaku kasar kepada kami dan menentangnya.” Kisah Islam Umar sungguh agung. (sof1/www.mukjizat.co)

Baca juga:

Silahkan dibagikan artikel ini jika bermanfaat, terima kasih.